Model-Model Eksplanasi Sejarah - ABHISEVA.ID

Model-Model Eksplanasi Sejarah

Model-Model Eksplanasi Sejarah

Model-Model Eksplanasi Sejarah - Eksplanasi sejarah adalah suatu proses yang menunjukkan peristiwa-peristiwa tertentu dikaitkankan dengan peristiwa-peristiwa lain melalui penggunaan pernyataan-pernyataan yang bersifat umum yang tepat atau yang disebut juga dengan general statements. Melalui proses inilah peristiwa sejarah dapat dimengerti atau dipahami. Di bawah ini akan dijelaskan beberapa model eksplanasi sejarah.




Kausalitas

Menurut para ahli filsafat sejarah masalah kausalitas adalah bagian dari masalah eksplanasi sejarah yang luas dan mendalam serta semuanya merupakan masalah metodologis. Kajian sejarah merupakan bahasan tentang sebab- sebab dari suatu peristiwa yang terjadi sehingga hampir merupakan aksioma bahwa segala sesuatu mempunyai sebab- sebab. Dengan kata lain bahwa setiap fenomena merupakan akibat (consequence) dari sebab sebelumnya (antecendent cause).

Kausalitas dalam sejarah adalah suatu rangkaian peristiwa yang mendahului dan peristiwa yang menyusul. Konsep kausalitas telah memasuki kisah sedemikian rupa tanpa kausalitas penulisan sejarah mungkin merupakan katalogus atau kronologi. Akan tetapi, penelitian “sebab” dalam sejarah harus di tempatkan berdasarkan dua pembatasan yang di tentukan saja, yaitu :

 

1) Batas jangkauan masa lampau yang di alamnya akan di cari interelasi anteseden atau yang mendahului;

2) Batas jumlah factor yang berpengaruh yang di anggap tetap kotan dan krnanya tidak di periksa.


Model kausalitas berupaya menjelaskan peristiwa sejarah dengan merangkaikan berbagai fakta dalam sintesis hubungan sebab akibat (cause-effect). Hukum sebab akibat (law of causation) menunjukkan bahwa setiap fenomena merupakan akibat dari sebab sebelumnya. Kajian sejarah adalah kajian tentang sebab-sebab dari suatu peristiwa terjadi sehingga hampir merupakan aksioma atau kebenaran umum. Dalam perkembangannya, hukum jausalitas dianggap ketinggalan karena memiliki tendensi deterministik. Alternatif terhadap hukum kausalitas adalah pendekatan fungsional.


Penjelasan dalam hukum kausalitas dimulai dengan mencari sejumlah sebab untuk peristiwa yang sama. Sebab-sebab yang banyak tersebut disebut kemajemukan sebab (multiplicity of causes). Dalam konteks ini, setiap sebab memiliki kedudukan sama penting. Langkah selanjutnya adalah menganalisis sebab-sebab untuk kemudian mendapatkan penyebab utama (the ultimate cause), sebab dari semua sebab (cause of all causes).


Kaitannya dengan kemajemukan sebab, muncul persoalan determinisme dalam sejarah (determinism in history) dan kebetulan dalam sejarah (chance in history). Ahli filsafat Hegel dianggap sebagai peletak dasar filsafat sejarah determinisme. Kritik terhadap determinisme adalah dianggap mengabaikan kemauan bebas (free will) manusia. Determinisme dianggap bertentangan dengan adanya penyebab majemuk atau multikausal.


Sementara itu, kebetulan sejarah menganggap pertemuan atau benturan antar sebab dalam peristiwa sejarah sebagai sebuah kebetulan. Kebetulan yang kemudian mengubah jalannya sejarah. Teori kebetulan mendapat kritik karena dianggap melebih-lebihkan. Penganut teori ini dianggap malas melakukan penelitian, kemalasan inteletual (intellectual laziness) atau vitalitas yang rendah (low intellectual vitality).


Dalam melakukan rekonstruksi sejarah, tidak semua fakta otomatis menjadi fakta sejarah. Fakta-fakta masa lalu baru menjadi fakta sejarah jika sejarawan memilihnya karena dianggap mempunyai hubungan (relevansi)dan berarti (signifikansi) dengan apa yang diteliti. Hal yang sama juga berlaku bagi penganut multikausal dalam peristiwa sejarah. Susunan sebab-sebab, signifikansi serta relevansi antar satu sebab atau serangkaian sebab dengan yang lainnya merupakan esensi penafsiran sejarah.


Covering Law Model (CLM)

 

Sebagian besar ahli filsafat sejarah analitis mencoba memaksakan pengetahuan sejarah ke dalam suatu formula hukum umum (general law), suatu pernyataan dari bentuk kondisi universal yang sanggup dikonfirmasi atau dibantah berdasarkan bukti-bukti empiris yang sesuai. Penganut CLM berpendapat bahwa setiap penjelasan dalam sejarah harus dapat diterangkan oleh hukum umum (general law) atau hipotesis universal (universal hypothesis) atau hipotesis dari bentuk universal (hypothesis of universal form).


Menurut teori CLM, tidak ada perbedaan metodologis antara ilmu alam dengan sejarah. Penjelasan sejarah diperoleh dengan menempatkan peristiwa-peristiwa itu di bawah hipotesis, teori, atau hukum umum. Penjelasan diperoleh dengan cara mendeduksikannya dari pernyataan-pernyataan tentang hukum-hukum umum dan kondisi-kondisi awal.


Hermeneutika


Hermeneutika bertolak dari tradisi-tradisi relativisme (humaniora), yaitu berbuat dengan mencapai tujuan tertentu (intensionalisme) dengan tokoh-tokoh seperti Dilthey, Croce, dan Collingwood, yang berpendapat bahwa perbuatan manusia hanya lebih sesuai dengan bentuk kajian ideorafik (kekhususan, partikularistik)daripada kajian nomotetik, (keumuman, generalistik). Tradisi hermeneutika yang menjadi pembela utama pendekatan interpretif (interpretive approach) menolak kemungkinan suatu unifikasi (atas dasar- dasar empiris aau realis) antara ilmu alam dan kajian –kajian menenai perbuatan (action), sejarah, dan masyarakat. Hermeneutika menekankan secara tegas perbedaan antara ilmu alam dengan ilmu kemanusiaan.


Hermeneutika boleh dibilang menjadi semacam antitesis terhadap teori CLM. Hermeneutika menekankan secara jelas antara ilmu alam dengan ilmu kemanusiaan. Penganut hermeneutika berpendapat bahwa perbuatan manusia hanya bisa diterangkan dengan kajian edografik (kekhusunan, partikularistik) daripada nomotetik (keumuman, generalistik).


Pengertian hermeneutika erat hubungannya dengan penafsiran teks-teks dari masa lalu dan penjelasan pelaku sejarah. Sejarawan mencoba menjelaskan masa lalu dengan mencoba menghayati atau dengan empati, menempatkan dirinya dalam alam pemikiran pelaku sejarah. Hermeneutika mencoba memasuki diri pelaku dan berupaya memahami apa yang dipikirkan, dirasakan, dan diperbuat pelaku sejarah. Ada semacam dialog batin antara batin sejarawan yang menggunakan pengalaman hidupnya sendiri dengan sumber-sumber sejarah yang digunakan.


Model Analogi

 

Analogi merupakan salah satu alat dalam eksplanasi sejarah yang juga sangat berguna. Adapun urgensi analogi antara lain:

1) Dapat menjadi semacam ornament dalam artikulasi ide- ide.

2) Cara kerja analogi dapat berlangsung kedalam (internal) maupun keluar (eksternal).

3) Dapat memacu sesuatu argumen yang masuk akal.

4) Dapat memberikan saran dan membujuk,

5) Memberikan informasi dan ilustrasi , mengomunikasikan dan menjelaskan.

6) Meupakan alat pedagogis yang serbaguna dan dan efektif.

7) Alat eksplanasi dalam pengajaran sejarah dan guna memperindah tulisan.


Masih terjadi perdebatan di antara para pakar tentang analogi sebagai eksplanasi sejarah. Namun bagi penganutnya, analogi merupakan alat eksplanasi yang sangat berguna. Analogi berperan penting dalam proses kreativitas intelektual. Analogi dapat berperan ke dalam maupun ke luar. Ke dalam, analogi dapat meningkatkan suatu yang tidak disadari atan inferensi awal ke tingkat rasionalitas dalam pikiran . Keluar, analogi bekerja sebagai wahana mengalihkan pikiran seseorang kepada orang lain.


Meskipun demikian, penggunaan analogi dalam eksplanasi sejarah berpotensi menimbulkan kekeliruan. Karena itu, para sejarawan dituntut lebih selektif dalam menggunakannya. Analogi, meskipun suatu alat untuk menjelaskan peristiwa sejarah, kedudukannya hanya alat bantu (auxiliary) dalam pembuktian.


Analogi juga berkaitan dengan metafora. Sejarawan yang menggunakan metafora dalam penjelasannya kerap menggunakan analogi. Beberapa contoh metafora sejarah antara lain:

1) Machiavellian, diambil dari nama Niccolo Machiavelli untuk menggambarkan doktrin politik seseorang yang menggunakan berbagai cara untuk mencapai tujuan politiknnya;

2) Cut the Gordian Knot, dari nama Raja Gordius dari Phrygia kuno untuk menggambarkan penggunaan cara-cara drastis tanpa bersusah payah;

3) Pyrrhic victiry, dari nama raja Pyrrhus dari Epirus untuk menggambarkan sebuah kondisi di mana kemenangan perang diperoleh dengan kerugian besar. Sejarawan menggunakan istilah ini untuk menggambarkan perjuangan seseorang untuk mendapatkan sesuatu dengan kerja keras sampai kehabisan daya;

4) Carthaginian Peace, dari nama Kartago di Afrika Utara. Penghancuran Kartago yang dilakukan Romawi untuk menghindari kebangkitan sebuah kekuatan. Sejarawan menggunakan metafora ini untuk menggambarkan politik bumi hangus sebagai reaksi atas kekhawatiran munculnya kekuatan lain.


Model Motivasi

Eksplanasi model motivasi dibagi atas dua bagian diantaranya adalah sebagai berikut :

1) Bentuk eksplanasi kausal, di mana akibat merupakan suatu perbuatan yang inteligen, sedangkan sebab merupakan pikiran di belakang perbuatan itu;

2) Bentuk tingkah laku yang berpola.


Pada dasarnya, model ini menekankan penggunaan pendekatan psikohistori yang berpijak pada teori psikoanalisis dari Sigmund Freud. Kelemahan pendekatan ini terletak pada keterbatasan- keterbatasan metode psikoanalisis sendiri, selain prosedur historiografis yang kurang memadai