Sistem Monopoli VOC di Kepulauan Banda - ABHISEVA.ID

Sistem Monopoli VOC di Kepulauan Banda

Sistem Monopoli VOC di Kepulauan Banda


Sistem Monopoli VOC di Kepulauan Banda - Sistem monopoli VOC di Kepulauan Banda dimulai setelah VOC berhasil menaklukan Kepulauan Banda pada tahun 1621. Perlu diketahui Kepulauan Banda terdiri dari dua pulau besar; Pulau Banda dan Banda Besar (Lontor). Selain dua pulau besar, juga terdapat pulau kecil seperti Pulau Run dan Pulau Rosenggaing. Memasuki awal abad ke-17 diperkirakan jumlah penduduk Kepulauan Banda sekitar 15.000 jiwa yang terbagi menjadi beberapa desa-desa kecil yang tersebar di Kepulauan Banda. Di bawah ini akan dijelaskan sistem monopoli VOC di Kepulauan Banda.


Di Kepulauan Banda tidak muncul institusi kerajaan yang mengikat desa-desa itu menjadi satu kesatuan politik layaknya Ternate, Tidore dan Bacan. Setiap desa di Kepulauan Banda berdiri sendiri dengan dipimpin oleh seorang Orangkaya.  Kepulauan Banda pada saat itu adalah satu-satunya daerah penghasil buah pala. Pada abad ke-16 Portugis berhasil menjalin hubungan dagang dengan orang-orang di Kepulauan Banda dan juga mendapatkan izin untuk mendirikan benteng yang kemudian setelah dikalahkannya Portugis oleh VOC, benteng portugis itu dibangun kembali oleh VOC pada abad ke-17 dan diberi nama Fort Nassau.




Memasuki awal abad ke-17 telah terjadi persaingan dagangan antara Inggris dan Belanda untuk memonopoli perdagangan lada yang ada di Kepulauan Banda. Persaingan antara keduanya semakin menjadi setelah Inggris membentuk EIC (East India Company) pada tahun 1600 sedangkan Belanda membentuk VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) pada tahun 1602.  Di Kepulauan Banda ini, VOC membuka kantor dagangnya di Banda Neira sedangkan EIC menguasai Pulau Run dan Pulau Ai yang dianggap sebagai koloni Inggris pertama di Asia.


Kedua perusahaan dagang itu (EIC dan VOC) menganggap bahwa perdagangan di Asia harus dilakukan dengan kekuataan senjata. Di kalangan VOC pendapat itu terutama dianut oleh Jan Pieterszoon Coen yang sebanyak dua kali menjabat sebagai Gubernur Jenderal VOC di Batavia (1619-1623 dan 1627-1629). Pada tahun 1614 J. P. Coen mengatakan kepada Dewan Heeren XVII :

....tuan-tuanlah seharusnya mengetahui dari pengalaman, bahwa perdagangan di Asia harus dilaksanakan dan dipertahankan dengan perlindungan senjata dan bahwa senjata harus bisa dibiayai melalui keuntungan dari perdagangan itu. Jadi, kita tidak bisa berdagang tanpa perang dan tidak bisa berperang tanpa dagang.

Pada tahun 1609 VOC mengirimkan armadanya di bawah pimpinan Laksamana Verhoeven untuk menggunakan kekuatan senjata di Kepulauan Banda. Kedatangan Laksamana Verheoven ini awalnya membuat sebuah perjanjian dagang dengan para orangkaya di Kepulauan Banda untuk mendapatkan hak monopoli. Pada awalnya, perjanjian dagang ini disetujui oleh para orangkaya, namun hubungan itu dirusak oleh VOC dengan membangun kembali benteng Portugis dan menamainya Fort Nassau. Pembangunan Fort Nassau itu menimbulkan anggapan dari para orangkaya bahwa VOC tidak berniat baik. 


Sejak pembangunan Fort Nassau itu, hubungan antara orang-orang Kepulauan Banda dan VOC semakin memburuk. Permusuhan itu pada akhirnya menyebabkan Laksamana Verheoven beserta beberapa pasukannya dibunuh. Sedangkan penduduk Kepulauan Banda lebih senang berdagang dengan Inggris. Hal ini tentu sangat mencemaskan bagi VOC. Untuk mempertahankan posisinya di Kepulauan Banda, VOC selanjutnya membangun benteng kedua di Pulau Banda yang diberi nama Fort Belgica.


Pada tahun 1621 J. P. Coen, Gubernur Jenderal VOC di Batavia memutuskan untuk memimpin sendiri penaklukan terhadap Kepulauan Banda dan mencegah penduduk Kepulauan Banda berdagang dengan Inggris. Armada VOC yang dipimpin oleh J. P. Coen berkekuatan 13 kapal besar, sejumlah kapal pengintai dan sekitar 40 sekoci. Tentara VOC ini berjumlah 1.600 orang Belanda yang diperkuat oleh 250 orang yang sebelumnya telah ada di Banda. Selain itu diikutsertakan pula sekitar 300 orang Jawa yang berstatus sebagai narapidana, sekitar 100 orang samurai Jepang serta sejumlah bekas budak belian.


Armada VOC itu tiba di Banda Neira pada bulan Februari 1621. Armada itu segera melakukan penyerangan terhadap Pulau Lontor dan berhasil menguasai pulau itu dalam tempo satu bulan. J. P. Coen kemudian mengumpulkan seluruh orangkaya Lontor untuk membuat sebuah perjanjian. Di dalam perjanjian itu disebutkan apabila penduduk Pulau Lontor menyerahkan semua senjata mereka, mereka tidak akan ditindak dan diperbolehkan hidup damai di desa masing-masing. Akan tetapi, sebelum surat perjanjian itu ditandatangani, J.P. Coen telah memerintahkan pembangunan sebuah benteng yang diberi nama Fort Hollandia. 


Tindakan J. P. Coen itu pun membuat rakyat Pulau Lontor menjadi curiga akan maksud J. P. Coen melalui perjanjian damai. Sehingga banyak penduduk Pulau Lontor yang melarikan diri dan membentuk kelompok-kelompok untuk melakukan gerilya melawan VOC. Pada tanggal 16 Mei 1621 J. P. Coen kembali menuju Batavia dan Pulau Lontor diserahkan kepada Kapten t'Snock. Sebelum benteng dibangun, Kapten t'Snock menjadikan rumah-rumah rakyat sebagai rumah bagi para perwira VOC dan masjid dijadikan sebagai markas mereka. 


Pada 21 April 1621 lentera di dalam masjid itu dengan tidak sengaja terjatuh sehingga menimbulkan kebakaran. Kapten t'Snock kemudian menuduh bahwa kebakaran itu disengaja oleh penduduk Pulau Lontor dan menjadi awal perlawanan penduduk Pulau Lontor terhadap VOC. Pada malam hari tentara VOC dikerahkan untuk mengejar penduduk yang melarikan diri ke hutan dan puncak gunung. 


Di dalam pengejaran itu, banyak penduduk yang tewas tertembak dan banyak pula yang mati kelaparan. Penduduk yang ditemukan di desa-desa dibunuh dan rumah-rumah serta perahu-perahu dibakar. Mereka yang dapat melarikan diri mencari perlindungan kepada Inggris atau menyebar ke Pulau Kei dan Aru. Jumlah penduduk yang melarikan diri sebanyak 300 orang. Namun yang meninggal tidak kurang dari 2.500 orang. Diperkirakan bahwa penduduk yang berjumlah sekitar 15.000 orang di Kepulauan Banda hanya tersisa 1.000 orang.


J. P. Coen kemudian mengunjungi Pulau Ai beserta pasukannya. Di Pulau Ai J. P. Coen memerintahkan untuk membangun sebuah benteng yaitu Fort Rvenge. Selain itu, J. P. Coen juga berniat menyerang Pulau Run, namun niatannya tidak terlaksana oleh sebab Pulau Run telah dikuasai oleh Inggris. Pulau Run dikuasai Inggris hingga tahun 1667. Pada tahun 1667 terjadi perjanjian damai antara Inggris dan Belanda. Di dalam perjanjian itu, diserahkan Pulau Run oleh Inggris kepada Belanda sedangkan Belanda menyerahkan Pulau Manhattan kepada Inggris.


Orang-orang Kepulauan Banda yang menyerahkan diri kemudian diangkut ke Batavia. Sedangkan 44 orangkaya pada 8 Mei 1821 dihukum mati di dalam Fort Nassau dengan cara dipenggal oleh para samurai Jepang. Setelah melenyapkan penduduk di Pulau Banda dan Pulau Lontor, VOC menyatakan bahwa kebun-kebun pala menjadi milik VOC. VOC kemudian memberi hak pakai atas kebun-kebun itu kepada bekas tentara dan pegawai VOC. Tenaga kerja di kebun-kebun itu diusahakan oleh VOC melalui tenaga budak.


Kebun-kebun pala dengan hak pakai itu dibagi dalam 68 perken (kapling) dengan ukuran masing-masing 12-30 hektare. Di Pulau Lontor terdapat 34 perken, di Pulau Ai 31 perken, dan di Pulau Banda 3 perken. Seluruhnya dikelola oleh 34-68 perkenier (pengelola perken). Dengan demikian maka seluruh wilayah Kepulauan Banda berada dalam kekuasaan VOC.