Sejarah Sekolah INS Kayu Tanam - ABHISEVA.ID

Sejarah Sekolah INS Kayu Tanam

Sejarah Sekolah INS Kayu Tanam


Sejarah Sekolah INS Kayu Tanam - Indonesisch Nederlandsche School atau yang juga disebut dengan INS Kayu Tanam merupakan institusi pendidikan alternatif yang didirikan oleh Mohammad Sjafei. INS Kayu Tanam berdiri pada tanggal 31 Oktober 1926 di Padang Pariaman, Sumatera Barat. Pendirian INS Kayu Tanam tidak dapat terlepas dari penerapan pendidikan deskriminatif oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20 Masehi. Dapat dikatakan bahwa didirikannya INS Kayu Tanam oleh Moh. Sjafei adalah bentuk perlawanan terhadap sistem pendidikan di sekolah-sekolah pemerintah kolonial Belanda. Di bawah ini akan dijelaskan sejarah INS Kayu Tanam.


Latar Belakang Berdirinya INS Kayu Tanam


Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah kolonial Belanda hanya memprioritaskan kepentingan bangsa Eropa dan kaum bangsawan pribumi. Belanda tidak benar-benar memperhatikan nasib pendidikan rakyat jelata. Belanda hanya mendidik rakyat jelata untuk dijadikan sebagai tenaga kasar dan murah di industri-industri Asing di Indonesia. 


Menjelang akhir abad ke-19 dalam masyarakat Minangkabau, pendidikan menjadi alternatif terhormat, Pada perkembangannya, setelah diberlakukannya politik etis sejak tahun 1901 dan didirikannya sekolah-sekolah oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda, membuat masyarakat Minangkabau menjadi suku bangsa yang ‘lapar’ pada pendidikan sekolah, sehingga masa sehabis Perang  Dunia Pertama lahirlah gerakan yang luar biasa untuk membuka sekolah untuk anak-anak mereka. Mulanya alasan menyekolah anak karena ekonomi, menjadi pegawai, menerima gaji tetap dan lebih baik dari pada menjadi petani. Setelah pemerintah kolonial mendirikan sekolah berbahasa Belanda, muncul pendapat umum, bahwa orang yang bersekolah dinamakan ‘orang terpelajar’ dan masuk pada dunia ‘kemajuan’, siapa yang tidak sekolah dipandang ‘orang kolot’.


Alam Minangkabau yang terpelajar inilah yang menjadi cikal-bakal munculnya tokoh-tokoh nasional dari Minangkabau, salah satunya adalah Mohammad Sjafe’i, pencetus dan pendiri Ruang Pendidik INS Kayutanam. Indonesische Nederlandsche School atau INS Kayutanam didirikan pada tanggal 31 Oktober 1926, sebagai reaksi terhadap sistem pendidikan yang dilaksanakan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. 


Dasar dan Tujuan INS Kayu Tanam


Pada awal didirikan pada 31 Oktober 1926, pendidikan INS Kayu Tanam memiliki dasar dan tujuannya. Dasar dan tujuan pendidikan INS Kayu Tanam memiliki beberapa asas antara lain;


1. Berfikir dan rasional;

2. Keaktifan dan kegiatan;

3. Pendidikan masyarakat;

4. Memperhatikan pembawaan anak;

5. Menentang intelektualisme (intelektualisme Belanda).


Setelah kemerdekaan, asas-asas tersebut dikembangkan menjadi dasar-dasar pendidikan yang mencakup sebagai berikut;


1. Ketuhanan yang maha esa;

2. Kemanusiaan;

3. Kesusilaan;

4. Kerakyatan;

5. Kebangsaan;

6. Gabungan antara pendidikan ilmu dan kejuruan;

7. Percaya diri sendiri juga pada Tuhan;

8. Berakhlak (bersusila) setinggi mungkin;

9. Bertanggung jawab atas keselamatan nusa dan bangsa;

10. Berjiwa aktif positif dan aktif negatif;

11. Mempunyai daya cipta;

12. Cerdas, logis, dan rasional;

13. Berperasaan tajam, halus dan estetis;

14. Gigih atau ulet yang sehat;

15. Correct atau tepat;

16. Emosional atau terharu;

17. Jasmani sehat dan kuat;

18. Cakap berbahasa Indonesia, Inggris dan Arab;

19. Sanggup hidup sederhana dan bersusah payah;

20. Sanggup mengerjakan sesuatu pekerjaan dengan alat serba kurang;

21. Sebanyak mungkin memeakai kebudayaan nasional waktu mendidik;

22. Waktu mengajar, para guru sebanyak mungkin menjadi objek, dan murid-murid menjadi subjek. Bila hal ini tidak mungkin barulah para guru menjadi subjek dan murid menjadi objek;

23. Sebanyak mungkin para guru mencontohkan pelajaran-pelajarannya, tidak hanya pandai menyuruh saja;

24. Diusahakan supaya pelajar mempunyai darah ksatria; berani karena benar;

25. Mempunyai jiwa konsentrasi;

26. Pemeliharaan (perawatan) sesuatu usaha.

27. Menepati janji;

a. Sebelum pekerjaan dimulai dibiasakan menimbangnya dulu sebaik-baiknya;

b. Kewajiban harus dipenuhi.

28. Hemat.


Sesuai dengan asas dan dasar pendidikan tersebut di atas, pendidikan INS Kayu Tanam memiliki tujuan yaitu;


1. Mendidik rakyat ke arah kemerdekaan;

2. Memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat;

3. Mendidik para pemuda agar berguna untuk masyarakat;

4. Menanamkan kepercayaan terhadap diri sendiri dan berani bertanggung jawab;

5. Mengusahakan mandiri dalam pembiayaan;


Program Pendidikan dan Kurikulum Pendidikan INS Kayu Tanam


INS Kayu Tanam memiliki beberapa program yang dirancang oleh Moh. Sjafei dalam mengemban pendidikan nasional. Program pendidikan dan kurikulum pendidikan INS Kayu Tanam antara lain:


1. Memantapkan dan menyebarluaskan gagasan-gagasan tentang pendidikan nasional;

2. Pengembangan kelembagaan, sarana-prasaran pendidikan;

3. Pemberantasan buta huruf; dan

4. Penerbitan majalah anak-anak.


Di dalam bidang kelembagaan, INS Kayu Tanam menyelenggarakan berbagai jenjang pendidikan antara lain;


1. Ruang Rendah (7 tahun, setara sekolah dasar);

2. Ruang Dewasa (4 tahun yang ditempuh setelah menjalani Ruang Rendah, setara sekolah menengah);

3. Program khusus untuk menjadi guru, yaitu tambahan satu tahun setelah Ruang Dewasa untuk pembekalan kemampuan mengajar dan praktik mengajar.


INS Kayu tanam mempraktikkan “community oriented project” di sekolahnya, sebelum perumusan itu menjadi seluas sekarang dalam pembangunan pendidikan di Indonesia. Pengajaran dan pendidikan di sekolah harus berdasarkan kebutuhan masyarakat, antara sekolah dan masyarakat harus ada hubungan yang erat, sekolah adalah bagian yang hidup dari masyarakat. Program pendidikan INS Kayu Tanam mengutamakan pendidikan keterampilan-kerajinan dengan mengutamakan menggambar, pekerjaan tangan, dan sejenisnya. Moh. Sjafei melalui INS Kayu Tanam melengkapi pendidikan dan pengajaran dengan mengutamakan “pelajaran ekspresi” yaitu menggambar menyanyi dan pekerjaan tangan, pelajaran olahraga dan kesenian pun juga menjadi salah satu hal yang sangat penting.


Di INS Kayu Tanam , pelajaran yang berkaitan dengan kerja tangan mengambil waktu yang besar. Untuk kelas I sebanyak 1,5 jam/hari, kelas II sebanyak 1,5 jam/hari, dan kelas III sebanyak 3 jam/hari. Pada kelas terendah ditekankan kepada kerja mencontoh, untuk melatih pengamatan si murid. Gedung sekolah, asrama yang sederhana tempat tinggal beberapa murid, bangku-bangku sekolah, semua keperluan sekolah dikerjakan oleh murid-murid sendiri di bawah pengawasan seorang tukang kayu yang dibayar untuk itu.


Menolong diri sendiri merupakan asas sekolah itu, walaupun untuk itu sekolah harus dalam kekurangan hingga gaji-gaji guru pun berada di bawah ukuran umum. Moh. Sjafei sendiri memberi  contoh menyerahkan honorarium karanganannya untuk kepentingan sekolahnya, karena ia ingin mempertahankan sifat bangsanya yang ingin berusaha sendiri. Untuk menciptakan orang-orang Indonesia yang aktif, sejak kecil anak-anak harus dibuat aktif pula.


Umpamanya dalam hal pengajaran membaca. Setelah diterangkan secara umum untuk seluruh kelas, pada giliran, sedangkan yang lain-lainnya berada di ruang kelas yang berdekatan untuk bekerja lain. Cita-cita Moh. Sjafei di dalam INS Kayu Tanam agar untuk setiap kelas ada dua ruangan yang tersedia, satu untuk pelajaran teori dan satu untuk praktik. Dengan cara itu, ia ingin mencegah hilangnya waktu pada anak-anak, yang sering kali mengantuk karena harus mendengarkan temannya membaca dari bahan pelajaran yang sama.


Pelajaran bertani pun diberikan di sekolah setelah sekolah cukup mempunyai tanah untuk digarap. Olahraga, termasuk di dalamnya permainan rakyat, menghabiskan waktu 5 jam pelajaran dalam seminggu. Selain itu, untuk pelajaran menyanyi pun juga dilakukan sebanyak 1,5 jam untuk setiap kelas , juga dikelas dua dalam bahasa Belanda, yang sering kali diiringi oleh murid-murid INS Kayu Tanam sendiri dengan mengirinya menggunakan biola, seruling dan gitar. Murid-murid INS Kayu Tanam telah membentuk sebuah orkes model Barat.


Pelajaran menggambar yang menghabiskan waktu 2, 3, dan 1, 5 jam diberikan dengan metode sendiri. Sudah sejak kelas satu murid-murid diharuskan menggambar, di luar kepala, benda-benda yang dilihatnya. Ini sebagai latihan ketajaman mengamati dan mengingat sesuatu. Di kelas tiga barulah dipergunakan cat air dan kapur. Di kelas yang lebih tinggi dipelajari ukir-mengukir kayu dan hasilnya yang baik dimuat sebagai ilustrasi di dalam majalah sekolah yang bernama Rantai Mas. 


Di kelas tiga telah diadakan latihan drama berdasarkan naskah kecil sandiwara. Layar dan dekornya dimuat oleh murid-murid sendiri. Dengan metode sendiri pula diajarkan ilmu bumi di kelas tiga yang dimulai secara umum: dengan bola dunia, benua-benua lain dan kemudian negeri sendiri, agar dirasakan murid negerinya sebagai bagian dunia. Kejadian sehari-hari diterangkan juga, untuk membangkitkan minat dan sebagai obat mengantuk.


Mata pelajaran pokok di INS Kayu Tanam adalah Bahasa Indonesia dengan jumlah jam belajar sebanyak 7,5 jam di kelas rendah dan 6 jam di kelas tiga. Apabila dalam pelajaran bahasa asing, yang dipentingkan pada mulanya hanya pengamatan si murid, pada pelajaran Bahasa Indonesia sejak awal murid dibiasakan untuk merumuskan secara tajam pikirannya dan dengan itu ingin dicapai berpikir secara teratur. Sebagai bahan pelajaran harus dipakai kisah dan kejadian yang ada disekitarnya.


Untuk pelajaran Bahasa Belanda, di INS Kayu Tanam hanya diberikan sebanyak 1 jam di kelas satu, yang berupa latihan pengucapan, kemudian di kelas dua sebanyak 6 jam dan dikelas tiga sebanyak 7,5 jam. Maksud dari pengajaran bahasa Belanda ini adalah penguasaan pasif. Rencana pelajaran berada di tengah-tengah rencana pelajaran pemerintah dan rencana pelajaran yang diberikan oleh Taman Siswa.


Pelajaran ilmu hayat diajarkan sejalan dan dikaitkan dengan pelajaran menggambar dan kerja tangan, dan terutama untuk membangkitkan perhatian, mengenal, dan meneliti sendiri. Orang mulai dengan menerangkan tumbuh-tmbuhan dan binatang yang ada di sekitarnya. Corak agama menjadi ciri pengajaran, dalam hal ini agama Islam. Namun, titik beratnya ialah agar murid lebih menghayati agama, tidak untuk pengetahuan maupun menjalankan ibadah. Cinta kepada kebenaran didengungkan kepada murid sebagai suatu kebajikan yang besar.


Di INS Kayu Tanam, para siswa mendapatkan banyak latihan mempergunakan tangannya dan membuat barang-barang yang berguna bagi keperluan hidup sehari-hari. Moh. Sjafei menganggap corak pendidikan itu “belajar dan bekerja” akan membentuk watak, rasa sosial dan saling menolong anak didik. Anak didik diajarkan suatu pekerjaan yang sesuai dengan pembawaan dan kemauannya untuk penghidupannya nanti, dengan harapan dapat membentuk pemuda-pemuda Indonesia yang tegak sendiri, berusaha sendiri, hidup bebas dan tidak bergantung buat seumur hidupnya pada pemerintah. Moh. Sjafei berpendapat bahwa inisiatif seseorang dan perasaan tanggung jawab adalah sifat watak yang terpenting yang harus dikembangkan. 


Usaha lain yang ditunjukkan oleh INS Kayu Tanam adalah menerbitkan majalah anak-anak yang bernama Sendi, buku bacaan dalam rangka pemberantasan buta huruf atau aksara dan angka yang bernama Kunci 13, serta mencetak buku-buku pelajaran. Semua upaya tersebut dilakukan sebagai usaha mandiri, menolak bantuan-bantuan yang mungkin membatasi kebebasannya.


Seperti halnya yang dilakukan oleh Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara, INS Kayu Tanam juga mengupayakan gagasan-gagasan tentang pendidikan nasional, terutama pendidikan keterampilan atau kerajinan, beberapa jenjang pendidikan dan sejumlah alumni. INS Kayu Tanam juga berupaya dapat melakukan penyegaran dan dinamisasi, seiring dengan perkembangan masyarakat dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di samping itu, upaya-upaya pengembangan pendidikan INS Kayu Tanam diarahkan dalam rangka pengembangan dan kemajuan sistem pendidikan nasional sebagai upaya mewujudkan cita-cita INS Kayu Tanam, yaitu untuk mencerdaskan seluruh rakyat Indonesia.


Sistem  pendidikan di INS Kayu Tanam didasarkan pada pendidikan humanis dan modern. Oleh karena itu, INS Kayu Tanam selalu menyelenggarakan pendidikan berdasarkan kebutuhan masyarakat. Demikianlah penjelasan singkat tentang sekolah Indonesisch Nederlandsche School atau yang juga disebut dengan INS Kayu Tanam sebagai institusi pendidikan alternatif yang didirikan oleh Mohammad Sjafei.