Sekolah Ksatrian Instituut - ABHISEVA.ID

Sekolah Ksatrian Instituut

Sekolah Ksatrian Instituut


Sekolah Ksatrian Instituut - Adanya larangan tentang organisasi politik pada organisasi Indische Partij akhirnya berpindah bidang dalam perjuangannya, peralihan perjuangan dari politik ke ranah pendidikan. Pada ranah pendidikan E.F.E. Douwes Dekker dan Istrinya Petronella Mossel mendirikan Ksatrian Instituut. Perkembangan Ksatrian Instituut sangat baik dengan bukti dibukanya sekolah Ksatrian Instituut diberbagai tempat. Di bawah ini akan dijelaskan tentang sekolah Ksatrian Instituut.


Latar Belakang Didirikan Ksatrian Instituut


Kegagalan yang dialami oleh E.F.E. Douwes Dekker dalam ranah politik berawal dari kegagalan memperoleh badan hukum Indische Partij pada tanggal 4 Maret 1913 yang ditolak dengan alasan karena organisasi Indische Partij berdasarkan politik dan mengancam keamanan umum. Setelah kegagalan di Indische Partij, tidak membuat E.F.E. Douwes Dekker menyerah. Beberapa upaya tetap dilakukan oleh  E.F.E. Douwes Dekker bersama kedua rekannya (Suwardi Suryaningrat dan Cipto Mangunkusumo) untuk bergabung ke dalam Insulinde sebagai upaya tetap memperjuangkan pergerakan nasional di bidang politik. 


Pada tahun 1919 Insulinde berubah nama menjadi Nationaal Indische Partij yang diketuai oleh Soewardi Surjaningrat yang bertempat di Semarang. Nationaal Indische Partij yang telah dimasuki tiga serangkai yakni E.F.E. Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo dan Soewardi Surjaningrat dianggap perhimpunan yang membahayakan keamanan dan ketentraman. pada tahun 1921 Nationaal Indische Partij dibubarkan oleh pemerintah Hindia Belanda karena perhimpunan tersebut dianggap membahayakan dan mengganggu ketertiban umum.


Setelah Nationaal Indische Partij (NIP) resmi dilarang oleh pemerintah Belanda maka E.F.E. Douwes Dekker meninggalkan Semarang menuju Cibadak keresidenan Sukabumi. Cibadak merupakan tempat sederhana bagi E.F.E. Douwes Dekker. Di sini E.F.E. Douwes Dekker beternak ayam untuk membiayai hidupnya sendiri, disamping beternak ayam E.F.E. Douwes Dekker juga menjadi pengusaha anjing herder dan bahkan mendirikan perkumpulan penggemar anjing herder pada tahun 1925, memberikan kursus anatomi anjing dan terkenal sebagai peternak anjing herder terkemuka.


Selain beternak ayam dan anjing herder, E.F.E. Douwes Dekker juga tetap melakukan propaganda di Jawa Barat. Berbeda dengan pada waktu di Jawa Tengah, propaganda E.F.E. Douwes Dekker kurang mendapat sambutan oleh masyarakat Jawa Tengah. Meskipun berpisah dari dua kawannya yaitu Tjipto Mangunkusumo dan Soewardi Surjaningrat, E.F.E. Douwes Dekker tetap semangat untuk memperjuangkan Hindia Belanda untuk meraih kemerdekaan yang di cita-cita masyarakat Hindia Belanda yang tertindas.


Usia yang sudah tidak muda lagi yaitu berumur 46 tahun dan organisasi yang tak kunjung mendapatkan badan hukum oleh pemerintah Hindia-Belanda maka E.F.E. Douwes Dekker mengambil langkah lain untuk melanjutkan perjuangan menuju Hindia Belanda yang merdeka. E.F.E. Douwes Dekker memilih perjuangan di ranah pendidikan. Sejak perkembangan industri, muncul berbagai lembaga pendidikan modern tingkat menengah dan tinggi dengan sistem pendidikan yang bersifat massal namun masih bernuansa diskriminasi, seperti sekolah khusus untuk anak-anak Eropa misalnya Europese Lagers School (ELS), untuk golongan Timur-Asing Hollands-Arabische School (HAS) dan Hollands-Chinesche School (HCS) untuk golongan anak-anak China. ELS, HAS dan HCS adalah setingkat dengan Sekolah Dasar. Sedangkan untuk golongan bumiputra dibedakan menjadi dua golongan yaitu kaum bangsawan atau priyayi (eerste school) dimulai tahun 1897 dan kelompok rakyat pribumi atau rakyat jelata (tweede school) dimulai tahun 1914.


Orang Jawa mengenalnya dengan nama Sekolah Ongko Siji dalam bahasa Belanda Eerste School yaitu Hollandsch Inlandsch School (HIS) yang setingkat dengan Sekolah Dasar sedangkan Sekolah Ongko Loro (Tweede School) hanya Volk School atau Sekolah Rakyat dengan massa studi 2 tahun dengan bahasa pengantar bahasa daerah dan pelajaran sekedar belajar membaca dan berhitung. Setelah belajar di HIS kemudian melanjutkan di Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) yang setingkat dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Algemeemen Middlebare  School  (AMS)  yang  setingkat  dengan Sekolah Menengah Atas (SMA).


Kesenjangan sosial antara anak-anak pribumi dengan keturunan Belanda dalam memperoleh ilmu melalui pendidikan sangat diperhatikan oleh E.F.E. Douwes Dekker sebagai celah untuk melakukan perjuangan dibidang pendidikan. Pembelajaran dapat dilakukan berbagai cara, seperti Budi Utomo yang melakukan pergerakannya melalui diskusi di STOVIA dan Indische Partij yang melakukan banyak propaganda melalui media cetak De Expprees, Het Tijdschrift, De Beweging dan Nieuwe Exprees. 


Propaganda-propaganda yang dilancarkan oleh E.F.E. Douwes Dekker adalah sebuah pemikiran dan pembelajaran tentang makna nasionalisme yang dilakukan untuk tujuan akhir yaitu Hindia Belanda memperoleh kemerdekaan melalui perjuangan yang tidak mudah. 


Pada bulan September tahun 1922 E.F.E. Douwes Dekker diperkenankan sebagai seorang guru pada sekolah yang dikelola oleh Ny. H.E. Mayer-Elenbaas di Jalan Kebon Kelapa 17 Bandung. Pada tahun 1923 dari bekas sekolah itu muncul Institut Pengajaran Priangan dari Pekumpulan Pengajaran Rakyat di Bandung (Preanger Instituut van de Vereeniging Volksonderwijs), di mana E.F.E. Douwes Dekker berkedudukan sebagai kepala MULO. Dari sinilah E.F.E. Douwes Dekker mulai merancang perjuangannya melalui pendidikan 


Institut Pengajaran Priangan dari Pekumpulan Pengajaran Rakyat di Bandung (Preanger Instituut van de Vereeniging Volksonderwijs)


Pada tahun 1923 muncul Instituut Pengajaran Priangan dari Perkumpulan Pengajaran Rakyat di Bandung. Tujuan sekolah ini adalah untuk memberi kesempatan belajar kepada anak-anak bumiputra. Rencana pelajaran sekolah ini disesuaikan dengan Europese Lagers School (ELS). Dalam tatanan bahasa yang digunakan untuk proses pengajaran, Douwes Dekker sebenarnya tidak menginginkan bahasa Belanda dijadikan bahasa pengajaran namun bahasa Belanda masih tetap penting untuk mengetahui sisi kolonial dan dari sisi ekonomi. 


Menurut laporan dari Inspektur HIS, Institut Pengajaran Priangan tidak mengandung kecenderungan politik, tetapi pada tanggal 8 Februari 1923 Institut Pengajaran Priangan ditutup untuk memperingati hari wafatnya Pangeran Diponegoro. Inisiatif ini sebenarnya muncul dari Taman Siswa. Namun, Douwes Dekker menganggap bahwa Pangeran Diponegoro sebagai tokoh nasional tingkat pertama yang patut untuk dihormati.


Preanger Instituut van de Vereeniging Volksonderwijs menjadi School Vereeniging Het Ksatrian Instituut


Dalam salah satu surat Douwes Dekker kepada kawannya di Karawang, Douwes Dekker menulis;


“...yang terpenting di sekolah adanya rasa harga diri manusia dan kepercayaan kepada diri sendiri diajarkan sebagai bagian pendidikan untuk membina watak dan batin sekolah akan berbeda dengan sekolah- sekolah yang didirikan oleh penjajah.”


E.F.E. Douwes Dekker siap mengabdikan jiwa dan raga untuk kemajuan pendidikan di Hindia Belanda. Hal ini terbukti sejak November 1924 lembaga pendidikan Priangan diubah menjadi yayasan yang bernama School Vereeniging Het Ksatrian Instituut atau sering disingkat Ksatrian Instituut. Ksatrian Instituut (dalam bahasa Indonesia berarti Sekolah ksatria) berkembang baik dan mempunyai murid lebih dari 200 siswa. Selain merubah namanya pada November 1924 juga dikeluarkan Instruksi Sekolah. Instruksi Sekolah itu memuat tujuan pendidikan Ksatrian Instituut. Tujuan Pendidikan Ksatrian Instituut adalah;


“Dalam arti susila, pengajaran selalu bertalian dengan kegembiraan hidup dan diarahkan untuk memperkuat dan menciptakan rasa harga diri, pengembangan inisiatif dan kesadaran kemerdekaan, meninggikan peradaban sendiri, satu dan lain hal berdasarkan rasa cinta kepada lingkungannya, tanah air dan bangsanya sendiri dan kemudian kepada kemanusiaan.


Dalam arti kecerdasan otak, pengajaran terutama ditujukan untuk menambah pengetahuan tentang sumber-sumber bantu bagi perkembangan tanah air sendiri dan tentang kemungkinan-kemungkinan membangun apa yang berguna dan terhormat di masa mendatan. Pelaksanaan pengajaran akan bebas dari pengaruh agama dan rencana ketatanegaraan partai politik.”


Demi kepentingan pendidikan para murid diharapkan menjadi kader perjuangan Hindia Belanda di masa yang akan datang, maka. E.F.E. Douwes Dekker hanya memusatkan perhatiannya pada pendidikan di Sekolah. Ksatrian Instituut dipindahkan dari Bandung ke Kebonjati dan pimpinan teknis sekolah diserahkan pada istri Douwes Dekker. Pada tanggal 1 Juli 1926 Ksatrian Instituut yang baru dengan pengurus- pengurus baru antara lain E.F.E. Douwes Dekker, G.M.G. Douwes Dekker, P.Ph.P. Westerloo, J.E. Folkens, Tjipto Mangunkusumo , A. Coomans dan P.E. Dakter. 


Selain susunan pengurus yang baru, pada tanggal 16 November 1926 Yayasan Ksatrian mendapatkan surat persetujuan pengakuan sebagai badan hukum dari Gubernur Jendral Hindia Belanda serta untuk susunan pengurus Yayasan Perguruan Het Ksatrian Instituut sesuai dengan bunyi pasal 7 Anggaran Dasar terdiri dari seorang Ketua, Seorang Sekretaris, dan seorang Bendahara. Jabatan sebagai ketua yayasan dipegang oleh Douwes Dekker dan istrinya yang bernama Johanna Petronella Douwes Dekker bertindak sebagai Sekretaris. Pada mulanya Sekolah Ksatria hanya berupa Sekolah Dasar yang sederhana. Tujuan sekolah itu adalah untuk memberi kesempatan belajar yang lebih baik dan lebih luas bagi rakyat Hindia Belanda.


Titik berat usaha Ksatrian Instituut ialah pengajaran berdasarkan jiwa nasional dan pendidikan ke arah manusia yang berpikiran untuk merdeka. Sebagai persiapan tugas murid-murid di masa depan maka di sekolah dasar diajarkan bahasa Inggris mulai kelas lima. Gedung-gedung dibangun sesuai denga tujuan kesehatan murid yang berada  dibawah pengawasan dan perawatan dokter di yayasan Ksatrian Instituut sendiri. Para murid mendapat sarapan pagi yang bergizi di sekolah karena tak akan ada jiwa yang sehat di dalam tubuh yang sakit. 


Perkembangan Ksatrian Institut


Diakuinya sebagai badan hukum yayasan Ksatrian Instituut memperoleh kemajuan yang pesat dan dapat berkembang menjadi lima cabang antara lain Nationale Lagere School I dan II terdapat di Bandung, Nationale Lagere School III terdapat di Ciwidey, Nationale Lagere School IV terdapat di Cianjur, Nationale Lagere School V terdapat di Sukabumi.


Selain membuka cabang Nationale Lagere School (NLS) di berbagai tempat, yayasan Ksatrian Instituut juga mempersiapkan sekolah lanjutan bagi murid-murid yang dipersiapkan untuk menjadi orang-orang yang tidak dimiliki oleh para lulusan sekolah pemerintah seperti MULO, HBS dan AMS. Untuk itu Ksatrian Instituut mendirikan sekolah kejuruan dengan bagian jurnalistik, perburuhan, sastra dan ekonomi. Sekolah kejuruan ini didirikan pada tahun 1932 bernama Nationaal Handels Collegium, tetapi hanya berjalan kurang lebih satu tahun pemerintah Hindia Belanda melarang nama sekolah tersebut dan kemudian diganti nama menjadi Moderne Middelbare Handesel School (MMHS). 


Sekolah  kejuruan ini dimaksudkan agar murid-murid mempunyai keahlian pada bidangnya. E.F.E. Douwes Dekker memakai semboyan “….Door de will van onse Volk” yang berarti “….karena kemauan rakyat” dan semboyan kedua “Des Volks Toekomst gewijd” yang berarti “Diabdikan Kepada Hari Kedepan Rakyat”, MMHS memberikan psikologi perdagangan, yaitu untuk mengenal pelanggan dan pembeli. Rahasia penjualan, jiwa reklame, dan keterampilan untuk membuat keuntungan merupakan pengetahuan yang dapat membawa bangsa ke arah kemajuan. Diharapkan anak-anak akan berkembang lebih baik dibandingkan dengan kondisi sekarang.


Mereka juga diperlengkapi dengan alat perdagangan yaitu bahasa-bahasa yang penting , seperti bahasa Cina dan Jepang. Tamatan MMHS dikemudian hari diharapkan dapat mengunjungi negara Cina dan Jepang, tidak hanya sekedar untuk meneruskan studi di perguruan tinggi di sana, melainkan juga untuk mengadakan hubungan perdagangan. Demikian juga bahasa Inggris perlu dimiliki dengan baik oleh murid MMHS. Di samping pelajaran bahasa asing, juga diberikan pelajaran mengenai teknik perdagangan yang meliputi pengetahuan tata buku, pengetahuan dagang, ilmu perusahaan, dan ilmu biaya. Reklame perdagangan merupakan keterampilan untuk mengeruk keuntungan yang perlu dipelajari oleh murid-murid.


Kesemuanya itu diperlengkapi dengan pengetahuan umum yang berkaitan dengan manusia dan masyarakat, yaitu sejarah budaya dan pertumbuhan peradaban. Kemahiran untuk merumuskan pendapat dan cara-cara penyampaiannya di depan umum pun dijadikan latihan dari keterampilan murid-murid.


Rencana-rencana pelajaran itu, Ksatrian Instituut berkeinginan untuk menghindari persamaan dengan sekolah-sekolah pemerintah. Lulusan MMHS diharapkan untuk menjadi pekerja-pekerja yang sanggup berdiri sendiri, awalnya sebagai pemimpin-pemimpin kecil, tetapi kemudian menjadi pemimpin-pemimpin dari perusahaan yang lebih besar. Mereka harus membangun bagi masa depan tanah airnya dan menjadi tulang punggung masyarakat karena kedudukannya sebagai golongan menengah.


Pendidikan di MMHS memakan waktu lima tahun yang terbagi atas tiga tahun sebagai pendidikan dasar dan 2 tahun sebagai pendidikan keahlian. Setelah 3 tahun bersekolah, mereka yang ingin langsung bekerja di dalam masyarakat dapat segera dilepaskan. Yang ingin meneruskan pelajaran lebih tinggi dengan spesialisasi dapat meneruskan sekolah selama dua tahun lagi. Mereka yang menempuh jalur tambahan 2 tahun ini dapat melangsungkan pelajaran di sekolah tinggi yang terletak di Tokyo, Osaka, Hong Kong, maupun Manilla. Selain itu, kesempatan untuk melanjutkan di Rotterdam pun terbuka bagi lulusan MMHS.


Bagi murid-murid MMHS yang ingin segera ikut serta dalam pembangunan nasional, terbuka jurusan jurnalistik. Hindia-Belanda pada saat itu sangat banyak berterbitan surat kabar-surat kabar namun, kekurangan jurnalis-jurnalis bumiputra yang berkemampuan baik. Sebagai seorang jurnalis yang menggunakan bahasa sendiri, dengan memiliki kekayaan pengetahuan ekonomi dan budaya, lulusan MMHS ini diharapkan akan mendapatkan kedudukan yang lebih baik.

 

Salah satu hal yang menarik dari Ksatrian Instituut ialah usaha untuk memenuhi kebutuhan sekolah dalam hal buku pelajaran. Ksatrian Instituut merencanakan dan berusaha agar dapat menerbitkan sendiri buku pelajaran untuk para murid. Buku-buku  yang diterbitkan oleh Ksatrian Instituut, antara lain: 

1. Sejarah Pertumbuhan Lalu Lintas Manusia di Dunia; 

2. Buku-buku Bahasa; 

3. Tata Bahasa Jepang yang dikerjakan oleh seorang Jepang dan guru dari Hindia Belanda yang bernama H. Nagashami B.A dan H. Sabirin dengan judul Leerboek van de Japansche tall, buku ini ada tiga jilid yang digunakan dalam pembelajaran; 

4. Sejarah Indonesia Kuno yang ditulis oleh E.F.E. Douwes Dekker dengan judul asli Vluchtig Overzicht van de Geschiedenis van Indonesie, Deel I. Oudheid en Antieke, Deel II. Interval, Deel III. Moderne; 

5. Buku pelajaran Sejarah Dunia yang juga ditulis oleh E.F.E. Douwes Dekker dengan judul asli Wereld Geschiedenis : Leerboek voor Middelbare Scholen in Indonesia I Oost Azie Bandung.


Pada tahun 1933 pemerintah kolonial Hindia-Belanda melakukan pelarangan dan penyitaan terhadap buku terbitan Ksatria Instituut yang dianggap anti pemerintahan Belanda dan anti penjajahan serta buku pelajaran dan sejarah yang diterbitkan oleh Ksatrian Institut terkesan memihak Jepang. E.F.E. Douwes Dekker kemudian dilarang mengajar lagi di Ksatrian Instituut. Meskipun dilarang oleh pemerintah, E.F.E. Douwes Dekker tetap mengeluarkan pemikirannya bagi kemajuan Ksatrian Instituut.


Pada tanggal 1 Agustus 1935 Ksatrian Instituut membuka pendidikan untuk Kweekschool atau Sekolah Guru. Keinginan Douwes Dekker Nampak jelas dalam salah satu pernyataannya yang dimuat dalam surat kabar Bintang Timoer: 


“Jika kelak sekolah-sekolah liar telah merebut masa depan pengajaran, seperti yang telah direbutnya sekarang, pemerintah akan meminta syarat-syarat lebih tinggi bagi guru-guru. Pemerintah akan bertindak untuk kepentingan pengajaran, yang juga merupakan kepentingan kita. Kita akan menyambut bila hal itu terjadi. Sekarang belum terjadi, waktunya belum tiba untuk itu. Akan tetapi, kelak akan terjadi juga. Kita harus melihat ke depan. Persiapan kita sebagai guru yang telah mendapatkan pendidikan baik serta berwenang. Dalam jumlah besar, mereka harus siap memegang kewajiban memenuhi kebutuhan pengajaran. Apa yang telah kita berikan, harus dilipatkan sepuluh kali kepada rakyat.”


Dengan semboyan “untuk tiap-tiap desa sekolahnya sendiri” dimulailah jurusan pendidikan guru oleh Ksatrian Instituut, sekolah guru ini merupakan bagian dari MMHS yang menempuh pendidikan selama 3 tahun. Pendidikan guru meliputi pengetahuan umum yang luas, ditambah dengan pengetahuan dagang, perhubungan dengan masyarakat. Dengan demikian guru-guru lulusan Ksatrian Instituut hanya dipersiapkan bagi sekolah-sekolah partikelir di Indonesia. Untuk mereka jabatan bukan tujuan utama, yang menjadi tujuan ialah sekolah itu sendiri. 


Mereka (para guru) harus sanggup masuk pelosok dan mendirikan sekolah di desa-desa. Bagaimana caranya membangu sekolah tanpa modal, kelak akan diajarkan di Ksatrian Instituut. Mereka juga harus berlaku sebagai seorang pedagang, yang dapat memegang tata buku, mengatur administrasi, dan menggali sumber-sumber keuntungan bagi sekolahnya dan dirinya sendiri. Sekedar untuk bahan perbandingan, para peminat sekolah guru dianjurkan untuk memerhatikan perkembangan di Cina dan Jepang. Di situ dorongan untuk lebih maju dibuktikan dengan mengadakan pembaruan-pembaruan.


Dalam pembaruan dijalankan di desa, di mana “dalam beberapa tahun saja tidak ada lagi desa di Cina yang tidak mempunyai sekolahnya sendiri. Pembaruan itu harus ditujukan ke segala arah. Tiada desa lagi tanpa sekolah. Sekolah guru dituntut untuk mengetahui ilmu-ilmu dari dunia Barat, memahami Barat dan menguasai pengetahuan Barat. Bahasa-bahasa, industrinya, dan perdagangannya, dalam arti kata apa yang indah, baik dan kuat berasal dari Barat harus dipelajari.


Berdasarkan pada sudut pandang ini, Ksatrian Instituut berusaha untuk mengalihkan tujuan pengajaran pada sekolah-sekolah pemerintah, karena hanya menimbulkan pengangguran serta merupakan persiapan sebagai pegawai negeri belaka. Kemampuan kerja nyata untuk membangun masyarakat dengan pengetahuan ekonomi dan budaya diharapkan dari para lulusan Ksatrian Instituut. Sisi lain yang penting dalam penyelenggaraan usahanya itu ialah majalah murid dan orang tuanya, yang berhasil diterbitkan oleh Ksatrian Instituut sejak Agustus 1937 yang bernama De Ksatria yang diredaksi oleh R. M. Hoedojo Hoeksamadiman. Majalah itu selain memuat berita-berita tentang sekolah dan alat penghubung antar-murid juga memuat berita-berita umum yang penting baik nasional maupun internasional.


Tujuan pendirian Kweekschool agar tercapai pengajar-pengajar yang baik dan spesialis, terbentuknya dengan segera komite guru-guru dan membuat basis yang lebih  luas bagi perkembangan masyarakat Hindia Belanda. Mata pelajaran yang diberikan meliputi pengetahuan umum yang luas ditambah pengetahuan dagang serta diajarkan hubungan sosial dengan masyarakat. Terbukti, keterampilan lulusan Kweekschool tidak hanya pada pengajaran sebagai guru saja melainkan mempunyai keahlian lain yang bisa diterapkan pada dunia kerja selain guru.


Pada bulan Januari 1941 Douwes Dekker ditangkap dan ditahan di Ngawi. Pemerintah Hindia Belanda khawatir Douwes Dekker dijadikan kaki tangan Jepang. Tujuan Penangkapan Douwes Dekker sebenarnya dilatar belakangi adanya rencana pengiriman pelajar- pelajar tamatan Ksatrian Instituut ke Jepang, akan tetapi Douwes Dekker sama sekali tidak menyetujuinya karena Douwes Dekker tidak mendukung fasisme karena Douwes Dekker ingin membangunkan  nasionalisme Asia. 


Pemerintah menuduhnya telah bekerjasama dengan Jepang. Tuduhan tersebut merupakan alasan yang dicari- cari untuk menangkapnya. Ia memang berencana untuk mengirim para pelajar lulusan Ksatrian Instituut ke Jepang, namun dia sama sekali tidak sepakat dengan ideologi fasisme. Tindakan penangkapan E.F.E. Douwes Dekker mengakibatkan kepemimpinan Ksatrian Instituut terombang ambing, sebab pada tahun 1940 Douwes Dekker sudah meninggalkan Ksatrian Instituut untuk bekerja sebagai pemegang buku untuk Jepang.


Meskipun hidup dalam tahanan, Douwes Dekker tidak lupa pada Ksatrian Instituut. Pada bulan Februari 1941 Douwes Dekker membuat surat kuasa yang isinya memberikan kekuasaan penuh kepada istrinya Johanna Petronella Mossel untuk memelihara kelangsungan hidup dan perkembangan Ksatrian Instituut. Jadi, dalam kurun waktu 1940-1941 kepemimpinan Ksatrian Instituut kosong. E.F.E. Douwes Dekker yang berada di rumah tahanan di Ngawi segera membuat surat kuasa kepada istrinya untuk mengelola Ksatrian Instituut. Setelah kemerdekaan Indonesia, Ksatrian Instituut berubah menjadi SMPN 1 Bandung pada tahun 1949.


Demikianlah penjelasan mengenai sekolah Ksatrian Instituut yang didirikan oleh E.F.E. Douwes Dekker. Semoga bermanfaat.