Prabu Linggabuana Wisesa dan Tragedi Bubat 1357 M - ABHISEVA.ID

Prabu Linggabuana Wisesa dan Tragedi Bubat 1357 M

Prabu Linggabuana Wisesa dan Tragedi Bubat 1357 M


Prabu Linggabuana – Prabu Linggabuana naik takhta Kerajaan Sunda pada tahun 1350 untuk menggantikan ayahnya, Aki Kolot atau Prabu Ragamulya Luhur Prabawa. Prabu Linggabuana memerintah Kerajaan Sunda dengan pusat pemerintahannya di Kawali. Di dalam pelaksanaan pemerintahan, Prabu Linggabuana dibantu oleh adiknya yang bernama Bunisora yang bergelar Mangkubumi Suradipati.


Prabu Linggabuana memiliki permaisuri yang bernama Dewi Lara Linsing. Dari permaisurinya, Prabu Linggabuana memiliki empat orang anak, anak kedua dan ketiga telah meninggal dalam usia satu tahun. Sedangkan yang tertua adalah Dyah Pitaloka yang lahir pada tahun 1339 M yang oleh Aki Kolot diberinama Citraresmi. Sedangkan anaknya yang terakhir adalah Wastu Kancana yang lahir pada tahun 1348 M.


Pada tahun 1357 M, Prabu Linggabuana kedatangan utusan dari Kerajaan Majapahit yang memberikan informasi akan niat Prabu Hayam Wuruk, Raja Kerajaan Majapahit untuk meminang Dyah Pitaloka, puteri Prabu Linggabuana. Tujuan dari pernikahan ini adalah untuk mempererat hubungan persaudaraan antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda.


Tragedi Perang Bubat 1357 M


Prabu Linggabuana segera menanggapi surat dari Hayam Wuruk segera mempersiapkan untuk mengantar Dyah Pitaloka ke Majapahit. Prabu Linggabuana merasa ini adalah momentum untuk menyambung persaudaraan dengan Kerajaan Majapahit. Hal ini mengingat bahwa pendiri Kerajaan Majapahit, Dyah Wijaya (Raden Wijaya) adalah keturunan dari Rakeyan Jayadarma, putra Prabu Darmasiksa yang artinya mereka masih satu leluhur.


Mangkubumi Suradipati Bunisora memiliki firasat yang tidak baik akan undangan Majapahit telah mencegah kepergian Prabu Linggabuana. Namun, Prabu Linggabuana yang yakin bahwa kepergiannya adalah suatu hal yang baik demi menjaga hubungan persaudaraan dengan Majapahit tetap pergi dan menyerahkan pemerintahan kepada Mangkubumi Suradipati Bunisora. Putra Mahkota Wastu Kancana pun yang masih berusia 9 tahun tetap berada di istana didampingi oleh Mangkubumi Suradipati Bunisora. Dengan demikian, maka rombongan Prabu Linggabuana beserta putri Dyah Pitaloka segera berangkat menuju Majapahit.


Di dalam perjalanan menuju keraton Majapahit, ketika sampai di Bubat, rombongan Prabu Linggabuana dihadang oleh Gajah Mada dan pasukannya yang meminta kepada Prabu Linggabuana untuk menyerahkan putri Dyah Pitaloka sebagai “upeti” kepada Majapahit sebagai tanda takluknya Kerajaan Sunda kepada Kerajaan Majapahit. Namun, Prabu Linggabuana tidak terima dengan apa yang diungkapkan oleh Gajah Mada. Sehingga terjadilah pertempuran di daerah Bubat antara pasukan pengawal Prabu Linggabuana dan pasukan Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Gajah Mada.


Pertempuran di Bubat sebenarnya adalah pertempuran yang tidak seimbang antara kedua belah pihak. Pasukan Kerajaan Sunda hanyalah pasukan pengiring pengantin dan pengawal raja yang tidak memiliki senjata yang lengkap. Hal ini berbanding terbalik dengan tentara Kerajaan Majapahit yang memang telah siap bertempur di bawah pimpinan Gajah Mada. Meskipun begitu, pasukan Majapahit yang dipimpin langsung oleh Gajah Mada mengalami kesulitan dan terpaksa harus meminta bantuan dari ibukota Majapahit.


Pasukan dari ibukota Majapahit pun segera dikirimkan dan masuk dalam medan pertempuran Bubat. Di dalam pertempuran yang semakin tidak seimbang dalam jumlah itu, Prabu Linggabuana pun akhirnya tewas. Selain Prabu Linggabuana, sang putri, Dyah Pitaloka pun tewas dalam pertempuran Bubat itu.


Kabar tewasnya Prabu Linggabuana pun akhirnya sampai juga di ibukota Kerajaan Sunda di Kawali. Mangkubumi Suradipati Bunisora sangat marah akan kejadian yang menimpa Prabu Linggabuana beserta rombongannya yang ditipu dengan licik oleh Gajah Mada. Mangkubumi Suradipati Bunisora pun segera mengumpulkan para raja bawahan Kerajaan Sunda untuk membahas mengenai pengganti Prabu Linggabuana dan merencanakan kemungkinan untuk menyerang wilayah Kerajaan Majapahit.


Di dalam perundingan itu, Pangeran Wastu Kancana yang merupakan putera mahkota disepakati akan diangkat sebagai raja setelah ia dewasa. Sedangkan sebagai pendamping raja dan untuk mengisi kekosongan takhta, maka Mangkubumi Suradipati Bunisora diangkat sebagai raja. Setelah diangkat sebagai raja, Mangkubumi Suradipati Bunisora lebih dikenal dengan nama Prabu Bunisora.  


Setelah diangkatnya Prabu Bunisora sebagai raja Kerajaan Sunda menggantikan Prabu Linggabuana, para raja bawahan segera merundingkan rencana untuk menyerang Kerajaan Majapahit. Namun, di dalam pembahasan rencana penyerangan wilayah Kerajaan Majapahit, utusan Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit tiba dan mengirimkan surat permohonan maaf atas tragedi Bubat yang menimpa Prabu Linggabuana dan keluarga. Berdasarkan atas surat permintaan maaf dari Raja Hayam Wuruk ini, para pejabat Kerajaan Sunda mengurungkan niatnya untuk menyerang wilayah Kerajaan Majapahit. Meskipun begitu, hubungan antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Majapahit tidaklah membaik.