Raja Wisnuwarman Pengganti Purnawarman - ABHISEVA.ID

Raja Wisnuwarman Pengganti Purnawarman

Raja Wisnuwarman Pengganti Purnawarman


Raja Wisnuwarman - Sang Wisnuwarman atau Raja Wisnuwarman adalah Raja Kerajaan Tarumanegara yang ke-4. Wisnuwarman memerintah Kerajaan Tarumanegara menggantikan ayahnya, Purnawarman yang mangkat pada tahun 434 M. Wisnuwarman dinobatkan menjadi raja Kerajaan Tarumanegara pada tanggal 14 bagian terang bulan Posya tahun 355/356 Saka atau 434 M. 


Penobatan Wisnuwarman Sebagai Raja Kerajaan Tarumanegara


Pada saat penobatan Wisnuwarman sebagai raja Kerajaan Tarumanegara, di istana kerajaan melakukan sebuah pesta besar selama tiga hari tiga malam dan istana dihiasi dengan bunga-bunga yang sangat harum. Di dalam upacara penobatan Wisnuwarman sebagai raja Kerajaan Tarumanegara menggantikan Purnawarman, para raja kerajaan bawahan Kerajaan Tarumanegara yang terletak di Pulau Jawa bagian barat menghadiri upacara penobatan raja Wisnuwarman sebagai raja Kerajaan Tarumanegara


Selain para raja dari negeri bawahan, upacara penobatan itu juga dihadiri oleh Perdana Menteri Kerajaan Tarumanegara, para brahmana, pendeta kapwajti, senapati sarwajala, panglima angkatan perang dan pejabat-pejabat Kerajaan Tarumanegara yang lainnya. Di dalam upacara itu, para tamu disajikan jamuan makanan dan minuman yang amat lezat. Selain itu, para tamu juga disajikan pertunjukan musik dengan para penari yang berparas cantik. Para tamu kemudian bersama-sama memanjatkan doa-doa bagi Raja Wisnuwarman, raja Kerajaan Tarumanegara yang baru itu.


Masa Pemerintahan Raja Wisnuwarman di Kerajaan Tarumanegara


Setelah penobatan Wisnuwarman sebagai raja Kerajaan Tarumanagara, pada tahun 435 M, Raja Wisnuwarman mengirimkan utusannya ke berbagai negeri, diantaranya; negeri Cina, negeri Bharata, negeri Syangka, negeri Campa, negeri Yawana, Swarnabhumi, Bakulapura, negeri Singa, negeri Dhamma dan seluruh negeri-negeri yang merupakan negara sahabat Kerajaan Tarumanegara. Selain itu, tidak luput juga Raja Wisnuwarman juga mengirimkan utusannya kepada raja-raja yang berada di kawasan Dwipantara.


Tujuan Raja Wisnuwarman mengirimkan utusannya ke berbagai negeri itu bertujuan untuk memberikan kabar bahwa penguasa di Kerajaan Tarumanegara, Raja Purnawarman telah meninggal, dan digantikan oleh Wisnuwarman. Selain memberikan kabar pergantian kekuasaan itu, para utusan yang dikirmkan ini juga berupaya untuk mempertahankan hubungan yang telah berlangsung sejak masa pendahulu-pendahulu Wisnuwarman.


Pada tahun 436 M, tepat tiga tahun setelah Wisnuwarman dinobatkan sebagai raja Kerajaan Tarumanegara, terjadi gempa bumi dengan skala kecil. Pada tahun 439 M, terjadi gerhana bulan, namun gerhana itu berlangsung tidak lama. Kedua kejadian itu (gempa bumi dan gerhana bulan) dianggap oleh Wisnuwarman sebagai suatu pertanda bahaya. Wisnuwarman pun berupaya menghindari bahaya itu dengan mengikuti nasihat dari Brahmana Siddhimantra yang memberikan petunjuk bahwa Raja Wisnuwarman harus berjalan mengikuti aliran Sungai Gangga yang berada di wilayah Kerajaan Indraprahasta (Cirebon). 


Dua bulan kemudian setelah perjalanan itu,  Raja Wisnuwarman bermimpi melihat harimau tua, celeng (babi hutan), garuda, beruang dan beberapa ekor satwa lainnya, semua hewan liar yang dilihatnya itu hendak menyerang Sang Maharaja Wisnuwarman yang tengah menaiki gajah tunggannnya yang bernama maniwa. Di dalam serangan hewan liar itu, Wisnuwarman hampir terjatuh ke tanah, namun gajah maniwa dapat menyelamatakan Wisnuwarman dari bahaya itu. Namun, secara tiba-tiba datang seorang brahmana menaikki gajah airawata (gajah tunggangan Raja Purnawarman) menyelamatkan dirinya. Karena mimpinya itu, Raja Wisnuwarman menjadi sangat gelisah batinnya.


Tiga hari kemudian setelah menuruti nasehat dari para brahmana, Raja Wisnuwarman disertai dengan para pengiringnya dan juga para brahmana, kapwajti segera berangkat ke arah timur, ke Kerajaan Indraprahasta. Di sini Sang Maharaja disambut gembira oleh Raja Indraprahasta yaitu Raja Wiryabanyu. Raja Wisnuwarman keesokan harinya beserta para raja bawahan semuanya mandi di Sungai Gangga dengan dijaga oleh tentara yang membawa berbagai jenis senjata. Setelah Raja Wisnuwarman mandi di Sungai Gangga, ia menuju pertapaan dan melakukan persembahan kepada tempat suci Dewa Wisnu dan Bahtara Sangkara ( Dewa Siwa) yang terletak di sekitar Sungai Gangga.


Pemberontakan Cakrawarman 


Setahun kemudian, pada tahun 437 M setelah peristiwa mandinya Wisnuwarman di sungai Gangga, adalah suatu peristiwa di dalam Kedaton Kerajaan Tarumanegara yaitu di kala Sri Raja dan permaisuri sedang tidur, di malam hari ada seseorang yang membawa pedang dan belati menuju tempat tidur raja Wisnuwarman.  Namun, ketika mendekati tempat tidur Wisnuwarman, pedang dan belatinya terjatuh yang menyebabkan Wisnuwarman dan permaisurinya terbangun dan segera melumpuhkan orang itu. 


Setelah kejadian itu, pada pagi harinya Maharaja Wisnuwarman duduk di tengah balairung, beberapa orang petingi kerajaan, Sang Jaksa, Sang brahmana, Sang tanda, Sang juru saat itu mereka sedang berbincang-bincang (mengenai) perintah menghadap oleh Sang Maharaja. Di tengah balairung itu, seseorang yang hendak membunuh raja Wisnuwarman segera dihadapkan dan dimintai keterangan, mengenai tujuan dari keinginannya. Setelah ditekan oleh Raja Wisnuwarman, orang itu menyatakan bahwa tujuannya membunuh Raja Wisnuwarman karena perintah dari seseorang, yaitu Cakrawarman, Paman Wisnuwarman sendiri (adik Purnawarman).


Perlu diketahui, Cakrawarman yang pada saat masa pemerintahan Raja Purnawarman diangkat sebagai panglima angkatan perang Kerajaan Tarumanegara memiliki keinginan untuk menjadi raja di Kerajaan Tarumanegara. Sehingga, Cakrawarman berupaya untuk membunuh keponakannya sendiri, Raja Wisnuwarman. Mendengar keterangan itu, Wisnuwarman menjadi terkejut, demikian pula para pejabat Kerajaan Tarumanegara yang hadir di balairung itu.


Mendengar rencana pembunuhan terhadap Wisnuwarman gagal, Cakrawarman beserta para pengikutnya melarikan diri menuju ke tepi Sungai Taruma untuk mencari perlindungan dari Kerajaan Cupunagara. Namun, raja Kerajaan Cupunagara, Raja Satyaguna tidak ingin memberikan perlindungan bagi Cakrawarman beserta para pengikutnya. Mendapat jawaban penolakan dari Kerajaan Cupunagara, Cakrawarman dan para pengikutnya kemudian melarikan diri ke arah timur dan mengasingkan diri diantara hutan-hutan dan pegunungan.


Atas bantuan dari Kerajaan Indraprahasta pemberontakan yang dilakukan oleh Cakrawarman berhasil dipadamkan. Pasca pertempuran itu, panglima dan bala tentara Kerajaan Indraprahasta mendapat hadiah kemenangan perang. Demikian juga Raja Kerajaan Indraprahasta, Raja Wirya Banyu juga mendapatkan anugerah dari Wisnuwarman dengan berbagai hadiah yang tidak sedikit. Selain memberikan berbagai macam hadiah, Wisnuwarman juga memperisitri Putri Raja Wirya Banyu, yaitu Dewi Suklawati  yang kemudian menjadi permaisurinya. Sebab, permaisuri Raja Wisnuwarman yang berasal dari Bakulapura itu telah meninggal akibat sakit di usia muda tanpa meninggalkan seorangpun putra.


Dari pernikahan dengan Dewi Suklawati, Raja Wisnuwarman memiliki 3 orang anak; 

1. Indrawarman;

2. Widalawarman.


Raja Wisnuwarman meninggal pada tahun 455 M, dengan gelar anumerta Sri Maharaja Wisnuwarman Iswara Digwijaya Tunggal Jagatpati. Sepeninggal Wisnuwarman , Kerajaan Tarumanegara diperintah oleh anak tertua Wisnuwarman, yaitu Indrawarman.