Propaganda Jepang Melalui Gerakan 3 A - ABHISEVA.ID

Propaganda Jepang Melalui Gerakan 3 A

Propaganda Jepang Melalui Gerakan 3 A


Gerakan 3 A – Gerakan 3 A adalah propaganda yang dilakukan oleh Jepang ketika berhasil mengusir Belanda dari Indonesia. Gerakan 3 A ini diharapkan dapat menarik simpatik dari bangsa Indonesia. Di bawah ini akan dijelaskan tentang Gerakan 3 A sebagai alat propaganda Jepang.


Kedatangan Jepang di Indonesia untuk menarik simpati Indonesia tidak sesulit ketika Belanda datang ke Indonesia dan Ingin menduduki wilayah Indonesia. Banyak hal yang dilakukan oleh Jepang untuk menarik simpati rakyat Indonesia. Salah satu cara yang dilakukan Jepang adalah dengan menerapkan suatu gerakan atau Propaganda.


Golongan yang mendapatkan perhatian dari pemerintah militerisme Jepang adalah golongan pemuda. Mereka berasal dari lingkungan sosial yang berbeda-beda, ada yang berasal dari kota dan ada pula yang berasal dari desa. Alasan Jepang, tentu saja mengharapkan bahwa golongan pemuda pada umumnya memiliki sifat giat, penuh semangat, dan biasanya masih memiliki idealisme. Golongan pemuda ini dianggap belum sempat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Barat. Berdasarkan pada anggapan itu-lah, Jepang berharap propaganda yang akan Jepang lakukan akan mudah ditanamkan kepada golongan pemuda.


Propaganda Jepang segera dilakukan di Indonesia dengan mengeluarkan propaganda Gerakan 3 A. Gerakan 3 A melancarkan semboyannya yang disebut dengan semb oyan Gerakan 3 A ini menganggap Jepang sebagai saudara tua bangsa Asia. Isi semboyang Gerakan 3 A antara lain;

1. Jepang pemimpin Asia;

2. Jepang cahaya Asia,dan;

3. Jepang pelindung Asia 


Pada awal bulan April 1943, Jepang secara resmi mendirikan Gerakan 3 A yang diketuai oleh Mr. Samsudin.Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Mr. Samsudin, Gerakan 3 A menyatakan bahwa orang Barat telah berabad-abad lamanya menjajah Asia sehingga rakyat menderita. Berkat Jepanglah, penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Barat itu berhasil dihapuskan. Sebab Jepang adalah “Cahaya Asia, Pemimpin Asia, dan Pelindung Asia”.


Propaganda semacam itu diduga akan mudah ditangkap dan dimengerti oleh golongan pemuda. Apalagi Jepang sering mengemukakan bahwa Jepang adalah orang Asia dan sebagai orang Asia mereka senasib dengan orang-orang Asia lainnya yang dianggap sebagai saudara mudanya. Dengan propaganda yang demikian pada mulanya pemuda tidak merasakan adanya perbedaan antara orang Jepang dan orang Indonesia. Semboyan-semboyan seperti “Jepang-Indonesia sama-sama” atau “Jepang saudara tua” dapat memukau golongan pemuda secara khususnya dan masyarakat secara umumnya. Persamaan dengan Jepang itu dianggap sebagai perubahan baru dari keadaan pada masa pemerintahan kolonial Belanda ketika diskriminasi rasial terasa dengan sangat kentara,


Sehubungan dengan sifat dari golongan pemuda, pelajaran yang ditekankan kepada mereka adalah sishin (semangat) atau bushido (jiwa satria) yang meliputi kesetiaan dan bakti kepada tuan atau pemimpinnya. Selain itu, ditekankan pula perlunya disiplin dan diberantasnya rasa rendah diri serta semangat budak. Tanpa dikehendaki oleh pihak Jepang, penanaman semangat yang demikian itu ternyata menguntungkan pemuda Indonesia ketika kelak mereka berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Semangat itu bahkan juga menjiwai pemuda Indonesia ketika melawan Jepang sendiri, semisal dengan adanya Pemberontakan PETA di Blitar dan pada awal perjuangan fisik setelah proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945.


Gerakan 3 A di dalam upayanya untuk memengaruhi golongan pemuda adalah melalui sarana pendidikan, baik pendidikan umum maupun pendidikan khusus. Pendidikan umum yang dimaksud adalah Sekolah Rakyat (sekolah dasar) dan sekolah menengah. Pendidikan khusus yang dimaksud adalah pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh Jepang.


Di antara pusat-pusat pelatihan yang diadakan Jepang untuk menanamkan semangat pro-Jepang di kalangan pemuda ialah dengan membentuk Barisan Pemuda Asia Raya (BPAR). BPAR dimulai dari tingkat pusat di Jakarta. Sebenarnya di daerah juga telah dibentuk Komite Penginsyafan Pemuda yang anggota-anggotanya terdiri dari unsur kepanduan.


Bentuk Komite Penginsyafan Pemuda sifatnya sangat lokal dan disesuaikan dengan situasi daerah masing-masing. Di tingkat pusat BPAR diresmikan pada tanggal 11 Juni 1942 dengan dipimpin oleh dr. Slamet Sudibyo dan S.A. Saleh. Perlu diketahui, BPAR sendiri adalah anak Gerakan 3 A. Namun, dalam kenyataannya BPAR ternyata lebih populer dari Gerakan 3 A. 


Melalui BPAR golongan pemuda mengikuti pelatihan selama tiga bulan. Kepada para peserta pelatihan ditekankan pentingnya semangat, kemauan, dan keyakinan karena mereka diharapkan akan menjadi pemimpin pemuda-pemuda yang lain. Terhadap pemuda tidak dilakukan pembatasan. Artinya setiap pemuda boleh mengikuti pelatihan yang dilaksanakan oleh BPAR tersebut.


Di samping BPAR pemerintah Jepang juga mengadakan pelatihan lain yang dilakukan oleh Gerakan 3 A, yaitu yang disebut San A Seinen Kunrensho. Di tempat ini golongan pemuda mengikuti pelatihan selama ½ bulan. Berbeda dengan kursus di atas, pelatihan ini lebih bersifat khusus, yaitu ditujukan kepada para pemuda yang pernah turut dalam salah satu organisasi, misalnya organisasi kepanduan. 


Di dalam pelatihan ini, para pemuda ditempatkan di dalam asrama. Selain pendidikan yang berhubungan dengan kedisiplinan dan semangat, kepada mereka juga diajarkan pekerjaan praktis sehari-hari, seperti memasak, membersihkan rumah, serta berkebun. Selain itu, juga diajarkan kepada mereka berbahasa Jepang. Pendidikan untuk kaum pemuda ini diadakan atas prakarsa dari H. Shimizu dan Wakabayashi. Pada tahap pertama pelatihan ini dilatih sejumlah 250 orang. Pelatihan seperti ini pun juga dilaksanakan di Yogyakarta.


Pendidikan pemuda seperti ini menjadi intensif, perkumpulan-perkumpulan kepanduan masih diperkenankan berdiri dan melakukan kegiatan. Kegiatan besar kepanduan adalah Perkemahan Kepanduan Indonesia (Perkindo) yang diadakan di Jakarta, bahkan pernah mendapat kunjungan dari Gunseikan dan empat serangkai dari Poetera.


Situasi perang yang memasuki tahun 1942 menyebabkan Jepang bersikap defensif (bertahan). Serangan-serangan Sekutu yang dilakukan di wilayah Pasifik mulai dirasakan oleh Jepang sebagai suatu serangan balik, terutama Pertempuran Laut Karang yang terjadi pada bulan Mei 1942 dan Pertempuran Guadalcanal yang terjadi pada bulan Agustus 1942.


Jepang menyadari bahwa untuk dapat mempertahankan daerah pendudukannya yang luas itu, mereka memerlukan dukungan dari penduduk di daerah masing-masing, termasuk Indonesia. Sebagai upaya untuk mendapatkan dukungan juga dilakukan melalui olahraga. Pada tahun 1942 dibentuk Perserikatan Olahraga Pulau Jawa (Tai Iku Kai). Pendidikan jasmani berupa taiso (senam pagi ala jepang) diiringi lagu yang diberikan di sekolah-sekolah. Selain itu, Jepang mewajibkan pelajar-pelajar baris-berbaris dan pelatihan perang-perangan yang disebut dengan kyoreng, bela diri seperti sumo, kendo, dan base ball diperkenalkan oleh tentara Jepang. Organisasi olahraga baru kemudian dibentuk yaitu Gerakan Latihan Olahraga Organisasi Rakyat (GLORA) di bawah pimpinan R. Oto Iskandar Dinata, namun pada akhirnya organisasi ini dilarang.


Pada awal tahun 1943 Jepang mulai lebih intensif mengumpulkan dan mendidik kaum muda Indonesia di semua syu. Bahkan, di Jakarta syu di setiap gun diadakan pendidikan pemuda. Semua usaha mengadakan gerakan pemuda lokal itu adalah dalam rangka persiapan membentuk gerakan pemuda yang terpusat dan di bawah satu komando. Dalam masa persiapan ini berbagai janji dan harapan bagi pemuda Indonesia mulai disiarkan secara luas.


Gerakan 3 A di dalam perkembangannya kurang mendapatkan perhatian dari rakyat Indonesia. Hal ini disebabkan di dalam Gerakan 3 A dianggap terlalu menonjolkan Jepang dan bukan merupakan suatu gerakan kebangsaan. Gerakan 3 A dinilai kurang memberikan manfaat di dalam perjuangan untuk mencapai cita-cita kemerdekaan. Gerakan 3 A secara resmi berakhir pada tahun 1942 setelah dinilai tidak memberikan banyak keuntungan bagi Jepang.