Dinasti Shang (1600-1045 SM)

Table of Contents

Dinasti Shang (1600-1045 SM)

Kemunculan Dinasti Shang (juga dikenal sebagai Dinasti Yin) menandai titik krusial dalam peradaban Tiongkok, yaitu berakhirnya masa pra-aksara. Dinasti yang berkuasa di lembah Sungai Kuning pada milenium ke-2 SM ini merupakan dinasti pertama dalam sejarah tradisional Tiongkok yang eksistensinya didukung kuat oleh bukti arkeologis dan catatan tertulis.

Secara tradisional, Dinasti Shang diyakini menggantikan Dinasti Xia dan kemudian diteruskan oleh Dinasti Zhou Barat. Meskipun para pakar masih terus mendiskusikan durasi pastinya, konsensus umum menempatkan masa pemerintahannya antara abad ke-16 hingga abad ke-11 SM. Informasi mengenai dinasti ini dapat kita telusuri melalui berbagai sumber klasik, seperti Book of Documents, Bamboo Annals, hingga Shiji (Catatan Sejarawan Agung).

Bukti paling nyata mengenai kemegahan dinasti ini ditemukan di situs arkeologi Yinxu, yang terletak di dekat kota Anyang modern. Yinxu diidentifikasi sebagai ibu kota terakhir Dinasti Shang, yaitu Yin. Penggalian di situs ini mengungkap kemajuan peradaban masa itu, termasuk:

  1. Arsitektur dan Struktur Sosial: Ditemukannya sebelas makam besar kerajaan, fondasi istana, serta bukti ritual kenegaraan yang melibatkan pengorbanan hewan dan manusia.
  2. Keahlian Kriya: Ditemukannya puluhan ribu artefak berbahan perunggu, giok, batu, tulang, dan keramik yang menunjukkan keahlian seni tingkat tinggi.
  3. Sistem Penulisan: Penemuan terpenting di Yinxu adalah contoh tulisan Tiongkok tertua yang pernah ditemukan, yakni teks ramalan yang terukir pada tulang ramalan (oracle bones), seperti tempurung kura-kura atau tulang belikat lembu.

Hingga saat ini, lebih dari 80.000 keping tulang ramalan telah ditemukan. Prasasti-prasasti tersebut menjadi jendela berharga bagi para peneliti untuk memahami berbagai aspek kehidupan masyarakat Shang, mulai dari politik, ekonomi, praktik keagamaan, hingga perkembangan seni dan pengobatan di awal sejarah Tiongkok.

Latar Belakang Berdirinya Dinasti Shang

Sesungguhnya Shang adalah nama sebuah suku yang mendiami kawasan bagian Sungai Huang He yang juga Shang adalah bawahan dari Dinasti Xia. Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Sima Qian, nenek moyang Dinasti Shang adalah Xie. Berdasarkan legenda Xie terlahir setelah ibunya, Jiandi yang menelan sebutir telur burung berwarna hitam.

Ketika Kaisar Yu berkuasa, Xie membantu Yu dalam mengendalikan banjir yang melanda daerah kawasan Sungai Kuning. Oleh karena jasa yang diberikan oleh Xie dalam membantu Yu untuk mengendalikan banjir, Kaisar Shun memberinya sebuah negeri yang bernama Shang. Ketika Shang menjadi negeri bawahan dari Dinasti Xia, Shang dipimpin oleh keturunan ke-14 Xie yang bernama Chen Tang. Chen Tang inilah yang akhirnya menghabisi riwayat dari Dinasti Xia. 

Kaisar terakhir dari Dinasti Xia adalah Jie yang berwatak kejam dan sewenang-wenang, termasuk dengan tanpa alasan sebab kesalahan dari Chen Tang, Kaisar Jie menangkap Chen Tang dan meminta tebusan yang besar kepada negara Shang agar membebaskan Chen Tang. Setelah Chen Tang dibebaskan, Chen Tang menghimpun kekuatannya untuk memberontak dan menggulingkan Dinasti Xia. Setelah berhasil menangkap Jie dan memenjarakannya di Nanchao, Chen Tang mendirikan dinasti baru yaitu Dinasti Shang yang berpusat di Bo.

Keberhasilan Chen Tang untuk menggulingkan Dinasti Xia tidak terlepas dari peranan penasihatnya yang bernama Yi Yin. Berdasarkan legenda, putra Jie melarikan diri ke arah utara dan menjadi cikal-bakal bangsa Hun.

Perkembangan Dinasti Shang

Setelah Chen Tang mendirikan Dinasti Shang, Chen Tang mulai memperbaiki hal-hal yang dianggap kurang baik dari masa pemerintahan Dinasti Xia. Chen Tang mulai memperbaiki sistem ekonomi dan tidak memperlakukan rakyatnya dengan sewenang-wenang serta mempekerjakan menteri-menteri yang bijak dan mahir di bidangnya masing-masing. Oleh karena kebijakannya itulah, maka pertumbuhan terjadi dengan pesat di segala bidang. 

Peta wilayah Dinasti Shang

Kekuasaan Chen Tang semestinya diteruskan oleh putra mahkota, Taiding, namun karena Taiding telah meninggal sebelum Chen Tang, maka takhta Dinasti Shang dilanjutkan oleh Waibing dan Waibing dilanjutkan oleh Zhongren yang kemudian naik takhta untuk menggantikan Waibing. Setelah empat tahun memerintah, Zhongren digantikan oleh putra Taiding yang bernama Taijia yang diangkat sebagai kaisar oleh Yi Yin (Yi Yin adalah orang yang membantu Chen Tang untuk menggulingkan Dinasti Xia). Namun, Taijia ternyata tidak mengikuti jejak para pendiri Dinasti Shang.

Selama pemerintahan Taijia, dirinya tidak pernah mengurusi masalah pemerintahan negara, sehingga Yi Yin yang bertindak sebagai perdana menteri menurunkan Taijia dari takhta dan mengurungnya di sebuah gubuk di sebelah makam kaisar Chen Tang (pendiri Dinasti Shang) selama tiga tahun, yakni masa perkabungan menurut adat-istiadat bagi kakeknya itu. 

Di dalam pengasingan itu, Taijia diajarkan cara-cara mengendalikan serta mengatur sebuah negara. Setelah Taijia berhasil memahami ajaran-ajaran itu, Yi Yin mengembalikannya ke takhta kaisar Dinasti Shang. Atas peristiwa ini maka dapat terlihat betapa setianya sang perdana menteri mengabdi bagi kepentingan negara. Taijia kemudian berhasil menjadi penguasa yang luar biasa sehingga ia digelari Tai Zong (Leluhur Agung). Setelah Taijia wafat, ia digantikan oleh putranya yang bernama Aoding dan pada masa pemerintahan Aoding inilah, perdana menteri Yi Yin meninggal.

Penguasa Dinasti Shang setelah Aoding adalah saudaranya yang bernama Taigeng. Penggantinya adalah putranya yang bernama Xiaojia. Ia digantikan kembali oleh adiknya yang bernama Yongji. Pada masa pemerintahan Yongji pamor Dinasti Shang mengalami kemerosotan, sehingga para raja bawahan menolak untuk menghormatinya. Oleh karena itu, tidak lama kemudian Yongji digeser oleh saudaranya yang bernama Taiwu. Kaisar baru ini lalu mengangkat Yi She, putra Yi Yin, sebagai perdana menteri. Kejayaan Shang bangkit kembali dan para raja bawahan bersedia untuk mengakui kekuasaan kaisar seperti sedia kala. Taiwu diberi gelar Zhong Zong (Nenek Moyang Tengah).

Kaisar Dinasti Shang selanjutnya adalah putra Taiwu yang bernama Zhongding. Ia, memindahkan ibukota ke Ao (Provinsi Henan). Setelah kematian Zhongding, saudaranya yang bernama Wairen naik takhta dan setelah wafat ia digantikan oleh saudaranya yang bernama Hedanjia. Semasa pemerintahannya, Dinasti Shang mengalami kemunduran kembali. Namun, kemunduran itu berhasil ditanggulangi oleh pengganti Hedanjia, Zuxin. Penguasa-penguasa selanjutnya adalah Aojia, Zuding, Nangeng dan Yangjia. 

Pada masa pemerintahan Yangjia pamor Dinasti Shang menjadi jatuh dan mulai terjadi konflik internal oleh ada akibat dari perebutan kekuasaan antar-keluarga kerajaan. Pengganti Yangjia adalah adiknya yang bernama Pangeng. Pangeng menyebrangi Sungai Kuning dan memindahkan ibukotanya ke Yin (Anyang). Perpindahan ibukota inilah yang menyebabkan Dinasti Shang juga disebut dengan Dinasti Yin. Hingga saat itu, Dinasti Shang telah memindahkan ibukotanya beberapa kali yang kemungkinan hal ini ada kaitannya dengan banjir yang ditimbulkan oleh luapan air Sungai Kuning.

Pangeng digantikan oleh saudaranya yang bernama Xiaoxin yang kemudian digantikan juga oleh Xiaoyi. Penerus Xiaoyi, Wuding berusaha dengan keras untuk meningkatkan kembali kehormatan Dinasti Shang. Wuding mencari orang-orang yang dianggap dapat membantunya menjalankan roda pemerintahan. Dalam pencariannya, Wuding bertemu dengan Fu Sui dan mengangkatnya sebagai perdana menteri.

Di bawah kinerja dari perdana menteri Fu Sui, Dinasti Shang kembali bangkit dan Kaisar Wuding menganugerahi Fu Sui dengan gelar Gao Zong (Leluhur Tertinggi). Hal menarik adalah peran dari istri Wuding yaitu Fu Hao yang acap kali memimpin peperangan dalam melawan bangsa barbar Guifang yang terletak di utara. 

Setelah Wuding meninggal, kekuasaan Dinasti Shang jatuh ke tangan puteranya yang bernama Zugeng. Selanjutnya Zugeng digantikan oleh Zujia yang selama menjadi penguasa di Dinasti Shang, Dinasti Shang kembali mengalami kemundurannya untuk yang kesekian kalinya. Setelah Zujia, penguasa Dinasti Shang berturut-turut yaitu; Linxin, Gengding dan Wuyi. 

Pada masa pemerintahan Wuyi, Wuyi memindahkan ibukota ke sebelah utara Sungai Kuning. Sebagai penguasa, Wuyi bertindak zalim kepada rakyatnya dan tidak peduli akan ketatanegaraan. Wuyi mati disambar petir saat sedang berburu di mana hal ini dianggap sebagai hukuman Langit atas perilaku Wuyi. Sepeninggal Wuyi, penerus takhta Dinasti Shang adalah Taiding dan Yili. Pada masa pemerintahan Yili, putera tertua Yili yang bernama Weizi tidak diangkat sebagai putra mahkota oleh karena ibunya bukanlah keturunan bangsawan. Sebagai pengganti Weizi, maka diangkatlah putra Yiji yang lainnya yang berasal dari ibu keturunan bangsawan yaitu Zhouxin (Zhouwang atau Dixin).

Keruntuhan

Zhouxin selama memerintah bertindak secara kejam yang mana karena kekejamannya itulah Zhouxin menjadi penguasa Dinasti Shang yang terakhir. Dikisahkan bahwa Zhouxin membunuh orang-orang yang berusaha untuk menghentikan tindakannya yang kejam itu. Salah satunya adalah Jiu Hou dan Er Hou. Salah seorang penguasa daerah negara bagian Zhou yaitu Ji Chang memprotes tindakan pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Zhouxin sehingga Ji Chang akhirnya harus ditahan.

Putra Jichang yang bernama Boyikao menyadari bahwa ayahandanya dihukum terlalu lama kemudian menghadap Zhouxin serta menyatakan kesediaan dirinya untuk menggantikan ayahnya sebagai tahanan. Zhouxin yang mendengar kabar bahwa Ji Chang yang selama di dalam penjara mempelajari Yijing (teknik meramal) dianggap telah mampu meramal. Zhouxin yang merasa khawatir sekaligus ingin menguji kemampuan Ji Chang. Zhouxin kemudian membunuh Boyikao serta menjadikan dagingnya sebagai bahan campuran bubur. Bubur yang mengandung daging Boyikao itu kemudian diberikan kepada Ji Chang yang sesungguhnya telah mengetahui bahwa bubur itu adalah daging putranya sendiri. Tetapi Ji Chang berpura-pura dan dengan lahap memakan bubur itu serta mengucapkan terimakasih setelah menghabiskannya. 

Mendengar hal itu, Zhouxin merasa senang dan merasa bahwa kemampuan meramal Ji Chang hanya kebohongan belaka. Sehingga Zhouxin memutuskan untuk membebaskan Ji Chang dari tahanan. Ji Chang pun dibebaskan dan kembali ke negerinya untuk memimpin. Ji Chang memimpin rakyatnya dengan baik dan bijak. Tidak henti pula Ji Chang meminta pendapat dan saran dari orang-orang bijak seperti Jiang Ziya yang kemudian diangkat olehnya sebagai perdana menterinya. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan apabila Zhou yang masih menjadi negara bagian Dinasti Shang mulai tumbuh kuat dan bahkan memiliki kemampuan untuk menggeser dan mengakhiri Dinasti Shang.

Akhirnya, peperangan antara Zhou dan Shang tidak terhindarkan. Pasukan Ji Chang secara bertahap mendapat kemenangan dan berhasil menguasai dua negara bagian Shang, Oigua dan Mixu. Pangeran Bigan, paman dari Zhouxin yang merupakan orang bijak berusaha untuk menasihati Zhouxin, tetapi Zhouxin justru membunuh Bigan dan mengorek jantungnya berupaya membuktikan kepercayaan yang pada saat itu beredar bahwa jantung seorang bijak memiliki tujuh lubang.

Pada tahun 1077 SM Ji Fang meninggal dan digantikan oleh putranya yang bernama Ji Fa. Ji Fa naik takhta dengan gelar Wuwang. Ji Fa kemudian menghimpun kekuatan dan kembali menggelar perang dengan Dinasti Shang. Ji Fa memimpin 800 raja muda dari wilayah bawahan untuk menyerang Dinasti Shang. Di hadapan para raja muda itu Ji Fa berpidato;

Wahai para raja negara-negara bagian yang bersahabat, para pejabat, penyelenggara administrasi kerajaan, dengarkanlah baik-baik apa yang menjadi amanatku ini. Langit dan bumi adalah sumber semua makhluk, dan manusia merupakan makhluk yang memperoleh berkah tertinggi. Barangsiapa yang paling tinggi akal budinya di antara umat manusia akan menjadi raja agung, dan ia adalah bapak bagi rakyat. Namun kini, Zhouxin, maharaja Dinasti Shang, tidak lagi mengindahkan ketetapan langit, dan menimbulkan malapetaka bagi segenap umat manusia di dunia ini.

Selain mabuk-mabukan dan bertindak semaunya sendiri, ia telah menggunakan kekejaman dan kekerasan untuk menindas rakyat.... Ia memenuhi ambisinya membangun istana, menara, tempat peristirahatan, kolam, dan semua kebesaran lain, yang menimbulkan luka paling menyakitkan bagi jutaan rakyat.... Langit tidak tinggal diam dan dengan kemarahan menitahkan ayahku, Wenwang yang telah wafat guna menyampaikan peringatan langit agar sang maharaja sadar. Namun sayangnya, beliau telah meninggal sebelum semua tugas itu dapat ditunaikannya. Berdasarkan amanat Langit ini, aku, Fa, seorang anak kecil yang tak berarti, dengan bantuan Anda sekalian, para kepala suku yang bersahabat, telah membicarakan mengenai kondisi pemerintahan Dinasti Shang, dan ternyata Zhouxin tidak bersedia menyesali perbuatannya.... Dan ia tetap mengatakan, "Rakyat adalah milikku. Akulah pemilik mandat Langit," tanpa pernah mengintrospeksi dirinya yang congkak itu.... Ketidakadilan Dinasti Shang telah mencapai puncaknya. Langit telah menitahkan untuk menghancurkannya. Jika aku tidak mematuhinya, aku akan sama bersalahnya.... Langit merasa sangat kasihan terhadap rakyat. Apa yang diinginkan oleh rakyat, langit akan memberikannya. Oleh karena itu, bantulah aku, raja kalian, untuk senantiasa menciptakan kebajikan dan kebahagiaan di empat penjuru negeri ini. Kini tibalah saatnya, jangan sia-siakan kesempatan ini. 

Serangan terhadap Kaisar Zhouxin langsung dilakukan. Zhouxin yang kalah dalam pertempuran di Muye memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan membakar diri di Istana Lutai. Dengan kematian Zhouxin, maka berakhirlah riwayat dari Dinasti Shang.

Meskipun Ji Fa telah berhasil menggulingkan Dinasti Shang, ia masih memberikan kesempatan bagi keturunan Zhouxin untuk memerintah, namun kini Shang menjadi daerah bawahan dari Dinasti Zhou. Penguasa Shang adalah Pangeran Lufu, sehingga keturunan dari Dinasti Shang tetap hidup di dalam wilayah kekuasaan Dinasti Zhou.

Meskipun telah meruntuhkan Dinasti Shang, Ji Fa masih memberi kesempatan pada Pangeran Lufu, putra Zhouxin, untuk meneruskan garis keturunan Dinasti Shang. Setelah Lufu wafat, garis keturunan Dinasti Shang berlanjut pada Wugeng. Pada saat Zhougong menjadi wali bagi Kaisar Zhou Chengwang, ia berkomplot dengan saudara-saudara Wuwang untuk merebut kekuasaan. Usaha perebutan ini digagalkan dan Wugeng dihukum mati oleh Zhougong.

Selanjutnya, Zhougong memilih kakak Zhouxin yang bernama Weizi sebagai pewaris Dinasti Shang dan menganugerahi gelar sebagai bangsawan (gong) Song. Setelah Weizi wafat, Weizhong mewarisi wilayah ini. Ia merupakan leluhur Konfusius yang ke-14. Jadi Konfusius, ahli filsafat tersohor dari China, sesungguhnya masih merupakan keturunan Dinasti Shang.

Kehidupan Istana dan Sistem Pemerintahan

Dinasti Shang menerapkan sistem pemerintahan yang aristokratik, di mana seorang kaisar memerintah atas sejumlah kaum bangsawan yang bertanggung jawab menyediakan bantuan militer apabila negara berada dalam bahaya. Salah satu tugas mereka adalah membendung serangan bangsa barbar yang sering mengancam dataran Cina. Hal ini dibuktikan dari contoh Ji Chang (pendiri Dinasti Zhou) yang awal mulanya bergelar Xibo atau bangsawan barat yang memiliki tugas menghalau serangan suku barabar di bagian barat Cina.

Di istana kerajaan Yinxu, ditemukan fondasi tiang batu besar bersama dengan fondasi tanah padat yang menurut Fairbank, "sekeras semen". Fondasi ini menopang 53 bangunan kayu dengan konstruksi tiang dan balok. Di sekitar kompleks istana utama, terdapat lubang bawah tanah yang digunakan sebagai tempat penyimpanan, tempat tinggal pelayan, dan ruang hunian.

Banyak makam kerajaan Shang telah dirusak oleh penjarah makam pada masa kuno. Namun, pada musim semi 1976, ditemukan Makam 5 di Yinxu yang masih utuh dan merupakan salah satu makam Shang paling kaya yang pernah ditemukan. Dengan lebih dari 200 bejana ritual perunggu dan 109 prasasti nama Fu Hao, arkeolog Zheng Zhenxiang dan timnya menyadari bahwa itu adalah makam Fu Hao. Ia adalah permaisuri Wu Ding yang terkenal sebagai jenderal militer dan disebut dalam 170 hingga 180 prasasti tulang ramalan. Selain bejana perunggu, ditemukan pula tembikar, senjata perunggu, figurin giok, sisir rambut, dan tusuk konde tulang. Tim arkeolog berpendapat bahwa beragam senjata dan bejana ritual di makamnya selaras dengan catatan tulang ramalan mengenai aktivitas militer dan ritualnya.

Ibu kota merupakan pusat kehidupan istana. Seiring waktu, berkembang ritual istana untuk menenangkan roh, dan selain tugas duniawi, raja berperan sebagai pemimpin kultus pemujaan leluhur. Seringkali, raja melakukan ramalan tulang sendiri, terutama menjelang akhir dinasti. Bukti dari penggalian makam kerajaan menunjukkan bahwa bangsawan dikuburkan dengan benda-benda berharga, kemungkinan untuk digunakan di akhirat. Mungkin karena alasan yang sama, ratusan rakyat jelata—yang mungkin adalah budak—dikuburkan hidup-hidup bersama jenazah bangsawan.

Para raja Shang yang memerintah secara turun-temurun menguasai sebagian besar Tiongkok utara. Pasukan Shang sering terlibat perang dengan pemukiman tetangga dan penggembala nomaden dari padang rumput Asia bagian dalam. Dalam ramalannya, raja Shang berulang kali menunjukkan kekhawatiran tentang bangsa barbar yang tinggal di luar wilayah beradab yang menjadi pusat wilayah Shang. Secara khusus, kelompok yang tinggal di Pegunungan Yan sering disebut sebagai kelompok yang memusuhi Shang.

Selain berperan sebagai komandan militer tertinggi, raja-raja Shang juga menegaskan supremasi sosial mereka dengan bertindak sebagai imam besar masyarakat dan memimpin upacara ramalan. Teks tulang ramalan mengungkapkan bahwa raja Shang dianggap sebagai anggota masyarakat yang paling layak untuk memberikan kurban kepada leluhur kerajaan dan kepada dewa tertinggi, Di, yang dalam kepercayaan mereka bertanggung jawab atas hujan, angin, dan petir.

Raja menunjuk pejabat untuk mengelola kegiatan tertentu di wilayah yang ditentukan, seperti pejabat pertanian, gembala, petugas anjing, dan penjaga. Para pejabat ini memimpin rombongan mereka sendiri dalam menjalankan tugas, dan beberapa di antaranya menjadi lebih mandiri hingga muncul sebagai penguasa sendiri. Terdapat sistem birokrasi dasar dengan jabatan seperti "Petugas Anjing", "Petugas Kuda", "Pengrajin", "Pemanah", atau gelar istana seperti "Pelayan Muda untuk Pertanian".

Anggota keluarga kerajaan diberi tanah pribadi; raja menyediakan proyek publik seperti pembangunan tembok kota, mendistribusikan material, dan mengeluarkan perintah kepada mereka. Tanah tersebut pada akhirnya milik raja; mereka membayar upeti dan melaporkan penaklukan wilayah kepada raja.

Penguasa yang lebih jauh dikenal dengan gelar setara marquess atau count, yang terkadang memberikan upeti dan dukungan kepada Raja Shang dengan imbalan bantuan militer serta layanan ramalan. Namun, aliansi ini tidak stabil, sebagaimana ditunjukkan oleh seringnya ramalan kerajaan mengenai keberlanjutan hubungan tersebut. Adanya catatan mengenai jumlah musuh yang dibunuh, tawanan, dan barang rampasan menunjukkan keberadaan proto-birokrasi dokumen tertulis.

Perkembangan Teknologi

Dinasti Shang merupakan era yang sangat krusial dalam sejarah Tiongkok. Berbeda dengan Dinasti Xia yang sering dianggap sebagai masa transisi menuju mitologi, Dinasti Shang telah membuktikan diri sebagai masyarakat yang terorganisir, maju, dan logis. Hal ini terlihat dari kehidupan masyarakat yang menetap di kota-kota besar yang dilengkapi dengan tembok pelindung sebagai sistem pertahanan.

Sistem Penulisan dan Ritual Ramalan

Salah satu bukti kecanggihan peradaban ini adalah ditemukannya tulang ramalan, yaitu tulang hewan dan tempurung kura-kura yang ditulisi aksara kuno. Masyarakat pada masa itu melakukan ritual dengan menuliskan pertanyaan—mulai dari masalah cuaca, kesehatan, hingga urusan perang dan panen—pada tulang tersebut, lalu membakarnya. Jawaban dari para dewa atau roh nenek moyang diyakini terpancar dari pola retakan tulang setelah dibakar. Selain tulang, mereka juga menggunakan bambu dan kertas dari gelagah sebagai media tulis, serta menggunakan alat tulis berbahan bulu.

Kemajuan Teknologi dan Industri Perunggu

Kemajuan teknologi Dinasti Shang sangat menonjol dalam bidang metalurgi, khususnya pengecoran perunggu. Sejak tahun 1500 SM, mereka telah memproduksi senjata dan bejana perunggu dalam skala besar. Produksi massal ini sangat terorganisir, melibatkan manajemen tenaga kerja yang ketat, mulai dari proses penambangan hingga menjadi barang jadi.

Perunggu memegang peranan penting baik dalam kehidupan spiritual maupun militer:

  1. Keperluan Ritual: Bejana perunggu digunakan untuk upacara keagamaan. Kepemilikan wadah ini bahkan diatur secara ketat berdasarkan peringkat sosial seorang bangsawan.
  2. Kemiliteran: Perunggu digunakan untuk memproduksi senjata variatif dan menjadi komponen kunci pada kereta perang beroda jari-jari yang mulai muncul sekitar tahun 1200 SM.

Militer

Dinasti Shang terlibat dalam konflik berkepanjangan dengan suku-suku perbatasan utara yang dikenal sebagai Guifang.

Dalam masyarakat Shang, senjata perunggu merupakan elemen yang sangat penting. Pasukan infanteri Shang dipersenjatai dengan beragam perlengkapan tempur berbahan batu dan perunggu, yang meliputi tombak, kapak galah, belati galah, busur komposit, serta helm yang terbuat dari perunggu atau kulit.

Meskipun Dinasti Shang sangat bergantung pada keterampilan militer kaum bangsawan, para penguasa Shang mampu memobilisasi masyarakat umum—baik penduduk kota maupun warga pedesaan—untuk dipekerjakan sebagai buruh paksa serta tentara, baik untuk misi pertahanan maupun penaklukan. Para aristokrat dan penguasa wilayah lainnya berkewajiban untuk melengkapi garnisun lokal mereka dengan seluruh peralatan, baju zirah, dan persenjataan yang dibutuhkan.

Raja Shang sendiri memelihara pasukan inti yang terdiri dari sekitar seribu prajurit di ibu kota dan sering kali memimpin langsung pasukan ini ke medan perang. Selain itu, diperlukan birokrasi militer yang mendasar untuk mengerahkan pasukan dalam jumlah besar, mulai dari tiga hingga lima ribu tentara untuk operasi di perbatasan, hingga tiga belas ribu tentara untuk memadamkan pemberontakan.

Ekonomi dan Penataan Waktu

Di bidang ekonomi, masyarakat Shang telah menerapkan teknologi irigasi untuk pertanian dengan membudidayakan jewawut, jelai, dan gandum. Mereka juga memiliki sektor peternakan yang berkembang, mulai dari babi, anjing, domba, sapi, hingga ulat sutra.

Untuk menata kehidupan mereka, Dinasti Shang mengembangkan sistem penanggalan yang kompleks. Satu minggu terdiri dari 10 hari yang disebut Xun. Penamaan hari didasarkan pada kombinasi “10 Batang Langit” (jia, yi, bing, ding, wu, ji, geng, xin, ren, gui) dan “12 Cabang Bumi” (zi, chou, yin, mao, chen, yi, wu, wei, shen, you, xu, hai).

Dengan bukti-bukti fisik yang konkret seperti kota bertembok, sistem tulisan, hingga teknik metalurgi yang canggih, Dinasti Shang menjadi tonggak penting yang menandai berakhirnya zaman prasejarah dan dimulainya sejarah peradaban Tiongkok yang terstruktur dengan jelas.

Kehidupan Sosial-Budaya

Berdasarkan hasil ekskavasi terhadap situs pemakaman yang berasal dari Dinasti Shang, dapat kiranya memberikan gambaran mengenai tingginya budaya dan kehidupan sosial pada masa itu. Teknik pembuatan perunggu yang telah tinggi itu dapat dilihat dari bejana perunggu yang ditemukan dengan bobot 732,84 Kg dan dikenal sebagai bejana perunggu terbesar di dunia.

Pada masa Dinasti Shang telah berkembang sistem perbudakan, di mana kaum bangsawan hidup dalam kemewahan. Sementara, kaum budak hidup dalam kondisi yang sangat buruk dan memprihatinkan. Setelah pemilik budak meninggal, budak-budaknya juga dikubur hidup-hidup sebagai korban bersama hewan-hewan.

Sistem Sosial dan Sistem Kepercayaan

Dalam struktur sosial Dinasti Shang, terdapat kelas khusus yaitu para pendeta yang berperan penting dalam memimpin ritual pemujaan terhadap leluhur dan dewa. Sementara itu, masyarakat luas menganut kepercayaan politeistik, yakni memuja berbagai makhluk dewa dan setengah dewa yang disebut guishen.

Sistem Ritual dan Pemujaan

Agama Dinasti Shang dikenal sangat birokratis dan terorganisir dengan rapi. Ritual keagamaan mereka melibatkan ramalan dan kurban yang ditujukan kepada enam kelompok utama:

Di: Dewa Tertinggi.

Kekuatan Alam: Seperti matahari dan gunung.

Mantan Penguasa: Tokoh manusia yang telah meninggal dan masuk ke dalam panteon.

Leluhur Pra-dinasti & Leluhur Dinasti.

Istri Kerajaan: Leluhur langsung dari raja yang sedang berkuasa.

Salah satu praktik utama mereka adalah ramalan. Masyarakat percaya bahwa leluhur memiliki kekuatan untuk mengatur kehidupan mereka. Untuk memastikan persetujuan leluhur sebelum mengambil tindakan, peramal akan memecahkan karapas kura-kura atau tulang belikat lembu. Pola retakan dari tulang tersebut kemudian diinterpretasikan sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan, lalu dicatat dengan detail—meliputi tanggal, ritual, orang yang terlibat, hingga pertanyaan itu sendiri.

Konsep Kehidupan Setelah Kematian

Bangsa Shang memiliki keyakinan kuat akan adanya kehidupan setelah kematian. Hal ini tercermin dari tradisi pemakaman yang sangat mewah dan teratur. Untuk mendukung kehidupan di alam selanjutnya, makam para penguasa diisi dengan berbagai perbekalan, seperti:

  1. Kereta, peralatan, bejana kurban, dan senjata.
  2. Perhiasan giok yang dipercaya dapat melindungi tubuh dari pembusukan atau memberikan keabadian.
  3. Pengorbanan manusia dan kuda—terkadang hingga ratusan jiwa—untuk menemani raja di alam baka.

Pengaturan makam tersebut menunjukkan betapa teraturnya masyarakat Shang; kerangka-kerangka yang dikuburkan bersama raja biasanya diletakkan dengan posisi seragam dan tertata rapi, mencerminkan ketertiban sistem kepercayaan dan kehidupan sosial mereka.

Daftar Bacaan

  • Boltz, William G. February 1986. “Early Chinese Writing, World Archaeology”. Early Writing Systems. 17 (3): 420–436.
  • Ebrey, Patricia Buckley. 1999. The Cambridge Illustrated History of China. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Hu, Yue; Marwick, Ben; Zhang, Jia-Fu; Rui, Xue; Hou, Ya-Mei; Yue, Jian-Ping; Chen, Wen-Rong; Huang, Wei-Wen; Li, Bo. 19 November 2018. “Late Middle Pleistocene Levallois stone-tool technology in southwest China”. Nature. 565 (7737): 82–85.
  • Lewis, Mark Edward. 2007. The Early Chinese Empires: Qin and Han. Cambridge: Harvard University Press.
  • Liu, Wu; Martinón-Torres, María; Cai, Yan-jun; Xing, Song; Tong, Hao-wen; Pei, Shu-wen; Sier, Mark Jan; Wu, Xiao-Hong; Edwards, R. Lawrence; Cheng, Hai; Li, Yi-Yuan; Yang, Xiong-xin; De Castro, José María Bermúdez; Wu, Xiu-jie (2015). “The earliest unequivocally modern humans in southern China”. Nature. 526 (7575): 696–699.
  • Wilkinson, Endymion. 2018. Chinese History: A New Manual (5th ed.). Cambridge: Harvard University Asia Center.