Dinasti Shang (1600-1045 SM)
Dinasti Shang (1600-1045 SM)
Kemunculan Dinasti Shang (juga dikenal sebagai Dinasti Yin) menandai titik krusial dalam peradaban Tiongkok, yaitu berakhirnya masa pra-aksara. Dinasti yang berkuasa di lembah Sungai Kuning pada milenium ke-2 SM ini merupakan dinasti pertama dalam sejarah tradisional Tiongkok yang eksistensinya didukung kuat oleh bukti arkeologis dan catatan tertulis.
Secara tradisional, Dinasti Shang diyakini menggantikan Dinasti Xia dan kemudian diteruskan oleh Dinasti Zhou Barat. Meskipun para pakar masih terus mendiskusikan durasi pastinya, konsensus umum menempatkan masa pemerintahannya antara abad ke-16 hingga abad ke-11 SM. Informasi mengenai dinasti ini dapat kita telusuri melalui berbagai sumber klasik, seperti Book of Documents, Bamboo Annals, hingga Shiji (Catatan Sejarawan Agung).
Bukti paling nyata mengenai kemegahan dinasti ini ditemukan di situs arkeologi Yinxu, yang terletak di dekat kota Anyang modern. Yinxu diidentifikasi sebagai ibu kota terakhir Dinasti Shang, yaitu Yin. Penggalian di situs ini mengungkap kemajuan peradaban masa itu, termasuk:
- Arsitektur dan Struktur Sosial: Ditemukannya sebelas makam besar kerajaan, fondasi istana, serta bukti ritual kenegaraan yang melibatkan pengorbanan hewan dan manusia.
- Keahlian Kriya: Ditemukannya puluhan ribu artefak berbahan perunggu, giok, batu, tulang, dan keramik yang menunjukkan keahlian seni tingkat tinggi.
- Sistem Penulisan: Penemuan terpenting di Yinxu adalah contoh tulisan Tiongkok tertua yang pernah ditemukan, yakni teks ramalan yang terukir pada tulang ramalan (oracle bones), seperti tempurung kura-kura atau tulang belikat lembu.
Hingga saat ini, lebih dari 80.000 keping tulang ramalan telah ditemukan. Prasasti-prasasti tersebut menjadi jendela berharga bagi para peneliti untuk memahami berbagai aspek kehidupan masyarakat Shang, mulai dari politik, ekonomi, praktik keagamaan, hingga perkembangan seni dan pengobatan di awal sejarah Tiongkok.
Latar Belakang Berdirinya Dinasti Shang
Sesungguhnya Shang adalah nama sebuah suku yang mendiami kawasan bagian Sungai Huang He yang juga Shang adalah bawahan dari Dinasti Xia. Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Sima Qian, nenek moyang Dinasti Shang adalah Xie. Berdasarkan legenda Xie terlahir setelah ibunya, Jiandi yang menelan sebutir telur burung berwarna hitam.
Ketika Kaisar Yu berkuasa, Xie membantu Yu dalam mengendalikan banjir yang melanda daerah kawasan Sungai Kuning. Oleh karena jasa yang diberikan oleh Xie dalam membantu Yu untuk mengendalikan banjir, Kaisar Shun memberinya sebuah negeri yang bernama Shang. Ketika Shang menjadi negeri bawahan dari Dinasti Xia, Shang dipimpin oleh keturunan ke-14 Xie yang bernama Chen Tang. Chen Tang inilah yang akhirnya menghabisi riwayat dari Dinasti Xia.
Kaisar terakhir dari Dinasti Xia adalah Jie yang berwatak kejam dan sewenang-wenang, termasuk dengan tanpa alasan sebab kesalahan dari Chen Tang, Kaisar Jie menangkap Chen Tang dan meminta tebusan yang besar kepada negara Shang agar membebaskan Chen Tang. Setelah Chen Tang dibebaskan, Chen Tang menghimpun kekuatannya untuk memberontak dan menggulingkan Dinasti Xia. Setelah berhasil menangkap Jie dan memenjarakannya di Nanchao, Chen Tang mendirikan dinasti baru yaitu Dinasti Shang yang berpusat di Bo.
Keberhasilan Chen Tang untuk menggulingkan Dinasti Xia tidak terlepas dari peranan penasihatnya yang bernama Yi Yin. Berdasarkan legenda, putra Jie melarikan diri ke arah utara dan menjadi cikal-bakal bangsa Hun.
Perkembangan Dinasti Shang
Setelah Chen Tang mendirikan Dinasti Shang, Chen Tang mulai memperbaiki hal-hal yang dianggap kurang baik dari masa pemerintahan Dinasti Xia. Chen Tang mulai memperbaiki sistem ekonomi dan tidak memperlakukan rakyatnya dengan sewenang-wenang serta mempekerjakan menteri-menteri yang bijak dan mahir di bidangnya masing-masing. Oleh karena kebijakannya itulah, maka pertumbuhan terjadi dengan pesat di segala bidang.
![]() |
| Peta wilayah Dinasti Shang |
Kekuasaan Chen Tang semestinya diteruskan oleh putra mahkota, Taiding, namun karena Taiding telah meninggal sebelum Chen Tang, maka takhta Dinasti Shang dilanjutkan oleh Waibing dan Waibing dilanjutkan oleh Zhongren yang kemudian naik takhta untuk menggantikan Waibing. Setelah empat tahun memerintah, Zhongren digantikan oleh putra Taiding yang bernama Taijia yang diangkat sebagai kaisar oleh Yi Yin (Yi Yin adalah orang yang membantu Chen Tang untuk menggulingkan Dinasti Xia). Namun, Taijia ternyata tidak mengikuti jejak para pendiri Dinasti Shang.
Selama pemerintahan Taijia, dirinya tidak pernah mengurusi masalah pemerintahan negara, sehingga Yi Yin yang bertindak sebagai perdana menteri menurunkan Taijia dari takhta dan mengurungnya di sebuah gubuk di sebelah makam kaisar Chen Tang (pendiri Dinasti Shang) selama tiga tahun, yakni masa perkabungan menurut adat-istiadat bagi kakeknya itu.
Di dalam pengasingan itu, Taijia diajarkan cara-cara mengendalikan serta mengatur sebuah negara. Setelah Taijia berhasil memahami ajaran-ajaran itu, Yi Yin mengembalikannya ke takhta kaisar Dinasti Shang. Atas peristiwa ini maka dapat terlihat betapa setianya sang perdana menteri mengabdi bagi kepentingan negara. Taijia kemudian berhasil menjadi penguasa yang luar biasa sehingga ia digelari Tai Zong (Leluhur Agung). Setelah Taijia wafat, ia digantikan oleh putranya yang bernama Aoding dan pada masa pemerintahan Aoding inilah, perdana menteri Yi Yin meninggal.
Penguasa Dinasti Shang setelah Aoding adalah saudaranya yang bernama Taigeng. Penggantinya adalah putranya yang bernama Xiaojia. Ia digantikan kembali oleh adiknya yang bernama Yongji. Pada masa pemerintahan Yongji pamor Dinasti Shang mengalami kemerosotan, sehingga para raja bawahan menolak untuk menghormatinya. Oleh karena itu, tidak lama kemudian Yongji digeser oleh saudaranya yang bernama Taiwu. Kaisar baru ini lalu mengangkat Yi She, putra Yi Yin, sebagai perdana menteri. Kejayaan Shang bangkit kembali dan para raja bawahan bersedia untuk mengakui kekuasaan kaisar seperti sedia kala. Taiwu diberi gelar Zhong Zong (Nenek Moyang Tengah).
Kaisar Dinasti Shang selanjutnya adalah putra Taiwu yang bernama Zhongding. Ia, memindahkan ibukota ke Ao (Provinsi Henan). Setelah kematian Zhongding, saudaranya yang bernama Wairen naik takhta dan setelah wafat ia digantikan oleh saudaranya yang bernama Hedanjia. Semasa pemerintahannya, Dinasti Shang mengalami kemunduran kembali. Namun, kemunduran itu berhasil ditanggulangi oleh pengganti Hedanjia, Zuxin. Penguasa-penguasa selanjutnya adalah Aojia, Zuding, Nangeng dan Yangjia.
Pada masa pemerintahan Yangjia pamor Dinasti Shang menjadi jatuh dan mulai terjadi konflik internal oleh ada akibat dari perebutan kekuasaan antar-keluarga kerajaan. Pengganti Yangjia adalah adiknya yang bernama Pangeng. Pangeng menyebrangi Sungai Kuning dan memindahkan ibukotanya ke Yin (Anyang). Perpindahan ibukota inilah yang menyebabkan Dinasti Shang juga disebut dengan Dinasti Yin. Hingga saat itu, Dinasti Shang telah memindahkan ibukotanya beberapa kali yang kemungkinan hal ini ada kaitannya dengan banjir yang ditimbulkan oleh luapan air Sungai Kuning.
Pangeng digantikan oleh saudaranya yang bernama Xiaoxin yang kemudian digantikan juga oleh Xiaoyi. Penerus Xiaoyi, Wuding berusaha dengan keras untuk meningkatkan kembali kehormatan Dinasti Shang. Wuding mencari orang-orang yang dianggap dapat membantunya menjalankan roda pemerintahan. Dalam pencariannya, Wuding bertemu dengan Fu Sui dan mengangkatnya sebagai perdana menteri.
Di bawah kinerja dari perdana menteri Fu Sui, Dinasti Shang kembali bangkit dan Kaisar Wuding menganugerahi Fu Sui dengan gelar Gao Zong (Leluhur Tertinggi). Hal menarik adalah peran dari istri Wuding yaitu Fu Hao yang acap kali memimpin peperangan dalam melawan bangsa barbar Guifang yang terletak di utara.
Setelah Wuding meninggal, kekuasaan Dinasti Shang jatuh ke tangan puteranya yang bernama Zugeng. Selanjutnya Zugeng digantikan oleh Zujia yang selama menjadi penguasa di Dinasti Shang, Dinasti Shang kembali mengalami kemundurannya untuk yang kesekian kalinya. Setelah Zujia, penguasa Dinasti Shang berturut-turut yaitu; Linxin, Gengding dan Wuyi.
Pada masa pemerintahan Wuyi, Wuyi memindahkan ibukota ke sebelah utara Sungai Kuning. Sebagai penguasa, Wuyi bertindak zalim kepada rakyatnya dan tidak peduli akan ketatanegaraan. Wuyi mati disambar petir saat sedang berburu di mana hal ini dianggap sebagai hukuman Langit atas perilaku Wuyi.
Sepeninggal Wuyi, penerus takhta Dinasti Shang adalah Taiding dan Yili. Pada masa pemerintahan Yili, putera tertua Yili yang bernama Weizi tidak diangkat sebagai putra mahkota oleh karena ibunya bukanlah keturunan bangsawan. Sebagai pengganti Weizi, maka diangkatlah putra Yiji yang lainnya yang berasal dari ibu keturunan bangsawan yaitu Zhouxin (Zhouwang atau Dixin).
Kaisar-Kaisar Dinasti Shang
1. Tang (Tayi/Da Yi) (1670 - 1589 SM)
Tang dari Shang (bernama asli Zi Lu, bergelar anumerta Cheng Tang atau Da Yi dalam prasasti tulang ramalan) adalah pendiri dan raja pertama Dinasti Shang. Ia dikenang sebagai sosok pemimpin adil, bijaksana, dan taat pada Mandat Langit yang mengakhiri masa tirani Dinasti Xia.
Strategi Penaklukan Dinasti Xia
- Konsolidasi Kekuatan: Sebagai penguasa pra-dinasti, Tang memindahkan ibu kota ke Bo dan menunjuk menteri cerdas, Yi Yin. Tang secara bertahap melemahkan sekutu Xia dan berhasil merangkul sekitar 40 kerajaan kecil yang tertindas.
- Pertempuran Mingtiao: Pasukan Shang berhasil menumpas tentara Xia dalam Pertempuran Mingtiao. Raja Jie yang tiran ditangkap dan diasingkan, secara resmi mengakhiri kekuasaan Xia yang telah bertahan sekitar lima abad.
Pemerintahan dan Kebijakan Kemanusiaan
- Reformasi Sosial: Tang langsung mengembalikan kesejahteraan rakyat dengan menurunkan pajak serta mengurangi beban wajib militer.
- Penanganan Bencana Kekeringan: Saat kekeringan panjang melanda, Tang mencetak koin emas khusus untuk membantu keluarga miskin membeli kembali anak-anak mereka yang terpaksa dijual. Dalam legenda, ia bahkan menawarkan dirinya sebagai kurban ritual di Hutan Murbei hingga hujan lebat akhirnya turun.
- Pengukuhan Kekuasaan: Pemindahan Sembilan Kuali Tripod ke Istana Shang menegaskan perpindahan legitimasi kekuasaan tertinggi secara simbolis.
Keberadaan Tang diverifikasi oleh ratusan prasasti tulang ramalan dari era Shang Akhir, menjadikannya penguasa dinasti pertama Tiongkok dengan bukti sejarah tertulis yang sah. Dalam tradisi Konfusianisme, Tang diagungkan bersama Raja Wu, Yao, dan Shun sebagai contoh ideal penguasa berbudi luhur yang mengutamakan rakyat dan pembaruan diri secara berkelanjutan.
2. Da Ding (1589 SM)
Da Ding atau Tai Ding (1589 - ?) adalah putra sulung Raja Tang. Namun, terdapat perbedaan pandangan dalam berbagai sumber sejarah mengenai apakah ia benar-benar menggantikan ayahnya sebagai raja kedua dari Dinasti Shang atau tidak.
Dalam kitab Records of the Grand Historian (Catatan Sejarah Agung), Sima Qian menyatakan bahwa Da Ding meninggal di usia muda sebelum sempat menggantikan ayahnya, Raja Tang. Ia kemudian diberi nama anumerta Tai Ding, dan takhta kerajaan jatuh ke tangan adiknya, Wai Bing, yang nantinya diteruskan oleh putra Da Ding sendiri, yaitu Tai Jia.
Walaupun tidak terlalu dikenal luas, sosoknya masih diingat hingga saat ini di Tiongkok. Ia sering dijuluki sebagai (Yi zi), yang berarti "putra yang terlupakan". Julukan ini muncul karena ayahnya merupakan tokoh yang sangat terkenal, sementara Da Ding sendiri justru kurang mendapatkan sorotan sejarah.
Berbeda dengan catatan Sima Qian, prasasti pada tulang ramalan (oracle bones) yang ditemukan di Yinxu mencatat bahwa Da Ding sebenarnya adalah raja kedua Dinasti Shang. Dalam catatan tersebut, ia diberi nama anumerta Da Ding dan takhtanya kemudian dilanjutkan oleh putra-putranya, yaitu Da Jia (Tai Jia) dan Bu Bing (Wai Bing).
Sejarawan Simon Sebag Montefiore, dalam bukunya yang berjudul The World: A Family History of Humanity, mengutip sebuah prasasti yang merujuk pada kematian Da Ding. Prasasti tersebut berbunyi: "Da Jia dan Zu Yi, 100 cangkir anggur, 100 tawanan Qiang, 300 ekor ternak."
3. Wai Bing (1589 - 1587 SM) dan Zhong Ren (1587 - 1583 SM)
Menurut Catatan Sejarawan Agung (Records of the Grand Historian), Bu Bing atau sering juga disebut sebagai Wai Bing adalah raja kedua dari dinasti Shang. Ia lahir dengan nama asli Zi Sheng.
Dalam catatan tersebut, Sima Qian menyebutkan bahwa Bu Bing naik takhta menggantikan ayahnya, Tang, setelah kakaknya, Tai Ding, meninggal lebih dahulu. Bu Bing dinobatkan pada tahun Yihai dengan Yi Yin sebagai perdana menterinya, serta menjadikan Bo sebagai ibu kotanya. Masa pemerintahannya tercatat berlangsung selama kurang lebih dua tahun sebelum ia wafat. Setelah kematiannya, ia diberi gelar anumerta "Wai Bing" dan takhtanya diteruskan oleh adik laki-lakinya.
Zhong Ren adalah adik dari Wai Bing yang meneruskan takhta Dinasti Shang selama empat tahun, ia digantikan oleh keponakannya, Tai Jia yang merupakan anak dari Tai Ding.
4. Tai Jia (1583 - 1570 SM)
Tai Jia, atau yang juga dikenal sebagai Da Jia, memiliki nama asli Zi Zhi. Ia adalah putra dari Pangeran Da Ding dan merupakan seorang raja dari dinasti Shang di Tiongkok kuno.
Tai Jia merupakan putra dari Da Ding dan cucu dari Tang dari Shang. Leluhur Tang sendiri merupakan keturunan dari Xie, Kaisar Ku, dan Kaisar Kuning. Tai Jia diketahui memiliki setidaknya satu orang permaisuri bernama Bi Xin, serta dua orang putra yang bernama Wo Ding dan Tai Geng. Namun, dari kedua putranya tersebut, hanya Tai Geng yang tercatat dalam bukti prasasti tulang ramalan (oracle bones).
Bukti tertulis dari prasasti tulang ramalan mengenai masa pemerintahan Tai Jia sangat minim. Hal ini dikarenakan Tai Jia adalah penguasa periode awal dinasti Shang, sementara mayoritas penemuan prasasti ramalan berasal dari masa pemerintahan Wu Ding dan setelahnya. Oleh karena itu, catatan sejarah dari periode setelah dinasti Zhou sering digunakan untuk melengkapi celah informasi mengenai masa pemerintahannya.
Menurut catatan Records of the Grand Historian karya Sima Qian, Tai Jia adalah raja keempat dinasti Shang yang menggantikan pamannya, Wai Bing dan Zhong Ren. Ia naik takhta pada tahun 1535 SM dengan Yi Yin sebagai perdana menteri dan Bo sebagai ibu kotanya. Namun, prasasti pada tulang ramalan yang ditemukan di Yinxu mencatat versi berbeda: Tai Jia dianggap sebagai raja ketiga dinasti Shang yang menggantikan ayahnya, Da Ding. Dalam catatan tersebut, ia diberi nama anumerta Da Jia dan posisinya kemudian digantikan oleh saudaranya, Bu Bing.
Sima Qian menggambarkan Tai Jia sebagai penguasa otokratis yang memperlakukan rakyatnya dengan buruk dan melanggar hukum yang ia buat sendiri. Beberapa tahun setelah menjabat, kekacauan internal melanda istana. Perdana Menteri Yi Yin sempat menasihatinya untuk mengubah perilaku, namun sang raja yang keras kepala mengabaikan saran tersebut.
Akhirnya, Yi Yin terpaksa mengasingkan Tai Jia ke Tonggong, yang saat ini terletak di wilayah barat daya Kabupaten Yanshi, Henan, agar ia bisa bertobat. Selama tiga tahun pengasingan tersebut, Yi Yin memerintah negara sebagai wali raja.
Ketika Yi Yin merasa bahwa Tai Jia telah benar-benar berubah, ia mengundangnya kembali ke ibu kota untuk mengambil alih takhta. Sejak saat itu, Tai Jia memimpin dengan bijak dan mengurus pemerintahan dengan baik. Pada tahun ke-10 pemerintahannya, Yi Yin memutuskan untuk mengundurkan diri dan pensiun. Untuk menghormati jasa-jasanya, sang raja memberikan gelar anumerta Zhong Zong kepada Yi Yin setelah kematiannya.
Bamboo Annals menyajikan narasi yang jauh berbeda. Catatan tersebut mengklaim bahwa setelah pengasingan, Yi Yin justru merebut takhta dan memerintah selama tujuh tahun. Tai Jia kemudian diam-diam kembali ke istana dan membunuh Yi Yin. Setelah peristiwa tersebut, Tai Jia memberikan tanah dan istana milik Yi Yin kepada putra-putranya, yaitu Yi She dan Yi Fen.
Mengingat bukti arkeologis menunjukkan bahwa masyarakat Shang masih menyembah Yi Yin bahkan ratusan tahun setelah kematiannya, kisah yang ditulis oleh Sima Qian dianggap lebih kredibel oleh para sejarawan. Kedua sumber sepakat bahwa Tai Jia memerintah selama 12 tahun sebelum akhirnya meninggal dunia. Ia diberikan nama anumerta Tai Jia dan takhtanya digantikan oleh putranya, Wo Ding.
5. Wo Ding (1570 - 1541 SM)
Wo Ding, dengan nama pribadi Zi Xun, merupakan raja kelima Dinasti Shang yang memerintah pada era Shang Awal (sekitar 1570–1541 SM). Masa pemerintahannya yang berlangsung selama 29 tahun menjadi fase penting dalam menjaga stabilitas politik dinasti setelah periode pemulihan di era pendahulunya.
Wo Ding naik takhta menggantikan ayahnya, Raja Tai Jia. Sebelum Wo Ding memegang kekuasaan, Dinasti Shang sempat mengalami gejolak ketika Tai Jia diasingkan oleh Perdana Menteri Yi Yin akibat gaya kepemimpinan yang sewenang-wenang, sebelum akhirnya bertobat dan membawa kerajaan kembali stabil.
Meneruskan takhta dari Tai Jia, Wo Ding mempertahankan ibu kota kerajaan di Bo dan melanjutkan kebijakan tata kelola pemerintahan yang teratur serta damai.
Wafatnya Yi Yin: Peristiwa Utama Pemerintahan
Peristiwa paling menonjol yang dicatat dalam Catatan Sejarah Agung (Shiji) karya Sima Qian pada masa pemerintahan Wo Ding adalah wafatnya Yi Yin. Yi Yin merupakan sosok menteri legendaris dan negarawan ulung yang telah melayani lima generasi penguasa Shang sejak era pendiri dinasti, Raja Tang.
Ketika Yi Yin meninggal pada tahun ke-8 masa pemerintahan Wo Ding, raja menggelar upacara pemakaman kenegaraan secara megah di ibu kota Bo dengan ritual persembahan yang setara dengan penghormatan bagi seorang penguasa kekaisaran. Wo Ding menetapkan ritual kurban berkala untuk memperingati jasa-jasa Yi Yin bagi dinasti.
Raja kemudian menunjuk putra Yi Yin (Yi Zhi atau Jiu Zhi) untuk melanjutkan tradisi pengabdian keluarganya di penasihat istana.
Masa kekuasaan Wo Ding berakhir saat ia mangkat setelah 29 tahun bertakhta. Sesuai dengan sistem suksesi persaudaraan yang umum berlaku pada era Shang Awal, takhta kerajaan dilanjutkan oleh adik laki-lakinya, Raja Tai Geng. Pemerintahan Wo Ding dikenang sebagai periode transisi yang harmonis tanpa pergolakan politik maupun konflik suksesi yang berarti.
6. Tai Geng (1541 - 1516 SM)
Tai Geng atau Da Geng yang memiliki nama asli Zi Bian, merupakan seorang raja dari Dinasti Shang di Tiongkok kuno.
Dalam catatan Records of the Grand Historian (Catatan Sejarah Agung), Sima Qian menempatkannya sebagai raja Shang keenam yang naik takhta untuk menggantikan saudaranya, Wo Ding. Ia memerintah dengan menjadikan Bo sebagai ibu kotanya. Tai Geng memegang kekuasaan selama 25 tahun (meskipun kitab Bamboo Annals atau Catatan Sejarah Bambu menyebutkan masa pemerintahannya hanya 5 tahun). Setelah wafat, ia diberi nama anumerta Tai Geng dan takhtanya diteruskan oleh putranya, Xiao Jia.
Di sisi lain, berdasarkan prasasti tulisan ramalan (oracle script) pada tulang-tulang yang ditemukan di situs Yinxu, terdapat catatan yang berbeda. Prasasti tersebut mencatat bahwa ia adalah raja Shang kelima yang naik takhta menggantikan pamannya, Bu Bing. Dalam sumber ini, ia diberikan nama anumerta Da Geng dan posisinya sebagai raja kemudian digantikan oleh saudaranya, Xiao Jia.
7. Xiao Jia (1516 - 1499 SM)
Xiao Jia yang memiliki nama asli Zi Gao, merupakan seorang raja dari Dinasti Shang di Tiongkok.
Dalam catatan Records of the Grand Historian (Catatan Sejarah Agung), Sima Qian mencantumkan Xiao Jia sebagai raja Shang ketujuh yang naik takhta menggantikan ayahnya, Tai Geng. Ia naik takhta pada tahun Dingsi dengan Bo sebagai ibu kotanya. Xiao Jia memerintah selama 17 tahun, diberikan nama anumerta Xiao Jia, dan kemudian digantikan oleh saudaranya yang bernama Yong Ji.
Di sisi lain, prasasti pada tulang orakel yang ditemukan di Yinxu mencatat versi yang berbeda. Dalam catatan tersebut, ia merupakan raja Shang keenam yang naik takhta menggantikan saudaranya, Da Geng. Ia tetap disebut dengan nama anumerta Xiao Jia, namun disebutkan bahwa penerus takhtanya adalah keponakannya yang bernama Da Wu
8. Yong Ji (1499 - 1487 SM)
Yong Ji atau Lu Ji, yang memiliki nama pribadi Zi Dian atau Zi Zhou, merupakan seorang Raja Tiongkok dari Dinasti Shang.
Dalam catatan Records of the Grand Historian (Catatan Sejarah Agung), Sima Qian mencantumkan namanya sebagai raja Shang kedelapan yang menggantikan saudaranya, Xiao Jia. Lu Ji naik takhta pada tahun Jiaxu dengan Bo sebagai ibu kotanya. Ia memerintah selama 12 tahun, diberikan nama anumerta Yong Ji, dan kemudian digantikan oleh saudaranya, Tai Wu.
Namun, prasasti tulisan tulang ramalan yang ditemukan di situs Yinxu memberikan catatan yang berbeda. Menurut sumber tersebut, ia adalah raja Shang kedelapan yang menggantikan saudaranya, Tai Wu , diberikan nama anumerta Lu Ji, dan kemudian digantikan oleh keponakannya, Zhong Ding. Tercatat pula bahwa kondisi ekonomi mulai mengalami penurunan selama masa pemerintahannya.
9. Tai Wu (1487 - 1412 SM)
Tai Wu atau dikenal juga sebagai Da Wu, memiliki nama asli Zi Mi, adalah seorang Raja Tiongkok dari Dinasti Shang. Dalam catatan Records of the Grand Historian (Shiji), Sima Qian menempatkannya sebagai raja Shang kesembilan yang naik takhta menggantikan saudaranya, Yong Ji. Ia bertakhta dengan kota Bo sebagai ibu kotanya dan menunjuk Yishe serta Chenhu sebagai pejabat tingginya.
Pada tahun ke-7 pemerintahannya, ditemukan pohon murbei dan tanaman jawawut yang tumbuh bersamaan di dalam istananya. Menurut catatan Shiji, secara mengejutkan kedua tanaman tersebut tumbuh menjadi pohon yang sangat tinggi hanya dalam waktu tujuh hari. Raja muda tersebut merasa sangat ketakutan dan meminta penjelasan kepada Yishe.
Yishe menjelaskan bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan ketidakmampuan raja dalam memimpin pemerintahan sebelumnya. Mendengar hal itu, Tai Wu menuruti nasihat menteri-menterinya yang cerdas dan mulai bekerja dengan tekun. Segera setelah ia menjadi raja yang baik, kedua pohon aneh tersebut layu dan mati.
Pada tahun ke-11 pemerintahannya, ia memerintahkan Wu Xian untuk memanjatkan doa di Shanchuan. Memasuki tahun ke-26, Ratu dari Rong Barat (Xi Rong) mengirimkan utusan ke Shang, yang kemudian dibalas oleh raja dengan mengirimkan Wangmeng dalam kunjungan balasan.
Pada tahun ke-31, ia mengangkat Zhongyan dari wilayah vasal Fei ke posisi Chezheng (pengawas kereta kerajaan). Pada tahun ke-35, ia menulis sebuah puisi berjudul Yanche ("Kereta Harimau" atau "Menghormati Kereta"). Di tahun ke-46 pemerintahannya, terjadi panen raya yang berlimpah. Pada tahun ke-58, ia membangun kota Pugu, dan pada tahun ke-61, sembilan suku Barbar Timur (Yi) mengirimkan utusan mereka ke Shang.
Tai Wu memerintah selama 75 tahun dan diberikan nama anumerta Tai Wu. Takhtanya kemudian diteruskan oleh putranya, Zhong Ding. Namun, prasasti tulisan ramalan pada tulang (skrip orakel) yang ditemukan di Yinxu mencatat versi yang berbeda. Dalam catatan tersebut, ia merupakan raja Shang ketujuh yang menggantikan pamannya, Xiao Jia.
10. Zhong Ding (1412 - 1401 SM)
Zhong Ding, yang memiliki nama pribadi Zǐ Zhuang, merupakan seorang raja dari Dinasti Shang. Dalam catatan sejarah Records of the Grand Historian (Shiji), Sima Qian mencatatnya sebagai raja ke-10 Dinasti Shang yang naik takhta menggantikan ayahnya, Tai Wu. Beliau dinobatkan pada tahun Xinchou dengan Bo sebagai ibu kotanya. Pada tahun pertama masa pemerintahannya, ia memindahkan ibu kota ke Ao.
Kemudian, pada tahun keenam pemerintahannya, ia melancarkan serangan terhadap suku Barbar Biru (Lanyi). Zhong Ding memerintah selama 11 tahun (sumber lain menyebutkan 9 tahun) hingga akhir hayatnya. Setelah wafat, ia diberi nama anumerta Zhong Ding dan kekuasaannya diteruskan oleh saudaranya, Wai Ren.
Di sisi lain, prasasti naskah ramalan pada tulang (tulang orakel) yang ditemukan di Yinxu mencatat urutan yang berbeda. Dalam catatan tersebut, ia disebut sebagai raja ke-9 Dinasti Shang yang menggantikan pamannya, Yong Ji. Ia diberi nama anumerta Sanzu Ding dan posisinya digantikan oleh saudaranya, Bu Ren.
11. Wai Ren (1401 - 1386 SM)
Wai Ren atau Bu Ren, yang memiliki nama asli Zi Fa, adalah seorang raja Tiongkok dari Dinasti Shang. Dalam catatan Records of the Grand Historian (Catatan Sejarah Agung), Sima Qian mencantumkan beliau sebagai raja Shang kesebelas yang naik takhta menggantikan saudaranya, Zhong Ding. Ia dinobatkan sebagai raja pada tahun Gengxu dengan Ao sebagai ibu kotanya.
Selama masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan dari rakyat Pei dan Xian yang merupakan pengikut (vazal) Dinasti Shang. Wai Ren memerintah selama 15 tahun (meskipun Bamboo Annals atau Catatan Sejarah Bambu mengklaim masa pemerintahannya hanya 10 tahun) hingga wafatnya. Beliau diberikan nama anumerta Wai Ren dan digantikan oleh putranya, He Dan Jia.
12. He Dan Jia (1386 - 1377 SM)
He Dan Jia atau Jian Jia, yang memiliki nama pribadi Zi Zheng, adalah seorang Raja Tiongkok dari Dinasti Shang. Dalam catatan Records of the Grand Historian (Shiji), Sima Qian mencantumkannya sebagai raja Shang kedua belas yang naik takhta menggantikan ayahnya, Wai Ren. Ia dinobatkan pada tahun Gengshen dengan Ao sebagai ibu kotanya.
Pada tahun pertama pemerintahannya, ia memindahkan ibu kota ke Xiang. Pada tahun ketiga, menterinya yang bernama Pengbo menaklukkan wilayah Pi yang sebelumnya telah memberontak melawan ayahnya. Pada tahun keempat pemerintahannya, ia melancarkan serangan lain terhadap kaum Barbarian Biru.
Pada tahun kelima masa jabatannya, kaum Xian sempat menduduki Banfang, namun mereka kemudian dikalahkan oleh menteri raja, yaitu Pengbo dan Weibo, hingga akhirnya mengirimkan utusan kepada Dinasti Shang. He Dan Jia memerintah selama 9 tahun sebelum wafat. Ia diberikan nama anumerta He Dan Jia dan digantikan oleh putranya, Zu Yi.
Inskripsi pada naskah tulang ramalan (tulang orakel) yang ditemukan di Yinxu memberikan catatan yang berbeda. Catatan tersebut menyatakan bahwa ia adalah raja Shang kesebelas dengan nama anumerta Jian Jia, dan takhtanya diteruskan oleh saudaranya, Zu Yi.
13. Zu Yi (1377 - 1358 SM)
Zu Yi, yang memiliki nama asli Zi Teng, merupakan seorang Raja Tiongkok dari Dinasti Shang. Dalam Catatan Sejarah Agung (Shiji), Sima Qian mencantumkan Zu Yi sebagai raja Shang ketiga belas yang naik takhta menggantikan ayahnya, He Dan Jia. Ia dinobatkan pada tahun Jisi dengan Xiang sebagai ibu kotanya. Pada tahun pertama pemerintahannya, ia memindahkan ibu kota ke Geng, di mana ia mengadakan sebuah upacara resmi dan menulis artikel tentang Zuyi. Setahun kemudian, ia kembali memindahkan ibu kotanya, kali ini ke Bi. Pembangunan istananya di Bi selesai enam tahun setelah kepindahan tersebut.
Di bawah masa pemerintahannya, Dinasti Shang mencapai puncak kejayaan dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Keberhasilan ini didukung oleh penunjukan pejabat-pejabat yang cakap, di antaranya adalah Wuxian yang diangkat menjadi perdana menteri pada tahun ketiga pemerintahannya, serta Gaoyu yang diangkat sebagai vasal pada tahun kelima belas. Zu Yi memerintah selama kurang lebih 19 tahun hingga akhir hayatnya. Ia dianugerahi nama anumerta Zu Yi dan takhtanya diteruskan oleh putranya, Zu Xin.
Di sisi lain, prasasti naskah tulang ramalan yang ditemukan di reruntuhan Yinxu mencatat kronologi yang berbeda. Berdasarkan temuan tersebut, ia merupakan raja Shang kedua belas yang menggantikan saudaranya, Jian Jia, dan diberikan nama anumerta Xia Yi.
14. Zu Xin (1358 - 1342 SM)
Zu Xin yang memiliki nama asli Zi Dan, adalah seorang Raja Tiongkok dari Dinasti Shang. Dalam catatan sejarah Records of the Grand Historian (Catatan Sejarah Agung), Sima Qian mencantumkan beliau sebagai raja Shang keempat belas yang menggantikan ayahnya, Zu Yi.
Ia naik takhta pada tahun Wuzi dengan Bi sebagai ibu kotanya. Zu Xin memerintah selama kurang lebih 16 tahun sebelum wafat (meskipun kitab Bamboo Annals atau Catatan Sejarah Bambu menyebutkan masa pemerintahannya hanya 14 tahun). Setelah wafat, ia diberi nama anumerta Zu Xin dan takhtanya diteruskan oleh adiknya, Wo Jia. Di sisi lain, prasasti naskah tulang ramalan (oracle script) yang ditemukan di situs Yinxu mencatat data yang sedikit berbeda, yakni menempatkan beliau sebagai raja Shang ketiga belas.
15. Wo Jia (1342 - 1322 SM)
Wo Jia atau Qiang Jia, yang memiliki nama asli Zi Yu, merupakan seorang Raja Tiongkok dari Dinasti Shang. Dalam catatan Records of the Grand Historian, Sima Qian mencantumkan beliau sebagai raja Shang ke-15 yang naik takhta menggantikan saudaranya, Zu Xin.
Wo Jia dinobatkan sebagai raja pada tahun Renyan dengan pusat pemerintahan atau ibu kota yang berlokasi di Bi. Wo Jia memerintah selama kurang lebih 25 tahun, meskipun sumber lain menyebutkan masa pemerintahannya adalah 20 tahun) hingga akhir hayatnya. Setelah wafat, ia diberikan nama anumerta Wo Jia dan takhtanya diteruskan oleh keponakannya, Zu Ding.
Di sisi lain, berdasarkan prasasti aksara tulang ramalan (oracle bone script) yang ditemukan di situs Yinxu, tercatat bahwa beliau sebenarnya adalah raja Shang ke-14 dengan nama anumerta Qiang Jia.
16. Zu Ding (1322 - 1290 SM)
Zu Ding dengan nama pribadi Zi Xin, merupakan seorang raja dari Dinasti Shang di Tiongkok. Dalam kitab Catatan Sejarah Agung (Records of the Grand Historian), Sima Qian mencatatnya sebagai raja Shang yang keenam belas, menggantikan pamannya yang bernama Wo Jia. Ia naik takhta pada tahun Dingwei dengan menjadikan Bi sebagai ibu kotanya. Ia memerintah selama kurang lebih 32 tahun hingga akhir hayatnya (1368-1336 SM). Setelah wafat, ia diberikan nama anumerta Zu Ding dan digantikan oleh sepupunya, Nan Geng.
Di sisi lain, prasasti naskah ramalan pada tulang ramalan yang ditemukan di Yinxu mencatat informasi yang berbeda, yang menyatakan bahwa ia adalah raja Shang yang kelima belas. Proyek Kronologi Xia–Shang–Zhou, sebuah penelitian akademis Tiongkok yang luas, menerbitkan hasil penelitian pada tahun 2000 yang menempatkan Zu Ding sebagai tokoh yang hidup sezaman dengan firaun Mesir, Akhenaten. Meskipun masa pemerintahan Akhenaten dimulai lebih lambat daripada masa pemerintahan Zu Ding, keduanya tercatat berakhir pada waktu yang hampir bersamaan, yaitu di pertengahan tahun 1330-an SM.
17. Nan Geng (1290 - 1265 SM)
Nan Geng, yang memiliki nama asli Zi Geng, merupakan salah satu penguasa pada masa Dinasti Shang di Tiongkok kuno. Berdasarkan kitab Records of the Grand Historian (Catatan Sejarah Agung), sejarawan Sima Qian menempatkan Nan Geng sebagai raja ke-17 dalam silsilah Dinasti Shang setelah ia menggantikan sepupunya, Zu Ding. Penobatan resminya terjadi pada tahun Bingchen, dengan pusat pemerintahan awal berada di Bi.
Memasuki tahun ketiga masa kepemimpinannya, ia memutuskan untuk memindahkan ibu kota kerajaan ke Yan. Nan Geng memegang tampuk kekuasaan selama kurang lebih 29 tahun hingga akhir hayatnya. Setelah wafat, ia dikenal dengan nama anumerta Nan Geng, dan takhta kerajaan diteruskan oleh Yang Jia, yang merupakan putra dari sepupunya.
Namun, terdapat sumber sejarah lain berupa prasasti tulang ramalan (inkripsi orakel) yang ditemukan di situs Yinxu. Catatan pada tulang tersebut memberikan keterangan berbeda, yakni menyebutkan bahwa Nan Geng sebenarnya adalah raja ke-16 dalam urutan penguasa Dinasti Shang.
18. Yang Jia (1265 - 1258 SM)
Yang Jia yang juga dikenal sebagai Xiang Jia dengan nama pribadi Zi He, merupakan salah satu penguasa Tiongkok pada masa Dinasti Shang.
Berdasarkan literatur Records of the Grand Historian karya Sima Qian, Yang Jia tercatat sebagai raja ke-18 dalam silsilah Dinasti Shang. Ia naik takhta untuk menggantikan Nan Geng, yang merupakan sepupu dari ayahnya. Penobatannya terjadi pada tahun Renxu, dengan pusat pemerintahan atau ibu kota yang berlokasi di Yan.
Selama masa kepemimpinannya, tepatnya pada tahun ketiga, ia tercatat pernah mengerahkan pasukan militer untuk menghadapi suku-suku barbar di wilayah Danshan. Mengenai durasi kekuasaannya, terdapat perbedaan sumber: satu versi menyebutkan ia memerintah selama 17 tahun, sementara sumber lain menyatakan hanya 7 tahun.
Di sisi lain, temuan arkeologis berupa prasasti tulang ramalan di Yinxu memberikan catatan yang sedikit berbeda. Data tersebut menempatkan Yang Jia sebagai raja Shang ke-17 dengan nama anumerta Xiang Jia.
20. Wu Ding (1250 - 1192 SM)
Raja Wu Ding (wafat c. 1192 SM) adalah penguasa Dinasti Shang yang memerintah selama 59 tahun (c. 1250–1192 SM). Ia merupakan figur Tiongkok kuno tertua yang keberadaannya terbukti secara historis lewat bukti fisik sezaman. Penemuan ribuan prasasti tulang ramalan (oracle bones) di Yinxu (Anyang) pada tahun 1899 menegaskan masa pemerintahannya sebagai puncak keemasan era Shang Akhir.
Masa muda Wu Ding dihabiskan dengan hidup dan bekerja di tengah rakyat jelata di bawah bimbingan Gan Pan. Pengalaman ini membentuk kepemimpinannya menjadi bijaksana dan peka terhadap rakyat. Didampingi kanselir utama seperti Gan Pan dan Fu Yue, Wu Ding membangun administrasi yang efisien dengan mendelegasikan kekuasaan wilayah luar kepada penguasa lokal (vasal) yang menyetorkan upeti dan dukungan militer.
Kekuatan militer Shang menguat pesat melalui pembentukan tiga resimen utama, integrasi kereta perang (chariot), dan modernisasi senjata perunggu. Wu Ding sukses melakukan penaklukan wilayah terhadap suku Guifang, Dapeng, dan Hufang. Era ini juga mencatat tingginya peranan perempuan dalam kekuasaan; permaisurinya, Fu Hao, menjadi jenderal perang yang memimpin hingga 13.000 prajurit sekaligus bertindak sebagai pendeta tinggi kerajaan.
Wu Ding sangat aktif dalam ritual keagamaan, di mana sekitar 70% artefak tulang ramalan yang ditemukan berasal dari masanya. Praktik spiritual ini melahirkan sistem penulisan aksara Tionghoa tertua (jiaguwen). Selain tulisan, masa pemerintahannya ditandai dengan lompatan besar dalam teknologi pengecoran perunggu, observasi astronomi, penanggalan kalender, dan seni pertunjukan.
Pemerintahan panjang Wu Ding berakhir sekitar tahun 1192 SM. Ia dimakamkan di kawasan Xibeigang dan dikenang sebagai salah satu penguasa paling berjasa dalam meletakkan fondasi peradaban Tiongkok.
21. Zu Geng (1191 - 1148 SM)
Zu Geng, yang memiliki nama pribadi Zi Yue, merupakan seorang raja dari Dinasti Shang di Tiongkok. Ibu kota pemerintahan Zu Geng terletak di Yin. Di kota inilah ia diduga menulis karya berjudul The Instructions of Gaozong. Selain itu, Zu Geng juga diyakini sebagai pihak yang memerintahkan pembuatan dan mendedikasikan Houmuwu ding (bejana perunggu besar), yang ia cor khusus demi mengenang ibunya, Fu Jing.
Ia memegang takhta selama tujuh tahun terhitung sejak tahun 1191 SM, tepat setelah kematian ayahnya, Wu Ding. Setelah Zu Geng mangkat, ia digantikan oleh saudaranya yang bernama Zu Jia. Meskipun demikian, kitab Sejarah Bambu (Bamboo Annals) mencatat bahwa ia sebenarnya memerintah selama sebelas tahun.
22. Zu Jia (1147 -1138 SM)
Zu Jia (wafat pada pertengahan abad ke-12 SM) atau yang dikenal juga sebagai Di Jia, memiliki nama pribadi Zǐ Zai. Ia adalah salah satu Raja Dinasti Shang di Tiongkok. Zu Jia tercatat sebagai putra ketiga dari Wu Ding, penguasa Tiongkok pertama yang keberadaannya divalidasi oleh catatan sejarah kontemporer. Karena mewarisi wilayah kekuasaan yang sangat luas yang telah dibangun oleh ayah dan saudaranya, ia berhasil memimpin Kerajaan Shang melewati masa stabilitas singkat yang terakhir. Setelah masa pemerintahannya berakhir, Dinasti Shang mengalami kemunduran yang tidak dapat dipulihkan kembali.
Zu Jia memerintah pada paruh pertama abad ke-12 SM dari kota Yin, ibu kota kuno bersejarah milik Dinasti Shang. Ia dikenal sebagai raja yang memprakarsai reformasi agama dan sistem suksesi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sebelumnya meresahkan kerajaan. Periode pemerintahannya juga menandai kebangkitan Dinasti Zhou Pradinasti, yang mulai mengembangkan hubungan yang lebih kompleks dengan istana Shang setelah kematian Wu Ding.
Sangat sedikit informasi yang diketahui mengenai kehidupan awal Zu Jia. Ia adalah anggota keluarga kerajaan Dinasti Shang yang telah menguasai lembah Sungai Kuning sejak abad ke-16 SM. Ia merupakan satu dari tiga anak laki-laki Wu Ding yang lahir dari permaisuri utama Wu Ding, yaitu Fu Jing. Zu Jia memiliki dua kakak laki-laki bernama Zu Geng dan Zu Ji, serta seorang saudara perempuan bernama Xiao Chen Tao.
Ayahnya, Wu Ding, merupakan salah satu penguasa paling terkemuka dalam sejarah Dinasti Shang. Setelah berkuasa selama lebih dari 59 tahun yang dimulai sekitar tahun 1250 SM, Wu Ding berhasil mengubah Shang dari negara yang sedang mengalami kemunduran menjadi sebuah negara yang kuat. Ia juga memperluas pengaruh kerajaan hingga melampaui Sungai Kuning hingga mencapai wilayah jauh di Yangtze dan wilayah Shaanxi modern.
Kakak tertua Zu Geng, yaitu Zu Ji, diberi gelar "Xiaowang" (yang berarti "Raja yang Dinantikan") dan ditunjuk sebagai penerus resmi Wu Ding. Namun, karena Zu Ji wafat di usia muda, posisinya digantikan oleh Zi Yue, yang kelak dikenal sebagai Zu Geng. Pada masa pemerintahan Zu Geng inilah, pangeran Zi Zai kemudian diangkat menjadi Raja yang Dinantikan.
23. Lin Xin (1137 - 1132 SM)
Lin Xin adalah seorang raja dari Dinasti Shang di Tiongkok. Ia naik takhta untuk menggantikan Zu Jia, dan posisi jabatannya kemudian diteruskan oleh Geng Ding. Sangat sedikit informasi yang diketahui tentang dirinya di luar catatan silsilah dalam dokumen sejarah tahunan. Selain itu, belum dapat dipastikan apakah namanya disebutkan dalam prasasti tulang ramalan (tulang orakel).
Nama "Lin Xin" berasal dari kitab Records of the Grand Historian (Catatan Sejarah Agung) karya Sima Qian. Sementara itu, dalam kitab Bamboo Annals (Sejarah Bambu), nama yang muncul dan tercatat menggantikan Zu Jia dalam urutan yang sama adalah "Feng Xin". Oleh karena itu, para ahli meyakini bahwa kedua nama tersebut merujuk pada orang yang sama. Kesimpulan ini juga tecermin dalam kitab Taiping Yulan, yang menggabungkan kisah kedua nama tersebut ke dalam satu bab yang sama.
Lin Xin naik takhta pada tahun Gengyan dengan ibu kota yang terletak di Yin. Berdasarkan beberapa sumber, ia memerintah selama empat tahun. Namun, kitab Taiping Yulan menyebutkan bahwa Lin Xin memerintah selama enam tahun dengan mengutip salah satu bagian dari kitab Records of the Grand Historian. Meskipun demikian, kutipan yang dimaksud tersebut tidak ditemukan dalam teks Records of the Grand Historian versi modern yang kita terima saat ini.
Di sisi lain, bukti dari prasasti tulang ramalan menunjukkan bahwa masa pemerintahan Lin Xin memelopori bentuk-bentuk awal pendidikan bagi para praktisi keagamaan Dinasti Shang. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya lebih dari beberapa contoh tulisan tangan pemula pada tulang-tulang ramalan yang berasal dari masa pemerintahannya, terutama tulisan yang dibuat oleh seorang peramal bernama Peng.
24. Geng Ding (1132 - 1124 SM)
Kang Ding atau Geng Ding adalah seorang raja dari Dinasti Shang di Tiongkok. Ia memiliki nama lahir Xiao . Ia naik takhta pada tahun Jiawu dengan Yin sebagai ibu kota kerajaannya.
Berbagai sumber sejarah memberikan catatan yang berbeda mengenai lamanya masa pemerintahan Geng Ding. Berdasarkan kitab Sejarah Bambu (Bamboo Annals), ia memerintah selama 8 tahun. Di sisi lain, kitab Zizhi Tongjian Waiji (sebuah suplemen untuk Zizhi Tongjian) dari zaman Dinasti Song serta Ensiklopedia Tongzhi mencatat masa pemerintahannya berlangsung selama 6 tahun. Sementara itu, kitab Diwang Benji yang dikutip dalam Tongzhi menyebutkan bahwa ia bertakhta selama 11 tahun.
Terlepas dari perbedaan kronologi masa pemerintahannya, beberapa penemuan tulang ramalan (oracle bones) dengan tulisan tangan yang tampak masih kaku dan kurang rapi berhasil diidentifikasi berasal dari masa pemerintahan Geng Ding dan Lin Xin. Tulang-tulang ramalan ini secara khusus dikaitkan dengan seorang ahli nujum atau peramal bernama Peng.
Situs ini biasanya memuat tulisan seseorang yang sedang menyalin hasil kerja dari peramal senior yang sudah ada (misalnya karya peramal dari wilayah Nan). Tulisan tiruan tersebut kemudian diperiksa, lalu proses menyalin ini diulang kembali. Temuan ini menjadi salah satu bukti tertua mengenai praktik sistem pendidikan dan pelatihan literasi di Tiongkok kuno.
25. Wu Yi (1124 - 1097 SM)
Wu Yi, yang memiliki nama asli Zi Qu, adalah raja dari Dinasti Shang di Cina kuno yang memerintah dari tahun 1147 hingga 1112 SM. Menurut kitab Cetak Biru Bambu (Bamboo Annals), pusat pemerintahannya terletak di kota Yin. Wu Yi merupakan putra dari raja sebelumnya, Geng Ding, sekaligus ayah dari Raja Wen Ding.
Pemerintahan Raja Wu Yi diwarnai oleh dinamika politik dan militer yang semakin memanas di wilayah vassal Zhou. Pada tahun ke-21 pemerintahannya, Koufu yang merupakan pemimpin wilayah Zhou meninggal dunia.
Berdasarkan catatan Catatan Sejarah Bambu, tiga tahun kemudian—tepatnya pada tahun ke-24 pemerintahan—pasukan Zhou melancarkan serangan ke wilayah Cheng di Bi dan berhasil memenangkan pertempuran tersebut. Ekspansi Zhou berlanjut pada tahun ke-30 pemerintahan ketika mereka menyerang wilayah Yiqu dan menawan rajanya.
Sejarawan Sima Qian memberikan sudut pandang yang lebih mendalam mengenai peristiwa Yiqu ini: perebutan takhta terjadi di antara dua putra raja Yiqu yang berbeda ibu pasca-kematian ayah mereka. Konflik internal yang memecah belah ini dimanfaatkan dengan cerdik oleh pihak Zhou untuk menaklukkan kedua pangeran tersebut sekaligus mencaplok seluruh wilayah Yiqu.
Hubungan diplomasi antara takhta Shang dan pimpinan Zhou sempat menunjukkan kehangatan ketika Raja Ji dari Zhou berkunjung ke ibu kota Shang pada tahun ke-34 pemerintahan untuk menyampaikan penghormatan.
Atas ketundukannya, ia dianugerahi hadiah kehormatan berupa 30 keping batu giok dan 10 ekor kuda. Setahun setelah kunjungan tersebut, Raja Ji melancarkan invasi ke wilayah Xiluo untuk menyerang suku Guirong. Sima Qian mencatat keberhasilan militer yang gemilang dalam aksi ini, di mana Raja Ji berhasil menangkap 20 raja suku Guirong.
Di luar urusan ekspansi wilayah, masa kekuasaan Wu Yi sangat diwarnai oleh perilaku kontroversial dan sikapnya yang dinilai menantang keagungan spiritual. Sebagaimana dikisahkan dalam Catatan Sejarah Agung (Shiji), Wu Yi pernah membuat sebuah patung kayu sebagai representasi "Dewa Langit". Ia memerintahkan seseorang melempar dadu mewakili patung tersebut untuk bermain judi liubo bersamanya, lalu tanpa ragu mengejek dan mempermalukan patung itu setiap kali ia memenangkan permainan. Pada kesempatan lain, ia mengisi kantong kulit dengan darah segar, menggantungnya tinggi-tinggi di udara, kemudian memanahnya hingga pecah—sebuah ritual provokatif yang secara pongah ia namai tindakan "menembak Langit".
Rangkaian tindakan yang dinilai sakrilegi ini menemui titik balik tragis pada tahun ke-35 pemerintahannya. Saat sedang berburu di area antara Sungai Kuning dan Sungai Wei, Wu Yi tewas seketika akibat tersambar petir.
Kitab Shujing mengartikan kematian mendadak ini sebagai karma dan hukuman divine atas sikapnya yang sangat tidak saleh. Meski demikian, penyebab pasti kematian sang raja masih diselimuti misteri hingga hari ini. Sejumlah sejarawan berspekulasi bahwa Wu Yi sebenarnya adalah seorang tokoh reformator yang berupaya memisahkan urusan politik pemerintahan dari dominasi otoritas pendeta; sebagai bentuk balas dendam politik, para pendeta merusak reputasinya dan merekayasa narasi sejarah seolah-olah ia dikutuk oleh langit. Sementara itu, hipotesis ahli lainnya menduga bahwa Wu Yi sebenarnya tewas dalam pertempuran sengit atau menyerah pada penyakit di area antara Sungai Wei dan Luoshui.
26. Wen Ding (1096 - 1086 SM)
Wen Wu Ding, yang juga dikenal sebagai Wen Ding atau Tai Ding , memiliki nama pribadi Zi Tuo. Ia merupakan seorang raja dari Dinasti Shang di Cina Kuno.
Berdasarkan catatan dalam Buku Tahunan Bambu (Bamboo Annals), Raja Wen Ding mengawali masa kepemimpinannya dengan memindahkan ibu kota kerajaan dari Mou ke Yin. Pada tahun kedua pemerintahannya, Jili dari Zhou—seorang raja bawahan (vassal) Wen Ding—melancarkan serangan terhadap suku Yanjing Rong, tetapi menderita kekalahan dalam pertempuran tersebut.
Menyusul peristiwa kekeringan total di Sungai Huan pada tahun ketiga, Jili kembali bangkit pada tahun keempat dengan menyerang suku Yuwu Rong. Kemenangan kali ini memanfaatkan momentum untuk mengubah wilayah Yuwu menjadi negara bawahan (client state) di bawah kendali Zhou, yang kemudian disusul dengan pendirian wilayah Chengyi pada tahun kelima di atas tanah hasil aneksasi dari wilayah Cheng.
Ekspansi Zhou terus berlanjut pada tahun ketujuh pemerintahan Wen Ding ketika Jili sukses menundukkan suku Shihu Rong. Beberapa tahun berselang, Jili kembali meraih kemenangan besar atas suku Xitu Rong dan bahkan berhasil menawan tiga jenderal mereka. Namun, rentetan keberhasilan militer ini justru memicu keresahan bagi Wen Ding, yang khawatir pertumbuhan kekuatan Dinasti Zhou dapat mengancam takhtanya. Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, Wen Ding mengambil langkah drastis dengan mengasingkan Jili ke sebuah gudang di pedesaan dan membiarkannya mati kelaparan di sana.
27. Di Yi (1086 - 1076 SM)
Di Yi, dengan nama pribadi Zi Xian, adalah seorang raja dari Dinasti Shang yang memerintah dari tahun 1086 SM hingga 1076 SM. Ibu kotanya terletak di Yin, yang sekarang menjadi wilayah Anyang di Provinsi Henan. Catatan mengenai masa pemerintahannya tersimpan dengan baik dalam inskripsi tulang ramalan (tulang Oracle) dan benda-benda perunggu kuno.
Di Yi merupakan kakak laki-laki dari Jizi dan Bi Gan. Ia memiliki tiga orang putra, yaitu Weiziqi, Weizhong, dan Di Xin. Sejarawan kuno Sima Qian mencatat bahwa karena Weiziqi dan Weizhong lahir dari selir dengan status sosial yang lebih rendah, Di Xin akhirnya ditunjuk sebagai pewaris takhta. Di Xin inilah yang kemudian menjadi penguasa terakhir dari Dinasti Shang. Setelah runtuhnya Dinasti Shang, Weiziqi dianugerahi wilayah yang menjadi Negara Song, yang kepemimpinannya kelak diteruskan oleh Weizhong.
Masa pemerintahan Di Yi ditandai dengan pecahnya perang besar melawan suku Yufang, yang terjadi sekitar waktu siklus pengorbanan ritual ke-10 dalam masa bertakhtanya.
Selain itu, berdasarkan catatan tulang ramalan, ia juga dikabarkan pernah berperang melawan suku Renfang pada tahun ke-10 pemerintahannya. Namun, analisis gaya bahasa meragukan keaslian catatan ini. Keraguan muncul karena penggunaan istilah ziyong yang berarti "untuk dilaksanakan" sebenarnya baru muncul pada masa pemerintahan Di Xin, dan biasanya hanya ditemukan dalam catatan-catatan perang melawan suku Renfang. Meski demikian, para ahli sepakat bahwa perang tersebut setidaknya terbukti eskalasinya meningkat secara signifikan ketika era Di Xin dimulai.
Sebagian besar catatan sejarah mengenai Di Yi yang ditulis setelah kematiannya dibuat dari sudut pandang Dinasti Zhou—pemerintahan yang menginvasi Shang. Catatan-catatan tersebut condong menggunakan sudut pandang anakronistis (kurang sesuai dengan urutan waktu sejarah) yang menekankan bahwa Di Xin telah kehilangan "Mandat Langit" (Mandate of Heaven). Oleh karena itu, sumber-sumber ini harus dicermati dengan hati-hati.
Berdasarkan kitab Sejarah Bambu (Bamboo Annals), pada tahun ketiga pemerintahannya, Di Yi memerintahkan Nanzhong untuk memerangi suku Barbar Kun. Setelah memenangkan pertempuran tersebut, ia mendirikan wilayah Shuofang (yang secara kasar mencakup wilayah Ordos modern di Mongolia Dalam) tepat di tengah-tengah wilayah suku Kun. Pada masa itu pula, sebuah gempa bumi besar melanda wilayah pra-dinasti Zhou. Catatan dalam kitab ini menyebutkan bahwa Di Yi wafat pada tahun kesembilan pemerintahannya.
Dalam Kitab Perubahan (I Ching / Book of Changes), Di Yi tercatat dua kali menyerahkan adik perempuannya untuk dinikahkan dengan Raja Wen dari Zhou. Kisah pernikahan ini diabadikan di bawah heksagram Tai dan Gui Mei.
Di sisi lain, Sima Qian mencatat bahwa masa pemerintahan Di Yi tidak berhasil memperbaiki masalah ekonomi yang sebenarnya sudah menumpuk sejak masa pemerintahan Raja Wu Yi. Walakin, Adipati Dan dari Zhou memberikan pandangan yang relatif lebih positif dalam pidatonya yang menentang kebiasaan mabuk-mabukan di Kitab Dokumen (Book of Documents). Dalam pidato itu, ia memuji bangsa Shang di era Di Yi yang tidak kecanduan minuman keras sebagai contoh kebajikan masyarakat yang patut ditiru. Sementara itu, Kitab Han (Book of Han) mencatat bahwa Di Yi sangat tergila-gila pada sesosok dewa dan akhirnya meninggal dunia akibat syok/terkejut.
Sebuah penggalan kalimat dalam kitab Zuozhuan menyiratkan bahwa Di Yi memiliki kekurangan dalam hal kebajikan, yang mirip dengan karakter Raja Li dari Zhou, meskipun hal ini tidak dijelaskan lebih terperinci.
Di Yi juga disebut-sebut sebagai asal-usul dari marga Hao. Kisah ini merujuk pada sebuah legenda di mana Di Yi menganugerahkan wilayah Haoxiang (sekarang wilayah Taiyuan) kepada Zi Qi. Zi Qi dan keturunannya kemudian mengadopsi nama tempat tersebut sebagai nama marga keluarga mereka.
Ritual Pengorbanan
Nama Di Yi disebutkan secara eksplisit setidaknya tiga kali dalam inskripsi perunggu dari masa pemerintahan putranya, Di Xin, dengan gelar anumerta "Sipil dan Militer" (Wenwu) yang disematkan pada setiap penyebutannya.
Penyebbutan pertama berasal dari tahun ke-4 pemerintahan Di Xin, ketika sebuah ritual pengorbanan yi dilakukan untuk memulai siklus ritual baru. Penyebutan kedua ditemukan pada ritual pengorbanan rong dari tahun ke-22 pemerintahannya, yang menandai akhir dari siklus ritual lainnya. Dalam kasus kedua ini, Di Xin memberikan hadiah uang kerang cowrie kepada individu yang membantunya, yang kemudian membuat sebuah bejana perunggu untuk mencatat peristiwa berharga tersebut.
Pengorbanan ketiga dilakukan selama siklus ritual ke-4 Di Xin, di mana ritual pengorbanan yi dan zhu dilaksanakan. Seorang pejabat yang membantu Di Xin bernama Bi Qi dianugerahi hadiah uang kerang cowrie, dan dokumentasi atas tindakan tersebut diabadikan dalam kerajinan perunggu kuno.
28. Di Xin/Zhouxin (1075 - 1046 SM)
Di Xin, yang lahir dengan nama Zi Shou dan secara retrospektif lebih dikenal sebagai Raja Zhou dari Shang, sekaligus raja terakhir Dinasti Shang (c. 1075–1046 SM). Dalam sejarah Tiongkok kuno, namanya diabadikan sebagai simbol tirani, kemewahan tanpa batas, dan kejatuhan yang tragis. Berakhirnya masa pemerintahan Di Xin selama hampir tiga dekade menandai runtuhnya kekuasaan Shang yang telah bertahan selama hampir enam abad, sekaligus memberi jalan bagi lahirnya Dinasti Zhou.
Pada awal masa jabatannya, Di Xin bukanlah sosok penguasa yang lemah. Catatan sejarah klasik seperti Shiji (Catatan Sejarah Agung) karya Sima Qian menggambarkan Zi Shou sebagai pria dengan kecerdasan luar biasa, orator yang handal, serta memiliki kekuatan fisik yang tak tertandingi—bahkan dikisahkan mampu bertarung melawan binatang buas dengan tangan kosong.
Di tahun-tahun awal kekuasaannya, ia berhasil memperluas wilayah Shang ke arah tenggara dengan memimpin ekspedisi militer melawan suku Dongyi, yang memperkuat pengaruh dinasti di kawasan pesisir Lembah Sungai Kuning.
Kemunduran, Kemewahan, dan Tirani
Namun, reputasi gemilang tersebut perlahan sirna seiring berjalannya waktu. Pengaruh negatif dan gaya hidup hedonistik mulai mendominasi istana, terutama setelah ia menjadikan Daji sebagai selir kesayangannya. Di Xin dikenal membangun proyek-proyek pemborosan yang memeras sumber daya rakyat, salah satu yang paling fenomenal adalah Jiuchi Roulin (Kolam Anggur dan Hutan Daging)—sebuah taman kemewahan ekstrem yang diciptakan untuk pesta pora tanpa henti.
Guna mempertahankan kekuasaannya dari kritik, Di Xin menerapkan hukuman kejam bagi siapa pun yang menentangnya. Salah satu metode eksekusi paling mengerikan yang ia ciptakan adalah Paoluo, di mana korban dipaksa berjalan di atas pilar perunggu membara yang diolesi minyak hingga jatuh ke dalam kobaran api. Ia juga tidak segan mengeksekusi menteri-menteri setia yang menasihatinya, seperti paman kandungnya sendiri, Bi Gan, yang jantungnya dicabut secara paksa.
Pertempuran Muye dan Akhir Tragis
Kekejaman dan pemborosan Di Xin memicu kemarahan luas dari rakyat serta para adipati daerah vassal. Ji Fa (yang kelak menjadi Raja Wu dari Zhou) memanfaatkan momentum ini dengan memimpin koalisi pemberontak untuk menumbangkan kekuasaan Shang.
Puncaknya terjadi pada Pertempuran Muye (1046 SM). Pasukan Di Xin yang berjumlah besar tetapi kehilangan moral—sebagian besar terdiri dari budak dan prajurit yang tertekan—justru membelot dan menyambut pasukan Zhou. Menyadari kekalahannya yang tak terhindarkan, Di Xin mundur ke Istana Menara Rusa (Lutai). Ia mengenakan jubah kebesarannya yang dipenuhi permata, membakar seluruh perhiasan dan isi istana, lalu mengakhiri hidupnya di dalam kobaran api.
Keruntuhan
Zhouxin selama memerintah bertindak secara kejam yang mana karena kekejamannya itulah Zhouxin menjadi penguasa Dinasti Shang yang terakhir. Dikisahkan bahwa Zhouxin membunuh orang-orang yang berusaha untuk menghentikan tindakannya yang kejam itu. Salah satunya adalah Jiu Hou dan Er Hou. Salah seorang penguasa daerah negara bagian Zhou yaitu Ji Chang memprotes tindakan pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Zhouxin sehingga Ji Chang akhirnya harus ditahan.
Putra Jichang yang bernama Boyikao menyadari bahwa ayahandanya dihukum terlalu lama kemudian menghadap Zhouxin serta menyatakan kesediaan dirinya untuk menggantikan ayahnya sebagai tahanan. Zhouxin yang mendengar kabar bahwa Ji Chang yang selama di dalam penjara mempelajari Yijing (teknik meramal) dianggap telah mampu meramal.
Zhouxin yang merasa khawatir sekaligus ingin menguji kemampuan Ji Chang. Zhouxin kemudian membunuh Boyikao serta menjadikan dagingnya sebagai bahan campuran bubur. Bubur yang mengandung daging Boyikao itu kemudian diberikan kepada Ji Chang yang sesungguhnya telah mengetahui bahwa bubur itu adalah daging putranya sendiri. Tetapi Ji Chang berpura-pura dan dengan lahap memakan bubur itu serta mengucapkan terimakasih setelah menghabiskannya.
Mendengar hal itu, Zhouxin merasa senang dan merasa bahwa kemampuan meramal Ji Chang hanya kebohongan belaka. Sehingga Zhouxin memutuskan untuk membebaskan Ji Chang dari tahanan. Ji Chang pun dibebaskan dan kembali ke negerinya untuk memimpin.
Ji Chang memimpin rakyatnya dengan baik dan bijak. Tidak henti pula Ji Chang meminta pendapat dan saran dari orang-orang bijak seperti Jiang Ziya yang kemudian diangkat olehnya sebagai perdana menterinya. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan apabila Zhou yang masih menjadi negara bagian Dinasti Shang mulai tumbuh kuat dan bahkan memiliki kemampuan untuk menggeser dan mengakhiri Dinasti Shang.
Akhirnya, peperangan antara Zhou dan Shang tidak terhindarkan. Pasukan Ji Chang secara bertahap mendapat kemenangan dan berhasil menguasai dua negara bagian Shang, Oigua dan Mixu. Pangeran Bigan, paman dari Zhouxin yang merupakan orang bijak berusaha untuk menasihati Zhouxin, tetapi Zhouxin justru membunuh Bigan dan mengorek jantungnya berupaya membuktikan kepercayaan yang pada saat itu beredar bahwa jantung seorang bijak memiliki tujuh lubang.
Pada tahun 1077 SM Ji Fang meninggal dan digantikan oleh putranya yang bernama Ji Fa. Ji Fa naik takhta dengan gelar Wuwang. Ji Fa kemudian menghimpun kekuatan dan kembali menggelar perang dengan Dinasti Shang. Ji Fa memimpin 800 raja muda dari wilayah bawahan untuk menyerang Dinasti Shang. Di hadapan para raja muda itu Ji Fa berpidato;
Wahai para raja negara-negara bagian yang bersahabat, para pejabat, penyelenggara administrasi kerajaan, dengarkanlah baik-baik apa yang menjadi amanatku ini. Langit dan bumi adalah sumber semua makhluk, dan manusia merupakan makhluk yang memperoleh berkah tertinggi. Barangsiapa yang paling tinggi akal budinya di antara umat manusia akan menjadi raja agung, dan ia adalah bapak bagi rakyat. Namun kini, Zhouxin, maharaja Dinasti Shang, tidak lagi mengindahkan ketetapan langit, dan menimbulkan malapetaka bagi segenap umat manusia di dunia ini.
Selain mabuk-mabukan dan bertindak semaunya sendiri, ia telah menggunakan kekejaman dan kekerasan untuk menindas rakyat.... Ia memenuhi ambisinya membangun istana, menara, tempat peristirahatan, kolam, dan semua kebesaran lain, yang menimbulkan luka paling menyakitkan bagi jutaan rakyat.... Langit tidak tinggal diam dan dengan kemarahan menitahkan ayahku, Wenwang yang telah wafat guna menyampaikan peringatan langit agar sang maharaja sadar. Namun sayangnya, beliau telah meninggal sebelum semua tugas itu dapat ditunaikannya. Berdasarkan amanat Langit ini, aku, Fa, seorang anak kecil yang tak berarti, dengan bantuan Anda sekalian, para kepala suku yang bersahabat, telah membicarakan mengenai kondisi pemerintahan Dinasti Shang, dan ternyata Zhouxin tidak bersedia menyesali perbuatannya.... Dan ia tetap mengatakan, "Rakyat adalah milikku. Akulah pemilik mandat Langit," tanpa pernah mengintrospeksi dirinya yang congkak itu.... Ketidakadilan Dinasti Shang telah mencapai puncaknya. Langit telah menitahkan untuk menghancurkannya. Jika aku tidak mematuhinya, aku akan sama bersalahnya.... Langit merasa sangat kasihan terhadap rakyat. Apa yang diinginkan oleh rakyat, langit akan memberikannya. Oleh karena itu, bantulah aku, raja kalian, untuk senantiasa menciptakan kebajikan dan kebahagiaan di empat penjuru negeri ini. Kini tibalah saatnya, jangan sia-siakan kesempatan ini.
Serangan terhadap Kaisar Zhouxin langsung dilakukan. Zhouxin yang kalah dalam pertempuran di Muye memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan membakar diri di Istana Lutai. Dengan kematian Zhouxin, maka berakhirlah riwayat dari Dinasti Shang.
Meskipun Ji Fa telah berhasil menggulingkan Dinasti Shang, ia masih memberikan kesempatan bagi keturunan Zhouxin untuk memerintah, namun kini Shang menjadi daerah bawahan dari Dinasti Zhou. Penguasa Shang adalah Pangeran Lufu, sehingga keturunan dari Dinasti Shang tetap hidup di dalam wilayah kekuasaan Dinasti Zhou.
Meskipun telah meruntuhkan Dinasti Shang, Ji Fa masih memberi kesempatan pada Pangeran Lufu, putra Zhouxin, untuk meneruskan garis keturunan Dinasti Shang. Setelah Lufu wafat, garis keturunan Dinasti Shang berlanjut pada Wugeng. Pada saat Zhougong menjadi wali bagi Kaisar Zhou Chengwang, ia berkomplot dengan saudara-saudara Wuwang untuk merebut kekuasaan. Usaha perebutan ini digagalkan dan Wugeng dihukum mati oleh Zhougong.
Selanjutnya, Zhougong memilih kakak Zhouxin yang bernama Weizi sebagai pewaris Dinasti Shang dan menganugerahi gelar sebagai bangsawan (gong) Song. Setelah Weizi wafat, Weizhong mewarisi wilayah ini. Ia merupakan leluhur Konfusius yang ke-14. Jadi Konfusius, ahli filsafat tersohor dari China, sesungguhnya masih merupakan keturunan Dinasti Shang.
Kehidupan Istana dan Sistem Pemerintahan
Dinasti Shang menerapkan sistem pemerintahan yang aristokratik, di mana seorang kaisar memerintah atas sejumlah kaum bangsawan yang bertanggung jawab menyediakan bantuan militer apabila negara berada dalam bahaya. Salah satu tugas mereka adalah membendung serangan bangsa barbar yang sering mengancam dataran Cina. Hal ini dibuktikan dari contoh Ji Chang (pendiri Dinasti Zhou) yang awal mulanya bergelar Xibo atau bangsawan barat yang memiliki tugas menghalau serangan suku barabar di bagian barat Cina.
Di istana kerajaan Yinxu, ditemukan fondasi tiang batu besar bersama dengan fondasi tanah padat yang menurut Fairbank, "sekeras semen". Fondasi ini menopang 53 bangunan kayu dengan konstruksi tiang dan balok. Di sekitar kompleks istana utama, terdapat lubang bawah tanah yang digunakan sebagai tempat penyimpanan, tempat tinggal pelayan, dan ruang hunian.
Banyak makam kerajaan Shang telah dirusak oleh penjarah makam pada masa kuno. Namun, pada musim semi 1976, ditemukan Makam 5 di Yinxu yang masih utuh dan merupakan salah satu makam Shang paling kaya yang pernah ditemukan.
Dengan lebih dari 200 bejana ritual perunggu dan 109 prasasti nama Fu Hao, arkeolog Zheng Zhenxiang dan timnya menyadari bahwa itu adalah makam Fu Hao. Ia adalah permaisuri Wu Ding yang terkenal sebagai jenderal militer dan disebut dalam 170 hingga 180 prasasti tulang ramalan. Selain bejana perunggu, ditemukan pula tembikar, senjata perunggu, figurin giok, sisir rambut, dan tusuk konde tulang. Tim arkeolog berpendapat bahwa beragam senjata dan bejana ritual di makamnya selaras dengan catatan tulang ramalan mengenai aktivitas militer dan ritualnya.
Ibu kota merupakan pusat kehidupan istana. Seiring waktu, berkembang ritual istana untuk menenangkan roh, dan selain tugas duniawi, raja berperan sebagai pemimpin kultus pemujaan leluhur. Seringkali, raja melakukan ramalan tulang sendiri, terutama menjelang akhir dinasti. Bukti dari penggalian makam kerajaan menunjukkan bahwa bangsawan dikuburkan dengan benda-benda berharga, kemungkinan untuk digunakan di akhirat. Mungkin karena alasan yang sama, ratusan rakyat jelata—yang mungkin adalah budak—dikuburkan hidup-hidup bersama jenazah bangsawan.
Para raja Shang yang memerintah secara turun-temurun menguasai sebagian besar Tiongkok utara. Pasukan Shang sering terlibat perang dengan pemukiman tetangga dan penggembala nomaden dari padang rumput Asia bagian dalam. Dalam ramalannya, raja Shang berulang kali menunjukkan kekhawatiran tentang bangsa barbar yang tinggal di luar wilayah beradab yang menjadi pusat wilayah Shang. Secara khusus, kelompok yang tinggal di Pegunungan Yan sering disebut sebagai kelompok yang memusuhi Shang.
Selain berperan sebagai komandan militer tertinggi, raja-raja Shang juga menegaskan supremasi sosial mereka dengan bertindak sebagai imam besar masyarakat dan memimpin upacara ramalan. Teks tulang ramalan mengungkapkan bahwa raja Shang dianggap sebagai anggota masyarakat yang paling layak untuk memberikan kurban kepada leluhur kerajaan dan kepada dewa tertinggi, Di, yang dalam kepercayaan mereka bertanggung jawab atas hujan, angin, dan petir.
Raja menunjuk pejabat untuk mengelola kegiatan tertentu di wilayah yang ditentukan, seperti pejabat pertanian, gembala, petugas anjing, dan penjaga. Para pejabat ini memimpin rombongan mereka sendiri dalam menjalankan tugas, dan beberapa di antaranya menjadi lebih mandiri hingga muncul sebagai penguasa sendiri. Terdapat sistem birokrasi dasar dengan jabatan seperti "Petugas Anjing", "Petugas Kuda", "Pengrajin", "Pemanah", atau gelar istana seperti "Pelayan Muda untuk Pertanian".
Anggota keluarga kerajaan diberi tanah pribadi; raja menyediakan proyek publik seperti pembangunan tembok kota, mendistribusikan material, dan mengeluarkan perintah kepada mereka. Tanah tersebut pada akhirnya milik raja; mereka membayar upeti dan melaporkan penaklukan wilayah kepada raja.
Penguasa yang lebih jauh dikenal dengan gelar setara marquess atau count, yang terkadang memberikan upeti dan dukungan kepada Raja Shang dengan imbalan bantuan militer serta layanan ramalan. Namun, aliansi ini tidak stabil, sebagaimana ditunjukkan oleh seringnya ramalan kerajaan mengenai keberlanjutan hubungan tersebut. Adanya catatan mengenai jumlah musuh yang dibunuh, tawanan, dan barang rampasan menunjukkan keberadaan proto-birokrasi dokumen tertulis.
Perkembangan Teknologi
Dinasti Shang merupakan era yang sangat krusial dalam sejarah Tiongkok. Berbeda dengan Dinasti Xia yang sering dianggap sebagai masa transisi menuju mitologi, Dinasti Shang telah membuktikan diri sebagai masyarakat yang terorganisir, maju, dan logis. Hal ini terlihat dari kehidupan masyarakat yang menetap di kota-kota besar yang dilengkapi dengan tembok pelindung sebagai sistem pertahanan.
Sistem Penulisan dan Ritual Ramalan
Salah satu bukti kecanggihan peradaban ini adalah ditemukannya tulang ramalan, yaitu tulang hewan dan tempurung kura-kura yang ditulisi aksara kuno. Masyarakat pada masa itu melakukan ritual dengan menuliskan pertanyaan—mulai dari masalah cuaca, kesehatan, hingga urusan perang dan panen—pada tulang tersebut, lalu membakarnya. Jawaban dari para dewa atau roh nenek moyang diyakini terpancar dari pola retakan tulang setelah dibakar. Selain tulang, mereka juga menggunakan bambu dan kertas dari gelagah sebagai media tulis, serta menggunakan alat tulis berbahan bulu.
Kemajuan Teknologi dan Industri Perunggu
Kemajuan teknologi Dinasti Shang sangat menonjol dalam bidang metalurgi, khususnya pengecoran perunggu. Sejak tahun 1500 SM, mereka telah memproduksi senjata dan bejana perunggu dalam skala besar. Produksi massal ini sangat terorganisir, melibatkan manajemen tenaga kerja yang ketat, mulai dari proses penambangan hingga menjadi barang jadi.
Perunggu memegang peranan penting baik dalam kehidupan spiritual maupun militer:
- Keperluan Ritual: Bejana perunggu digunakan untuk upacara keagamaan. Kepemilikan wadah ini bahkan diatur secara ketat berdasarkan peringkat sosial seorang bangsawan.
- Kemiliteran: Perunggu digunakan untuk memproduksi senjata variatif dan menjadi komponen kunci pada kereta perang beroda jari-jari yang mulai muncul sekitar tahun 1200 SM.
Militer
Dinasti Shang terlibat dalam konflik berkepanjangan dengan suku-suku perbatasan utara yang dikenal sebagai Guifang.
Dalam masyarakat Shang, senjata perunggu merupakan elemen yang sangat penting. Pasukan infanteri Shang dipersenjatai dengan beragam perlengkapan tempur berbahan batu dan perunggu, yang meliputi tombak, kapak galah, belati galah, busur komposit, serta helm yang terbuat dari perunggu atau kulit.
Meskipun Dinasti Shang sangat bergantung pada keterampilan militer kaum bangsawan, para penguasa Shang mampu memobilisasi masyarakat umum—baik penduduk kota maupun warga pedesaan—untuk dipekerjakan sebagai buruh paksa serta tentara, baik untuk misi pertahanan maupun penaklukan. Para aristokrat dan penguasa wilayah lainnya berkewajiban untuk melengkapi garnisun lokal mereka dengan seluruh peralatan, baju zirah, dan persenjataan yang dibutuhkan.
Raja Shang sendiri memelihara pasukan inti yang terdiri dari sekitar seribu prajurit di ibu kota dan sering kali memimpin langsung pasukan ini ke medan perang. Selain itu, diperlukan birokrasi militer yang mendasar untuk mengerahkan pasukan dalam jumlah besar, mulai dari tiga hingga lima ribu tentara untuk operasi di perbatasan, hingga tiga belas ribu tentara untuk memadamkan pemberontakan.
Ekonomi dan Penataan Waktu
Di bidang ekonomi, masyarakat Shang telah menerapkan teknologi irigasi untuk pertanian dengan membudidayakan jewawut, jelai, dan gandum. Mereka juga memiliki sektor peternakan yang berkembang, mulai dari babi, anjing, domba, sapi, hingga ulat sutra.
Untuk menata kehidupan mereka, Dinasti Shang mengembangkan sistem penanggalan yang kompleks. Satu minggu terdiri dari 10 hari yang disebut Xun. Penamaan hari didasarkan pada kombinasi “10 Batang Langit” (jia, yi, bing, ding, wu, ji, geng, xin, ren, gui) dan “12 Cabang Bumi” (zi, chou, yin, mao, chen, yi, wu, wei, shen, you, xu, hai).
Dengan bukti-bukti fisik yang konkret seperti kota bertembok, sistem tulisan, hingga teknik metalurgi yang canggih, Dinasti Shang menjadi tonggak penting yang menandai berakhirnya zaman prasejarah dan dimulainya sejarah peradaban Tiongkok yang terstruktur dengan jelas.
Kehidupan Sosial-Budaya
Berdasarkan hasil ekskavasi terhadap situs pemakaman yang berasal dari Dinasti Shang, dapat kiranya memberikan gambaran mengenai tingginya budaya dan kehidupan sosial pada masa itu. Teknik pembuatan perunggu yang telah tinggi itu dapat dilihat dari bejana perunggu yang ditemukan dengan bobot 732,84 Kg dan dikenal sebagai bejana perunggu terbesar di dunia.
Pada masa Dinasti Shang telah berkembang sistem perbudakan, di mana kaum bangsawan hidup dalam kemewahan. Sementara, kaum budak hidup dalam kondisi yang sangat buruk dan memprihatinkan. Setelah pemilik budak meninggal, budak-budaknya juga dikubur hidup-hidup sebagai korban bersama hewan-hewan.
Sistem Sosial dan Sistem Kepercayaan
Dalam struktur sosial Dinasti Shang, terdapat kelas khusus yaitu para pendeta yang berperan penting dalam memimpin ritual pemujaan terhadap leluhur dan dewa. Sementara itu, masyarakat luas menganut kepercayaan politeistik, yakni memuja berbagai makhluk dewa dan setengah dewa yang disebut guishen.
Sistem Ritual dan Pemujaan
Agama Dinasti Shang dikenal sangat birokratis dan terorganisir dengan rapi. Ritual keagamaan mereka melibatkan ramalan dan kurban yang ditujukan kepada enam kelompok utama:
- Di: Dewa Tertinggi.
- Kekuatan Alam: Seperti matahari dan gunung.
- Mantan Penguasa: Tokoh manusia yang telah meninggal dan masuk ke dalam panteon.
- Leluhur Pra-dinasti & Leluhur Dinasti.
- Istri Kerajaan: Leluhur langsung dari raja yang sedang berkuasa.
Salah satu praktik utama mereka adalah ramalan. Masyarakat percaya bahwa leluhur memiliki kekuatan untuk mengatur kehidupan mereka. Untuk memastikan persetujuan leluhur sebelum mengambil tindakan, peramal akan memecahkan karapas kura-kura atau tulang belikat lembu. Pola retakan dari tulang tersebut kemudian diinterpretasikan sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan, lalu dicatat dengan detail—meliputi tanggal, ritual, orang yang terlibat, hingga pertanyaan itu sendiri.
Konsep Kehidupan Setelah Kematian
Bangsa Shang memiliki keyakinan kuat akan adanya kehidupan setelah kematian. Hal ini tercermin dari tradisi pemakaman yang sangat mewah dan teratur. Untuk mendukung kehidupan di alam selanjutnya, makam para penguasa diisi dengan berbagai perbekalan, seperti:
- Kereta, peralatan, bejana kurban, dan senjata.
- Perhiasan giok yang dipercaya dapat melindungi tubuh dari pembusukan atau memberikan keabadian.
- Pengorbanan manusia dan kuda—terkadang hingga ratusan jiwa—untuk menemani raja di alam baka.
Pengaturan makam tersebut menunjukkan betapa teraturnya masyarakat Shang; kerangka-kerangka yang dikuburkan bersama raja biasanya diletakkan dengan posisi seragam dan tertata rapi, mencerminkan ketertiban sistem kepercayaan dan kehidupan sosial mereka.
Daftar Bacaan
- Boltz, William G. February 1986. “Early Chinese Writing, World Archaeology”. Early Writing Systems. 17 (3): 420–436.
- Ebrey, Patricia Buckley. 1999. The Cambridge Illustrated History of China. Cambridge: Cambridge University Press.
- Hu, Yue; Marwick, Ben; Zhang, Jia-Fu; Rui, Xue; Hou, Ya-Mei; Yue, Jian-Ping; Chen, Wen-Rong; Huang, Wei-Wen; Li, Bo. 19 November 2018. “Late Middle Pleistocene Levallois stone-tool technology in southwest China”. Nature. 565 (7737): 82–85.
- Lewis, Mark Edward. 2007. The Early Chinese Empires: Qin and Han. Cambridge: Harvard University Press.
- Liu, Wu; Martinón-Torres, María; Cai, Yan-jun; Xing, Song; Tong, Hao-wen; Pei, Shu-wen; Sier, Mark Jan; Wu, Xiao-Hong; Edwards, R. Lawrence; Cheng, Hai; Li, Yi-Yuan; Yang, Xiong-xin; De Castro, José María Bermúdez; Wu, Xiu-jie (2015). “The earliest unequivocally modern humans in southern China”. Nature. 526 (7575): 696–699.
- Wilkinson, Endymion. 2018. Chinese History: A New Manual (5th ed.). Cambridge: Harvard University Asia Center.
