Kebudayaan Yangshao Dan Kebudayaan Longshan: Masa Awal Prasejarah Tiongkok

Kebudayaan Yangshao Dan Kebudayaan Longshan

Pada sekitar milenium keenam hingga kelima Sebelum Masehi, tepatnya pada Zaman Neolitikum (Batu Baru), terjadi perubahan signifikan dalam kehidupan masyarakat Tiongkok kuno. Banyak orang mulai hidup menetap di suatu tempat dan mulai bertani serta memelihara hewan. Pada masa ini, mereka membuat perkakas batu yang dipoles halus, mendirikan kemah dan gubuk beratap alang-alang sebagai tempat tinggal.

Desa-desa tempat tinggal seperti ini banyak ditemukan di sepanjang Sungai Huang He di dataran Tiongkok Utara. Meskipun musim dinginnya keras, daerah ini cocok untuk pertanian. Kebudayaan ini mirip dengan kebudayaan sungai lainnya, seperti Kebudayaan Lembah Sungai Nil di Mesir. Masyarakat pada zaman ini telah menemukan teknik pembuatan keramik untuk menyimpan makanan dan minuman. Motif keramik pada masa itu memiliki dua ciri khas, seperti yang ditemukan di desa Yangshao dan Longshan. Kedua lokasi penemuan ini menjadi dasar penamaan peradaban Yangshao dan Longshan.

Kebudayaan Yangshao

Kebudayaan Yangshao merupakan kebudayaan Neolitikum yang tersebar luas di sepanjang bagian tengah Sungai Kuning di Tiongkok, berlangsung sekitar tahun 5000 SM hingga 3000 SM, meskipun beberapa catatan menyebutkan perkembangan pusatnya berada di antara 6000–5000 SM. Masa ini menandai perkembangan sosial dan teknologi yang signifikan di wilayah tersebut, termasuk kemajuan dalam bidang pertanian, arsitektur, dan kerajinan tangan. 

Nama kebudayaan ini diambil dari situs Yangshao, situs pertama yang diekskavasi pada tahun 1921 di kota Yangshao, Kabupaten Mianchi, Henan barat, oleh geolog asal Swedia, Johan Gunnar Andersson, yang kini memiliki museum di dekat lokasi penggalian. Kebudayaan ini berkembang pesat terutama di Provinsi Henan serta provinsi tetangganya seperti Shaanxi dan Shanxi, khususnya di wilayah Lembah Wei. Penelitian terbaru menunjukkan adanya asal-usul yang sama antara penyebaran bahasa Sino-Tibet dengan kebudayaan Cishan, Yangshao, dan/atau Majiayao.

Setelah menemukan situs Yangshao pada tahun 1921, Johan Gunnar Andersson sempat berhipotesis bahwa kebudayaan ini berasal dari kebudayaan Anau dan Trypillian di Asia Tengah dan Eropa Barat Daya berdasarkan kemiripan pola tembikar, namun hipotesis ini dianggap lemah karena kemiripan tersebut kini dinilai hanya kebetulan. Pada tahun 1954, diperkirakan bahwa kebudayaan Yangshao sebenarnya berusia 1.000 tahun lebih tua daripada kebudayaan Anau.

Selanjutnya, para arkeolog Tiongkok seperti Yin Da, Shi Zhangru, dan Guo Baojun berpendapat bahwa kebudayaan Yangshao dikembangkan oleh penduduk asli di wilayah Sungai Kuning sebelum bertransisi ke kebudayaan lain. Liang Siyong menemukan stratigrafi tiga lapis di situs Hougang yang mengonfirmasi transisi dari kebudayaan Yangshao ke kebudayaan Longshan dan Shang. Saat ini dipahami bahwa Yangshao memberikan dampak besar pada budaya tembikar di wilayah Dataran Tengah yang menyebar dari timur ke barat, di mana kebudayaan Longshan Shandong dianggap sebagai cabang timurnya dan kebudayaan Majiayao sebagai cabang baratnya.

Mangkuk tembikar hias ikan berwajah manusia. Budaya Yangshao, gaya Banpo (4800-4300 SM) ditemukan di situs arkeologi Shaanxi.

Tahapan Perkembangan dan Fase Budaya

Kebudayaan Yangshao secara konvensional dibagi menjadi tiga fase perkembangan. Periode Yangshao Awal atau Fase Banpo (sekitar 5000–4000 SM) diwakili oleh situs-situs seperti Banpo, Jiangzhai, Beishouling, dan Dadiwan di lembah Sungai Wei, Shaanxi. Periode Yangshao Madya atau Fase Miaodigou (sekitar 4000–3500 SM) ditandai dengan ekspansi budaya dan populasi ke segala arah, serta mulai munculnya hierarki atau tingkatan pemukiman di beberapa wilayah seperti Henan barat. 

Periode Yangshao Akhir (sekitar 3500–3000 SM) menunjukkan hierarki pemukiman yang semakin meluas, di mana tembok tanah yang dipadatkan (rammed earth) pertama di Tiongkok dibangun di pemukiman Xishan seluas 25 hektar di Henan tengah, dekat Zhengzhou modern. Sementara itu, Kebudayaan Majiayao (sekitar 3300–2000 SM) di bagian barat kini dianggap sebagai kebudayaan terpisah yang berkembang dari Yangshao Madya melalui fase perantara Shilingxia.

Ekonomi, Pertanian, dan Teknologi

Makanan utama masyarakat Yangshao adalah jawawut (millet), baik jenis foxtail millet maupun proso millet, serta sejenis gandum. Mereka juga menanam dan mengonsumsi padi, meski dalam jumlah yang lebih sedikit dibanding jawawut. Sifat pertanian mereka, apakah berupa ladang berpindah (tebang-bakar) atau pertanian intensif di lahan permanen, masih menjadi perdebatan, namun pada periode akhir wilayah ini telah menjadi masyarakat tani yang menetap sepenuhnya dengan ekonomi yang berpusat pada bercocok tanam dan beternak. 

Kemajuan teknik tani mendorong produktivitas, terutama pada pertanian lahan kering. Penelitian arkeologi menunjukkan bahwa pembuatan bir dari jawawut dan beras serta pesta komunal adalah bagian integral dari budaya mereka. Dalam hal peternakan, mereka memelihara babi dan anjing sebagai sumber daging utama, sementara domba, kambing, dan sapi lebih jarang ditemukan. Ada pula indikasi bahwa mereka mulai mempraktikkan bentuk awal serikultur atau budidaya ulat sutra.

Masyarakat Yangshao menggunakan alat batu yang dipoles halus dan sangat terspesialisasi, termasuk penggunaan anak panah dan kapak batu yang diasah untuk berburu dan menangkap ikan. Pada periode akhir, kapak batu mulai menunjukkan fungsi khusus untuk pengerjaan kayu atau memotong, serta ditemukan pisau batu Shihushan berbentuk persegi untuk mengolah bahan lunak dan memotong biji-bijian.

Dalam bidang kerajinan, mereka ahli membuat tembikar berwarna putih, merah, dan hitam dengan desain wajah manusia, hewan seperti burung dan ikan, serta motif geometris. Berbeda dengan kebudayaan Longshan, masyarakat Yangshao belum menggunakan roda pemutar tembikar; gerabah tanah liat mereka dibakar pada suhu antara 1000 hingga 1500 derajat Celcius. Selain tembikar, mereka juga memproduksi kain sutra dalam skala kecil dan menenun rami.

Struktur Pemukiman dan Organisasi Sosial

Pemukiman masyarakat pada masa ini dapat ditemukan di sepanjang tepian sungai dengan luas biasanya mencakup 4 hingga 5,6 hektar, di mana rumah-rumah mengelilingi alun-alun pusat. Penggalian arkeologi di Banpo pada tahun 1952 berhasil menemukan kembali reruntuhan desa secara utuh, termasuk pemukiman yang dikelilingi parit di dekat Xi'an.

Rumah tempat tinggal dibangun dalam berbagai bentuk seperti bulat, persegi, atau persegi panjang, baik berupa rumah semi-bawah tanah untuk isolasi suhu maupun struktur di atas tanah yang dibangun dengan menggali lubang sedalam satu meter. Dindingnya dibuat dari anyaman kayu yang diplester lumpur dengan batang-batang kayu sebagai penyangga atap dari jerami jawawut. Pada periode akhir, rumah persegi di atas tanah menjadi umum dan mulai muncul rumah panjang dengan banyak kamar. Bangunan publik yang besar kemungkinan berfungsi sebagai pusat kegiatan komunitas dan distribusi barang.

Organisasi sosial Yangshao berubah dari waktu ke waktu, di mana pada masa awal masyarakat terstruktur dalam klan berdasarkan ikatan darah, namun seiring munculnya kepemilikan pribadi di masa akhir, komunitas klan mulai digantikan oleh unit keluarga kecil yang mandiri. Meskipun laporan awal menyebutkan ini adalah budaya matriarki, penelitian terbaru menunjukkan bahwa masyarakat Yangshao bersifat patrilineal.

Penemuan makam-makam kaya di situs Xipo menunjukkan bahwa Yangshao akhir mungkin telah berbentuk sistem kepemimpinan daerah (chiefdom). Salah satu temuan ikonik adalah patung naga Tiongkok tertua di dunia yang berasal dari milenium kelima SM. Selain itu, di situs Jiangzhai yang memberikan banyak informasi tentang tata kota kuno, ditemukan tanda-tanda pada tembikar yang dianggap sebagai cikal bakal karakter tulisan Tionghoa.

Kebudayaan Longshan

Kebudayaan Longshan, yang sering dijuluki sebagai Budaya Tembikar Hitam, merupakan peradaban Neolitikum akhir yang berkembang di wilayah tengah dan bawah lembah Sungai Kuning, Tiongkok Utara. Peradaban ini diperkirakan berlangsung antara tahun 3000 hingga 1900 SM (meskipun beberapa sumber menyebutkan akar awal sejak 5000-4000 SM). Nama "Longshan" yang berarti "Gunung Naga" diambil dari nama kota di Shandong tempat situs arkeologi pertama, Chengziya, ditemukan pada tahun 1928.

Beberapa ahli berpendapat bahwa kebudayaan ini merupakan kelanjutan dari budaya Yangshao. Hal ini didukung oleh penemuan fase transisi (Miaodigou II) di Henan Barat yang menunjukkan peningkatan kualitas alat dan tembikar dari masa Yangshao menuju Longshan.

Karakteristik Pemukiman dan Teknologi

Masyarakat Longshan menunjukkan kemajuan signifikan dalam pengorganisasian ruang dan teknologi konstruksi:

  • Desa Bertembok: Berbeda dengan pendahulunya, desa-desa Longshan dikelilingi tembok yang terbuat dari tanah liat yang dipadatkan (teknik rammed earth). Di Chengziya, ditemukan sisa tembok yang dibuat lapis demi lapis, sebuah teknik yang terus digunakan hingga Zaman Perunggu.
  • Urbanisasi: Pada periode akhir (2600–2000 SM), muncul pusat-pusat pemukiman raksasa seperti Liangchengzhen (273 ha) dan Yaowangcheng (368 ha).
  • Infrastruktur: Teknologi sumur mulai dikenal luas, bahkan beberapa rumah elit di wilayah tertentu telah dilengkapi dengan sistem pipa tanah liat sederhana.

Kesenian dan Kerajinan Tangan

Kerajinan Tembikar Putih Kebudayaan Longshan

Ciri paling ikonik dari peradaban ini adalah kemahiran dalam bidang pertukangan:

  • Tembikar Hitam: Mereka menggunakan roda pemutar tembikar untuk menghasilkan keramik hitam yang sangat tipis, halus, dan mengkilap (dikenal sebagai tembikar "kulit telur"). Berbeda dengan keramik Yangshao yang dicat, keramik Longshan lebih menonjolkan motif ukiran lingkaran timbul atau cekungan.
  • Batu Giok: Mereka mahir mengolah batu giok yang keras menjadi perhiasan, bandul kalung, hingga kapak ritual, yang menunjukkan tingkat keahlian pertukangan yang sangat tinggi.
  • Alat Tulang: Berbeda dengan Yangshao yang dominan menggunakan batu, masyarakat Longshan lebih banyak menggunakan tulang untuk membuat mata panah dan peralatan lainnya.

Cangkir bertangkai tembikar kulit telur hitam

Pertanian, Peternakan, dan Kehidupan Sosial

Kondisi alam Tiongkok Utara yang kaya padang rumput mendukung aktivitas ekonomi mereka:

  • Tanaman: Milet ekor rubah menjadi tanaman pangan utama, meski ditemukan juga jejak padi, gandum, dan milet broomcorn.
  • Ternak: Mereka membudidayakan babi (sumber daging utama), domba, sapi, dan anjing. Terdapat sedikit bukti pemeliharaan kuda, namun mereka sudah mengenal produksi sutra skala kecil melalui domestikasi ulat sutra.
  • Fisik Penduduk: Salah satu temuan unik di Shandong adalah adanya individu dengan tinggi badan luar biasa (180–190 cm) yang dijuluki "Raksasa Longshan", menjadikan mereka populasi Neolitikum tertinggi di dunia pada masanya.

Guci Tembikar

Ritual, Musik, dan Kepercayaan

Kehidupan spiritual masyarakat Longshan sangat kompleks dan menjadi fondasi bagi tradisi Tiongkok selanjutnya:

  • Peramalan (Skapulomansi): Mereka meramal dengan cara membakar tulang belikat hewan (sapi, babi, domba) dan menafsirkan pola retakannya. Praktik ini terus berlanjut hingga Dinasti Shang, di mana kemudian pertanyaan mulai dituliskan di atas tulang tersebut.
  • Tradisi Pemakaman: Orang meninggal dikuburkan dengan posisi wajah menghadap ke bawah. Menjelang periode akhir, mulai terlihat stratifikasi sosial yang jelas di pemakaman, yang memisahkan antara kelas elit dan rakyat biasa.
  • Musik: Penemuan di Jiahu (Henan) membuktikan keberadaan seruling tulang berusia 9.000 tahun dengan 5 hingga 8 lubang. Alat musik ini dianggap sebagai salah satu alat musik tertua di dunia yang masih bisa dimainkan.

Peta Persebaran Kebudayaan Longshan

Tradisi pemakaman antara kedua budaya tersebut bisa dibilang serupa. Orang yang meninggal dikuburkan dengan posisi wajah menghadap ke bawah, dan praktik ini berlanjut hingga zaman perunggu. Mereka juga mengenal metode peramalan dengan cara membakar tulang. Jawaban atas pertanyaan yang diajukan ditafsirkan berdasarkan pola retakan yang muncul akibat pembakaran tersebut. Metode peramalan ini masih dilakukan hingga zaman Dinasti Shang. Perbedaannya adalah, karena tulisan sudah dikenal, pertanyaan dituliskan terlebih dahulu di atas tulang-tulang tersebut. Beberapa ahli berpendapat bahwa kebudayaan Longshan merupakan kelanjutan dari budaya Yangshao (?).

Penemuan arkeologis di Jiahu, Provinsi Henan, pada tahun 1999 membuktikan bahwa musik sudah dikenal sejak zaman prasejarah. Penggalian arkeologis di situs tersebut menemukan enam buah seruling sepanjang 8,6 inci yang terbuat dari tulang burung berongga. Seruling-seruling berusia 9.000 tahun itu berada dalam kondisi baik dan masih dapat dibunyikan.

Garman Harbottle dari Brookhaven National Laboratory di Upton, New York, menyatakan bahwa alat musik yang baru ditemukan ini adalah alat musik tertua di dunia yang masih dapat dimainkan. Temuan serupa yang berusia 45.000 tahun lebih tua pernah ditemukan di Slovenia, namun kondisinya sudah rusak parah. Masing-masing alat musik yang ditemukan di Provinsi Henan itu memiliki 5 hingga 8 lubang. Namun, saat dimainkan kembali, terdengar bunyi retakan. Oleh karena itu, para ahli merasa khawatir dan berencana membuat tiruannya agar kualitas suara aslinya dapat dihadirkan kembali.

Varian Regional dan Kemunduran

Istilah "Budaya Longshan" kini mencakup berbagai varian regional seperti Longshan Shandong (klasik), Hougang II (dikenal dengan sumurnya), Wangwan III (cikal bakal budaya Erlitou), dan Taosi (masyarakat dengan struktur kelas sosial yang jelas).

Sekitar tahun 2000 SM, populasi Longshan menurun drastis. Hal ini diduga akibat perubahan lingkungan pada akhir periode Holocene Climatic Optimum. Sebagian besar pemukiman ditinggalkan, kecuali di wilayah pusat yang kemudian berevolusi menjadi Budaya Erlitou pada Zaman Perunggu. Penemuan kebudayaan ini membantah teori bahwa peradaban Tiongkok berasal dari Barat, melainkan hasil interaksi berbagai budaya regional di daratan Tiongkok itu sendiri.

Daftar Bacaan

  • Cohen, David J.; Murowchick, Robert E. (2014), "Early complex societies in Northern China", in Renfrew, Colin; Bahn, Paul (eds.), The Cambridge World Prehistory, vol. 2, Cambridge, UK: Cambridge University Press, pp. 782–806.
  • Fairbank, John King; Goldman, Merle (2006), China: A New History, Second Enlarged Edition, Harvard University Press.
  • Li, Feng (2013), Early China: A Social and Cultural History, Cambridge University Press.
  • Liu, Li (2005), The Chinese Neolithic: Trajectories to Early States, Cambridge University Press.
  • Liu, Li; Chen, Xingcan (2012), The Archaeology of China: From the Late Paleolithic to the Early Bronze Age, Cambridge University Press.
  • Shelach-Lavi, Gideon (2015), The Archaeology of Early China, Cambridge University Press.