Babirusa (Babyrousa)
Babirusa (genus Babyrousa) adalah anggota keluarga babi yang berasal dari kepulauan Indonesia, khususnya di Sulawesi, Togian, Sula, dan Buru. Awalnya, seluruh anggota genus ini dianggap sebagai spesies tunggal (B. babyrussa). Namun, sejak tahun 2002, para ahli membaginya menjadi beberapa spesies.
Spesies Babirusa Buru kini terbatas pada wilayah Buru dan Sula. Sementara itu, spesies yang paling dikenal, Babirusa Sulawesi Utara, diberi nama ilmiah B. celebensis. Ciri khas pejantan adalah taring atas yang melengkung ke atas hingga menembus kulit moncongnya. Saat ini, semua spesies babirusa dikategorikan sebagai satwa terancam punah oleh IUCN.
Klasifikasi dan Spesies
Babirusa adalah hewan unik yang ditemukan di Pulau Sulawesi. Genus ini merupakan satu-satunya dalam subfamili Babyrousinae. Hingga saat ini, hanya ditemukan satu fosil tengkorak yang menunjukkan adanya nenek moyang berukuran lebih besar.
Pembagian spesies babirusa didasarkan pada perbedaan ukuran tubuh, ketebalan bulu, rambut pada ekor, serta struktur tengkorak dan gigi:
| Nama Spesies | Distribusi |
| Babirusa Buru (B. babyrussa) | Pulau Mangole dan Taliabu (Kepulauan Sula) |
| Babirusa Bola Batu (B. bolabatuensis) | Sulawesi (Diketahui dari sisa subfosil) |
| Babirusa Sulawesi Utara (B. celebensis) | Sulawesi daratan |
| Babirusa Togian (B. togeanensis) | Kepulauan Togian |
Deskripsi Fisik
Babirusa jantan terkenal karena taring atasnya yang tumbuh menembus kulit moncong dan melengkung ke arah dahi. Taring bawahnya juga tumbuh ke atas. Sebaliknya, betina memiliki taring yang sangat kecil atau tidak ada sama sekali.
- Babirusa Sulawesi Utara: Memiliki bulu yang sangat pendek sehingga tampak gundul. Taring atasnya panjang, tebal, dan tumbuh tegak lurus.
- Babirusa Buru (Emas): Memiliki bulu yang panjang dan lebat dengan warna putih, krem keemasan, atau hitam. Taring atasnya cenderung lebih pendek dan ramping.
- Babirusa Togian: Memiliki karakteristik bulu yang mirip dengan jenis Buru, namun warnanya cenderung cokelat atau kehitaman dengan bagian atas lebih gelap.
Apakah babirusa betina di pulau sulawesi memiliki taring seperti babirusa jantan?. Meskipun babirusa betina memang memiliki taring, terdapat perbedaan yang sangat besar antara jantan dan betina dalam hal bentuk dan fungsinya. Berikut adalah rincian perbandingannya:
Mengapa Berbeda?
Fenomena ini disebut sebagai dimorfisme seksual.
- Babirusa Jantan: Membutuhkan taring raksasa tersebut untuk melindungi mata mereka saat berduel dengan jantan lain dan untuk menarik perhatian betina. Taring atas mereka yang ikonik itu sebenarnya adalah gigi taring yang tumbuh terbalik.
- Babirusa Betina: Karena tidak terlibat dalam pertarungan fisik memperebutkan wilayah atau pasangan dengan cara yang sama, mereka tidak mengembangkan taring yang masif. Dari kejauhan, babirusa betina seringkali terlihat seolah tidak memiliki taring sama sekali.
- Catatan Menarik: Taring babirusa jantan sebenarnya cukup rapuh. Jika mereka menggunakannya untuk menabrak benda keras (seperti pohon), taring tersebut bisa patah dengan mudah.
Biologi dan Ekologi
Babirusa menghuni hutan hujan tropis di sepanjang tepi sungai. Meskipun dulunya ditemukan di dataran rendah pesisir, kini mereka lebih banyak ditemukan di daerah pedalaman yang lebih tinggi. Habitat unik mereka di beberapa pulau memicu hipotesis bahwa babirusa mungkin dahulu disebarkan oleh manusia sebagai hadiah antar bangsawan setempat.
Pola Hidup
Aktivitas: Mereka aktif di siang hari (diurnal).
Makanan: Sebagai omnivora, mereka memakan daun, akar, buah, dan materi hewan. Meski tidak bisa menggali tanah dengan moncongnya (karena tidak memiliki tulang rostral), mereka mampu memecahkan kacang yang keras dengan rahangnya yang kuat.
Sosial: Pejantan cenderung hidup menyendiri, sedangkan betina hidup dalam kelompok bersama anak-anaknya (bisa mencapai 84 individu).
Fungsi Taring: Taring pejantan digunakan untuk bertarung sesama jenis; taring atas sebagai pertahanan dan taring bawah sebagai senjata menyerang. Jika tidak diasah melalui aktivitas rutin, taring tersebut dapat tumbuh terus hingga (dalam kasus langka) menembus tengkorak mereka sendiri.
Hubungan dengan Manusia
Penampilan unik babirusa telah menginspirasi pembuatan topeng iblis dalam budaya lokal. Di Bali, lukisan "raksasa" babirusa dapat ditemukan pada langit-langit paviliun pengadilan Klungkung. Bahkan, lukisan gua prasejarah di Sulawesi menunjukkan bahwa babirusa telah menjadi objek seni manusia sejak 35.400 tahun yang lalu.
Makanan Babirusa
Babirusa sempat memicu perdebatan di kalangan sarjana Yahudi mengenai status "kosher" (layak konsumsi). Debat ini berfokus pada apakah babirusa termasuk hewan yang memamah biak (ruminansia). Meski memiliki struktur lambung yang kompleks, penelitian tahun 1940 menunjukkan bahwa mereka tidak melakukan proses memamah biak yang sebenarnya. Mengingat statusnya yang terancam punah dan ketidakpastian hukum agamanya, sebagian besar umat Muslim dan Yahudi menghindari konsumsi daging hewan ini.
Pola Makan Babirusa: Dari Buah Hingga Umbi-Umbian
Babirusa adalah hewan omnivora, yang berarti mereka memakan berbagai jenis makanan, termasuk buah-buahan, daun, akar, serangga, dan invertebrata kecil lainnya. Namun, salah satu makanan favorit babirusa adalah umbi-umbian.
Umbi-umbian adalah bagian tanaman yang tumbuh di bawah tanah dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan. Umbi-umbian kaya akan karbohidrat, vitamin, dan mineral, menjadikannya sumber energi yang penting bagi babirusa.
Apa Jenis Umbi-Umbian Yang Menjadi Makanan Babirusa?
Sayangnya, penelitian tentang jenis umbi-umbian apa saja yang menjadi makanan favorit babirusa masih terbatas. Hal ini disebabkan oleh kesulitan dalam mengamati babirusa di alam liar dan menganalisis isi perut mereka. Namun, beberapa penelitian dan laporan lapangan memberikan petunjuk tentang jenis umbi-umbian yang mungkin menjadi bagian dari makanan babirusa:
- Ubi Jalar (Ipomoea batatas): Ubi jalar adalah umbi-umbian yang umum ditemukan di Sulawesi dan sering ditanam oleh masyarakat lokal. Babirusa mungkin memakan ubi jalar yang tumbuh liar atau sisa-sisa panen yang ditinggalkan di ladang.
- Talas (Colocasia esculenta): Talas adalah umbi-umbian lain yang banyak dibudidayakan di Sulawesi. Talas kaya akan karbohidrat dan serat, menjadikannya sumber makanan yang baik bagi babirusa.
- Gembili (Dioscorea esculenta): Gembili adalah jenis ubi liar yang tumbuh di hutan-hutan Sulawesi. Babirusa mungkin menggali gembili dari dalam tanah menggunakan taring dan moncong mereka.
- umbi Gadung (Dioscorea hispida): Gadung adalah jenis umbi yang mengandung racun dan harus diolah terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Babirusa mungkin memiliki cara khusus untuk mendetoksifikasi gadung sebelum memakannya, atau mereka hanya memakan jenis gadung tertentu yang tidak beracun.
Selain umbi-umbian di atas, babirusa mungkin juga memakan jenis umbi-umbian liar lainnya yang belum teridentifikasi. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengungkap misteri umbi-umbian apa saja yang menjadi makanan favorit babirusa.
Status Konservasi
Babirusa adalah satwa yang dilindungi di Indonesia. Namun, mereka tetap terancam oleh perburuan liar dan penebangan hutan komersial yang merusak habitat mereka. Hilangnya tutupan hutan membuat mereka lebih mudah ditemukan dan ditangkap oleh pemburu.
Apa Dampak Yang Terjadi Jika Habitat Babirusa Terus Terancam?
Babirusa adalah salah satu hewan paling ikonik dan unik yang hanya bisa ditemukan di Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya. Jika habitat mereka terus terancam oleh deforestasi dan ekspansi lahan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh spesies itu sendiri, tetapi juga oleh seluruh ekosistem.
Berikut adalah beberapa dampak utama yang akan terjadi:
1. Penurunan Populasi Menuju Kepunahan
Dampak yang paling nyata adalah drastisnya penurunan jumlah babirusa di alam liar. Sebagai hewan endemik, babirusa tidak memiliki cadangan populasi di belahan dunia lain. Begitu habitat aslinya hilang, mereka tidak punya tempat untuk berpindah, yang secara langsung akan membawa mereka ke ambang kepunahan.
2. Terganggunya Regenerasi Hutan
Babirusa berperan penting sebagai penyebar benih dan pengaduk tanah alami.
- Penyebaran Biji: Saat memakan buah-buahan hutan, biji yang keluar bersama kotoran mereka akan tumbuh di lokasi baru.
- Struktur Tanah: Kebiasaan mereka mengais tanah untuk mencari umbi-umbian membantu sirkulasi udara di lapisan tanah hutan.
Tanpa mereka, proses alami peremajaan hutan akan melambat secara signifikan.
3. Ketidakseimbangan Rantai Makanan
Meskipun babirusa memiliki taring yang terlihat mengintimidasi, mereka adalah bagian penting dari diet predator lokal (seperti ular sanca atau burung pemangsa untuk bayi babirusa). Hilangnya babirusa dapat memaksa predator mencari sumber makanan lain, yang berpotensi mengganggu stabilitas populasi spesies lain di hutan Sulawesi.
4. Kehilangan Warisan Evolusi yang Unik
Secara ilmiah, babirusa adalah subjek penelitian yang luar biasa karena struktur anatominya—terutama taring yang tumbuh menembus moncong pada pejantan.
Jika mereka punah, dunia kehilangan satu jalur evolusi unik yang tidak dimiliki oleh mamalia manapun di bumi. Ini adalah kerugian besar bagi ilmu pengetahuan dan keanekaragaman hayati global.
5. Dampak pada Ekonomi dan Budaya Lokal
Masyarakat lokal di Sulawesi seringkali memiliki hubungan budaya dengan satwa endemik ini. Selain itu, potensi ekowisata berbasis pengamatan satwa liar akan hilang. Jika habitat hancur dan satwanya lenyap, peluang ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat sekitar hutan juga ikut tertutup.
Daftar Bacaan
- Wilson, D. E.; Reeder, D. M., eds. (2005). Mammal Species of the World: A Taxonomic and Geographic Reference (3rd ed.). Baltimore: Johns Hopkins University Press.
- Langer, P. (1988): The Mammalian Herbivore Stomach – Comparative Anatomy, Function and Evolution. Gustav Fischer, Stuttgart and New York: 136–161.
- Patry M , Leus K Macdonald AA (1995) Group structure and behaviour of babirusa (Babyrousa babyrussa) in northern Sulawesi. Australian Journal of Zoology 43, 643–655.
