Kemegahan Gua Gerbang Naga: Warisan Seni Pahat Buddha Terbesar di China
Longmen Shiku (Gua Gerbang Naga) merupakan kompleks gua Buddha yang terletak 13 kilometer di sebelah selatan Luoyang, Provinsi Henan, China. Situs ini menyimpan representasi seni pahat batu kuno yang paling signifikan dan indah di Tiongkok. Dibangun selama kurang lebih lima abad yang dimulai pada tahun 493 M, gua-gua ini beserta patung dan prasasti di dalamnya menjadi jendela untuk memahami situasi politik, budaya, dan artistik pada masa akhir Dinasti Wei Utara dan Dinasti Tang.
Gua-gua tersebut dipahat pada tebing kapur terjal di Gunung Longmen dan Gunung Xiang yang saling berhadapan sepanjang satu kilometer, membentuk lembah yang dialiri oleh Sungai Yi. Karena bentuknya yang menyerupai gerbang alami, situs ini secara historis dikenal sebagai Yique atau "Gerbang Sungai Yi." Nama Longmen (Gerbang Naga) sendiri mulai digunakan setelah Kaisar Yang dari Dinasti Sui membangun istana kekaisaran di Luoyang pada awal abad ke-7 M, di mana gerbang selatan istana tersebut sejajar dengan tebing situs ini (naga merupakan lambang kekuasaan kaisar).
Letak Situs
Secara keseluruhan, terdapat lebih dari 2.300 gua dan ceruk, 100.000 patung Buddha dengan ukuran berkisar dari beberapa sentimeter hingga lebih dari 17 meter, serta lebih dari 2.800 prasasti yang dipahat di tebing situs ini. Skala tersebut menjadikannya kompleks gua Buddha terbesar di China. Mayoritas gua dipahat di permukaan Gunung Longmen di sisi barat Sungai Yi. Kepadatan gua dan ceruk di sana sangat tinggi sehingga dari kejauhan tebing tersebut tampak luar biasa menyerupai sarang lebah. Sementara gua-gua di sisi barat digunakan untuk upacara penghormatan bagi orang yang telah meninggal, gua-gua di Gunung Xiang di sisi timur merupakan tempat tinggal bagi komunitas besar biksu Buddha dari berbagai sekte.
Refleksi Masyarakat dan Perkembangan Gaya
Praktik memahat gua di lereng gunung terpencil sebagai kuil Buddha berasal dari India sekitar abad ke-3 SM. Ajaran Buddha, bersama dengan praktik pemahatan gua, masuk ke China melalui Jalur Sutra dan memengaruhi pembuatan Grottoes Yungang di dekat Pingcheng (sekarang Datong), ibu kota Dinasti Wei Utara pada pertengahan abad ke-5 M. Ketika Kaisar Xiaowen memindahkan ibu kota ke Luoyang pada tahun 493 M, ia mengalihkan energinya untuk memulai pembangunan gua di Longmen.
Banyak patung di gua tertua, yaitu Gua Guyang, dibangun atas dasar nazar dari anggota keluarga kerajaan yang mengikuti Kaisar Xiaowen ke Luoyang. Gua ini berisi lebih dari 1.000 ceruk dan 800 prasasti, menjadikannya salah satu yang terkaya di Longmen sekaligus cerminan gaya pahat dan tulisan Dinasti Wei Utara akhir. Patung utama Buddha Sakyamuni dan dua Bodhisattva di sini memiliki penampilan yang anggun dengan siluet ramping, berbeda dengan gaya bahu lebar yang ditemukan sebelumnya di Yungang. Prasasti di Gua Guyang mencakup 19 dari 20 kaligrafi yang dianggap sebagai contoh terbaik kaligrafi Wei Utara, yang sangat penting untuk mengidentifikasi asal-usul setiap karya.
Setelah jatuhnya Dinasti Wei Utara (535 M), aktivitas pemahatan sempat melambat hingga berdirinya Dinasti Tang (618 M)—awal dari periode stabil dan makmur yang ditandai dengan pencapaian budaya yang signifikan. Pada masa ini, gaya asketik (sederhana) Wei Utara digantikan oleh gaya yang realistis, dramatis, dan rumit, di mana sekitar 60% dari seluruh gua di Longmen terbentuk. Yang terbesar dan paling megah adalah Gua Fengxiansi. Di tengah dinding belakang gua ini terdapat patung kolosal Buddha Vairocana yang, karena keanggunan dan senyum tipisnya, dijuluki sebagai "Mona Lisa dari Timur." Patung Vairocana diapit oleh murid-murid, Bodhisattva, raja-raja surgawi, dan pengawal yang dipahat di dinding samping membentuk setengah lingkaran. Berdiri di tengah kelompok ini sambil menghadap Buddha adalah pengalaman yang sangat menggetarkan jiwa. Selesai pada tahun 675 M, gua ini disumbangkan oleh Kaisar Gaozong dan Permaisuri Wu Zetian (permaisuri yang memerintah pertama di China) untuk menghormati leluhur mereka.
Seni patung di Longmen pada akhirnya melayani tujuan spiritual. Orang-orang dengan sumber daya finansial yang cukup dapat mempersembahkan citra Buddha untuk menyalurkan kebajikan (pahala) kepada penerima manfaat tertentu, sering kali kaisar atau orang tua mereka. Donatur patung-patung ini berasal dari berbagai lapisan masyarakat—kerajaan, pejabat istana, jenderal militer, biksu, biarawati, pengrajin, hingga rakyat jelata. Banyak dari mereka menyertakan prasasti yang menjelaskan motivasi dan cara mereka membiayai pembuatan patung tersebut. Dengan memilih subjek dan gaya gambar, serta menyampaikan cerita mereka melalui prasasti, para donatur kuno meninggalkan potret masyarakat yang hidup di wilayah tersebut lebih dari seribu tahun yang lalu.
Gua-Gua Terkenal Lainnya
Selain Gua Guyang dan Fengxiansi, beberapa gua lainnya sangat layak untuk disebutkan:
Gua Binyang (Utara, Tengah, Selatan): Disumbangkan oleh Kaisar Xuanwu untuk menghormati orang tuanya. Gaya patungnya masih mengikuti gaya Wei Utara awal yang mirip dengan Yungang.
Gua Yaofang (Gua Resep Obat): Berisi ukiran 140 resep medis dari era Tang—mulai dari obat kolera hingga histeria. Penemuan ini menunjukkan kemajuan ilmu kedokteran Dinasti Tang yang bahkan menyebar hingga ke Jepang pada abad ke-10 M.
Gua Wanfo (Gua Sepuluh Ribu Buddha): Dibuat untuk menghormati Kaisar Gaozong dan Permaisuri Wu Zetian, konon berisi 15.000 patung Buddha kecil yang dipahat di ceruk-ceruk mungil yang menutupi dinding gua.
Gua Kanjingsi: Gua terbesar di sisi timur yang unik karena tidak memiliki kelompok patung Buddha besar, melainkan dihiasi deretan relief Arhat (mereka yang telah mencapai pencerahan) seukuran manusia dengan ekspresi unik di sekeliling dindingnya.
Pelestarian dan Sebagain Warisan Dunia
Sangat sulit membayangkan kemegahan Longmen pada masa Dinasti Tang, di mana ribuan ukiran yang baru selesai dicat dengan berbagai warna cerah. Sayangnya, faktor alam dan manusia telah merusak sebagian keindahan aslinya. Kerusakan alami meliputi korosi akibat hujan asam, pengikisan angin, serta retakan alami pada batu kapur yang diperparah oleh pertumbuhan tanaman dan rembesan air.
Meskipun vandalisme telah terjadi sejak abad ke-13 M, penjarahan besar-besaran terjadi pada awal abad ke-20 M. Para penjarah memotong bagian kepala dan tangan patung besar atau mengambil patung kecil secara utuh untuk dijual ke pedagang seni di Beijing dan Xi'an, yang kemudian menjualnya ke kolektor seni dan museum asing. Restorasi situs baru dimulai setelah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, termasuk perbaikan besar di Gua Fengxiansi pada tahun 1971. Untuk mencegah keruntuhan, patung-patung diperkuat, saluran drainase asli dipulihkan, dan kedap air ditambahkan. Pada tahun 2000, situs ini secara resmi terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.
Seperti halnya para peziarah di masa lalu,Gua Gerbang Naga memberikan kesempatan bagi pengunjung modern untuk melangkah lebih dekat ke kehidupan orang-orang dari era yang berbeda, serta mengagumi kemampuan dan tekad luar biasa umat manusia.
