Hewan Kuskus: Mengenal Lebih Dekat Mamalia Marsupial Khas Indonesia Timur

Kuskus: Mamalia Berkantung yang Unik dari Indonesia Timur

Kuskus, atau yang dikenal dengan nama "kusu" di Maluku, adalah mamalia berkantung (Marsupialia) nokturnal yang termasuk dalam famili Phalangeridae. Hewan ini memiliki wilayah persebaran yang terbatas, yaitu di Indonesia bagian timur (Sulawesi, Maluku, dan Papua), Australia, dan Papua Nugini. Di dunia, terdapat enam genus kuskus, yaitu Ailurops, Phalanger, Spilocuscus, Strigocuscus, Wyulda, dan Trichosurus. Empat genus pertama dapat ditemukan di Indonesia.

Ciri Fisik Kuskus

Ukuran kuskus bervariasi, mulai dari 15 cm hingga lebih dari 60 cm. Namun, rata-rata ukuran kuskus adalah sekitar 45 cm. Kuskus memiliki cakar yang panjang dan tajam untuk membantu mereka bergerak di pepohonan. Bulunya tebal dengan berbagai warna seperti cokelat, hitam, dan putih. Selain itu, kuskus memiliki ekor yang panjang dan kuat (prehensile) yang berfungsi sebagai alat untuk berpegangan saat berpindah dari dahan ke dahan. Ekor ini juga digunakan sebagai senjata pertahanan dengan cara melilitkannya kuat-kuat pada batang atau cabang pohon.

Habitat dan Kebiasaan Kuskus

hewan kuskus
Seekor kuskus beruang di atas pohon

Kuskus menghabiskan hampir seluruh hidupnya di pepohonan. Mereka aktif di malam hari untuk mencari makanan dan tidur di antara dedaunan lebat pada siang hari. Kuskus adalah hewan omnivora, dengan makanan utama berupa serangga, daun, dan buah-buahan. Sesekali, mereka juga memakan anak burung dan reptil kecil. 

Reproduksi Kuskus

Kuskus diperkirakan berkembang biak sepanjang tahun. Kuskus betina melahirkan 2 hingga 4 anak setelah masa kehamilan yang singkat, hanya beberapa minggu. Seperti marsupialia lainnya, bayi kuskus yang baru lahir akan merangkak masuk ke dalam kantong di perut induknya dan bertahan di sana hingga cukup besar untuk makan sendiri. Biasanya, hanya satu bayi kuskus yang bertahan dan keluar dari kantong setelah 6 atau 7 bulan.

Persebaran Kuskus di Indonesia

Di Indonesia, kuskus hanya ditemukan di wilayah timur, yaitu Sulawesi, Maluku, dan Papua.

  1. Papua: Ditemukan dua genus, yaitu Phalanger (kuskus tidak bertotol) dan Spilocuscus (kuskus bertotol).
  2. Maluku: Ditemukan dua genus, yaitu Phalanger dan Spilocuscus, yang dapat ditemukan di Maluku Utara, Pulau Halmahera, Pulau Bacan, dan Pulau Morotai pada ketinggian 100 m di atas permukaan laut.
  3. Sulawesi: Ditemukan genus Spilocuscus, Strigocuscus, dan Ailurops, yang merupakan satwa endemik Sulawesi. Kuskus di Sulawesi ditemukan di daerah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Pulau Buton, Pulau Sangihe, dan Talaud.

Jenis-Jenis Kuskus di Papua

Menurut Petocz (1994), berdasarkan morfologi, terdapat lima spesies kuskus di Papua:

  1. Phalanger gymnotis (kuskus kelabu)
  2. Spilocuscus maculatus (kuskus bertotol biasa)
  3. P. orientalis (kuskus timur)
  4. S. rufoniger (kuskus totol hitam)
  5. P. vestitus (kuskus rambut sutera)

Selain itu, menurut Menzies (1991), terdapat S. papuensis (kuskus Waigeo), spesies endemik di Pulau Waigeo, Raja Ampat, Papua Barat. Aplin dan Helgen (2008) juga mencatat S. wilsoni (kuskus totol Pulau Biak) yang merupakan kuskus endemik di Pulau Biak dan Supiori, Papua. [1]

Status Perlindungan Kuskus

Menurut Fatem dan Sawen (2007), kuskus adalah salah satu jenis satwa endemik di Papua yang dilindungi pemerintah melalui SK Menteri Pertanian No. 247/KPTS/UM4/1979. Perlindungan ini meliputi lima jenis kuskus, yaitu:

  1. P. orientalis (kuskus cokelat biasa/kuskus timur)
  2. P. gymnotis (kuskus kelabu)
  3. P. rufoniger (kuskus totol hitam)
  4. P. vestitus (kuskus rambut sutra)
  5. S. maculatus (kuskus bertotol biasa)

Jenis lain yang terancam punah adalah P. urinus (kuskus putih), yang banyak hidup di hutan belantara Papua. Hal ini disebabkan oleh perburuan liar yang tidak terkendali untuk diperjualbelikan dengan harga yang relatif mahal. Spesies kuskus yang ada di Maluku menurut Latinis (1996) adalah S. maculatus dan P. orientalis. Sementara itu, kuskus yang ada di Sulawesi adalah Strigocuscus celebensis (kuskus kerdil) dan Ailurops ursinus (kuskus beruang).

Jenis-Jenis Kuskus di Indonesia

Berikut adalah beberapa jenis kuskus yang ada di Indonesia:

Kuskus Beruang (Ailurops ursinus)

Kuskus beruang hanya dapat ditemukan di Sulawesi. Beratnya mencapai 7 kg dengan tinggi sekitar 1,2 m (untuk ukuran dewasa). Hewan arboreal ini menghuni bagian atas pohon di hutan hujan tropis. Kuskus beruang memiliki telinga berbulu dan ekor prehensile yang panjangnya setengah dari total panjang tubuh. Warna rambutnya bervariasi dari hitam hingga abu-abu atau cokelat, dengan perut yang lebih terang.

Kuskus beruang cenderung hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil. Mereka bergerak perlahan dari pohon ke pohon menggunakan ekor prehensile mereka. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk beristirahat atau tidur. Makanan utamanya adalah dedaunan, buah mentah, bunga, dan kuncup. Kuskus beruang terdaftar sebagai satwa rentan (Vulnerable) karena penurunan populasi akibat deforestasi dan perburuan.

Kuskus Kerdil (Strigocuscus celebensis)

Kuskus kerdil hanya ditemukan di Sulawesi dan berhabitat di hutan hujan, hutan sekunder, dan kebun di sekitar tempat tinggal manusia. Kuskus kerdil memiliki warna pucat di seluruh tubuhnya, garis dorsal yang kurang jelas, dan ekor yang sebagian telanjang. Ukurannya kecil, dengan berat 1 kg atau kurang.

Spesies ini bersifat nokturnal dan arboreal. Makanannya terdiri dari daun, buah, bunga, kulit kayu, serbuk sari, dan jamur. Kuskus kerdil dikenal sering tidur di mahkota pohon kelapa. Jantan dari spesies ini cenderung agresif satu sama lain. Kuskus kerdil juga terdaftar sebagai satwa rentan (Vulnerable) karena penurunan populasi akibat deforestasi dan perburuan.

Kuskus merupakan kekayaan biodiversitas Indonesia Timur yang sangat bernilai secara ekologis. Namun, keberadaannya kian terancam oleh aktivitas manusia, sehingga upaya konservasi dan penegakan hukum perlindungan satwa menjadi krusial untuk mencegah kepunahan.