Lebih Tua dari Stonehenge! Inilah Fakta Menarik Kuil Megalitikum di Malta

Kuil Megalitikum di Malta dan Gozo

Kuil-kuil megalitikum di Malta dan Gozo merupakan salah satu bangunan berdiri bebas (free-standing) tertua di dunia. Pembangunannya dimulai sekitar 3500 SM, sebuah pencapaian arsitektur yang luar biasa pada masanya, mengingat para pembangunnya memiliki akses material yang terbatas dan belum mengenal alat logam. Meskipun kehidupan masyarakat ini sebelum kepunahan mereka pada 2500 SM masih misterius, kuil-kuil yang mereka tinggalkan memberikan gambaran jelas mengenai perkembangan gaya seni dan praktik keagamaan mereka.

Periode Neolitikum Awal

kuil tarxien

Periode Neolitikum Awal di Malta terbagi menjadi tiga fase utama:

  1. Fase Għar Dalam (5200–4500 SM)
  2. Fase Skorba Abu-abu (4500–4400 SM)
  3. Fase Skorba Merah (4400–4100 SM)

Fase pertama dinamai berdasarkan Gua Għar Dalam. Di situs Skorba, ditemukan sisa-sisa manusia, hewan, tembikar, dan alat batu di bawah dua kuil dari periode yang lebih baru. Kemiripan tembikar Għar Dalam dengan tembikar Stentinello dari Sisilia memperkuat teori bahwa penduduk pertama Malta bermigrasi dari Sisilia menggunakan perahu.

Masyarakat Petani Pertama

Hasil penanggalan radiokarbon pada fragmen tembikar memunculkan klasifikasi Fase Skorba Abu-abu dan Merah. Fase Abu-abu ditandai dengan penggunaan tanah liat abu-abu gelap dengan bintik putih, sedangkan Fase Merah mulai menggunakan lapisan cairan tanah liat merah (slip).

Bukti sejarah menunjukkan bahwa pemukim pertama adalah komunitas petani. Hal ini didukung oleh penemuan bilah sabit, tulang hewan ternak, serta sisa gandum dan jelai. Namun, penemuan batu gamping yang dibentuk sebagai amunisi ketapel menunjukkan bahwa mereka juga masih berburu. Di Gozo, ditemukan pula bukti pemukiman berupa sisa desa di Santa Verna dan figurin wanita dari Fase Skorba Merah.

Periode Kuil

Terdapat tujuh kuil megalitikum di Malta dan Gozo yang beberapa di antaranya diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Periode ini terbagi menjadi lima fase:

  1. Fase Żebbuġ (4100–3800 SM)
  2. Fase Mġarr (3800–3600 SM)
  3. Fase Ġgantija (3600–3200 SM)
  4. Fase Saflieni (3300–3000 SM)
  5. Fase Tarxien (3000–2500 SM)
Tabel Ringkasan Prasejarah Malta

PeriodeFasePerkiraan WaktuCiri Khas & Penemuan Utama
Neolitikum AwalGħar Dalam5200 – 4500 SMPemukim pertama dari Sisilia; tembikar dengan hiasan cetak (impressed ware).
Skorba Abu-abu4500 – 4400 SMPenggunaan tanah liat abu-abu gelap dengan bintik putih; bukti awal pertanian (gandum/sabit).
Skorba Merah4400 – 4100 SMTembikar dilapisi cairan merah (red slip); penemuan figurin wanita tertua.
TransisiŻebbuġ4100 – 3800 SMPeralihan ke makam batu potong; penggunaan cat oker merah pada tulang manusia.
Mġarr3800 – 3600 SMFase transisi singkat; tembikar mulai menggunakan pola garis lengkung.
Zaman KuilĠgantija3600 – 3200 SMPembangunan kuil pertama; struktur trilithon dan halaman oval; pengorbanan hewan.
Saflieni3300 – 3000 SMPembangunan Hypogeum (makam bawah tanah raksasa); lukisan dinding spiral; efek gema ritual.
Tarxien3000 – 2500 SMZaman Keemasan; dekorasi rumit; patung "Dewi Ibu"; penggunaan bola batu untuk memindahkan megalit.

Fase Żebbuġ & Mġarr

Fase Żebbuġ menjadi masa transisi dari makam bawah tanah menuju pembangunan kuil besar. Penemuan penting di makam Ta' Trapna menunjukkan adanya sisa manusia, perhiasan tulang, dan penggunaan cat oker merah. Tembikarnya dihiasi garis goresan berbentuk geometris atau manusia.

Fase Mġarr adalah masa transisi singkat. Tembikarnya mulai menggunakan garis lengkung. Keberadaan tembikar yang lebih tua dari bangunan kuil di situs Ta' Ħaġrat menunjukkan bahwa lokasi tersebut dulunya adalah sebuah desa sebelum akhirnya dibangun kuil.

Fase Ġgantija

Kuil tertua di Malta berasal dari fase ini, dengan situs paling terkenal adalah Kuil Ġgantija di Gozo. Kuil Selatan (sekitar 3600 SM) adalah yang terbesar dan paling terawat.

Secara arsitektural, kuil-kuil ini memiliki halaman depan oval yang menuju lorong trilithon (dua batu tegak menyangga satu batu datar). Lorong ini terhubung ke ruang terbuka dengan struktur melingkar (apse) di sisi-sisinya. Penemuan altar dan tulang hewan menunjukkan bahwa tempat ini digunakan untuk ritual pengorbanan hewan.

Situs penting lainnya adalah Ħaġar Qim di Malta. Arkeolog menduga salah satu ruangannya digunakan sebagai kandang hewan kurban. Di sini juga ditemukan altar dengan dekorasi tanaman yang sangat indah.

Fase Saflieni

Fase ini dinamai berdasarkan Hypogeum Ħal Saflieni, kompleks pemakaman bawah tanah raksasa yang terdiri dari tiga tingkat. Di sini ditemukan sisa-sisa sekitar 7.000 individu. Banyak tulang dilapisi oker merah, yang diduga melambangkan ritual darah kehidupan.

Interior Hypogeum dihiasi lukisan dinding berbentuk spiral dan sarang lebah. Uniknya, terdapat celah di dinding yang dapat menciptakan gema kuat, kemungkinan untuk menambah suasana magis saat ritual. Beberapa pintu dibuat menyerupai struktur kuil di atas tanah, menunjukkan nilai religius yang tinggi.

Fase Tarxien: Zaman Keemasan

Fase Tarxien adalah puncak pembangunan kuil yang ditandai dengan dekorasi rumit dan tembikar yang dipoles halus. Kompleks Kuil Tarxien terdiri dari empat kuil. Kuil Tengah memiliki desain unik dengan enam apse.

Temuan paling ikonik di sini adalah patung raksasa "Dewi Ibu" dengan rok berlipat dan relief prosesi 22 ekor kambing. Salah satu penemuan teknis terpenting adalah bola-bola batu di luar kuil. Karena roda belum ditemukan saat itu, para pembangun diduga memindahkan lempengan batu gamping raksasa dengan cara menggelindingkannya di atas bola-bola batu tersebut.

Kuil Mnajdra dan Astronomi

Kuil Selatan di kompleks Mnajdra menunjukkan kecanggihan prasejarah. Kuil ini memiliki keselarasan astronomis: pada saat ekuinoks dan solstis (titik balik matahari), sinar matahari akan masuk tepat menyinari bagian tertentu di dalam kuil. Meskipun tidak ada catatan tertulis, para ahli meyakini bahwa pengaturan posisi ini dilakukan dengan sengaja.