Menanam Masa Depan: Panduan Lengkap Budidaya Sorgum untuk Pemula dan Profesional

Budi Daya Sorgum

Di tengah tantangan perubahan iklim dan ketidakpastian cuaca, sektor pertanian dunia mulai melirik kembali tanaman-tanaman tangguh yang sempat terlupakan. Salah satunya adalah sorgum. Tanaman yang sekilas mirip jagung ini bukan sekadar alternatif pangan; ia adalah solusi keberlanjutan.

Mengapa budidaya sorgum menjadi tren yang kian meningkat? Selain karena ketahanannya terhadap kekeringan, seluruh bagian tanaman sorgum—mulai dari biji, batang, hingga daunnya—memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Dalam artikel ini, kita akan mengupas tuntas langkah demi langkah budidaya sorgum agar Anda bisa mendapatkan hasil panen yang maksimal.

Mengapa Memilih Sorgum? (Potensi dan Keuntungan)

Sebelum masuk ke teknis, mari kita pahami mengapa Anda harus melirik tanaman ini:

  1. Hemat Air: Sorgum membutuhkan jauh lebih sedikit air dibandingkan padi atau jagung.
  2. Multifungsi: Bijinya untuk pangan (bebas gluten!), batangnya untuk bioetanol atau pakan ternak (silase), dan ampasnya untuk pupuk.
  3. Minim Hama: Secara alami, sorgum lebih tahan terhadap serangan hama tertentu dibanding tanaman palawija lainnya.
  4. Panen Berulang (Ratooning): Salah satu keajaiban sorgum adalah kemampuannya untuk tumbuh kembali setelah dipanen tanpa harus menanam benih baru.

Syarat Tumbuh: Kondisi Ideal untuk Sorgum

Meskipun tangguh, sorgum tetap membutuhkan kondisi lingkungan tertentu agar produksinya optimal:

Iklim: Sorgum tumbuh baik di daerah tropis dengan suhu antara 23°C hingga 30°C.

Ketinggian: Idealnya ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 800 mdpl.

Curah Hujan: Cukup dengan 500–800 mm per tahun. Ia tetap bisa hidup di lahan kering, namun hasil terbaik didapat jika ada air yang cukup pada fase pembungaan.

Tanah: Sorgum tidak terlalu pemilih. Ia bisa tumbuh di tanah lempung berpasir hingga tanah berat, selama pH tanah berkisar antara 5,0 hingga 7,5.

Persiapan Lahan dan Benih

Langkah awal adalah kunci keberhasilan. Jangan terburu-buru menanam sebelum lahan siap.

Pengolahan Tanah

Bersihkan lahan dari gulma dan sisa tanaman sebelumnya. Lakukan pembajakan sedalam 20–30 cm untuk menggemburkan tanah. Jika tanah terlalu asam (pH di bawah 5,0), tambahkan dolomit (kapur pertanian) sekitar 2–4 minggu sebelum tanam.

Pemilihan Benih Unggul

Gunakan varietas yang sesuai dengan tujuan Anda.

  1. Sorgum Biji: Fokus pada produksi bulir (misalnya varietas Bioguma atau Numbu).
  2. Sorgum Manis: Fokus pada nira di batang untuk gula atau etanol.

Pastikan benih memiliki daya kecambah di atas 80%. Kebutuhan benih biasanya berkisar antara 10–15 kg per hektar.

Teknik Penanaman Sorgum yang Benar

Waktu terbaik untuk menanam sorgum adalah di awal musim kemarau (setelah padi) atau di akhir musim hujan agar saat panen cuaca cenderung kering.

  1. Jarak Tanam: Gunakan sistem baris tunggal dengan jarak 75 cm x 20 cm atau baris ganda (legowo) untuk memudahkan perawatan.
  2. Kedalaman: Masukkan 2–3 butir benih ke dalam lubang tanam dengan kedalaman 3–5 cm.
  3. Penutupan: Tutup lubang dengan tanah tipis atau pupuk kandang matang. Jangan ditekan terlalu keras agar tunas mudah muncul.

Pemeliharaan: Menjaga Kualitas Tanaman Sorgum

Budidaya sorgum bukan berarti membiarkannya tumbuh liar. Perawatan yang tepat akan melipatgandakan hasil panen Anda.

Penjarangan dan Penyulaman

Sekitar 7–10 hari setelah tanam (HST), periksa lahan. Jika ada lubang yang tidak tumbuh, segera sulam dengan benih baru. Jika dalam satu lubang tumbuh lebih dari dua tanaman, cabut yang paling kecil agar tidak terjadi perebutan nutrisi.

Penyiangan Gulma

Gulma adalah musuh utama dalam perebutan unsur hara. Lakukan penyiangan pada umur 2 minggu dan 4 minggu setelah tanam. Penggunaan mulsa organik dari sisa jerami juga sangat disarankan untuk menekan pertumbuhan rumput liar.

Pemupukan Berkala

Sorgum memang efisien, tapi tetap butuh asupan nutrisi:

  1. Pupuk Dasar: Berikan pupuk kandang/kompos saat pengolahan lahan.
  2. Pupuk Susulan I (15 HST): Berikan Urea, SP-36, dan KCl sesuai dosis anjuran daerah setempat.
  3. Pupuk Susulan II (35–40 HST): Fokus pada penambahan Nitrogen (Urea) untuk mendukung pertumbuhan vegetatif yang cepat.

Manajemen Air dan Pengendalian Hama

Sorgum memang tahan kering, tapi ia butuh air pada tiga fase kritis: saat perkecambahan, saat berbunga, dan saat pengisian biji. Jika tanah terlalu pecah-pecah di fase ini, lakukan pengairan secukupnya.

Hama yang sering muncul:

  1. Lalat Bibit: Menyerang tunas muda. Bisa dicegah dengan seed treatment (perlakuan benih sebelum tanam).
  2. Burung: Ini adalah tantangan terbesar saat biji mulai berisi. Petani biasanya menggunakan jaring atau alat pengusir burung tradisional.
  3. Ulat Grayak: Gunakan pestisida nabati atau kimia secara bijak jika serangan sudah melewati ambang batas.

Masa Panen dan Pascapanen

Menentukan waktu panen yang tepat sangat krusial untuk menjaga kualitas biji dan kandungan gula dalam batang.

Ciri Sorgum Siap Panen

  1. Biji sudah keras dan tidak mudah pecah jika ditekan dengan kuku.
  2. Kadar air biji berkisar 20–25%.
  3. Muncul titik hitam (black layer) di pangkal biji (menandakan kemasakan fisiologis).
  4. Daun sudah mulai menguning dan mengering.

Cara Panen

Potong tangkai malai sekitar 15–25 cm di bawah bulir. Gunakan sabit yang tajam agar tidak merusak batang, terutama jika Anda berencana melakukan teknik Ratoon (menumbuhkan kembali sisa batang untuk panen kedua).

Penanganan Pascapanen

Setelah dipetik, malai harus segera dijemur hingga kadar air turun menjadi 12–13%. Setelah kering, biji bisa dirontokkan menggunakan mesin perontok atau dipukul secara manual. Simpan di tempat yang kering dan tertutup rapat untuk menghindari serangan kutu bubuk.

Peluang Bisnis: Mengolah Sorgum Menjadi Cuan

Jangan hanya menjual biji mentah! Nilai tambah sorgum ada pada pengolahannya:

  1. Tepung Sorgum: Pengganti tepung terigu bagi penderita diabetes atau mereka yang menjalani diet gluten-free.
  2. Beras Sorgum: Dikonsumsi seperti nasi dengan serat yang lebih tinggi.
  3. Gula Cair: Diambil dari nira batang sorgum manis.
  4. Pakan Ternak: Daun dan batang sisa panen sangat disukai sapi dan kambing karena kandungan nutrisinya yang lebih baik daripada jerami padi.

Budidaya sorgum adalah pilihan cerdas di era pertanian modern. Ia bukan hanya tanaman yang "tahan banting", tetapi juga menawarkan keuntungan berlipat dari hulu ke hilir. Dengan persiapan lahan yang baik, pemilihan benih unggul, dan perawatan yang konsisten, Anda bisa menjadikan sorgum sebagai sumber penghasilan utama maupun sampingan yang menjanjikan.

Dunia sedang bergerak menuju konsumsi pangan yang lebih sehat dan ramah lingkungan. Apakah Anda siap menjadi bagian dari revolusi hijau ini melalui budidaya sorgum?