Skara Brae: Desa Neolitikum yang Terawetkan

Skara Brae: Desa Neolitikum yang Terawetkan

Skara Brae adalah situs Zaman Neolitikum yang terdiri dari sepuluh struktur batu, terletak di dekat Teluk Skaill, Orkney, Skotlandia. Meskipun saat ini berada di tepi pantai, pada masa dihuni (sekitar 3100-2500 SM), desa ini sebenarnya terletak lebih jauh ke daratan. Erosi tanah yang terus-menerus selama berabad-abad telah mengubah bentang alam secara drastis, sehingga interpretasi lama mengenai lokasi situs ini harus dievaluasi kembali.

Nama "Skara Brae" sendiri merupakan perubahan dari nama lama, yaitu "Skerrabra" atau "Styerrabrae", yang merujuk pada gundukan tanah yang menimbun dan secara alami mengawetkan bangunan-bangunan di desa tersebut. Hingga kini, nama asli yang digunakan oleh penduduk purba situs ini tidak diketahui. Skara Brae kini telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia.

Sejarah Penemuan: Antara Fakta dan Fiksi

Secara tradisional, Skara Brae dikatakan ditemukan pada tahun 1850 M setelah badai besar melanda Orkney dan menyingkap pasir serta tanah yang menimbun situs tersebut. Pemilik tanah saat itu, William Watt, melihat dinding batu yang terpapar dan mulai melakukan penggalian hingga menemukan empat rumah batu. Menyadari pentingnya temuan ini, ia menghubungi arkeolog George Petrie yang kemudian mendokumentasikan temuan penting tersebut hingga tahun 1868.

Namun, sejarawan Dr. Ernest Marwick (1915-1977 M) mengklaim bahwa cerita "penemuan dramatis" tahun 1850 tersebut hanyalah fiksi. Marwick mengutip catatan James Robertson dari tahun 1769 M yang sudah mencatat keberadaan situs kuno tersebut jauh sebelum badai terjadi. Meskipun ada klaim penemuan kerangka dengan pedang dan kapak Denmark di masa lalu, catatan resmi Petrie tidak pernah menyebutkan senjata apa pun. Satu-satunya benda tajam yang ditemukan hanyalah pisau batu Neolitikum yang digunakan untuk keperluan sehari-hari, bukan untuk peperangan.

Upaya Konservasi dan Penggalian Modern

Setelah sempat terbengkalai, penggalian kembali dilanjutkan pada tahun 1913 oleh W. Balfour Stewart. Namun, pada masa itu, situs tersebut sempat dijarah oleh pihak tidak dikenal yang mencuri banyak artefak penting. Pada tahun 1924, pengelolaan situs diserahkan kepada pemerintah.

Arkeolog ternama Vere Gordon Childe kemudian dipanggil untuk memimpin penggalian profesional. Sebelum penggalian besar dimulai pada tahun 1927, sebuah tembok laut besar dibangun untuk melindungi situs dari abrasi. Kerja keras Childe dan rekannya, J. Wilson Paterson, berhasil mengungkap desa Neolitikum dengan tingkat preservasi terbaik di Eropa.

Kehidupan di Skara Brae

Penduduk Skara Brae membangun rumah mereka dari batu pipih yang ditanam ke dalam tanah untuk stabilitas. Celah antara dinding dan tanah diisi dengan limbah domestik (midden) yang berfungsi sebagai isolasi suhu alami. Menariknya, hampir seluruh perabotan di dalam rumah—mulai dari lemari, kursi, hingga tempat tidur—terbuat dari batu.

Setiap rumah memiliki tungku api sebagai pemanas, meskipun tanpa jendela, suasana di dalamnya kemungkinan besar gelap dan penuh asap. Karena kelangkaan kayu di wilayah tersebut, bahan bakar tungku masih menjadi misteri. Desa ini juga tergolong maju karena sudah memiliki sistem drainase dan toilet di dalam ruangan.

Kebudayaan dan Mata Pencaharian

Berdasarkan artefak yang ditemukan, penduduk setempat dikenal sebagai "Grooved Ware People" karena kemahiran mereka membuat tembikar khas dengan pola alur (grooved). Mereka adalah masyarakat agraris yang beternak sapi dan domba, bertani, serta berburu dan memancing.

Ada teori dari arkeoastronom Euan MacKie yang menyebutkan bahwa Skara Brae adalah komunitas astronom berdasarkan temuan bola batu berukir. Namun, mayoritas bukti lebih mendukung bahwa mereka adalah masyarakat petani dan peternak biasa, sementara bola batu tersebut kemungkinan hanyalah alat permainan.

Misteri Pengosongan Desa

Ada teori populer yang menyebutkan bahwa desa ini ditinggalkan secara terburu-buru akibat badai pasir besar, mirip dengan peristiwa Pompeii. Teori ini didasarkan pada temuan kalung manik-manik yang tercecer di ambang pintu, seolah-olah terjatuh saat pemiliknya lari menyelamatkan diri.

Namun, penelitian arkeologi terbaru pada tahun 1970-an oleh Graham dan Anna Ritchie membantah teori bencana mendadak tersebut. Tidak ditemukannya sisa-sisa manusia atau bukti katastrophe menunjukkan bahwa desa ini kemungkinan besar ditinggalkan secara bertahap karena alasan yang belum diketahui, lalu perlahan-lahan tertimbun pasir seiring berjalannya waktu.