Sejarah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928
Peristiwa Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 merupakan tonggak sejarah krusial bagi bangsa Indonesia. Ikrar ini merepresentasikan komitmen teguh para pemuda dari berbagai latar belakang suku, agama, dan golongan untuk bersatu dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri proses terbentuknya kesadaran kebangsaan tersebut serta mengidentifikasi sosok-sosok yang menjadi penggerak utamanya.
Kaum muda yang terpelajar tampil sebagai motor penggerak perjuangan. Mereka berhasil mengesampingkan sekat-sekat primordial berupa perbedaan ras, suku, bahasa, dan agama, demi mengutamakan kepentingan bersama. Semangat persatuan ini menjadi katalisator utama dalam upaya mewujudkan cita-cita Indonesia merdeka.
Akar Kesadaran Nasional
Lahirnya kesadaran nasional tidak terlepas dari diskriminasi sistematis yang diterapkan oleh pemerintah kolonial. Stratifikasi sosial yang ketat menempatkan masyarakat Indonesia (Bumiputra) sebagai kelas terbawah, di bawah golongan Eropa serta kelompok Timur Asing (seperti etnis Tionghoa dan Jepang). Sistem kolonial ini menciptakan sentimen sosial yang kuat di kalangan masyarakat terjajah, yang kemudian memicu tekad untuk melepaskan diri dari belenggu penindasan.
Gerakan pemuda muncul sebagai manifestasi dari kesadaran intelektual. Para pemuda yang berpendidikan mulai menyadari nasib bangsanya yang terpuruk. Melalui akses terhadap buku-buku dan pendidikan, mereka terbuka wawasannya mengenai berbagai gerakan kebangsaan yang sedang berkembang di negara-negara lain.
Tiga Pilar Pengalaman Perjuangan
Semangat perjuangan para pemuda ini berpijak pada tiga pengalaman historis utama:
- Kenangan Kejayaan Nusantara: Adanya kesadaran kolektif bahwa bangsa Indonesia pernah mencapai puncak kemajuan melalui kerajaan-kerajaan besar, seperti Majapahit, Sriwijaya, dan Mataram, yang setara dengan bangsa-bangsa maju pada masanya.
- Dampak Eksploitasi Penjajah: Feodalisme dan kolonialisme telah menyebabkan kemunduran bangsa. Kekayaan alam Nusantara dikeruk habis untuk kepentingan negara penjajah, sementara anak bangsa yang bekerja keras justru tidak dapat menikmati hasil buminya sendiri.
- Ketidakadilan Stratifikasi Sosial: Penjajahan melahirkan hierarki sosial yang menghina martabat bangsa Indonesia. Istilah inlander atau pribumi sering kali dilabeli dengan stigma negatif—seperti pemalas, bodoh, dan miskin—untuk membenarkan posisi mereka di strata paling bawah, di bawah golongan Timur Asing dan bangsa Eropa yang menempati puncak piramida sosial.
Lahirnya Sumpah Pemuda
Pada masa Hindia Belanda, kota-kota besar seperti Batavia, Surabaya, Semarang, dan Bandung menjadi pusat gravitasi bagi kaum muda dari seluruh penjuru nusantara. Kota-kota ini bukan sekadar tempat menuntut ilmu atau mencari kerja, melainkan menjadi arena peleburan bagi pemuda dengan latar belakang budaya, etnis, hingga agama yang berbeda. Dari interaksi intensif di perantauan ini, tumbuh benih saling pengertian dan kesadaran akan keberagaman bangsa.
Ruang Diskusi dan Kelahiran Gagasan
Asrama pelajar dan mahasiswa menjadi tempat lahirnya pemikiran-pemikiran besar. Salah satu yang paling bersejarah adalah Indonesia Clubgebouw (atau Indonesische Clubhuis) yang terletak di Jalan Kramat Raya 106. Selain berfungsi sebagai asrama dan ruang latihan seni, tempat ini menjadi saksi bisu dirancangnya Kongres Pemuda.
Gagasan ini pertama kali muncul pada rapat tanggal 3 Mei 1928. Meski saat itu seluruh peserta sepakat untuk mengadakan kongres, detail teknis baru dimatangkan pada rapat lanjutan tanggal 12 Agustus 1928.
Pembentukan Panitia Kongres
Rapat tersebut dihadiri oleh utusan dari berbagai organisasi kepemudaan, yakni PPPI, Jong Java, Jong Islamieten Bond, Pemuda Indonesia, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Batak Bond, dan Kaum Pemuda Betawi. Dalam pertemuan tersebut, disusunlah struktur kepengurusan kongres sebagai berikut:
Ketua: Soegondo Djojopuspito (PPPI)
Wakil Ketua: Djoko Marsait (Jong Java)
Sekretaris: Moh. Yamin (Jong Sumatranen Bond)
Bendahara: Amir Syarifuddin (Jong Batak)
Mereka dibantu oleh anggota pengurus lainnya: Djohan Muhamad, Kontjosoengkono, Senduk, J. Leimena, dan Rohjani.
Keputusan Strategis
Selain pembentukan pengurus, pertemuan tersebut menyepakati beberapa poin penting:
- Kongres akan diselenggarakan di Weltevreden selama dua hari pada Oktober 1928.
- Biaya penyelenggaraan ditanggung bersama melalui gotong royong dan sumbangan berbagai pihak.
- Pembentukan panitia cabang di berbagai wilayah untuk membantu operasional dan pendanaan.
- Mengajak organisasi pemuda lainnya untuk terlibat aktif demi suksesnya kongres.
Pelaksanaan dan Semangat Kongres
Kongres akhirnya terlaksana pada 27–28 Oktober 1928. Tujuannya sangat visioner: merumuskan cita-cita bersama, membahas arah pergerakan pemuda, serta memperkokoh persatuan Indonesia.
Acara ini tidak hanya dihadiri oleh organisasi kepemudaan, tetapi juga didukung oleh organisasi besar seperti PNI, Budi Utomo, Volksraad, dan Persatuan Minahasa. Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Sarmidi Mangunsarkoro, Nona Purnomowulan, Muhammad Nazif, Siti Sundari, E. Puradiredja, Kuntjoro Purbopranoto, Sukmono, Surjadi, Djaksodipuro (Wong- sonegoro), Moh. Roem, Dien Pantouw, Suwirjo, Sumanang, Dali, Suahbudi Latif, Sulaiman, Kartomengolo, Sumarto, Mas- dani, Anwari, Nona Tumbel, Tamzil, A.K. Gani, Jo. Tumbuan, Pengemanan, Halim, Antapermana, Suwarni, Kasman Singodimedjo, dan W.R. Supratman, para tokoh ini menegaskan bahwa Sumpah Pemuda adalah gerak langkah kolektif seluruh elemen bangsa menuju Indonesia yang bersatu.
Kronologi Kongres Pemuda II: Menuju Satu Ikrar
Kongres Pemuda II yang bersejarah berlangsung selama dua hari, yakni 27–28 Oktober 1928, dengan rangkaian sidang yang berpindah-pindah tempat untuk menyebarkan semangat persatuan. Tercatat sebanyak 750 peserta dari berbagai organisasi pergerakan kebangsaan hadir, sebuah jumlah yang merepresentasikan besarnya antusiasme kaum muda saat itu.
Sidang Pertama: Membangun Semangat Kebangsaan
Sidang pembuka dilaksanakan pada 27 Oktober 1928 pukul 19.30 di gedung Katholieke Jongelingen Bond, Jalan Lapangan Banteng. Acara dibuka dengan pembacaan sambutan tertulis dari tokoh-tokoh penting pergerakan nasional, yakni Sukarno (PNI), pengurus Perhimpunan Indonesia (PI) dari Belanda, serta pernyataan pribadi dari Tan Malaka.
Dalam pidato pembukaannya, Soegondo Djojopuspito selaku ketua panitia memaparkan latar belakang sejarah pergerakan pemuda yang menjadi embrio lahirnya kongres ini. Acara kemudian dilanjutkan dengan pidato mendalam dari Mohammad Yamin bertajuk "Persatuan dan Kebangsaan Indonesia". Yamin menekankan pentingnya menyoroti kesamaan sejarah, bahasa, nasib, serta adat istiadat dari berbagai suku di Nusantara sebagai perekat persatuan bangsa.
Sidang Kedua: Fokus pada Pendidikan
Sidang kedua digelar di gedung Oost Java Bioscoop (Jalan Merdeka Utara). Fokus utama sidang kali ini adalah isu pendidikan. Sedianya, empat pembicara utama dijadwalkan hadir: Nona Purnomowulan, Sigit, Djoko Sartono, dan Ki Hadjar Dewantoro. Namun, dua pembicara terakhir berhalangan hadir karena sedang berada di Yogyakarta.
Sidang Ketiga: Kelahiran Sumpah Pemuda
Sidang ketiga bertempat di Indonesische Clubhuis, Jalan Kramat Raya No. 106. Sidang dibuka pukul 19.30 dengan agenda awal mengenai kepanduan (padvinderij). Meskipun rencana pawai pandu harus dibatalkan karena tidak mendapat izin dari kepolisian, diskusi tetap berjalan dengan menghadirkan tiga pembicara: Ramelan, Theo Pangemanan, dan Mr. Sunario.
Di tengah jalannya pidato Mr. Sunario, momen krusial terjadi. Mohammad Yamin menyerahkan secarik kertas berisi rumusan pokok-pokok pikiran hasil diskusi selama kongres kepada Soegondo selaku ketua. Setelah dibaca dan disetujui oleh Soegondo dan Amir Syarifuddin, rumusan tersebut dibacakan di hadapan seluruh peserta kongres. Rumusan inilah yang kini kita kenal sebagai Sumpah Pemuda, ikrar suci yang menjadi janji setia persatuan bagi seluruh putra dan putri Indonesia. Rumusan tersebut berbunyi sebagai berikut:
Poetoesan Congres Pemoeda- Pemoeda Indonesia
Kerapatan pemoeda-pemoeda Indonesia jang diadakan oleh perkoempoelan-perkoempoelan pemoeda-pemoeda Indonesia jang berdasarkan kebangsaan dengan namanya: Jong Java, Jong Soematra (Pemoeda Soematra), Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Islameten Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi, Perhimpoenan Peladjar- Peladjar Indonesia.
Memboeka rapat tanggal 27 dan 28 October taoen 1928 di negeri Djakarta; sesudahnya mendengar pidato-pidato dan pembitjaraan jang diadakan dalam kerapatan tadi; sesoedahnja menimbang segala isi pidato-pidato dan pembitjaraan ini; kerapatan laloe mengambil kepoetoesan:
Pertama, Kami poetera dan poeteri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia,
Kedua, kami poetera dan poeteri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, Bangsa Indonesia,
Ketiga, kami poetera dan poeteri Indonesia menjoenjoeng Bahasa persatoean, Bahasa Indonesia.
Setelah mendengar poetoesan ini ke- rapatan mengeloearkan kejakinan asas ini wajib dipakai oleh segala perkoem- poelan-perkoempoelan kebangsaan Indonesia; mengeloearkan kejakinan persatoean Indonesia diperkoeat de- ngan memperhatikan persatoeannja kemaoean, sedjarah, hoekoem-adat, pendidikan dan kepandoean dan mengeloearkan pengharapan soepaja poetoesan ini disiarkan dalam segala soerat kabat dan dibatjakan di moeka rapat perkoempoelan-perkoempoelan kita.
Lahirnya Simbol-Simbol Kebangsaan
Momen bersejarah Sumpah Pemuda tidak hanya meninggalkan jejak berupa ikrar persatuan, tetapi juga menjadi saksi lahirnya simbol-simbol kebangsaan Indonesia. Sebelum putusan kongres dibacakan, suasana haru dan bangga menyelimuti ruangan saat W.R. Supratman memperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya melalui gesekan biolanya. Secara bersamaan, bendera Merah Putih dikibarkan untuk pertama kalinya sebagai simbol negara yang berdaulat. Peristiwa tersebut secara permanen menetapkan Indonesia Raya dan Merah Putih sebagai identitas kebangsaan yang sakral bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kelanjutan dari Perjuangan Panjang
Sumpah Pemuda bukanlah sebuah peristiwa tunggal yang berdiri sendiri, melainkan puncak dari rangkaian upaya panjang para intelektual muda. Peristiwa ini merupakan kelanjutan dari Kongres Pemuda Indonesia I yang telah diselenggarakan sebelumnya pada 30 April 1926.
Jika pada Kongres Pemuda I diskusi difokuskan pada gagasan mendasar mengenai pentingnya persatuan untuk mencapai kemerdekaan serta perlunya bahasa persatuan, maka Kongres Pemuda II (1928) menjadi wadah yang mengkristalkan gagasan-gagasan tersebut menjadi komitmen nyata.
Transformasi Kesadaran Bangsa
Rangkaian kongres ini mencerminkan kegigihan para pemuda berpendidikan dalam memperjuangkan kedaulatan bangsa. Kesadaran kebangsaan yang mulai tumbuh subur di awal abad ke-20 tidak berhenti sebagai wacana, melainkan bertransformasi dengan cepat menjadi gerakan terorganisir. Melalui estafet diskusi dan organisasi, para pemuda berhasil mengubah semangat kedaerahan menjadi gelombang nasionalisme yang menuntut Indonesia Merdeka—sebuah tekad yang menjadi lokomotif utama perjuangan bangsa menuju kemerdekaan.
Sumpah Pemuda 1928 bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan puncak dari "drama nasionalisme" yang dimainkan oleh kaum intelektual muda. Mereka adalah generasi yang lahir dari kebijakan pendidikan kolonial, yang kemudian justru menggunakan ilmu pengetahuan untuk menciptakan identitas nasional dan kesadaran kolektif sebagai satu bangsa.
Perjuangan para pemuda ini sangat berat karena mereka bergerak di tengah masyarakat yang masih terpuruk. Berdasarkan sensus tahun 1930, hanya 6,44% dari 70 juta penduduk yang melek huruf. Selain tantangan buta huruf, mereka juga harus menghadapi keterbatasan sarana transportasi dan komunikasi yang membuat penyebaran ide kemerdekaan menjadi sangat lambat dan menantang.
Sumpah Pemuda adalah bukti bahwa pendidikan, meski dirancang oleh penjajah untuk kepentingan birokrasi, pada akhirnya menjadi senjata yang berbalik arah. Kaum intelektual muda yang lahir dari sistem tersebut berhasil mengubah nasib bangsa, dari rakyat yang terpecah berdasarkan identitas kedaerahan, menjadi satu bangsa yang sadar akan haknya untuk merdeka.
Daftar Bacaan
Anderson, B. (1972). Java in a Time of Revolution, Occupation, and Resistence. 1944-1946. Itaca: Cornell University Press.
Ingleson, J. (1993). Perhimpunan Indonesia dan Pergerakan Kebangsaan. Jakarta: Grafiti Press.
Kahin, J. McT. (1952). Nationalism and Revolution in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press.
Kartodirdjo, S. (1993). Pengantar Sejarah Baru: Sejarah Pergerakan Nasional, dari Kolonialisme sampai Nasionalisme. Jakara: Gramedia Pustaka Utama
Nagazumi, Akira. (1989). Bangkitnya Nasionalisme Indonesia: Budi Otomo 1808-1918. Jakarta: Pustaka Utama.
Noer, D. (1990). Mohammad Hatta: Biografi Politik, Jakarta: LP3ES
Poeponegoro, J., Notosusanto, N. (2010). Sejarah Nasional Indonesia Jilid V: Jakarta: Balai Pustaka
Resink, G.J. (2017.) Bukan 350 Tahun Dijajah, Yogyakarta: Ombak
Ricklefs, M.C. (2005). Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta
