Jenis-Jenis Sistem Ekonomi
Jenis-Jenis Sistem Ekonomi
Pernahkah Anda membayangkan bagaimana sebuah negara mengatur semua hal yang kita butuhkan setiap hari? Mulai dari beras yang kita makan, listrik yang menerangi rumah, hingga kuota internet yang Anda gunakan untuk membaca artikel ini. Mengapa di satu negara semua orang bebas membuka bisnis apa saja, sementara di negara lain pemerintahnya menentukan siapa yang boleh memproduksi apa?
Semua jawaban dari pertanyaan tersebut berakar pada satu konsep penting: Sistem Ekonomi.
Secara sederhana, sistem ekonomi adalah perangkat aturan, metode, dan mekanisme yang digunakan oleh suatu negara untuk mengelola seluruh sumber daya yang dimilikinya. Tujuannya satu, yaitu menyelesaikan masalah ekonomi dasar manusia: apa yang harus diproduksi, bagaimana cara memproduksinya, dan untuk siapa barang tersebut dibuat.
Karena setiap negara memiliki latar belakang sejarah, budaya, dan falsafah yang berbeda, maka sistem ekonomi yang diterapkan pun tidak sama. Di artikel ini, kita akan membedah secara tuntas berbagai jenis sistem ekonomi yang ada di dunia, lengkap dengan ciri-ciri, kelebihan, kekurangan, serta contoh negaranya. Yuk, kita bahas satu per satu secara santai namun mendalam!
Mengapa Suatu Negara Membutuhkan Sistem Ekonomi?
Sebelum masuk ke jenis-jenisnya, mari kita posisikan diri kita sebagai pemimpin sebuah negara baru. Anda punya jutaan rakyat, tanah yang luas, dan sumber daya alam yang melimpah. Namun, di sisi lain, sumber daya tersebut terbatas, sedangkan keinginan rakyat Anda tidak terbatas. Jika Anda tidak membuat aturan main yang jelas, apa yang akan terjadi? Kekacauan.
Tanpa sistem ekonomi yang jelas, akan terjadi perebutan sumber daya secara brutal. Si kaya akan menindas si miskin, atau sebaliknya, tidak ada orang yang mau bekerja keras karena semua hasil usahanya diambil alih begitu saja.
Oleh karena itu, sistem ekonomi hadir untuk berfungsi sebagai:
- Penyedia dorongan untuk berproduksi: Mengatur bagaimana masyarakat termotivasi untuk bekerja dan menghasilkan barang/jasa.
- Pengatur pembagian hasil produksi: Memastikan hasil dari kegiatan ekonomi dapat didistribusikan ke seluruh lapisan masyarakat.
- Menciptakan mekanisme tertentu: Agar interaksi antara produsen, konsumen, dan pemerintah berjalan dengan harmonis tanpa menimbulkan inflasi atau depresi yang merusak.
Jenis Sistem Ekonomi
Sekarang, mari kita pelajari lima jenis sistem ekonomi utama yang pernah dan sedang berjalan di panggung sejarah dunia.
1. Sistem Ekonomi Tradisional (Traditional Economy)
Sistem ekonomi tradisional adalah sistem ekonomi yang paling tua di dunia. Di era modern ini, keberadaannya memang sudah mulai tergerus oleh zaman, namun bukan berarti hilang sepenuhnya. Sistem ini sangat bergantung pada adat istiadat, tradisi, budaya, dan kepercayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam sistem ekonomi tradisional, masyarakat tidak terlalu memikirkan inovasi besar atau akumulasi kekayaan. Fokus utama mereka adalah bertahan hidup (survival). Apa yang mereka tanam hari ini adalah apa yang akan mereka makan besok.
Ciri-Ciri Sistem Ekonomi Tradisional
Teknologi Masih Sangat Sederhana: Masyarakat tidak menggunakan mesin-mesin canggih. Alat-alat yang digunakan biasanya berupa cangkul, jala tradisional, atau hewan ternak untuk membajak sawah.
Bertumpu pada Sektor Agraris dan Berburu: Kegiatan ekonomi utama berkisar pada pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, atau berburu.
Belum Mengenal Pembagian Kerja yang Rumit: Setiap orang biasanya menguasai semua proses produksi, mulai dari menanam hingga memanen sendiri.
Sistem Barter Masih Dominan: Uang sering kali bukan menjadi alat tukar utama. Masyarakat lebih memilih menukar sekarung beras dengan beberapa ekor ayam (barter).
Ikatan Kekeluargaan Sangat Kuat: Semua kegiatan dilakukan secara gotong royong dan berasaskan rasa kekeluargaan yang tinggi.
Kelebihan Sistem Ekonomi Tradisional
Minim Konflik Sosial: Karena tidak ada persaingan ketat untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya, hubungan antaranggota masyarakat cenderung sangat harmonis dan damai.
Tidak Ada Pengangguran Berarti: Semua orang memiliki peran di dalam komunitasnya, entah itu pergi ke laut, menjaga ladang, atau merajut pakaian.
Sangat Ramah Lingkungan: Masyarakat tradisional sangat menghormati alam. Mereka hanya mengambil apa yang dibutuhkan dari alam tanpa merusaknya dengan limbah industri.
Bebas dari Stres Ekonomi Modern: Fenomena seperti inflasi, krisis perbankan, atau kebangkrutan pasar saham tidak akan pernah Anda temukan di sistem ini.
Kekurangan Sistem Ekonomi Tradisional
Pertumbuhan Ekonomi Sangat Lambat: Karena tidak ada inovasi, produktivitas masyarakat stagnan dari tahun ke tahun.
Standar Hidup Rendah: Ketiadaan fasilitas kesehatan dan sanitasi modern membuat kualitas hidup masyarakat di sistem ini cenderung rentan terhadap penyakit dan kelaparan jika terjadi gagal panen.
Sangat Tergantung pada Alam: Jika terjadi bencana alam seperti kemarau panjang atau banjir, perekonomian masyarakat bisa lumpuh total secara instan.
Menolak Perubahan: Sifatnya yang terlalu memegang teguh tradisi membuat masyarakat sulit menerima perkembangan teknologi yang sebenarnya bisa mempermudah hidup mereka.
Contoh Negara/Komunitas
Saat ini, tidak ada satu negara utuh yang menerapkan sistem ini. Namun, sistem ini masih bisa ditemukan di komunitas pedalaman terisolasi, seperti suku Baduy Dalam di Indonesia, suku Sentinel di kepulauan Andaman, atau suku-suku pedalaman di hutan Amazon.
2. Sistem Ekonomi Pasar / Kapitalis / Liberal (Market Economy)
Kebalikan total dari sistem tradisional adalah sistem ekonomi pasar, yang sering juga disebut sebagai kapitalisme atau sistem ekonomi liberal. Tokoh paling terkenal di balik sistem ini adalah Adam Smith, yang memperkenalkan konsep "The Invisible Hand" (Tangan Tak Terlihat) dalam bukunya yang legendaris, The Wealth of Nations.
Dalam sistem ini, pemerintah bertindak seolah-olah seperti wasit sepak bola: mereka ada di lapangan hanya untuk memastikan semua orang mematuhi aturan, tetapi tidak ikut menendang bola. Seluruh kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar (interaksi antara permintaan dan penawaran).
Ciri-Ciri Sistem Ekonomi Pasar
Hak Milik Pribadi Diakui Sepenuhnya: Setiap individu atau korporasi bebas memiliki modal, tanah, pabrik, dan teknologi tanpa batasan dari pemerintah.
Kebebasan Berusaha dan Memilih: Siapa saja boleh mendirikan bisnis apa saja, mulai dari jualan kopi hingga membuat perusahaan roket swasta, asalkan laku di pasar.
Fokus pada Profit (Keuntungan): Motif utama dari setiap kegiatan ekonomi di sistem ini adalah menghasilkan keuntungan finansial yang maksimal.
Persaingan Bebas (Perfect Competition): Pasar dipenuhi oleh banyak penjual dan pembeli yang saling bersaing ketat untuk menawarkan harga dan kualitas terbaik.
Harga Ditentukan oleh Pasar: Pemerintah tidak berhak menetapkan harga barang. Jika suatu barang sangat dicari tapi stoknya sedikit, harganya akan melonjak naik secara alami.
Kelebihan Sistem Ekonomi Pasar
Inovasi dan Kreativitas Berkembang Pesat: Karena adanya persaingan ketat, setiap pebisnis berlomba-lomba menciptakan teknologi baru yang lebih efisien dan produk yang lebih menarik demi memenangkan hati konsumen.
Efisiensi Tinggi: Perusahaan yang tidak efisien dalam mengelola modal akan kalah bersaing dan bangkrut dengan sendirinya. Hal ini memaksa penggunaan sumber daya menjadi sangat optimal.
Konsumen Memiliki Banyak Pilihan: Pasar menyajikan variasi produk yang luar biasa luas dengan berbagai rentang harga dan kualitas.
Pertumbuhan Ekonomi yang Cepat: Kebebasan mencari cuan memicu mobilitas ekonomi yang sangat tinggi, mendorong negara maju secara materi dalam waktu singkat.
Kekurangan Sistem Ekonomi Pasar
Kesenjangan Ekonomi yang Lebar: Si kaya yang memiliki modal besar akan makin kaya (the rich get richer), sedangkan si miskin yang tidak punya modal akan makin tertinggal dan tereksploitasi.
Munculnya Monopoli: Perusahaan raksasa yang berhasil menumbangkan para pesaingnya berpotensi menguasai pasar secara mutlak (monopoli), yang pada akhirnya merugikan konsumen lewat permainan harga.
Kerusakan Lingkungan: Demi memangkas biaya produksi dan mengejar keuntungan instan, banyak perusahaan abai terhadap kelestarian alam (seperti membuang limbah sembarangan atau melakukan deforestasi).
Kerentanan Terhadap Krisis: Sistem pasar bebas sangat rentan mengalami siklus boom and bust—periode di mana ekonomi tumbuh sangat tinggi lalu tiba-tiba hancur lebur dalam krisis finansial (seperti Depresi Besar tahun 1929 atau krisis 2008).
Contoh Negara
Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Singapura, dan Hong Kong adalah contoh negara-negara yang menerapkan sistem ekonomi yang sangat condong ke arah pasar bebas.
3. Sistem Ekonomi Komando / Terpusat / Sosialis (Command Economy)
Jika sistem kapitalis memberikan kebebasan mutlak pada individu, maka sistem ekonomi komando melakukan hal yang sebaliknya. Sistem yang sering diasosiasikan dengan pemikiran Karl Marx ini menempatkan pemerintah sebagai pemegang kendali mutlak atas seluruh roda perekonomian negara.
Dalam sistem ini, individu hampir tidak memiliki hak milik atas faktor produksi. Mulai dari jenis pekerjaan, jumlah barang yang diproduksi, hingga harga sebatang sabun di toko kelontong, semuanya dirancang dan ditetapkan oleh kementerian perencanaan pusat di ibu kota negara.
Ciri-Ciri Sistem Ekonomi Komando
Seluruh Faktor Produksi Milik Negara: Tanah, pabrik, tambang, dan infrastruktur dikuasai dan dikelola sepenuhnya oleh pemerintah atas nama rakyat.
Tidak Ada Hak Milik Pribadi atas Alat Produksi: Seseorang tidak diizinkan memiliki pabrik atau perusahaan swasta berskala besar secara mandiri.
Perencanaan Terpusat (Central Planning): Pemerintah menyusun rencana jangka panjang (misalnya rencana 5 tahunan) mengenai apa saja yang harus diproduksi oleh negara.
Distribusi Pendapatan Merata: Pemerintah berusaha membagi rata pendapatan kepada seluruh warga negara agar tidak terjadi jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.
Jenis Pekerjaan Diatur Pemerintah: Rakyat sering kali ditempatkan di sektor-sektor pekerjaan tertentu sesuai dengan kebutuhan negara saat itu.
Kelebihan Sistem Ekonomi Komando
Kesenjangan Sosial Sangat Minim: Karena semua orang adalah pekerja negara dan digaji dengan standar yang diatur, ketimpangan ekstrem antara miliarder dan tuna wisma bisa ditekan seminimal mungkin.
Pemerintah Mudah Mengendalikan Krisis: Masalah ekonomi seperti inflasi, pengangguran, dan kelangkaan barang jarang terjadi karena semuanya sudah dihitung secara matematis oleh tim ahli pemerintah.
Fokus pada Kesejahteraan Publik: Proyek-proyek fasilitas umum seperti transportasi massal, sekolah, rumah sakit, dan perumahan rakyat diprioritaskan tanpa harus memikirkan apakah proyek tersebut menghasilkan untung atau tidak.
Industrialisasi Cepat: Jika pemerintah ingin membangun industri baja dalam waktu dua tahun, mereka bisa langsung menggerakkan seluruh sumber daya negara ke sana tanpa perlu birokrasi perizinan swasta yang rumit.
Kekurangan Sistem Ekonomi Komando
Mematikan Inovasi dan Kreativitas: Karena tidak ada insentif berupa keuntungan pribadi yang besar, masyarakat cenderung bekerja ala kadarnya. Tidak ada motivasi untuk menciptakan teknologi baru yang revolusioner.
Pasar Gelap (Black Market) Merajalela: Karena perencanaan pusat sering kali meleset dalam memprediksi kebutuhan riil rakyat, sering terjadi kelangkaan barang-barang tertentu (seperti sepatu, kosmetik, atau tisu toilet). Hal ini memicu munculnya pasar gelap dengan harga selangit.
Birokrasi yang Gemuk dan Korup: Keputusan ekonomi yang harus melewati ratusan meja pejabat membuat sistem ini menjadi sangat lamban dan rawan korupsi atau salah urus.
Hilangnya Kebebasan Individu: Warga negara tidak bebas memilih karier impian mereka atau membeli barang yang mereka sukai secara bebas karena keterbatasan pilihan yang disediakan negara.
Contoh Negara
Korea Utara adalah contoh paling murni yang masih tersisa saat ini. Di masa lalu, Uni Soviet dan negara-negara Blok Timur mempraktikkan sistem ini sebelum akhirnya runtuh pada awal tahun 1990-an. Kuba dan China juga sempat menerapkannya secara ketat sebelum akhirnya melakukan reformasi ekonomi.
4. Sistem Ekonomi Campuran (Mixed Economy)
Melihat dampak buruk yang ekstrem dari sistem pasar murni (kapitalisme liar) dan sistem komando murni (otoritarianisme ekonomi), banyak negara sadar bahwa tidak ada satu sistem ekstrem yang sempurna. Solusinya? Mengambil hal baik dari kedua sistem tersebut dan membuang hal buruknya. Lahirlah Sistem Ekonomi Campuran.
Dalam sistem ekonomi campuran, pihak swasta dan pemerintah saling bahu-mambahu. Sektor swasta diberikan kebebasan untuk mengelola bisnis dan berinovasi demi mencari keuntungan, namun pemerintah tetap mengawasi dan memegang kendali atas sektor-sektor krusial yang menyangkut hajat hidup orang banyak (seperti listrik, air, pertahanan, dan kesehatan).
Ciri-Ciri Sistem Ekonomi Campuran
Koeksistensi Sektor Publik dan Swasta: Di jalanan, Anda bisa melihat rumah sakit swasta mewah berdiri berdampingan dengan rumah sakit umum milik pemerintah. Keduanya melayani pasar yang sama dengan pendekatan berbeda.
Pemerintah Bertindak sebagai Regulator: Pemerintah membuat undang-undang anti-monopoli, menetapkan upah minimum regional (UMR), dan menetapkan batas harga tertinggi untuk barang pokok agar konsumen terlindungi.
Sistem Perpajakan yang Progresif: Swasta bebas mencari uang sebanyak-banyaknya, namun mereka yang berpenghasilan tinggi wajib membayar pajak lebih besar yang nantinya digunakan pemerintah untuk mensubsidi warga miskin.
Hak Milik Pribadi Diakui dengan Batasan: Anda boleh memiliki tanah dan rumah, namun jika pemerintah membutuhkan lahan tersebut untuk membangun jalan tol demi kepentingan umum, pemerintah berhak membelinya lewat mekanisme ganti rugi yang adil.
Kelebihan Sistem Ekonomi Campuran
Stabilitas Ekonomi Lebih Terjaga: Fluktuasi pasar yang liar bisa diredam oleh intervensi kebijakan moneter dan fiskal dari pemerintah.
Inovasi Tetap Berjalan Tanpa Mengorbankan Keadilan Sosial: Pengusaha tetap semangat berinovasi mencari profit, sementara rakyat kecil tetap mendapatkan jaring pengaman sosial dari negara (seperti bantuan sosial atau asuransi kesehatan gratis).
Mencegah Monopoli Swasta: Kehadiran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor vital memastikan swasta tidak bisa semena-mena mempermainkan harga kebutuhan pokok masyarakat.
Alokasi Sumber Daya Lebih Terarah: Perpaduan efisiensi swasta dan kepedulian sosial pemerintah membuat pemanfaatan sumber daya negara menjadi lebih seimbang.
Kekurangan Sistem Ekonomi Campuran
Tantangan Menemukan Keseimbangan yang Pas: Ini adalah kelemahan terbesar. Terlalu banyak campur tangan pemerintah akan membuat ekonomi mandek seperti sistem komando. Sebaliknya, terlalu sedikit campur tangan akan membuat kapitalisme liar merajalela. Negara harus terus-menerus "menyetel" kebijakan mereka.
Beban Pajak Tinggi: Untuk mendanai berbagai subsidi dan program kesejahteraan sosial bagi rakyat, pemerintah harus memungut pajak yang cukup tinggi dari sektor swasta dan pekerja terampil.
Potensi KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme): Kedekatan antara pejabat pemerintah yang memegang regulasi dan pengusaha swasta yang membutuhkan izin usaha rawan memicu praktik suap dan kongkalikong yang merugikan publik.
Contoh Negara
Mayoritas negara di dunia saat ini sebenarnya menganut sistem ekonomi campuran dalam spektrum yang berbeda-beda. Indonesia, Prancis, India, Malaysia, dan Mesir adalah contoh nyata dari penerapan sistem campuran ini.
5. Sistem Ekonomi Pancasila (Sistem Ekonomi Indonesia)
Sebagai warga negara Indonesia, kita wajib tahu bahwa negara kita tercinta memiliki identitas sistem ekonominya sendiri yang unik. Kita tidak menganut kapitalisme barat, tidak pula menganut sosialisme timur. Sistem kita didasarkan pada falsafah negara, yaitu Sistem Ekonomi Pancasila (sering juga disebut sebagai Sistem Ekonomi Kerakyatan).
Landasan hukum utama dari sistem ekonomi kita tercantum dalam UUD 1945 Pasal 33. Nilai utama yang diusung dalam sistem ini adalah keadilan sosial, gotong royong, dan kedaulatan rakyat.
Ciri-Ciri Utama Sistem Ekonomi Pancasila (Berdasarkan Pasal 33 UUD 1945)
Perekonomian Disusun sebagai Usaha Bersama Berdasar atas Asas Kekeluargaan: Sektor koperasi dipandang sebagai salah satu soko guru (tiang utama) perekonomian karena mencerminkan asas kekeluargaan dan gotong royong secara nyata.
Cabang-Cabang Produksi yang Penting bagi Negara dan Memenuhi Hajat Hidup Orang Banyak Dikuasai oleh Negara: Industri seperti minyak bumi, gas, listrik, dan air dikelola oleh BUMN (seperti Pertamina, PLN, dan PDAM) agar harganya tetap terjangkau oleh rakyat miskin.
Bumi, Air, dan Kekayaan Alam yang Terkandung di Dalamnya Dikuasai oleh Negara dan Dipergunakan untuk Sebesar-besar Kemakmuran Rakyat: Swasta boleh ikut mengelola sumber daya alam lewat sistem kontrak atau izin resmi, tetapi kepemilikan tertinggi dan pemanfaatannya harus kembali untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.
Ekonomi Berwawasan Lingkungan dan Berkelanjutan: Pembangunan ekonomi tidak boleh merusak lingkungan hidup demi generasi masa depan.
Kelebihan Sistem Ekonomi Pancasila
Berorientasi pada Kemanusiaan: Sistem ini menolak eksploitasi manusia oleh manusia lain (exploitation de l'homme par l'homme). Hak-hak pekerja sangat dilindungi oleh regulasi.
Mengutamakan Kepentingan Bersama: Konflik kepentingan antara pengusaha dan buruh selalu diupayakan selesai melalui jalan musyawarah untuk mencapai mufakat, bukan lewat demonstrasi yang merusak atau pemogokan massal yang berkepanjangan.
Pencegahan Eksploitasi Sumber Daya: Dengan adanya kontrol negara atas kekayaan alam, diharapkan tidak ada wilayah atau pulau di Indonesia yang dikuras habis kekayaannya oleh korporasi asing tanpa memberikan dampak positif bagi warga lokal.
Kekurangan/Tantangan Sistem Ekonomi Pancasila
Bahaya Sistem Free Fight Liberalism: Di lapangan, tantangan terbesarnya adalah menahan gempuran globalisasi yang memicu tumbuhnya kapitalisme gaya baru secara sembunyi-sembunyi di dalam negeri.
Ancaman Sistem Etatisme: Jika pemerintah terlalu dominan menguasai segalanya, aparatur negara dapat mematikan potensi, daya kreasi, dan inisiatif dari sektor swasta lokal.
Efisensi yang Sering Kali Rendah pada BUMN: Beberapa perusahaan negara terkadang menderita kerugian akibat salah urus atau penempatan pejabat yang tidak kompeten (nepotisme), sehingga malah membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Tabel Perbandingan Cepat Antar-Sistem Ekonomi
Untuk mempermudah Anda dalam memahami perbedaan mendasar dari kelima sistem ekonomi di atas secara kilat, berikut adalah tabel rangkumannya:
| Karakteristik | Tradisional | Pasar (Kapitalis) | Komando (Sosialis) | Campuran | Pancasila |
| Penentu Keputusan | Adat & Tradisi | Pihak Swasta/Pasar | Pemerintah Pusat | Swasta & Pemerintah | Pemerintah, Swasta, & Koperasi |
| Kepemilikan Modal | Milik Komunal/Alam | Mutlak Milik Pribadi | Mutlak Milik Negara | Campuran | Negara & Individu dibatasi |
| Tujuan Utama | Bertahan hidup | Profit Maksimal | Pemerataan Sosial | Efisiensi & Keadilan | Kemakmuran Rakyat Bersama |
| Sistem Harga | Barter / Kesepakatan | Mekanisme Pasar | Diatur Pemerintah | Pasar dengan Batasan | Pasar dengan Regulasi Negara |
| Persaingan | Hampir tidak ada | Sangat bebas & ketat | Ditiadakan | Sehat & Diawasi | Berasaskan Kekeluargaan |
Setelah membaca penjelasan panjang lebar di atas, satu pertanyaan mendasar pasti muncul di benak Anda: Dari kelima sistem ini, mana yang paling bagus dan terbaik untuk sebuah negara?
Jawabannya adalah: Tidak ada satu pun sistem ekonomi yang mutlak terbaik untuk semua negara.
Sebuah sistem ekonomi dinilai "terbaik" jika sistem tersebut mampu menjawab tantangan riil yang dihadapi oleh negara yang bersangkutan pada masa tertentu.
Negara dengan budaya individualis yang kuat dan menjunjung tinggi kebebasan personal seperti Amerika Serikat tentu akan merasa terkekang jika dipaksa menganut sistem komando.
Sebaliknya, negara yang mengutamakan kolektivitas dan kesetaraan ekstrem mungkin akan melihat kapitalisme sebagai sebuah kekejaman terstruktur.
Dunia hari ini pun terus berevolusi. China, yang dahulu merupakan penganut sosialis komando murni di era Mao Zedong, kini telah bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi raksasa dunia dengan mengadopsi elemen pasar bebas ke dalam sistem komandonya (sering disebut Socialism with Chinese Characteristics). Sebaliknya, Amerika Serikat yang dikenal sebagai garda terdepan kapitalisme kerap kali mengucurkan dana subsidi triliunan dolar (intervensi pemerintah) ketika bank-bank besar mereka terancam kolaps.
Pada akhirnya, keberhasilan suatu sistem ekonomi tidak hanya dinilai dari megahnya gedung pencakar langit di ibu kota atau tingginya angka Produk Domestik Bruto (PDB), melainkan dari seberapa sejahtera, aman, sehat, dan berpendidikannya masyarakat yang hidup di dalam sistem tersebut.
