Laut Tengah: Pengertian Jenis Laut Berdasarkan Letaknya

Table of Contents

Laut Tengah: Pengertian Jenis Laut Berdasarkan Letaknya

Laut adalah perairan asin yang luas yang memisahkan sekaligus menghubungkan benua dan pulau, serta merupakan bagian tepi dari samudra. Perairan laut menutupi sekitar 70 persen permukaan bumi, sehingga pemahaman tentang jenis-jenis laut menjadi dasar dalam ilmu geografi dan oseanografi.

Para ahli mengklasifikasikan laut berdasarkan beberapa kriteria, yaitu proses terjadinya (laut transgresi dan laut ingresi), kedalaman perairan (zona litoral, neritik, batial, dan abisal), serta letak geografisnya. Berdasarkan letaknya, laut dibedakan menjadi tiga golongan besar: laut tepi, laut tengah atau laut pertengahan, dan laut pedalaman. Dari ketiga golongan itu, tipe laut tengah menempati pembahasan tersendiri karena karakteristiknya yang khas dan karena namanya diabadikan dari salah satu laut paling terkenal di dunia, yaitu Laut Tengah atau Laut Mediterania.

Laut tepi, dalam bahasa Inggris disebut marginal sea, adalah laut yang terletak di tepi atau pinggir sebuah benua dan berhubungan cukup bebas dengan samudra, meskipun sering kali dipisahkan oleh gugusan pulau atau jazirah. Contohnya adalah Laut Cina Selatan, Laut Jepang, Laut Jawa, Laut Arab, dan Laut Andaman. Karena terletak di landas kontinen yang dangkal, laut tepi umumnya dipengaruhi langsung oleh pasang surut dan arus samudra.

laut-tengah

Berbeda dengan laut tepi, laut pedalaman atau inland sea terletak jauh menjorok ke dalam daratan benua dan hampir seluruhnya dikelilingi oleh daratan, sehingga hubungannya dengan samudra sangat terbatas. Contohnya adalah Laut Baltik dan Laut Hitam. Adapun perairan yang sama sekali tertutup daratan dan tidak memiliki hubungan dengan samudra, seperti Laut Kaspia dan Laut Mati, oleh sebagian ahli justru digolongkan sebagai danau asin tertutup karena secara hidrologis tidak mengalami pertukaran air dengan laut lain.

Adapun yang dimaksud dengan laut tengah atau laut pertengahan — dalam literatur oseanografi disebut intercontinental sea atau mediterranean sea — adalah laut yang terletak di antara dua benua atau lebih, hampir tertutup oleh daratan, dan hanya berhubungan dengan samudra melalui satu atau beberapa selat sempit. Kata “mediterania” sendiri berasal dari bahasa Latin mediterraneus, yang bermakna “di tengah daratan” (medius = tengah, terra = tanah atau daratan). Bangsa Romawi kuno bahkan menyebut perairan ini Mare Nostrum, “laut milik kita”, karena posisinya yang berada di jantung wilayah kekuasaan mereka. Jadi, istilah “laut tengah” memiliki dua makna sekaligus: sebagai nama diri sebuah perairan (Laut Tengah atau Mediterania) dan sebagai nama jenis atau tipe laut berdasarkan letaknya.

Sebagai tipe, laut tengah memiliki sejumlah ciri khas. Pertama, letaknya di antara benua sehingga cekungannya relatif dalam dan terpisah dari cekungan samudra utama. Kedua, karena hampir tertutup daratan, pertukaran massa air dengan samudra berlangsung lambat dan terbatas, sehingga masa tinggal (residence time) air di dalam cekungan bisa mencapai puluhan hingga ratusan tahun. Ketiga, penguapan yang tinggi sering kali melebihi curah hujan dan masukan air sungai, menghasilkan salinitas yang lebih tinggi daripada samudra terbuka. Keempat, secara geologis banyak laut tengah merupakan sisa dari samudra purba yang menyusut akibat pergerakan lempeng tektonik, sehingga wilayahnya rawan gempa bumi dan aktivitas gunung api.

Laut Tengah atau Mediterania merupakan contoh paling khas dari tipe ini. Perairan ini terletak di antara Benua Eropa di sebelah utara, Benua Afrika di sebelah selatan, dan Benua Asia di sebelah timur, dengan luas permukaan sekitar 2,5 juta kilometer persegi. Kedalaman rata-ratanya mencapai sekitar 1.500 meter, sedangkan titik terdalamnya, Calypso Deep di Laut Ionia sebelah selatan Yunani, menembus kedalaman lebih dari 5.100 meter. Secara garis besar, Laut Tengah terbagi menjadi dua cekungan utama, yaitu Cekungan Barat dan Cekungan Timur, yang dipisahkan oleh batas bawah laut antara Pulau Sisilia dan Tunisia. Sekitar 21 negara berpantai di sepanjang pesisirnya, menjadikannya salah satu perairan paling padat penduduk dan paling sibuk di dunia.

Hubungan Laut Tengah dengan perairan lain sangat khas. Di sebelah barat, ia terhubung dengan Samudra Atlantik melalui Selat Gibraltar yang sangat sempit, dengan lebar hanya sekitar 13 kilometer dan ambang batas dangkal di kedalaman sekitar 300 meter. Di sebelah timur laut, ia berhubungan dengan Laut Hitam melalui rangkaian Selat Dardanella, Laut Marmara, dan Selat Bosporus yang dikenal sebagai Selat Turki. Sementara itu, Terusan Suez yang dibuka pada tahun 1869 menghubungkan Laut Tengah dengan Laut Merah dan Samudra Hindia, meskipun berupa saluran buatan.

Keterbatasan hubungan dengan samudra ini membentuk pola sirkulasi yang khas. Karena penguapan di Laut Tengah sangat tinggi dan hanya sedikit sungai besar yang memasok air tawar (di antaranya Sungai Nil, Po, Rhône, dan Ebro), air di cekungan ini menjadi lebih asin, dengan salinitas permukaan mencapai sekitar 38 hingga hampir 40 per mil. Akibatnya, terjadi sirkulasi anti-estuarin di Selat Gibraltar: air Atlantik yang lebih tawar dan lebih ringan masuk ke permukaan Laut Tengah, sedangkan air Mediterania yang lebih asin dan lebih padat mengalir keluar ke arah Atlantik pada lapisan dalam. Air dalam yang dingin dan padat ini terbentuk terutama pada musim dingin di beberapa lokasi seperti Laut Liguria, Laut Adriatik, dan Laut Aegea, lalu mengisi dasar cekungan dan membuat perairan ini menjadi salah satu laboratorium alami untuk mempelajari perubahan iklim global.

Secara geologis, Laut Tengah adalah sisa dari Samudra Tethys yang luasnya menyusut akibat Lempeng Afrika bergerak ke utara menabrak Lempeng Eurasia. Proses ini menjadikan wilayahnya salah satu yang paling aktif secara tektonik di dunia, dengan rangkaian gunung api aktif seperti Vesuvius, Etna, dan Santorini, serta sering terjadinya gempa bumi dan tsunami. Dari sisi ekologi, Laut Tengah merupakan kawasan hotspot keanekaragaman hayati dengan banyak spesies endemik, meskipun saat ini menghadapi tekanan berat dari penangkapan ikan berlebihan, pencemaran, pariwisata masif, perubahan iklim, dan masuknya spesies asing dari Laut Merah melalui Terusan Suez yang dikenal sebagai migrasi Lessepsia.

Selain Mediterania, terdapat sejumlah perairan lain yang tergolong tipe laut tengah. Laut Merah, yang terletak di antara Benua Asia dan Afrika, adalah contoh laut tengah yang masih dalam tahap pembentukan akibat pemekaran benua, dengan salinitas termasuk yang tertinggi di dunia. Laut Karibia di antara Amerika Utara dan Amerika Selatan juga digolongkan sebagai laut tengah karena cekungannya yang dalam dan hampir tertutup daratan serta gugusan kepulauan. Bahkan, di perairan Indonesia bagian tengah, yaitu Laut Banda, Laut Sulawesi, Laut Maluku, dan Laut Flores, para ahli oseanografi sering menyebutnya sebagai “laut-laut mediterania Indonesia” karena cekungannya yang dalam dan hampir tertutup oleh gugusan kepulauan Nusantara, meskipun secara geografis terletak di antara pulau-pulau, bukan benua.

Dengan demikian, klasifikasi laut berdasarkan letak bukan sekadar pengelompokan administratif, melainkan mencerminkan perbedaan mendasar dalam struktur cekungan, sirkulasi air, salinitas, geologi, dan ekologi. Tipe laut tengah, yang diwakili paling sempurna oleh Laut Tengah atau Mediterania, dicirikan oleh posisinya di antara benua, keterbatasan hubungan dengan samudra, salinitas yang tinggi, dan sejarah geologis yang panjang. Memahami ciri-ciri ini penting tidak hanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk pengelolaan sumber daya kelautan, mitigasi bencana tektonik, dan pelestarian ekosistem pesisir di masa depan.

Daftar Referensi

  • Encyclopaedia Britannica. Mediterranean Sea.
  • UNEP/MAP. 2023. Mediterranean Quality Status Report 2023 — The Mediterranean Sea: Environmental Characteristics. Plan Bleu/RAC/SPA.
  • Nontji, A. 1987. Kepulauan Indonesia: Tinjauan Oseanografi. Jakarta: LIPI Press.
  • Romimohtarto, K. dan Sukarni, S. N. 1991. Pengantar Oseanografi. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
  • Wyrtki, K. 1961. Physical Oceanography of the Southeast Asian Waters (Naga Report Vol. 2). La Jolla: Scripps Institution of Oceanography, University of California.