Laut Transgresi: Jejak Kenaikan Muka Laut yang Membentuk Gugusan Nusantara

Table of Contents

Laut Transgresi: Jejak Kenaikan Muka Laut yang Membentuk Gugusan Nusantara

Di dalam ilmu geografi dan oseanografi, laut dapat diklasifikasikan berdasarkan proses terbentuknya. Salah satu jenis yang paling penting dan paling erat kaitannya dengan sejarah terbentuknya wilayah perairan Indonesia adalah laut transgresi. Istilah ini merujuk pada laut dangkal yang terbentuk ketika permukaan air laut naik (berlangsungnya marine transgression) sehingga menggenangi daratan rendah yang sebelumnya kering. Untuk memahaminya secara utuh, kita perlu menoleh pada peristiwa perubahan muka laut pada akhir Zaman Es dan bukti-bukti geologi yang mendukungnya.

Pengertian Laut Transgresi dan Perbedaan dengan Jenis Laut Lain

Secara sederhana, transgresi adalah peristiwa majunya garis pantai ke arah daratan akibat kenaikan permukaan laut relatif terhadap daratan. Sebaliknya, regresi adalah surutnya permukaan laut sehingga garis pantai bergeser ke arah laut. Sementara itu, laut ingresi terbentuk karena dasar laut mengalami penurunan akibat proses tektonik, sehingga menghasilkan perairan yang dalam. Dengan demikian, laut transgresi identik dengan perairan dangkal yang dahulunya merupakan daratan, umumnya terletak di paparan benua (continental shelf) dengan kedalaman kurang dari 200 meter.

Laut Transgresi

Di Indonesia, klasifikasi ini diajarkan dalam modul geografi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, yang menyebutkan bahwa pada akhir zaman es terjadi kenaikan permukaan air laut yang menggenangi dataran rendah dan mengubahnya menjadi laut dangkal. Contoh laut transgresi yang paling dikenal adalah Laut Jawa, Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Karimata, bagian selatan Laut Cina Selatan, dan Laut Arafuru. Adapun contoh laut ingresi yang dalam adalah Laut Banda, Laut Sulawesi, dan Laut Flores, yang terbentuk akibat penurunan dasar laut oleh tenaga tektonik.

Penyebab Terbentuknya Laut Transgresi: Pencairan Es Akhir Zaman Es

Laut transgresi di wilayah Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sejarah glasial-interglasial pada Kuarter. Pada masa puncak glasial terakhir (Last Glacial Maximum, LGM) sekitar 20.500 tahun yang lalu, sebagian besar air bumi terperangkap dalam lapisan es di benua, sehingga permukaan laut turun hingga sekitar 118–120 meter di bawah permukaan laut saat ini. Akibatnya, paparan benua yang dangkal muncul menjadi daratan luas. Di wilayah barat Indonesia, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya menyatu menjadi daratan raksasa yang dikenal sebagai Sundaland atau Paparan Sunda. Di bagian timur, Paparan Sahul menghubungkan Papua dan benua Australia.

Ketika iklim menghangat pada akhir Pleistosen dan memasuki Holosen, lapisan es mencair secara besar-besaran dan airnya kembali ke laut. Kenaikan muka laut tidak berlangsung lambat secara terus-menerus, melainkan dalam beberapa puluhan cepat yang disebut meltwater pulse. Berdasarkan tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam Indonesian Journal on Geoscience, setelah titik terendah pada LGM, muka laut naik menjadi sekitar –80 meter pada 14.000 tahun lalu, kemudian sekitar –50 meter pada 11.500 tahun lalu, dan sekitar –30 meter pada awal Holosen sekitar 9.700 tahun lalu. Pada pertengahan Holosen, sekitar 4.000 tahun lalu, muka laut bahkan mencapai sekitar 5 meter lebih tinggi daripada kondisi sekarang, sebelum akhirnya turun perlahan ke posisi saat ini. Secara keseluruhan, fluktuasi muka laut pada periode itu mencapai lebih dari 120 meter.

Kenaikan itulah yang secara bertahap menenggelamkan Paparan Sunda dan Paparan Sahul. Proses banjirnya Paparan Sunda berlangsung cukup cepat; penelitian yang dimuat dalam jurnal Science bahkan menyebutnya sebagai “rapid flooding of the Sunda Shelf”. Selat Malaka terbentuk setelah lembah rendah di antara Sumatera dan Semenanjung Malaya terendam, sedangkan bukti dari inti sedimen menunjukkan bahwa Selat Sunda terbuka sepenuhnya sekitar 10.000 tahun yang lalu, sehingga menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Jawa.

Bukti Ilmiah yang Menguatkan

Bahwa laut-laut tersebut dahulunya adalah daratan bukanlah sekadar dugaan. Bukti utamanya adalah kedalaman perairan yang sangat dangkal. Laut Jawa, misalnya, memiliki kedalaman rata-rata hanya puluhan meter, jauh di bawah 200 meter. Data batimetri modern juga memperlihatkan jejak sistem sungai purba yang terendam (drowned river system) di dasar Laut Jawa dan Selat Malaka. Konsep sungai purba ini bahkan telah dikenali sejak lama oleh ahli geologi Belanda G. A. F. Molengraaff pada awal abad ke-20, yang menggambarkan “Sungai Molengraaff” yang dahulu mengalir di atas Paparan Sunda.

Bukti lain berasal dari inti sedimen dasar laut, terumbu karang purba, dan fosil fauna darat. Penelitian di Selat Malaka yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada 1979 telah merekonstruksi perubahan muka laut sejak akhir Pleistosen, sementara peta-peta transgresi Holosen di Paparan Sunda yang disusun oleh peneliti biogeografi memperlihatkan secara bertahap bagaimana daratan berubah menjadi lautan. Klasik rujukan seperti The Geology of Indonesia karya R. W. van Bemmelen dan Marine Geology karya P. H. Kuenen juga telah lama menjelaskan bahwa perairan dangkal Nusantara merupakan bekas paparan benua yang terendam.

Dampak dan Relevansi di Masa Kini

Transgresi pada akhir Zaman Es memiliki dampak besar terhadap wajah Nusantara. Daratan Sundaland yang luas terpecah menjadi pulau-pulau, sehingga memisahkan populasi flora dan fauna dan membentuk pola persebaran hayati yang kita kenal sekarang. Perairan dangkal yang terbentuk menjadi kawasan kaya sumber daya ikan, sementara selat-selat seperti Malaka dan Sunda menjadi jalur pelayaran strategis yang menghubungkan samudra.

Namun, sejarah transgresi juga memberikan pelajaran penting. Saat ini, akibat pemanasan global dan pencairan es, permukaan laut kembali naik—meskipun dalam skala yang jauh lebih kecil dan cepat—sehingga menimbulkan genangan rob, abrasi, dan ancaman bagi kota-kota pesisir seperti Jakarta. Memahami bahwa laut-laut dangkal di sekitar kita pernah menjadi daratan mengingatkan kita bahwa garis pantai bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan batas yang selalu berubah seiring perubahan muka laut.

Laut transgresi adalah laut dangkal yang terbentuk karena kenaikan permukaan air laut yang menggenangi daratan rendah pada akhir Zaman Es, sekitar 20.000 hingga 6.000 tahun yang lalu. Di Indonesia, peristiwa ini menenggelamkan Paparan Sunda dan Paparan Sahul sehingga membentuk Laut Jawa, Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Karimata, Laut Cina Selatan bagian selatan, dan Laut Arafuru. Bukti batimetri, sistem sungai purba terendam, inti sedimen, dan terumbu karang mendukung penjelasan ini. Dengan kedalaman umumnya kurang dari 200 meter, laut transgresi merupakan jejak geologis yang nyata dari perubahan muka laut dan sekaligus pengingat akan dinamika wilayah pesisir yang terus berubah.

Daftar Referensi

  • Solihuddin, T. (2014). A Drowning Sunda Shelf Model during Last Glacial Maximum (LGM) and Holocene: A Review. Indonesian Journal on Geoscience, 1(2), 99–107. 
  • Hanebuth, T., Stattegger, K., & Grootes, P. M. (2000). Rapid Flooding of the Sunda Shelf: A Late-Glacial Sea-Level Record. Science, 288(5468), 1033–1035.
  • Geyh, M. A., Kudrass, H. R., & Streif, H. (1979). Sea Level Changes during the Late Pleistocene and Holocene in the Strait of Malacca. Nature, 278, 441–443.
  • Setiawan, I., et al. (2015). The consequences of opening the Sunda Strait on the hydrography of the eastern tropical Indian Ocean. Paleoceanography, AGU/Wiley. https://doi.org/10.1002/2015PA002802
  • Voris, H. K. (2000). Maps of Pleistocene sea levels in Southeast Asia: shorelines, river systems and time durations. Journal of Biogeography, 27, 1153–1167.
  • Sathiamurthy, E. & Voris, H. K. (2006). Maps of Holocene sea level transgression and submerged lakes on the Sunda Shelf. The Natural History Journal of Chulalongkorn University, Supplement 2, 1–43.
  • Van Bemmelen, R. W. (1949). The Geology of Indonesia, Vol. 1A. Government Printing Office, The Hague.
  • Kuenen, P. H. (1950). Marine Geology. John Wiley & Sons, New York.
  • Molengraaff, G. A. F. & Weber, M. (1921). On the relation between the Pleistocene glacial period and the origin of the Sunda Sea (Java and South China Sea). Proceedings of the Section of Sciences, 23, 395–439.