Gun: Tokoh Mitologi dan Upaya Pengendalian Banjir Besar Tiongkok
Gun, yang juga dikenal sebagai Pangeran dari Chong (Chongbo Gun), adalah sosok penting dalam mitologi Tiongkok. Ia sering dicatat sebagai ayah dari Yu yang Agung, pendiri Dinasti Xia. Atas saran dari Empat Gunung, Kaisar Yao menunjuk Gun untuk mengemban tugas mengendalikan Banjir Besar. Dalam upayanya menghentikan banjir, Gun membangun tanggul-tanggul raksasa, namun tanggul tersebut runtuh dan menyebabkan banyak korban jiwa.
Gun Dalam Mitologi
Menurut catatan Shiji (Catatan Sejarah Agung) karya Sima Qian, ayah Gun adalah Zhuanxu, kakeknya adalah Changyi, dan buyutnya adalah Kaisar Kuning. Namun, dalam silsilah ini, Changyi dan Gun hanyalah pejabat biasa dan bukan kaisar. Sementara itu, Kitab Han yang mengutip Silsilah Kekaisaran Tuan Yu menyatakan bahwa Gun adalah keturunan generasi kelima dari Zhuanxu. Sumber lain, Shan Hai Jing (Klasik Gunung dan Lautan), menyebutkan bahwa Gun (yang juga dikenal sebagai "Kuda Putih" atau Báimǎ) adalah putra dari Luoming, yang merupakan putra dari Kaisar Kuning. Dalam banyak versi mitologi, Gun digambarkan sebagai makhluk setengah dewa yang bahkan berhasil menemukan beberapa rahasia para dewa.
Demi membangun tanggul yang mampu menahan banjir, Gun mencuri Xirang (tanah ajaib yang bisa tumbuh sendiri) milik para dewa. Setelah tanggul selesai dibangun, tanah ajaib tersebut akan ikut meninggi secara otomatis mengikuti kenaikan permukaan air untuk menghalau banjir. Awalnya metode ini berhasil dengan sangat baik, tetapi ketika tanggul tersebut tumbuh terlalu tinggi (dalam legenda disebutkan mencapai sembilan ren atau sekitar 1 hingga 3 meter menurut ukuran kuno), tanggul itu runtuh. Akibatnya, banjir besar yang menyusul menyebabkan kematian banyak orang.
Beberapa legenda menyebutkan bahwa Gun dieksekusi oleh Kaisar Shun di Gunung Bulu (sekarang Lianyungang, Jiangsu) menggunakan pedang Wu. Namun, sumber lain menyatakan bahwa ia melakukan bunuh diri dengan melompat ke dalam jurang, lalu berubah wujud menjadi hewan dan menjadi dewa jurang tersebut. Sebelum wafat, ia berpesan kepada putranya, Yu yang Agung, untuk menyelesaikan tugasnya mengendalikan banjir.
Shan Hai Jing juga mencatat bahwa Gun memiliki hubungan keluarga dengan Huantou (Si Kepala Bahagia), yang juga dikenal sebagai Huandou, salah satu dari Empat Penjahat. Selain itu, Zhang Shoujie dalam karyanya Shiji Zhengyi mengidentifikasi Gun sebagai Taowu, yang juga merupakan salah satu dari empat penjahat tersebut.
Dalam Kitab Ritual, tercatat bahwa Dinasti Xia memberikan pengurbanan jiao kepada Gun sebagai sosok yang menerima Mandat Langit dan menurunkannya kepada Yu yang Agung. Hal ini berbeda dengan Dinasti Shang yang memberikan pengurbanan kepada Ming, kaum Youyu-shi kepada Kaisar Ku, dan Dinasti Zhou kepada Houji.
Etimologi dan Identitas
Menurut pakar linguistik Schuessler (2009), kata Gun (bahasa Mandarin standar) secara etimologis sama dengan kata Kun, yaitu ikan raksasa mitologis yang disebutkan dalam kitab Zhuangzi.
Kitab Taiping Yulan mengutip "Catatan Kondisi Alam dan Adat Istiadat" (Fengtu Ji) yang menyebutkan bahwa Kun secara kolokial dikenal sebagai haiqiu (secara harfiah berarti "ikan loach laut"). Istilah ini kemudian diidentifikasi sebagai jingni (paus jantan dan betina) oleh Kaisar Yuan dari Liang dalam risalahnya, Jinlouzi.
Dalam risalah "Komentar atas Berbagai Makhluk Laut di Fujian" (Minzhong Haicuo Shu), sarjana era Dinasti Ming bernama Tu Benjun menyatakan bahwa ikan tenggiri Tiongkok (majiāo) juga disebut sebagai zhanggǔn. Sementara itu, Wolfram Eberhard (1968) berpendapat bahwa deskripsi dalam teks-teks Tiongkok yang menyebut Gun sebagai "si telanjang" dan "ikan gelap" (xuan yu) lebih merujuk pada karakteristik ikan sidat (belut).
