Bukit Tara: Kursi Raja-Raja Tinggi Irlandia dan Pusat Sejarah Kuno
Bukit Tara adalah sebuah situs kuno dari Zaman Neolitikum yang terletak di County Meath, Irlandia. Tempat ini dikenal sebagai takhta bagi para Raja Tinggi Irlandia, lokasi penobatan, tempat berkumpul untuk menetapkan serta membacakan hukum, sekaligus pusat festival keagamaan.
Monumen tertua di situs ini adalah Mound of the Hostages (Gundukan Sandera), sebuah makam lorong Neolitikum yang berasal dari sekitar tahun 3000 SM. Benteng cincin dan bukti struktur lainnya, seperti Aula Perjamuan, berasal dari periode yang lebih baru. Di buit ini juga masih berdiri Lia Fáil (Batu Takdir), batu suci yang digunakan dalam pelantikan raja-raja kuno. Selain itu, situs ini erat kaitannya dengan Tuatha Dé Danann, bangsa pra-Keltik di Irlandia, serta elemen mistis yang mereka wakili.
Perayaan besar (sabbat) di Irlandia pagan diumumkan melalui api unggun di atas bukit ini. Dengan ketinggian 197 meter (646 kaki), api tersebut dapat terlihat dari jarak bermil-mil ke segala arah. Konon, Santo Patrisius mengumumkan kedatangan Kristen di Irlandia dengan menyalakan api unggun besar di Bukit Slane yang berseberangan dengan Tara, sebelum ia pergi berkhotbah di hadapan Raja Laoghaire pada tahun 432/433 M. Nama Tara berasal dari bahasa Gaelik Cnoc na Teamhrach, yang sering diterjemahkan sebagai "tempat dengan pemandangan indah", meski ada pula yang berpendapat nama itu berasal dari perubahan kata Tea-Mur atau Teamhair, tempat pemakaman ratu kuno bernama Tea.
Tara dalam Legenda
Bukit Tara memegang peranan kunci dalam karya abad ke-11/12 M berjudul The Book of Invasions. Saat ini, buku tersebut dianggap sebagai konstruksi mitis sejarah awal Irlandia oleh para juru tulis Kristen yang mencoba menghubungkan masa lalu Irlandia dengan narasi Alkitab serta sejarah Yunani dan Romawi. Buku ini mengisahkan kolonisasi awal oleh keturunan Nuh, diikuti serangkaian invasi hingga puncaknya pada kedatangan bangsa Milesia dari Spanyol. Meski sekarang dianggap sebagai cerita rakyat dan mitos, karya ini dipahami sebagai sejarah oleh masyarakat pada masa itu dan selama berabad-abad setelahnya.
Bangsa Milesia berhasil mengalahkan kelompok yang dikenal sebagai Tuatha Dé Danann (anak-anak dewi Dana). Menurut salah satu versi legenda dalam Book of Leinster, penyair sekaligus hakim Milesia, Amergin, diberi tugas untuk memutuskan pembagian wilayah bagi kedua bangsa tersebut.
Ia membagi Irlandia menjadi dua: memberikan wilayah atas tanah kepada bangsanya sendiri, dan memberikan seluruh wilayah bawah tanah kepada Tuatha Dé Danann. Legenda inilah yang menjelaskan asal-usul "kaum peri" (fairy folk) Irlandia yang tinggal di gua, lubang bawah tanah, serta celah-celah bebatuan.
Dua bersaudara Milesia, pemimpin bangsa mereka, membagi daratan di mana Eremon mengambil bagian utara dan Eber mengambil bagian selatan. Setelah tanah terbagi, mereka membagi pasukan, pengrajin, juru masak, hingga seniman secara merata. Pada akhirnya, hanya tersisa dua orang: seorang pemain harpa dan seorang penyair. Penulis Seumas MacManus menceritakan kelanjutannya: melalui undian, pemain harpa jatuh ke tangan Eremon dan penyair ke tangan Eber. Inilah yang menjelaskan mengapa Irlandia Utara terkenal dengan musiknya, sedangkan Irlandia Selatan terkenal dengan lagunya. Kedua bersaudara itu pun hidup dalam perdamaian yang lama.
Batu Takdir dan Konflik di Bukit Tara
Perdamaian tersebut pecah karena Bukit Tara. Istri Eber meminta agar ia memiliki tiga bukit terindah di Irlandia, terutama bukit yang paling indah dan berpemandangan elok: Tara. Namun, Tara milik Eremon di utara. Ketika istri Eremon (Tea) mendengar permintaan itu, ia marah karena merasa istri Eber tidak puas dengan wilayahnya sendiri. Perselisihan keduanya menyeret suami mereka ke dalam peperangan. Tea akhirnya meninggal dan dimakamkan di Tara, sehingga bukit itu dinamai menurut namanya (Teamhair = Bukit Tara). Eber kalah, dan Eremon, yang kini menjadi penguasa tunggal Irlandia, dinobatkan di Tara. Peristiwa ini menandai dimulainya tradisi penobatan Raja Tinggi Irlandia di situs tersebut.
Tara dan Cormac MacArt
Versi lain dari sejarah Tara menyebutkan bahwa bangsa Fir Bolg, yang mendiami Irlandia sebelum invasi Tuatha Dé Danann, adalah yang pertama membangun struktur di Tara dan melantik raja di sana. Ritual bangsa Fir Bolg kemudian digantikan oleh Tuatha Dé Danann dan selanjutnya oleh bangsa Milesia, namun pentingnya situs ini tidak pernah pudar. Sebuah aula perjamuan besar dibangun untuk pesta, lengkap dengan rumah-rumah bagi para pembesar, kediaman bagi para wanita, ruang pertemuan, dan benteng cincin.
Penempatan bangunan-bangunan ini sangat memperhatikan keselarasan astronomi dan arah matahari. Mound of the Hostages yang berasal dari zaman Neolitikum dirancang sedemikian rupa sehingga pada dua festival penting (sabbat), yaitu Imbolc (Februari) dan Samhain (akhir Oktober), sinar matahari pagi menyinari lorong makam yang biasanya gelap. Gundukan ini dinamakan "Gundukan Sandera" karena merupakan tempat pertukaran sandera antara raja dan pejabat tinggi.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya situs ini di masa kuno, karena pertukaran sandera biasanya dilakukan di lokasi yang dianggap aman oleh kedua belah pihak. Raja dianggap sebagai sosok ayah yang bijaksana bagi rakyatnya, yang secara teori bekerja demi kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Raja-raja Tinggi Irlandia dipilih melalui sistem rotasi di antara para kepala suku; mereka tidak naik takhta melalui hak ilahi atau keturunan, dan penobatan mereka di Tara dirayakan dengan festival besar. Menurut legenda, Batu Takdir akan berteriak saat raja yang sah terpilih. Dua batu berdiri juga dikatakan akan bergeser memberikan jalan jika calon raja yang memacu kudanya di antara kedua batu tersebut dianggap layak untuk memerintah.
Raja yang dianggap paling layak adalah Cormac MacArt (sekitar abad ke-3 M), di mana di bawah pemerintahannya Tara mencapai masa kejayaan. Meski banyak mitos menyelimuti masa kekuasaannya, para ahli meyakini bahwa ia benar-benar ada. Ia disebut sebagai putra atau cucu dari pahlawan besar Conn dari Seratus Pertempuran dan selalu digambarkan sebagai pemberi hukum serta pelindung rakyat yang sangat dihormati.
Hukum Brehon yang terkenal, yang dianggap sebagai salah satu kode hukum paling adil yang pernah ditulis, dikaitkan dengan Cormac MacArt. Hak-hak perempuan dilindungi dan, berbeda dengan budaya lain di abad ke-3 M, perempuan di sana dapat menjalankan profesi apa pun dan dianggap sebagai mitra bagi suami mereka dalam pernikahan, bukan sebagai properti.
Meskipun tidak diketahui pasti apakah bangsa Fir Bolg memiliki aula perjamuan di zaman mereka, tercatat bahwa Cormac MacArt membangun aula megah dengan 14 pintu masuk, panjang 231 meter (760 kaki) dan tinggi 13 meter (45 kaki). Ia juga diyakini membangun istana di Tara serta sejumlah struktur dan monumen lainnya. Garis luar dari apa yang mungkin merupakan bangunan panjang masih dapat dilihat di Tara saat ini, meskipun status aslinya sebagai aula perjamuan masih diperdebatkan.
Masih banyak yang perlu diekskavasi di Tara, dan ada kemungkinan bahwa catatan penulis kuno akan terbukti benar di masa depan. MacManus mengutip Book of Ballymote dari abad ke-14 M yang menggambarkan Cormac MacArt sebagai "raja yang mulia dan termasyhur" di mana pada zamannya "tidak ada luka maupun perampokan... tetapi setiap orang menikmati miliknya dalam damai." Penulis T.W. Rolleston menambahkan tentang kemegahan bangunan Cormac: ia memperkuat benteng Tara, memperbesar aula perjamuan dengan pilar aras berhias perunggu, dan menghiasi dinding putihnya dengan pola merah dan biru.
Cormac MacArt dianggap sebagai raja pagan agung yang, menjelang akhir hayatnya, masuk Kristen. Terlepas dari kebenaran sejarah konversinya, kisah tersebut sejalan dengan pola Kristenisasi pahlawan dan ritual pagan yang menjadi umum di Irlandia setelah kedatangan Santo Patrisius.
Santo Patrisius dan Tara
Santo Patrisius diyakini tiba di Irlandia sebagai misionaris pada tahun 432/433 M. Sebagai warga negara Romawi yang pernah ditangkap dan dijual sebagai budak di Irlandia bertahun-tahun sebelumnya, ia berhasil melarikan diri dan kembali ke Britania. Di sana ia belajar menjadi imam dan kembali ke Irlandia untuk menyebarkan agamanya.
Menurut legenda, pada tahun 433 M, Raja Tinggi Laoghaire melarang penyalaan api pada malam menjelang festival pagan Ostara, saat api unggun besar akan dinyalakan di Bukit Tara. Karena festival ini bertepatan dengan perayaan Paskah, Patrisius justru menyalakan apinya sendiri di Bukit Slane. Api tersebut berkobar sangat terang hingga terlihat oleh raja, yang kemudian mengirim prajurit untuk menangkap pelakunya.
Patrisius dan pengikutnya berhasil lolos melalui mukjizat yang membuat mereka tampak seperti sekawanan rusa hingga tiba di Tara. Di sana, Patrisius mengalahkan para Druid (pendeta pagan) raja dalam debat dan berkhotbah di hadapan sang raja. Sementara itu, prajurit melaporkan bahwa api Patrisius tidak bisa dipadamkan. Sejumlah anggota istana akhirnya masuk Kristen, dan meski raja sendiri menolak iman baru tersebut, ia cukup terkesan sehingga mengizinkan Patrisius melanjutkan misinya.
Saat ini, saat memasuki gerbang Bukit Tara, monumen pertama yang terlihat adalah patung Santo Patrisius dengan sebuah gereja di belakangnya. Patung dan gereja tersebut menjadi simbol kemenangan Kristen di Irlandia. Berbeda dengan konflik agama di negara lain, konversi Irlandia berlangsung relatif damai, di mana patung dewa-dewa pagan secara bertahap digantikan oleh simbol-simbol Kristen.
Bukit Tara Setelah Santo Patrisius
Seiring berkembangnya Kristen, peran Bukit Tara sebagai pusat politik dan keagamaan mulai memudar. Situs-situs lain yang terkait dengan pusat pembelajaran Kristen atau mukjizat santo-santo mulai lebih menonjol. Kedudukan Tara semakin merosot setelah Invasi Normandia pada tahun 1169 M dan berdirinya pemerintahan Inggris yang mencoba menekan bahasa dan tradisi Irlandia selama berabad-abad.
Namun, memori tentang takhta kuno para raja ini tetap bergema di hati rakyat. Tara menjadi lokasi protes damai dan konflik sengit, seperti Pemberontakan 1798 M atau demonstrasi tanpa kekerasan tahun 1843 M yang dipimpin oleh patriot Irlandia, Daniel O'Connell.
Sejak 2007 M, situs ini menjadi pusat kontroversi antara pengembang Jalan Tol M3 dan kelompok pelestari Save Tara. Para pelestari berpendapat bahwa pembangunan tersebut akan menghancurkan aspek vital situs dan melenyapkan sejarah ribuan tahun. Di sisi lain, pihak pengembang mengklaim bahwa mereka telah menyeimbangkan pelestarian sejarah dengan pembangunan modern. Kontroversi ini bahkan membuat World Monuments Fund memasukkan Tara ke dalam daftar 100 Situs Paling Terancam di dunia pada tahun 2008 M. Hingga kini, Bukit Tara tetap menjadi simbol sejarah yang sangat penting, tidak hanya bagi Irlandia tetapi juga bagi dunia.
