Kaisar Ku: Sosok Legendaris dalam Mitologi Tiongkok Kuno

Kaisar Ku: Sosok Legendaris dalam Mitologi Tiongkok Kuno

Ku, yang umumnya disebut sebagai Di Ku (Kaisar Ku), juga dikenal dengan nama Gaoxin atau Gaoxin Shi, serta Qun, merupakan keturunan dari Kaisar Kuning (Yellow Emperor). Sebelum menerima otoritas kekaisaran, ia menggunakan nama Gaoxin. Setelah menjadi kaisar, ia menggunakan nama Ku dan menyandang gelar Di, sehingga ia dikenal sebagai Di Ku. Ia dianggap sebagai leluhur dari keluarga penguasa beberapa dinasti Tiongkok di masa depan.

Status historis Di Ku cukup kompleks; beberapa sumber menganggapnya sebagai tokoh semi-historis, sementara sumber lain menyajikan kisah yang bersifat mitologis atau religius. Karena perbedaan perspektif dan fokus cerita di berbagai sumber, narasi mengenai Di Ku menjadi sangat beragam. Dalam banyak versi daftar penguasa, Di Ku diakui sebagai salah satu dari Tiga Penguasa dan Lima Kaisar dalam mitologi Tiongkok.

Silsilah dan Kelahiran

Garis keturunan Ku berasal dari Kaisar Kuning melalui jalur Shaohao (berbeda dengan jalur Changyi yang melahirkan Zhuanxu). Ia adalah putra dari Jiaoji, cucu dari Shaohao, dan cicit dari Kaisar Kuning. Berdasarkan penanggalan spekulatif yang dihitung setelah tahun 100 SM oleh Liu Xin, masa pemerintahannya diperkirakan berlangsung dari sekitar 2436 SM hingga 2366 SM, meskipun terdapat referensi waktu lainnya.

Masa Pemerintahan

Saat menjadi kaisar, Ku menambahkan gelar Di—yang berarti "Thearch" atau sering diterjemahkan sebagai "Kaisar"—di depan namanya. Konon, setelah menjabat, Ku melakukan perjalanan musiman dengan menunggangi naga pada musim semi dan panas, serta menunggangi kuda pada musim gugur dan dingin.

Kaisar Ku

Ku juga dikenal sebagai penemu alat musik dan penggubah lagu. Menurut Lushi Chunqiu, atas perintah Ku, bawahannya yang bernama Youchui menciptakan berbagai instrumen seperti drum, lonceng, genta, pipa, okarina, dan seruling. Lirik lagu ciptaan Ku kemudian diberi aransemen musik (seperti jiuzhao, liule, dan liuying) oleh asistennya, Xianhei. Selain itu, atas perintah kekaisaran, pertunjukan musiknya diiringi oleh tarian burung phoenix. Meskipun menyandang gelar Di, cakupan wilayah kekaisarannya masih belum jelas. Gelar yang sama nantinya digunakan oleh Raja Qin setelah ia menaklukkan kerajaan-kerajaan tetangga dan membentuk kekaisaran pertama dalam sejarah Tiongkok.

Istri dan Keturunan

Ku memiliki beberapa istri, namun yang paling dikenal adalah empat orang: Jiang Yuan, Jiandi, Changyi, dan Qingdu. Ketika masing-masing istri melahirkan seorang putra (secara berurutan: Houji, Xie, Zhi, dan Yao), Ku meminta seorang peramal untuk meramalkan masa depan mereka. Peramal tersebut menjawab bahwa keempat putranya ditakdirkan untuk memerintah kekaisaran.

Terdapat pula sumber yang menyebutkan seorang istri dari Zoutu yang melahirkan delapan putra setelah ia bermimpi menelan matahari. Selain itu, catatan Shiji menyebutkan bahwa ibu dari Zhi berasal dari marga Juzi, sementara ibu dari Yao berasal dari marga Chenfeng.

Beberapa tradisi menyatakan bahwa keempat putra utama Ku mewarisi kekaisarannya atau menjadi pendiri dinasti Tiongkok:

  1. Kaisar Zhi (putra Changyi) adalah putra pertama yang memerintah.
  2. Kaisar Yao (putra Qingdu) kemudian menggantikannya.
  3. Xie (putra Jiandi), yang lahir secara ajaib setelah ibunya menelan telur Xuanniao, menjadi pendiri garis keturunan Dinasti Shang.
  4. Houji (putra Jiang Yuan), yang lahir secara ajaib setelah ibunya menginjak jejak kaki dewa, menjadi pendiri garis keturunan Dinasti Zhou.

Selain itu, menurut Samguk Sagi, raja-raja Goguryeo menganggap diri mereka sebagai keturunan pahlawan Tiongkok. Mereka menggunakan nama marga "Go" (Gao) karena merasa sebagai keturunan dari Gao Yang dan Gaoxin, yang keduanya merupakan cucu dari Kaisar Kuning.

Catatan dalam Bamboo Annals

Bamboo Annals, salah satu sumber tertua, mencatat bahwa ketika Kaisar Zhuanxu wafat, seorang keturunan Shennong bernama Shuqi memicu pemberontakan. Pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan oleh Ku (dari garis keturunan Gaoxin), Pangeran Xin, yang kemudian naik takhta.

Catatan tersebut juga menyebutkan bahwa Ku lahir dengan gigi ganda dan memiliki kebijaksanaan seorang bijak. Ia memerintahkan orang buta untuk menabuh drum serta membunyikan lonceng dan batu musik, yang konon membuat burung phoenix mengepakkan sayap dan menari. Pada tahun ke-16 masa pemerintahannya, ia mengirim jenderal Chong untuk mengalahkan negara Yukwai. Pada tahun ke-45, Ku menunjuk pangeran Tang (putranya, Yao) sebagai penerus. Namun, setelah Ku wafat pada tahun ke-63, putra sulungnya, Zhi, justru mengambil alih takhta. Zhi memerintah selama 9 tahun sebelum akhirnya digulingkan dan digantikan oleh Yao.

Daftar Bacaan

  • Wu, K. C. (1982). The Chinese Heritage. New York: Crown Publishers.
  • Yang, Lihui; An, Deming; Turner, Jessica Anderson (2005). Handbook of Chinese Mythology. New York: Oxford University Press.