Mengenal Tiga Penguasa dan Lima Kaisar: Legenda Awal Peradaban Tiongkok
Mengenal Tiga Penguasa dan Lima Kaisar
Berdasarkan mitologi Tiongkok dan historiografi tradisional, Tiga Penguasa dan Lima Kaisar (Sān Huáng Wǔ Dì) merupakan deretan kaisar bijak yang dianggap sebagai pemimpin pertama dan pendiri peradaban Tiongkok. Saat ini, mereka secara umum dipandang sebagai pahlawan budaya yang simbolis, namun pada zaman kuno, mereka dipuja secara luas sebagai "roh leluhur" yang bersifat ilahi dan memiliki kekuatan supranatural.
Menurut catatan sejarah tradisional yang diterima selama ribuan tahun, masa pemerintahan mereka mendahului Dinasti Xia — dinasti pertama yang secara tradisional diakui dalam sejarah Tiongkok. Meskipun demikian, mereka diyakini tetap eksis pada periode-periode setelahnya dalam bentuk tanpa wujud yang senantiasa membantu dan melindungi rakyat Tiongkok.
Contoh nyata dari kepercayaan ini adalah kisah Nuwa yang muncul kembali sebagai roh pelindung pada masa Dinasti Han, serta Shennong yang kemudian diidentifikasi sebagai wujud dewa dari Hou Ji (dewa pertanian) sekaligus dianggap sebagai leluhur pendiri Dinasti Zhou.
Lebih dari sekadar tokoh mitos, Tiga Penguasa dan Lima Kaisar memegang peranan sentral dalam memahami bagaimana orang Tiongkok kuno memaknai asal-usul mereka, nilai-nilai moral yang ideal, dan hubungan antara manusia dengan alam semesta. Mereka adalah cerminan dari aspirasi tertinggi peradaban Tiongkok tentang kepemimpinan yang bijaksana, pemerintahan yang adil, dan kemajuan peradaban yang berkelanjutan.
Peran dalam Mitologi
Dalam mitos dan tradisi Tiongkok, Tiga Penguasa digambarkan sebagai sosok dewa-manusia yang menggunakan kemampuan magis, kekuatan ilahi, atau keselarasan mereka dengan Tao untuk menciptakan umat manusia serta mengajarkan keterampilan dan pengetahuan dasar yang paling penting bagi kehidupan. Mereka adalah sosok-sosok transendental yang menjembatani dunia primordial yang kacau dengan awal mula tatanan peradaban manusia.
Sementara itu, Lima Kaisar adalah para bijak teladan yang memiliki karakter moral luar biasa dan sempurna. Mereka hidup dalam apa yang disebut sebagai "zaman keemasan" — masa ketika hubungan antara tatanan manusia dan dunia ilahi menjadi pusat kehidupan, ketika keselarasan antara alam dan manusia terjaga dengan sempurna. Pada masa itu, para orang bijak ini bukan sekadar penguasa politik; mereka menjadi perwujudan dari yang ilahi itu sendiri, atau setidaknya berfungsi sebagai perantara yang membantu manusia berkomunikasi dengan kekuatan-kekuatan suci alam semesta.
Salah satu ciri khas paling ideal dari zaman keemasan ini adalah sistem suksesi yang digunakan: sistem abdikasi (shanrang) — penyerahan kekuasaan secara sukarela dan tulus kepada orang yang paling cakap, berbudi, dan layak memimpin, bukan kepada anak keturunan sendiri. Sistem ini dianggap sebagai puncak keadilan politik dalam tradisi Tiongkok, sebelum akhirnya Qi dari Dinasti Xia merebut kekuasaan dengan kekerasan dan mendirikan sistem monarki turun-temurun yang mengakhiri zaman keemasan tersebut.
Sejarah dan Perkembangannya
Penting untuk dipahami bahwa konsep Tiga Penguasa dan Lima Kaisar bukanlah sesuatu yang muncul secara utuh dalam satu waktu, melainkan hasil konstruksi budaya dan intelektual yang berlangsung selama berabad-abad.
Kepercayaan dan literatur Taoisme banyak mengandung perumpamaan yang melibatkan tema-tema perdukunan (shamanisme) kuno, yang menjadi asal-usul dari sebagian besar kisah kuno mengenai Penguasa Fuxi, Nuwa, dan Shennong. Unsur-unsur magis dan supranatural dalam kisah mereka mencerminkan tradisi perdukunan yang mendalam di Tiongkok kuno, di mana pemimpin juga berfungsi sebagai dukun yang mampu berkomunikasi dengan dunia roh.
Menariknya, konsep mengenai keberadaan Lima Kaisar sendiri baru muncul secara jelas pada abad ke-5 SM. Para sarjana modern berpendapat bahwa tradisi suksesi abdikasi yang idealis tersebut sebenarnya mulai dikonstruksi dan dipopulerkan pada awal periode Negara-Negara Berperang (Warring States Period, 475–221 SM). Konteks politik saat itu sangat kacau, di mana para menteri dan pejabat kuat sering menggulingkan penguasa negara mereka sendiri. Narasi tentang para kaisar kuno yang secara sukarela menyerahkan kekuasaan kepada orang yang lebih layak — bukan kepada anak sendiri — kemungkinan besar diciptakan atau disebarluaskan untuk memberikan legitimasi sejarah dan moral bagi praktik penggulingan penguasa yang sedang berlangsung pada masa itu.
Secara tekstual, istilah "Tiga Penguasa" pertama kali muncul dalam buku Lüshi Chunqiu pada akhir periode Negara Berperang, sedangkan istilah "Lima Kaisar" pertama kali tercatat dalam Da Dai Liji (Catatan Ritual Dai yang Besar). Namun, sistematisasi yang paling berpengaruh dan abadi dilakukan oleh sejarawan agung Sima Qian dalam karyanya yang monumental, Catatan Sejarah Agung (Shiji), yang diselesaikan sekitar tahun 94 SM. Sima Qian memulai catatan sejarah Tiongkoknya dengan bab "Catatan Pokok Lima Kaisar", yang mengukuhkan posisi mereka sebagai titik awal sejarah Tiongkok yang sah selama lebih dari 2.000 tahun.
Variasi Identitas
Terdapat sekitar enam hingga tujuh variasi mengenai siapa saja tokoh yang termasuk dalam kelompok Tiga Penguasa dan Lima Kaisar, tergantung pada sumber rujukannya. Banyak dari sumber-sumber ini ditulis pada masa dinasti yang jauh lebih modern daripada masa yang mereka ceritakan, yang mencerminkan perkembangan dan interpretasi yang berbeda dari waktu ke waktu.
Kelompok Tiga Penguasa biasanya terdiri dari kombinasi nama-nama berikut: Fuxi, Nuwa, Shennong, Suiren, Zhu Rong, Gonggong, Penguasa Langit, Penguasa Bumi, Penguasa Manusia, dan Kaisar Kuning (Yellow Emperor).
Kelompok Lima Kaisar biasanya terdiri dari kombinasi berikut: Kaisar Kuning, Zhuanxu, Kaisar Ku, Kaisar Yao, Kaisar Shun, Shaohao, Taihao, dan Kaisar Yan.
Tiga Penguasa (Three Sovereigns)
Tiga Penguasa, yang terkadang juga dikenal sebagai "Tiga Sosok Agung", disebut sebagai raja-dewa atau dewa-manusia yang menggunakan kekuatan magis, kekuatan ilahi, atau keselarasan mereka dengan Tao untuk meningkatkan taraf hidup rakyatnya dari kondisi primitif menuju peradaban. Berkat kebajikan mereka yang luhur dan keselarasan dengan alam semesta, mereka dianugerahi umur yang sangat panjang dan memerintah dalam periode perdamaian yang luar biasa.
Para penguasa ini memiliki banyak elemen yang serupa dengan Xian (manusia abadi) dalam panteon Taoisme, seperti kereta awan milik Penguasa Manusia dan berbagai kemampuan supranatural mereka. Bahkan Kaisar Kuning sendiri konon "menjadi" seorang Xian setelah kematiannya, naik ke langit menunggangi naga. Ia secara khusus dianggap sebagai leluhur bangsa Huaxia (cikal bakal bangsa Han), dan makamnya didirikan di Shaanxi hingga hari ini untuk memperingati legenda garis keturunan tersebut.
Berikut adalah profil singkat dari tokoh-tokoh Tiga Penguasa yang paling penting:
- Fuxi: Sering digambarkan dengan tubuh ular atau naga dan kepala manusia. Ia dikreditkan dengan penemuan sistem tulisan awal, teknik memancing dan memasang perangkap hewan, mengajarkan cara memasak, serta yang paling penting, sebagai pencipta delapan trigram (bagua) yang menjadi dasar dari I Ching (Kitab Perubahan). Bersama Nuwa, ia dianggap sebagai pencipta manusia pertama.
- Nuwa: Sering digambarkan sebagai saudara perempuan sekaligus istri Fuxi, juga dengan tubuh ular. Kisah paling terkenalnya adalah ketika ia menambal langit yang bocor dengan batu berwarna-warni untuk menyelamatkan manusia dari bencana banjir dahsyat, serta menciptakan manusia dari tanah liat yang diberi kehidupan.
- Shennong: Secara harfiah berarti "Petani Ilahi". Ia adalah penemu pertanian, yang mengajarkan manusia cara membajak tanah dan menanam tanaman pangan. Ia juga terkenal karena mencoba ratusan jenis tanaman obat pada dirinya sendiri untuk menemukan pengobatan bagi penyakit manusia.
- Suiren: Tokoh yang dikreditkan dengan penemuan teknik menghasilkan api dengan menggosokkan kayu, yang mengubah secara mendalam cara hidup manusia purba.
- Kaisar Kuning (Huangdi): Pemimpin suku yang bersatu dengan Kaisar Yan untuk mengalahkan Chiyou, dan dianggap sebagai "Leluhur Kemanusiaan Pertama" yang menyatukan berbagai suku di Dataran Tengah.
Berikut adalah variasi identitas Tiga Penguasa menurut berbagai teks sejarah:
| Sumber | Tiga Penguasa |
| Catatan Sejarah Agung (Shiji), tambahan oleh Sima Zhen | Penguasa Langit, Penguasa Bumi, Penguasa Manusia (atau Fuxi, Nuwa, Shennong) |
| Silsilah Kaisar (Diwang Shiji) | Fuxi, Shennong, Kaisar Kuning |
| Shiben | Fuxi, Shennong, Kaisar Kuning |
| Baihu Tongyi | (Var 1) Fuxi, Shennong, Zhu Rong; (Var 2) Fuxi, Shennong, Suiren |
| Fengsu Tongyi | Fuxi, Nüwa, Shennong |
| Yiwen Leiju | Penguasa Langit, Penguasa Bumi, Penguasa Manusia |
| Tongjian Waiji | Fuxi, Shennong, Gonggong |
| Chunqiu Yundou Shu / Yuanming Bao | Fuxi, Nüwa, Shennong |
| Shangshu Dazhuan | Fuxi, Shennong, Suiren |
Lima Kaisar (Five Emperors)
Secara tradisional, Lima Kaisar dianggap sebagai penemu berbagai teknologi dan sistem peradaban kuno, mulai dari penggunaan api yang lebih maju, sistem tulisan yang sempurna, hingga sistem irigasi yang canggih. Seperti halnya Tiga Penguasa, identitas mereka berbeda-beda tergantung pada sumber sejarahnya, tetapi secara umum mereka mewakili garis keturunan para pemimpin bijak yang memerintah dengan kebajikan dan keadilan sempurna.
Para Penguasa dan Kaisar ini dikisahkan telah berjasa dalam memperkenalkan penggunaan api yang terkontrol, mengajarkan masyarakat cara membangun rumah yang permanen, serta menciptakan sistem pertanian yang semakin produktif. Selain itu, Leizu, istri dari Kaisar Kuning, diyakini sebagai sosok di balik penemuan budidaya ulat sutra dan teknik tenun sutra — warisan yang menjadi salah satu identitas paling penting peradaban Tiongkok selama ribuan tahun.
Penemuan di bidang medis, penciptaan sistem kalender yang akurat, hingga sistem tulisan Mandarin yang sempurna juga merupakan warisan yang secara tradisional diatribusikan kepada para raja bijak ini. Sistem abdikasi yang idealis mencapai puncaknya dalam kisah Kaisar Yao yang mengetahui bahwa putranya sendiri tidak layak memimpin, sehingga ia menyerahkan takhta kepada Shun yang telah terbukti kebajikannya. Shun kemudian juga menyerahkan kekuasaan kepada Yu yang Agung karena jasa-jasanya yang luar biasa dalam mengendalikan banjir besar. Yu kemudian mendirikan Dinasti Xia, yang dalam catatan sejarah Tiongkok secara tradisional diakui sebagai dinasti pertama.
Secara tradisional, Lima Kaisar dianggap sebagai penemu api, tulisan, dan sistem irigasi. Seperti halnya Tiga Penguasa, identitas mereka berbeda-beda tergantung pada sumber sejarahnya:
| Sumber | Lima Kaisar |
| Catatan Sejarah Agung (Shiji) | Kaisar Kuning, Zhuanxu, Ku, Yao, Shun |
| Silsilah Kaisar (Diwang Shiji) | Shaohao, Zhuanxu, Ku, Yao, Shun |
| I Ching | Taihao, Kaisar Yan, Kaisar Kuning, Yao, Shun |
| Komentar Seorang Pertapa (Qianfulun) | Taihao, Yan, Kaisar Kuning, Shaohao, Zhuanxu |
| Zizhi Tongjian Waiji | Kaisar Kuning, Shaohao, Zhuanxu, Ku, Yao |
Meskipun secara historis kritis, para sarjana modern umumnya memandang Tiga Penguasa dan Lima Kaisar sebagai tokoh mitologis atau legendaris yang merupakan personifikasi dari tahapan perkembangan peradaban manusia, bukan tokoh sejarah yang benar-benar ada secara individual. Namun, hal ini sama sekali tidak mengurangi makna dan pentingnya mereka dalam budaya Tiongkok.
Tiga Penguasa melambangkan tahap-tahap fundamental dalam transisi dari kehidupan primitif menuju peradaban: penemuan api, penciptaan manusia dan tatanan sosial, serta penemuan pertanian dan pengobatan. Sementara Lima Kaisar melambangkan perkembangan lebih lanjut dari masyarakat yang semakin kompleks: penyatuan suku-suku, pembentukan institusi politik, penciptaan sistem tulisan dan kalender, serta puncak moralitas pemerintahan yang adil.
Selama ribuan tahun, tokoh-tokoh ini telah menjadi model moral dan standar kebijaksanaan bagi para penguasa dan rakyat Tiongkok. Para filsuf Konfusianisme secara khusus sering merujuk pada zaman keemasan Lima Kaisar sebagai masa ideal yang harus dicontoh dan diperjuangkan kembalinya. Hingga hari ini, Kaisar Kuning masih dihormati sebagai leluhur bersama bangsa Tiongkok, dan makamnya di Shaanxi menjadi tempat ziarah yang penting.
Lebih dari sekadar cerita kuno, legenda Tiga Penguasa dan Lima Kaisar adalah cermin dari nilai-nilai terdalam peradaban Tiongkok: keyakinan bahwa kemajuan peradaban harus dibangun di atas kebajikan moral, bahwa pemimpin yang sejati mengutamakan kesejahteraan rakyat di atas kepentingan pribadi, dan bahwa manusia dapat hidup dalam keselarasan dengan alam semesta jika mereka mengikuti jalan yang benar.
Daftar Bacaan
- Hucker, Charles (1995). China's Imperial Past: An Introduction to Chinese History and Culture. Stanford University Press.
- Morton, W. Scott; Lewis, Charlton M. (2005). China: its history and culture (4th ed.). New York: McGraw-Hill.
- Scarpari, Maurizio (2006). Ancient China: Chinese Civilization from the Origins to the Tang Dynasty. Translated by Milan, A.B.A. New York: Barnes & Noble.
- Ni, Xueting C. (2023). Chinese Myths: From Cosmology and Folklore to Gods and Immortals. London: Amber Books.
- Willard Gurdon Oxtoby, ed. (2002). World Religions: Eastern Traditions (2nd ed.). Don Mills, ON: Oxford University Press.
