Legenda Gonggong dan Asal-usul Kemiringan Bumi dalam Mitologi Tiongkok

Gonggong: Dewa Air dalam Mitologi Tiongkok

Gonggong adalah dewa air dalam mitologi dan cerita rakyat Tiongkok. Ia digambarkan memiliki kepala manusia dari tembaga dengan dahi besi, rambut merah, dan tubuh ular. Dalam versi lain, kepala dan batang tubuhnya adalah manusia, namun memiliki ekor ular. Gonggong dikenal sebagai sosok yang destruktif dan dianggap bertanggung jawab atas berbagai bencana kosmik.

Di dalam semua catatan sejarah, Gonggong akhirnya tewas atau dibuang ke pengasingan, biasanya setelah kalah dalam pertarungan melawan dewa utama lainnya, seperti Zhurong, sang dewa api. Dalam bidang astronomi, nama planet kerdil 225088 Gonggong diambil dari nama dewa ini.

Asal-usul Nama

Dalam bahasa Inggris, kedua suku kata namanya dieja sama. Namun, dalam bahasa Mandarin, keduanya memiliki nada yang berbeda. Di berbagai bahasa Tionghoa lainnya, perbedaan juga terdapat pada bunyi vokal dan konsonan awalnya (misalnya dalam bahasa Tionghoa Abad Pertengahan: ɡionh-kun, atau dalam bahasa Jepang: kyoko). Variasi nama yang paling umum, terdengar identik dalam bahasa Inggris, tetapi dalam bahasa Mandarin berbeda nadanya, begitu pula pada konsonan dan vokal di bahasa-bahasa Tionghoa lainnya. Nama pribadi Gonggong konon adalah Kanghui

Legenda dan Mitologi

Kisah tentang Gonggong telah dikenal sejak akhir periode Negara-Negara Berperang (sebelum 221 SM). Sosoknya muncul dalam puisi kuno berjudul "Pertanyaan Surgawi" (Tianwen) dalam kitab Chu Ci. Dalam karya tersebut, ia disalahkan karena telah menabrak sumbu bumi hingga bergeser dari pusatnya, yang menyebabkan bumi miring ke tenggara dan langit miring ke barat laut. Kemiringan sumbu inilah yang digunakan untuk menjelaskan mengapa sungai-sungai di Tiongkok umumnya mengalir ke arah tenggara (terutama Sungai Yangzi dan Sungai Kuning), serta mengapa matahari, bulan, dan bintang bergerak menuju barat laut.

Legenda Gonggong

Literatur dari Dinasti Han memberikan rincian yang jauh lebih mendalam mengenai Gonggong. Sebagai contoh, dalam kitab Klasik Gunung dan Laut (Shanhaijing), ia tercatat sebagai putra dari Zhurong, ayah dari Houtu, dan keturunan dari Kaisar Api (Yan Di). Namun, dalam bait yang berbeda, ia juga disebut sebagai keturunan dari Kaisar Hitam. Catatan Sejarah Agung (Shiji) mendukung versi yang kedua ini.

Dalam berbagai konteks mitologi, Gonggong diyakini sebagai penyebab banjir besar. Ia sering kali beraksi bersama menterinya, Xiangliu (alias Xiangyao), yang digambarkan memiliki sembilan kepala dengan tubuh ular.

Salah satu legenda paling terkenal menceritakan rasa malu Gonggong setelah kalah bertarung melawan Zhurong, dewa api, dalam memperebutkan takhta surga. Dalam kemarahan yang luar biasa, ia membenturkan kepalanya ke Gunung Buzhou, salah satu dari delapan pilar penyangga langit. Tindakan ini merusak pilar tersebut secara parah hingga menyebabkan langit miring ke barat laut dan bumi bergeser ke tenggara, yang memicu banjir besar dan penderitaan bagi umat manusia. Dalam satu versi mitos, Gonggong tewas dalam kejadian tersebut, dan semburan api keluar dari gunung yang hancur bersamaan dengan banjir bandang.

Dewi Nuwa kemudian memotong kaki kura-kura raksasa bernama Ao dan menggunakannya untuk menggantikan pilar yang runtuh tersebut. Tindakan Nuwa berhasil menghentikan banjir dan penderitaan, namun ia tidak mampu sepenuhnya memperbaiki posisi langit dan bumi yang sudah miring, sehingga efeknya terhadap pergerakan benda langit dan aliran sungai di Tiongkok tetap bertahan hingga sekarang.

Daftar Bacaan

  • "Ssŭma Ch'ien's Historical Records, Introductory Chapter". Journal of the Royal Asiatic Society. 26 (2). Translated by Allen, Herbert J.: 269–295 1894.
  • Yang Lihui & al. (2005), Handbook of Chinese Mythology, Oxford: Oxford University Press.