Fuxi: Sang Pahlawan Kebudayaan dan Kaisar Legendaris Tiongkok
Fuxi atau Fu Hsi yang juga dikenal dengan nama Bao Xi dan Mi Xi adalah sosok pahlawan kebudayaan dalam mitologi Tiongkok. Bersama saudara perempuan sekaligus istrinya, Nuwa, ia diyakini sebagai pencipta umat manusia. Fuxi juga berjasa menemukan musik, metode berburu, memancing, domestikasi hewan, memasak, serta sistem penulisan karakter Tionghoa (Cangjie) sekitar tahun 2900 SM atau 2000 SM.
Selain itu, ia dikenal sebagai pencetus Bagua (delapan trigram). Konsep ini lahir setelah ia mengamati delapan elemen dasar di alam semesta: langit, bumi, air, api, guntur, angin, gunung, dan danau. Kedelapan elemen ini terbentuk dari berbagai kombinasi Yin dan Yang, yang kemudian dikenal dengan istilah Bagua.
Fuxi dianggap sebagai kaisar mitologi pertama di Tiongkok—sesosok makhluk ilahi bertubuh ular yang lahir melalui proses ajaib. Ia dipuja sebagai dewa Taoisme dan salah satu dari Tiga Penguasa (Three Sovereigns) pada masa awal periode dinasti Tiongkok. Dalam berbagai penggambaran, ia tampil sebagai manusia dengan ciri fisik ular, atau sebagai pria bermahkota daun yang tumbuh dari gunung, atau pria yang mengenakan pakaian dari kulit binatang.
Asal-Usul
Dalam mitologi Tiongkok, Pangu disebut sebagai dewa penciptaan. Ia adalah raksasa yang tidur di dalam telur kekacauan. Saat terbangun, ia berdiri dan memisahkan langit dari bumi. Setelah itu, Pangu wafat, dan tubuhnya berubah menjadi sungai, gunung, tumbuhan, hewan, dan segala sesuatu di dunia. Dari proses ini, muncullah makhluk perkasa bernama Huaxu.
Huaxu kemudian melahirkan sepasang saudara kembar, Fuxi dan Nuwa. Keduanya digambarkan sebagai makhluk berwajah manusia dengan tubuh ular. Namun, dalam versi mitos lain, Fuxi dianggap sebagai pencipta tunggal yang bekerja sendiri tanpa bantuan Pangu maupun Nüwa.
Fuxi dikenal sebagai "dewa asli" yang lahir di aliran tengah-bawah Sungai Kuning, di sebuah tempat bernama Chengji (kemungkinan sekarang adalah Lantian di Provinsi Shaanxi, atau Tianshui di Provinsi Gansu).
Secara historis, mitos ini dapat diinterpretasikan bahwa Huaxu (ibu Fuxi) adalah pemimpin pada masa masyarakat matriarkal (sekitar 2600 SM) ketika bahasa mulai berkembang. Sementara itu, Fuxi dan Nüwa adalah pemimpin pada masa awal masyarakat patriarkal saat ritual pernikahan mulai diterapkan.
Terdapat pula sosok dewa bernama Taihao ("Sang Cahaya Agung") yang muncul dalam sumber-sumber sebelum Dinasti Han secara terpisah dari Fuxi. Namun, di kemudian hari, Fuxi diidentifikasi sebagai Taihao, yang menjadi nama resmi atau nama kehormatannya.
Menurut legenda, dewi Sungai Luo yang bernama Fufei adalah putri dari Fuxi. Beberapa versi lain menyebutkan bahwa ia adalah permaisuri Fuxi. Fufei tenggelam saat menyeberangi Sungai Luo dan kemudian menjadi roh pelindung sungai tersebut.
Legenda Penciptaan
Berdasarkan kitab Classic of Mountains and Seas (San-hai Cing), Fuxi dan Nuwa adalah manusia pertama yang tinggal di Gunung Kunlun mitologis (sekarang Huashan). Suatu hari, mereka menyalakan dua tumpukan api yang kemudian menyatu. Di bawah kobaran api tersebut, mereka memutuskan untuk menjadi suami istri.
Fuxi dan Nuwa menggunakan tanah liat untuk menciptakan keturunan, dan dengan kekuatan ilahi, mereka menghidupkan patung-patung tanah liat tersebut menjadi manusia pertama. Masyarakat Tiongkok mengakui mereka sebagai bagian dari Tiga Penguasa (bersama Shennong). Penciptaan manusia ini merupakan simbol dari terbentuknya struktur keluarga besar yang melibatkan peran seorang ayah.
Pada salah satu pilar Kuil Fuxi di Provinsi Gansu, terdapat bait yang berbunyi: "Di antara tiga leluhur peradaban Huaxia, Fu Xi dari Negeri Huaiyang menempati urutan pertama." Sebelum masanya, pada masa pendahulunya (Nuwa), masyarakat bersifat matriarkal.
Teks kuno menggambarkan kondisi awal manusia sebagai berikut:
"Pada masa purba, belum ada tatanan moral (Sangang) maupun tatanan sosial. Manusia hanya mengenal ibu mereka, bukan ayah mereka. Mereka hanya mengetahui keturunan mereka tetapi tidak mengenal leluhur mereka (hidup bebas tanpa konsep keluarga). Mereka tidur kapan pun mereka mau dan saat terbangun, mereka hanya mengeluarkan suara-suara sederhana untuk berkomunikasi karena belum mengenal bahasa."
Saat lapar, mereka mencari makan; saat kenyang, mereka membuang sisanya. Mereka memakan makanan mentah beserta kulit dan bulunya, meminum darah, serta berpakaian dari kulit binatang dan semak-semak.
Lalu datanglah Fuxi. Ia menengadah untuk mengamati fenomena di langit dan menunduk untuk memperhatikan kejadian di bumi. Ia menyatukan laki-laki dan perempuan dalam pernikahan, mengatur lima tahapan perubahan, dan menetapkan hukum kemanusiaan. Ia menciptakan delapan trigram (Bagua) untuk memahami dan menguasai dunia.
Fuxi mengajari rakyatnya memasak serta berbagai metode berburu dan memancing menggunakan jaring serta senjata dari tulang, kayu, atau bambu. Ia menetapkan struktur keluarga dasar, institusi pernikahan, dan mempersembahkan kurban terbuka pertama kepada langit. Sebuah prasasti batu dari tahun 160 M menampilkan sosok Fuxi bersama Nuwa.
Secara tradisi, Fuxi dianggap sebagai pencetus metode ramalan yang diwariskan jauh sebelum adanya I Ching. Dalam versi lain, ia disebut ikut menulis sebagian isi I Ching. Kemampuan meramalnya berasal dari pengamatannya terhadap Peta He (Peta Sungai Kuning). Konon, susunan trigram I Ching terungkap kepadanya melalui tanda-tanda di punggung kuda naga mitologis (terkadang disebut kura-kura) yang muncul dari Sungai Luo. Penemuan ini juga dianggap sebagai asal-usul seni kaligrafi. Selain itu, Fuxi diyakini sebagai penemu alat musik Guqin, meskipun penemuan ini terkadang juga dikreditkan kepada Shennong dan Kaisar Kuning.
Para penganut Figurisme memandang Fuxi sebagai Henokh, patriark dalam Alkitab. Sementara Alexander Catcott mengidentifikasi Fuxi sebagai Nuh. Fuxi dan Nuwa juga dianggap sebagai dewa sutra. Fuxi dikatakan hidup selama 197 tahun dan wafat di sebuah tempat bernama Chen (sekarang Huaiyang, Henan), di mana monumen peringatannya masih dapat dikunjungi sebagai objek wisata hingga saat ini.
Daftar Bacaan
- Millidge, Judith (1999). Chinese Gods and Myths. Chartwell Books
- Forty, Jo (2004). Mythology: A Visual Encyclopedia. London: Barnes & Noble Books.
- Wood, Frances (2002). The Silk Road: Two Thousand Years in the Heart of Asia. Berkeley, California: University of California Press.
- Birrell, Anne (1993). Chinese Mythology: An Introduction. Baltimore: Johns Hopkins University Press.

