Tai Jia: Kisah Raja Dinasti Shang (1623-1611 SM)

Tai Jia: Kisah Raja Dinasti Shang (1623-1611 SM)

Tai Jia, atau yang juga dikenal sebagai Da Jia, memiliki nama asli Zi Zhi. Ia adalah putra dari Pangeran Da Ding dan merupakan seorang raja dari dinasti Shang di Tiongkok kuno.

Tai Jia merupakan putra dari Da Ding dan cucu dari Tang dari Shang. Leluhur Tang sendiri merupakan keturunan dari Xie, Kaisar Ku, dan Kaisar Kuning. Tai Jia diketahui memiliki setidaknya satu orang permaisuri bernama Bi Xin, serta dua orang putra yang bernama Wo Ding dan Tai Geng. Namun, dari kedua putranya tersebut, hanya Tai Geng yang tercatat dalam bukti prasasti tulang ramalan (oracle bones).

Masa Pemerintahan

Bukti tertulis dari prasasti tulang ramalan mengenai masa pemerintahan Tai Jia sangat minim. Hal ini dikarenakan Tai Jia adalah penguasa periode awal dinasti Shang, sementara mayoritas penemuan prasasti ramalan berasal dari masa pemerintahan Wu Ding dan setelahnya. Oleh karena itu, catatan sejarah dari periode setelah dinasti Zhou sering digunakan untuk melengkapi celah informasi mengenai masa pemerintahannya.

Menurut catatan Records of the Grand Historian karya Sima Qian, Tai Jia adalah raja keempat dinasti Shang yang menggantikan pamannya, Wai Bing dan Zhong Ren. Ia naik takhta pada tahun 1535 SM dengan Yi Yin sebagai perdana menteri dan Bo sebagai ibu kotanya. Namun, prasasti pada tulang ramalan yang ditemukan di Yinxu mencatat versi berbeda: Tai Jia dianggap sebagai raja ketiga dinasti Shang yang menggantikan ayahnya, Da Ding. Dalam catatan tersebut, ia diberi nama anumerta Da Jia dan posisinya kemudian digantikan oleh saudaranya, Bu Bing.

Konflik dan Pengasingan

Sima Qian menggambarkan Tai Jia sebagai penguasa otokratis yang memperlakukan rakyatnya dengan buruk dan melanggar hukum yang ia buat sendiri. Beberapa tahun setelah menjabat, kekacauan internal melanda istana. Perdana Menteri Yi Yin sempat menasihatinya untuk mengubah perilaku, namun sang raja yang keras kepala mengabaikan saran tersebut.

Tai Jia

Akhirnya, Yi Yin terpaksa mengasingkan Tai Jia ke Tonggong, yang saat ini terletak di wilayah barat daya Kabupaten Yanshi, Henan, agar ia bisa bertobat. Selama tiga tahun pengasingan tersebut, Yi Yin memerintah negara sebagai wali raja. Ketika Yi Yin merasa bahwa Tai Jia telah benar-benar berubah, ia mengundangnya kembali ke ibu kota untuk mengambil alih takhta. Sejak saat itu, Tai Jia memimpin dengan bijak dan mengurus pemerintahan dengan baik. Pada tahun ke-10 pemerintahannya, Yi Yin memutuskan untuk mengundurkan diri dan pensiun. Untuk menghormati jasa-jasanya, sang raja memberikan gelar anumerta Zhong Zong kepada Yi Yin setelah kematiannya.

Versi Berbeda dalam Catatan Sejarah

Bamboo Annals menyajikan narasi yang jauh berbeda. Catatan tersebut mengklaim bahwa setelah pengasingan, Yi Yin justru merebut takhta dan memerintah selama tujuh tahun. Tai Jia kemudian diam-diam kembali ke istana dan membunuh Yi Yin. Setelah peristiwa tersebut, Tai Jia memberikan tanah dan istana milik Yi Yin kepada putra-putranya, yaitu Yi She dan Yi Fen.

Mengingat bukti arkeologis menunjukkan bahwa masyarakat Shang masih menyembah Yi Yin bahkan ratusan tahun setelah kematiannya, kisah yang ditulis oleh Sima Qian dianggap lebih kredibel oleh para sejarawan. Kedua sumber sepakat bahwa Tai Jia memerintah selama 12 tahun sebelum akhirnya meninggal dunia. Ia diberikan nama anumerta Tai Jia dan takhtanya digantikan oleh putranya, Wo Ding.