Kerajaan Demak - ABHISEVA.ID

Kerajaan Demak

Kerajaan Demak


Peta Kekuasaan Kerajaan Demak

Kerajaan Demak - Kerajaan Demak adalah kerajaan bercorak Islam pertama di Pulau Jawa yang mulai eksis sebagai kerajaan mandiri sejak permulaan awal abad ke-16 setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit. Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Patah yang merupakan anak dari Brawijaya V (raja Kerajaan Majapahit terakhir). Setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit di Pulau Jawa, Kerajaan Demak mulai tumbuh dan berkembang menjadi kerajaan besar yang memiliki pengaruh bagi perkembangan ajaran agama Islam di Pulau Jawa dan juga terhadap hegemoni lalu lintas perdagangan di pantai utara Pulau Jawa. Di bawah ini akan dijelaskan secara singkat tentang Kerajaan Demak.

Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Demak

Letak geografis Kerajaan Demak terletak di pesisir utara Pulau Jawa dengan lingkungan alamnya yang subur, dan semula adalah sebuah kampung yang dalam babad lokal disebut dengan Gelagahwangi. Gelagahwangi inilah tempat yang konon dijadikan pemukiman muslim di bawah pimpinan Raden Patah yang mana dengan kehadirannya di tempat tersebut atas petunjuk seorang wali bernama Sunan Rahmat atau Sunan Ampel. Raden Patah adalah seorang putra Brawijaya V dan ibunya merupakan seorang putri Champa. Kerajaan Demak yang pada masa pemerintahan Raden Patah merupakan salah satu kerajaan bawahan dari Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Brawijaya V. 

Ketika Raden Patah masih di dalam kandungan ibunya oleh Brawijaya V dititipkan kepada gubernur di Palembang, di tempat itulah Raden Patah lahir. Setelah beranjak dewasa, Raden Patah diberikan wilayah oleh Brawijaya V untuk diperintah sendiri olehnya di daerah Demak. Di Demak itulah kemudian tumbuh dan berkembang sebagai pusat kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa sejak akhir abad ke-15 M. Kerajaan Demak sendiri mungkin mulai eksis sebagai kerajaan sejak lenyapnya ibukota Kerajaan Majapahit di daerah Trowulan oleh wangsa Girindawardhana dari Kerajaan Kadiri tahun 1474. 

Babad lokal menempatkan keruntuhan Kerajaan Majapahit terjadi pada tahun 1478 M, dengan candrasengkala-nya "Sirna Hilang Kertaning Bhumi" (1400 Saka). Mungkin angka tahun ini dapat dikaitkan pula dengan candarasengkala memet yang digambarkan sebagai bulus pada dinding mihrab Masjid Agung Demak yang dapat diartikan tahun 1401 S atau 1479 M. Berdasarkan berita yang diberikan oleh Tome Pires, Demak merupakan kota besar dengan jumlah rumah kurang lebih mencapai 8000-14000 rumah.  Setelah berhasil mengalahkan Kerajaan Majapahit pada 1478, Kerajaan Demak berhasil menjadi kerajaan mandiri pada tahun 1481 yang lepas dari pengaruh Kerajaan Majapahit


Raja-Raja Kerajaan Demak

Masjid agung demak

Penting dicatat di sini bahwa raja-raja Kerajaan Demak terkenal sebagai pelindung agama sehingga antara raja-raja dengan kaum ulama erat bergadengan. Pendirian Masjid Agung Demak oleh para wali dengan arsiteknya adalah Sunan Kalijaga. Masjid Demak difungsikan sebagai pusat dari kegiatan penyebaran agama Islam termasuk di dalamnya dakwah ajaran agama Islam yang dilakukan oleh Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Ampel, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Gresik, Sunan Drajat, Sunan Gunungjati, dan Syekh Lemah Abang (Syekh Siti Jenar). Berikut ini adalah raja-raja yang memerintah di Kerajaan Demak berdasarkan sumber-sumber lokal dan sumber-sumber asing;

1. Raden Patah Raja Kerajaan Demak Pertama

Penguasa Kerajaan Demak pertama adalah Raden Patah berkuasa pada 1474/1475-1512 yang merupakan anak dari Brawijaya V (raja Kerajaan Majapahit terakhir). Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Tome Pires, penguasa Kerajaan Demak adalah Pate Rodim (Raden Patah) yang kakeknya berasal dari Gresik seorang budak belian (kawula, abdi). Orang dari Gresik itu konon telah mengabdi pada penguasa di Kerajaan Demak yang pada waktu itu masih menjadi bawahan Kerajaan Majapahit

Orang itu oleh penguasa Kerajaan Demak diangkat menjadi Capitan yang ditugasi kemudian untuk memimpin ekspedisi melawan Cirebon yang pada saat itu masih "kafir".  Namun, nampaknya apa yang diuraikan oleh Tome Pires berkaitan dengan penaklukan terhadap Cirebon pada masa pemerintahan Raden Patah, dan orang Gresik itu adalah bawahan Raden Patah dan bukan kakeknya. 

Menurut keterangan dari cerita tradisi Mataram Jawa Timur Raden Patah adalah putra dari raja Brawijaya V dengan ibu seorang putri Cina yang tinggal di keraton Raja Majapahit sebagai seorang selir. Sewaktu ibu Raden Patah hamil, Permaisuri Kerajaan Majapahit tidak menyukai selir dari Cina itu yang merupakan ibu dari Raden Patah. Sehingga, Brawijaya V kemudian menyerahkan selir dari Cina itu kepada seorang anak emas Brawijaya V yang menjadi gubernur di Palembang, Arya Damar dan tidak lama kemudian Raden Patah lahir. 

Semasa kecil, Raden Patah bernama Pangeran Jimbun, pada usia 20 tahun dirinya kembali ke Kerajaan Majapahit. Brawijaya V kemudian memberikan daerah Demak kepada Pangeran Jimbun. Di Demak ini, Pangeran Jimbun mendalami ajaran agama Islam. Setelah dinilai memahami ajaran agama Islam, Pangeran Jimbun mengganti namanya menjadi Raden Patah.

Pada masa awal berdirinya Kerajaan Demak Tome Pires juga menjelaskan bahwa di daerah pedalaman masih terdapat kerajaan yang bercorak Hindu dengan rajanya bernama Batara Vigiaya dan patihnya yang lebih berkuasa yaitu Gusti Pate. Batara Vigiaya yang dimaksud oleh Tome Pires kemungkinan adalah Brawijaya V (?) seperti yang terdapat pada babad-babad lokal. 

Kurang lebih setengah abad, Brawijaya V telah meninggalkan pusat kekuasaan Kerajaan Majapahit di Trowulan dan memindahkannya ke Daha atau Kadiri (Kediri) yang akhirnya pusat Kerajaan Majapahit di Kediri atau Daha itu jatuh pada tahun 1526 diserang oleh Kerajaan Demak. Penyerangan Kerajaan Demak terhadap Daha ini kemungkinan besar dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Trenggana.

Pada masa pemerintahan Raden Patah, ia memerintahkan anaknya, Pati Unus untuk menyerang Malaka yang dikuasai oleh Portugis pada 1512-1513. Atas usahanya itu Pati Unus mendapat julukan Pangeran Sabrang Lor. Namun, upaya itu menemui kegagalan oleh karena Portugis memiliki persenjataan yang lebih lengkap. Raden Patah meninggal pada tahun 1518 dan digantikan oleh Pati Unus sebagai raja Kerajaan Demak.

2. Pati Unus
 
Raja Kerajaan Demak yang kedua di dalam babad adalah Pangeran Sabrang Lor (Pati Unus) dengan masa pemerintahan yang tidak terlalu lama sekitar 1518-1521. Di dalam berita yang diberikan oleh Tome Pires, dikenal seseorang yang bernama Pate Unus/Pati Unus/Adipati Unus (Pate Rodim Sr.) yang mengadakan serangan ke Malaka yang dikuasai oleh Portugis pada tahun 1512-1513 dengan armada lautnya yang diberangkatkan dari Japara (Jepara). Pada saat itu Japara berfungsi sebagai pelabuhan militer Kerajaan Demak.  

Pati Unus selama pemerintahan Raden Patah sudah mempersiapkan menyerbu Malaka pada 1509, namun persiapan itu baru selesai pada tahun 1512. Namun, sejak tahun 1511 Malaka telah jatuh ke tangan Portugis, sehingga sasaran Pati Unus adalah terhadap Portugis. Ekspedisi yang dilakukan oleh Pati Unus menemui kegagalan sebab persenjataan Portugis lebih baik dan juga mendapatkan bantuan dari Sultan Abdullah, raja Kerajaan Kampar. 

Pati Unus menggantikan Raden Patah sebagai penguasa Kerajaan Demak pada tahun 1518. Berdasarkan catatan Tome Pires, selama masa pemerintahan Pati Unus, Kerajaan Demak memiliki armada laut sebanyak 40 kapal Jung. Pate Rodim Sr (sebutan bagi Pati Unus oleh Tome Pires), adalah seorang yang tegas dalam mengambil keputusan dan seorang ksatria, bangsawan dan teman seperjuangan Pate Zaenal dari Gresik. 

Pada masa pemerintahannya, Pati Unus kembali berupaya untuk menguasai Malaka yang telah dikuasai oleh Portugis. Penyerangan itu dilakukan pada tahun 1521 dengan membawa seluruh kekuatan angkatan laut Kerajaan Demak. Namun, upaya itu tetap mengalami kegagalan dalam menguasai Malaka. Setelah penyerangan terhadap Malaka, tidak lama kemudian Pati Unus meninggal dan kekuasaan Kerajaan Demak diteruskan oleh saudaranya, Sultan Trenggana.

3. Sultan Trenggana (Sultan Trenggono)

Raja ketiga Kerajaan Demak adalah Pangeran Trenggana (Pate Rodim Jr.) Pangeran Trenggana adalah saudara dari Pati Unus yang sama-sama sebagai putra dari Raden Patah, raja pertama Kerajaan Demak. Sultan Trenggana berhasil menjadi raja di Kerajaan Demak setelah Sultan Trenggana menyingkirkan Pangeran Seda Lepen (Raden Kikin). Pada masa pemerintahan Sultan Trenggana, Sunan Kalijaga diundang dari Cirebon untuk menetap tinggal di Kadilangu, dekat Demak.  Pada tahun 1507 di tahun ketiga pemerintahannya ia menghadiri peresmian Masjid Raya di Demak (Masjid Agung Demak) yang dibangun sejak masa pemerintahan Raden Patah. 

Berdasarkan catatan yang diberikan oleh Tome Pires, Tome Pires tidak memiliki penilaian lebih terhadap raja ketiga Kerajaan Demak (Sultan Trenggana). Menurut Tome Pires pada tahun 1515, raja ketiga Kerajaan Demak itu (semasa Raden Patah memerintah Kerajaan Demak) terlalu banyak menyibukkan diri dengan kenikmatan kehidupan di dalam keputren. Ia hidup mewah, berfoya-foya dan mengabaikan urusan kenegaraan. Menurut Tome Pires, armada laut Kerajaan Demak yang sempat berkekuatan 40 kapal jung pada masa pemerintahan Pate Rodim Sr. (Pati Unus) menjadi hanya 10 kapal jung pada masa pemerintahan Pate Rodim Jr. (Sultan Trenggana). 

Surutnya armada laut Kerajaan Demak kemungkinan besar disebabkan oleh serangan Pati Unus ke Malaka yang gagal dan telah banyak menghancurkan armada laut Kerajaan Demak, sehingga Sultan Trenggana, sepeninggal Pati Unus hanya diwarisi 10 kapal jung yang tersisa. Apabila memang benar keterangan yang diberikan oleh Tome Pires itu mengenai pemerintahan Pate Rodim Jr. (Sultan Trenggana) yang kurang memerhatikan masalah kenegaraan nampaknya agak kurang tepat. 

Sultan Trenggana memang nampaknya kurang memerhatikan masalah pembangunan angkatan laut Kerajaan Demak (mungkin disebabkan oleh kegagalan besar yang dilakukan Pati Unus ketika menyerang Malaka) sehingga surutnya armada laut Kerajaan Demak. Namun, Sultan Trenggana nampak menunjukkan sifat pemerintahan yang agresif-defensif. Agresif dalam artian aktif melakukan aneksasi (penguasaan) terhadap daerah pelabuhan-pelabuhan pantai utara Pulau Jawa namun di sisi lain upaya itu nampaknya adalah upaya defensif dari kemungkinan serangan yang sewaktu-waktu dapat dilakukan oleh kekuatan politik lain, termasuk Portugis di Malaka.

Upaya yang dilakukan Sultan Trenggana dalam melebarkan kekuasaan politik Kerajaan Demak pertama-tama ditujukan pada pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit yang terakhir di Daha dan berhasil menguasainya pada tahun 1526. Upaya ini kemungkinan dilakukan oleh Sultan Trenggana untuk menghindari serangan dari dalam ketika Kerajaan Demak melakukan ekspansinya ke daerah-daerah yang jauh dari pusat pemerintahan.

Pada masa pemerintahannya, Sultan Trenggana mengirimkan pasukan untuk melakukan ekspansi ke barat yang dipimpin oleh Gadhilah Khan (Fadhillah Khan/Fatahillah (?)) yang berasal dari Pasai untuk menyerang Sunda Kalapa (Sunda Kelapa) yang dibarengi dengan pasukan gabungan dari Kerajaan Cirebon. Dari arah barat Pelabuhan Kalapa diserang sehingga armada Portugis di bawah Fransisco de Sa dipukul mundur dan Pelabuhan Sunda Kalapa akhirnya dapat direbut dan kemudian Fadhillah Khan mengganti nama kota pelabuhan itu menjadi Jayakarta. 

Selain perluasan ke barat, Di bawah kepemimpinan Pangeran Trenggana, Kerajaan Demak juga melakukan perluasan ke Jawa Timur terutama untuk merebut daerah-daerah yang masih bercorak Hindu yaitu Kadiri (1526-1527), Tuban dan Wirasari (1528), Gagelang (1529), Lendangkungan (1530), Surabaya (1531), Pasuruan (1535), Panarukan, Lamongan, Blitar, dan Wirasaba (1541-1542), Gunung Penanggungan (1543), Mamenang Thanu (1544), Sengguruh (1545), menurut Babad Sangkala, Kerajaan Blambangan diserang pada tahun 1546, namun Pangeran Trenggana gugur di dalam penyerbuannya itu. Sehingga kerajaan Blambangan masih belum memeluk ajaran Islam.

Sultan Trenggana berupaya untuk menggabungkan kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa di bawah kekuasannya. Namun, tidak seluruh wilayah berhasil dikuasai terutama pantai utara Jawa disebelah timur yang masih tetap berada di bawah pengaruh Kerajaan Blambangan.

4. Sunan Prawata


Takhta Kerajaan Demak sepeninggal Sultan Trenggana pada 1546 dilanjutkan oleh anaknya, Raden Mukmin (Sunan Prawata). Sunan Prawata adalah seorang raja yang cenderung lebih memahami urusan keagamaan dibandingkan dengan urusan politik. Sehingga menyebabkan kurangnya kewibawaan Kerajaan Demak terhadap daerah-daerah yang sebelumnya telah ditaklukan oleh Sultan Trenggana. Beberapa wilayah seperti Banten, Cirebon, Surabaya dan Gresik mulai berkembang bebas dan tanpa ada kontrol yang ketat dari Kerajaan Demak. Hal ini menyebabkan lambat laun wilayah-wilayah daerah Kerajaan Demak mulai melepaskan diri.

Sunan Prawata tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk memperluas pengaruh Kerajaan Demak sebagaimana yang telah dilakukan oleh Sultan Trenggana, meskipun sebenarnya ia berambisi untuk melakukan hal itu. Namun, oleh karena kekurangpiawaiannya sebagai seorang raja dan lebih condong sebagai seorang ulama, kemampuan politiknya kurang begitu baik dibandingkan dengan kemampuan agamanya. 

Pada masa pemerintahan Sunan Prawata pusat pemerintahan Kerajaan Demak yang terletak di Bintoro dipindahkan ke bukit Prawoto, Pati. Oleh sebab itulah Raden Mukmin lebih dikenal dengan nama Sunan Prawoto. 

5. Arya Penangsang


Arya Penangsang adalah putra dari Pangeran Seda Lepen, saudara Sultan Trenggana yang sebenarnya lebih berhak atas takhta Kerajaan Demak dibandingkan dengan Sultan Trenggana. Oleh karena Pangeran Seda Lepen dibunuh oleh Sunan Prawoto yang berharap kelak takhta Kerajaan Demak akan jatuh padanya apabila ayahnya, Sultan Trenggana menjadi raja Kerajaan Demak

Arya Penangsang masih menyimpan dendam terhadap Sunan Prawoto dengan melakukan penyerangan dikemudian hari terhadap Demak dan membunuh Sunan Prawoto, setelah Sultan Trenggana wafat pada tahun 1546. Setelah Sultan Trenggana wafat pada tahun 1546 dan digantikan oleh Sunan Prawoto, Arya Penangsang langsung melaksanakan keinginannya untuk merebut takhta Kerajaan Demak. Arya Penangsang berhasil membunuh Sunan Prawoto dan bertakhta atas Kerajaan Demak.

Arya Penangsang menjadi raja Kerajaan Demak tidaklah lama, sebab adik ipar dari Sunan Prawoto, Jaka Tingkir segera menyusun rencana mengalahkan Arya Penangsang. Jaka Tingikir mendapatkan bantuan dari Ki Ageng Pamanahan dan Ki Panjawi untuk mengalahkan Arya Penangsang. Atas usahanya itu, Jaka Tingkir yang dibantu oleh Sutawijaya (anak Ki Ageng Pamanahan) dalam pertempuran berhasil mengalahkan Arya Penangsang dan merebut takhta Kerajaan Demak untuk dipindahkan ke Pajang.

Kejayaan Kerajaan Demak


Kerajaan Demak mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Trenggana. Hal ini dapat diketahui dari upaya-upaya yang dilakukan oleh Sultan Trenggana pada masa pemerintahannya dengan menguasai pelabuhan-pelabuhan di Pantai Utara Jawa. Selain itu, pada masa kepemimpinan Sultan Trenggana ini pula pengaruh Kerajaan Demak juga nampak pada daerah-daerah diluar Pulau Jawa seperti Palembang, Banjar, dan Maluku. 

Kerajaan Demak yang telah berhasil menguasai daerah-daerah pelabuhan di Pantai Utara Jawa nyatanya telah membawa Kerajaan Demak sebagai penguasa tunggal terhadap hegemoni perekonomian di Pantai Utara Jawa dengan pusatnya sendiri di Pelabuhan Demak. Sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan, Pelabuhan Demak ditunjang oleh Pelabuhan Jepara yang dijadikan sebagai pusat dari aktivitas kemiliteran. 

Pada masa pemerintahan Sultan Trenggana, Kerajaan Demak menjadi pusat dari penyebaran ajaran agama Islam, terutama dengan pusatnya adalah Masjid Agung Demak sendiri. Peran Kerajaan Demak dalam menyebarkan ajaran agama Islam melalui keberhasilannya dalam menaklukan daerah-daerah pelabuhan penting di Pantai Utara Jawa, termasuk Cirebon, Sunda Kalapa dan Banten. Dengan dikuasainya pelabuhan-pelabuhan itu maka perekonomian Kerajaan Demak bangkit dan mencapai kemajuan yang pesat.

Kondisi Ekonomi Kerajaan Demak


Perekonomian Kerajaan Demak dapat dilihat dari wilayah kekuasaannya. Pelabuhan-pelabuhan Pantai Utara Pulau Jawa yang memang memegang peranan penting dalam perdagangan sejak awal tarikh Masehi tetap mendatangkan keuntungan yang besar bagi Kerajaan Demak melalui aktivitas jual-beli barang dagang dan pajak yang menggiurkan dari adanya pelabuhan yang mampu memfasilitasi para pedagang untuk singgah. Beberapa barang yang diekspor dari Kerajaan Demak antara lain beras, lilin, dan juga madu.
 
Selain memanfaatkan pelabuhannya, Kerajaan Demak sangat bergantung pada aktivitas pertanian yang menjadi mata pencaharian utama masyarakatnya. Hal ini ditunjukkan dengan aktivitas ekspor Kerajaan Demak, terutama beras yang dikirimkan ke pelabuhan-pelabuhan di Pantai Utara Pulau Jawa.

Sosial, Kebudayaan dan Agama Kerajaan Demak


Kerajaan Demak menjadikan ajaran agama Islam sebagai agama negara dan ini nampaknya juga menjadi agama mayoritas dari masyarakatnya yang telah menganut ajaran agama Islam dari ajaran lama (baik kebudayaan asli maupun ajaran Hindu ataupun Buddha). Meskipun telah menganut ajaran agama Islam, masyarakat Kerajaan Demak masih menjalankan tradisi-tradisi lama yang bersinkretisme dengan ajaran agama Islam.

Kemunduran Kerajaan Demak

Kerajaan Demak mulai mengalami kemunduran oleh karena terjadinya perebutan kekuasaan antara Sunan Prawoto dan Arya Penangsang, Bupati Jipang. Arya Penangsang menganggap dirinyalah yang lebih berhak dan pantas atas kekuasaan di Kerajaan Demak dibandingkan dengan Sunan Prawoto. Konflik antara Arya Penangsang dan Sunan Prawoto menyebabkan terbunuhnya Sunan Prawoto dan juga Pangeran Hadiri, Bupati Kalinyamat.

Upaya Arya Penangsang dengan mengaku bahwa dirinya sebagai pewaris sah dari Kerajaan Demak oleh karena permasalahan yang terjadi antara Sultan Trenggana dengan Pangeran Seda Lepen. Permasalahan itu disebabkan setelah Pati Unus meninggal pada tahun 1521. Oleh sebab Pati Unus tidak memiliki putra, maka takhta Kerajaan Demak diperebutkan oleh Pangeran Seda Lepen dan Pangeran Trenggana (Sultan Trenggana). 

Pada saat itu, Pangeran Trenggana berhasil menyingkirkan Pangeran Seda Lepen (Raden Kikin) yang sebenarnya lebih berhak sebagai pewaris takhta sepeninggal Pati Unus. Pangeran Trenggana kemudian memerintahkan Raden Mukmin (Sunan Prawoto) untuk membunuh Pangeran Seda Lepen. Setelah Raden Mukmin berhasil membunuh Pangeran Seda Lepen, maka Pangeran Trenggana-lah yang menjadi raja Kerajaan Demak.

Sultan Trenggana memiliki dua orang istri. Istri pertama adalah Nyai Ageng Maloko, putri Arya Damar dari Kerajaan Palembang; sedangkan istri keduanya adalah Kanjeng Ratu Pembayun, putri Sunan Kalijaga. 

Anak Sultan Trenggana dari Nyai Ageng Maloko;
1. Ratu Pembayun
2. Sunan Prawoto
3. Ratu Mas Pemancingan menikah dengan Panembahan Jogorogo ing Pemancingan
4. Retno Kencana (Ratu Kalinyamat) menikah dengan Pangeran Hadiri (Bupati Kalinyamat/Jepara)
5. Ratu Mas Ayu menikah dengan Pangeran Orang Ayu, Putra Pangeran Wonokromo.
6. Ratu Mas Kumambang

Anak Sultan Trenggana dari Kanjeng Ratu Pembayun;
1. Pangeran Timur (Panembahan Madiun)
2. Ratu Mas Cempaka menikah dengan Jaka Tingkir

Semasa pemerintahan Sultan Trenggana, anak Pangeran Seda Lepen (Raden Kikin), Arya Penangsang tetap menyimpan dendam kepada Sultan Trenggana yang telah menyingkirkan ayahnya dari hak atas takhta Kerajaan Demak, begitupula pada Sunan Prawoto yang telah membunuh ayahnya. Namun, selama masa pemerintahan Sultan Trenggana, Arya Penangsang tidak pernah melaksanakan keinginannya itu. Namun, setelah Sultan Trenggana meninggal pada tahun 1546 dan digantikan oleh Sunan Prawoto, Arya Penangsang berusaha menuntut balas kematian ayahnya yang memang dibunuh langsung oleh Sunan Prawoto.

Arya Penangsang segera mengirimkan pasukannya dengan memanfaatkan sebagian besar tentara Kerajaan Demak sedang dikirimkan ke wilayah timur. Demak diserang oleh Arya Penangsang dan berhasil dibumihanguskan hanya dengan menyisakan Masjid Agung Demak dan Klenteng yang luput dari pembumihangusan itu. Sunan Prawoto berhasil melarikan diri dari Demak, namun berhasil dikejar oleh Arya Penangsang dan dibunuh oleh Arya Penangsang. Setelah membunuh Sunan Prawoto, Arya Penangsang menobatkan dirinya sebagai raja Kerajaan Demak.

Arya Penangsang menjadi raja Kerajaan Demak tidaklah lama, sebab adik ipar dari Sunan Prawoto, Jaka Tingkir segera menyusun rencana mengalahkan Arya Penangsang. Jaka Tingikir mendapatkan bantuan dari Ki Ageng Pamanahan dan Ki Panjawi untuk mengalahkan Arya Penangsang. Atas usahanya itu, Jaka Tingkir yang dibantu oleh Sutawijaya (anak Ki Ageng Pamanahan) dalam pertempuran berhasil mengalahkan Arya Penangsang dan merebut takhta Kerajaan Demak untuk dipindahkan ke Pajang. Dengan dipindahkannya pusat kekuasaan di Pajang maka berakhirlah riwayat dari Kerajaan Demak.