Kerajaan Kediri (1042-1222)
Lahirnya Kerajaan Kediri (Kerajaan Kadiri) berkaitan dengan adanya pembagian kekuasaan di Kerajaan Medang Mataram padaNovember 1041. Airlangga membagi kerajaan bertujuan untuk menghindari terjadinya perang saudara di Mataram. Setelah Mataram dibagi 2 oleh Mpu Bharada seorang Brahmana yang terkenal akan kesaktiannya, muncullah Panjalu dan Janggala yang dibatasi gunung Kawi dan sungai Brantas. Kerajaan barat yang bernama Panjalu diberikan pada Samarawijaya yang berpusat di kota baru dengan ibukota Daha yang meliputi Kediri dan Madiun.
Sedangkan kerajaan timur yang bernama Janggala diberikan kepada Mapanji Garasakan yang berpusat di kota lama yang meliputi daerah Malang dan delta Sungai Brantas, dengan pelabuhan Surabaya, Rembang dan Pasuruan ibukotanya Kahuripan. Padahal airlangga telah mempersiapkan putri sulungnya sebagai penggantinya, tapi tidak bersedia dan lebih memilih menjadi petapa yang bergelar Dewi Kilisuli. Sumber sejarah yang menceritakan pembagian kerajaan ada dalam Prasasti Wurara ada juga yang menyebut dengan nama Prasasti Mahaksubya (1289 M), Kitab Negarakrtagama (1365 M), Kitab Calon Arang (1540 M).
Di dalam perkembangan selanjutnya, ibukota Kerajaan Panjalu di Daha dipindahkan ke wilayah Kediri sehingga nama kerajaan lebih dikenal sebagai Kerajaan Kediri. Pada awalny, nama Panjalu memang lebih sering dipakai daripada nama Kediri. Hal ini dapat dijumpai dalam prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh Raja-raja Kediri. Bahkan nama Panjalu juga dikenal sebagai Pu-Chia-Lung dalam kronik Cina yang berjudul Ling Wai Tai Ta (1178).
Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Kediri
Pada tahun 1041 Saka atau 963 M Raja Airlangga memerintahkan membagi kerajaan menjadi dua bagian. Pembagian kerajaan tersebut dilakukan oleh seorang Brahmana yang terkenal akan kesaktiannya yaitu Mpu Bharada. Kedua kerajaan tersebut dikenal Jenggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kediri) yang dibatasi oleh gunung Kawi dan sungai Brantas dikisahkan dalam prasasti Mahaksubya (1289 M), kitab Negarakrtagama (1365 M), dan kitab Calon Arang (1540 M). Tujuan pembagian kerajaan menjadi dua agar tidak terjadi pertikaian.
Kerajaan Jenggala meliputi daerah Malang dan delta Sungai Brantas dengan pelabuhannya Surabaya, Rembang, dan Pasuruhan, beribu kota di Kahuripan, sedangkan Panjalu kemudian dikenal dengan nama Kediri meliputi Kediri, Madiun, dan ibu kotanya Daha. Berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan masing-masing kerajaan saling merasa berhak atas seluruh takhta Airlangga sehingga terjadilah peperangan.
Berdirinya Kerajaan Panjalu (Daha/Kediri)
Pada akhir November 1042, Airlangga terpaksa membelah wilayah kerajaannya karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Putra yang bernama Sri Samarawijaya mendapatkan kerajaan barat bernama Panjalu yang berpusat di kota baru, yaitu Daha. Sedangkan putra yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan timur bernama Janggala yang berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan. Kisah pembagian kedua kerajaan ini tertuang di dalam Kitab Negarakrtagama:
"...Nahan tatwanikaɳ kamal/ widita deniɳ sampradaya sthiti, mwaɳ çri pañjalunatha riɳ daha te- wekniɳ yawabhumy/ apalih, çri airlanghya sirandani ryyasihiran/ panak/ ri saɳ rwa prabhu, ..." (Negarakrtagama: Pupuh 68)
Terjemahan:
"...Demikian sejarah Kamal menurut tutur yang dipercaya, Dan Sri Nata Panjalu di Daha, waktu bumi Jawa dibelah, Karena cinta raja Airlangga kepada dua puteranya, ..."
Kiranya dapat diketahui bahwa Airlangga telah membagi wilayah kekuasaannya kepada kedua puteranya. Lanjutnya di dalam pupuh 68 Kakawin Nagarakrtagama bahwa Tapal batas kedua Negara ditandai air kendi, mancur dari langit. Dari barat ke timur sampai laut; sebelah utara, selatan. Yang tidak jauh, bagaikan dipisahkan oleh samudera besar. maksud dari pernyataan ini adalah kedua kerajaan tersebut dipisahkan oleh sungai yang bermuara ke laut (Sungai Brantas).
Pembagian kekuasaan oleh Raja Airlangga nampaknya berkaitan dengan Prasasti Cane (1021) yang dikeluarkan oleh Raja Airlangga. Di dalam prasasti ini Airlangga dengan nama abhiseka Çri Mahãrãja Rakai Halu Çri Lokeçwara Dharmmawamça Airlangga Anãntawikramottunggadewa, dan tertulis Çrĩ Sanggrãmawijaya Dharmmaprasãdottunggadewi, sebagai Rakryan Mahamantri i Hino. Gelar Rakryan Mahamantri i Hino biasanya diberikan kepada putra mahkota yang kelak akan menjadi pengganti raja. Dengan demikian maka dapatlah diketahui bahwa pengganti Airlangga seharusnya Sri Sanggramawijaya Dharmmaprasadotunggadewi, seorang putri Airlangga dari permaisuri.
Keterangan mengenai Sri Sanggramawijaya Dharmmaprasadotunggadewi sebagai Rakryan Mahamantri i Hino juga dimuat di dalam Prasasti Pasar Legi yang dikeluarkan tahun 1043. Namun, dalam kitab Calon Arang, Sri Sanggramawijaya Dharmmaprasadotunggadewi memutuskan untuk mundur dari jabatannya sebagai Mahamantri i Hino. Dengan mundurnya Sri Sanggramawijaya, maka Airlangga memutuskan untuk membelah kerajaannya menjadi dua bagian; bagian barat yaitu wilayah Panjalu beribukota di Daha diberikan kepada Sri Samarawijaya, kemudian wilayah bagian timur yaitu Janggala beribukota di Kahuripan diberikan kepada Mapanji Garasakan.
Pada awalnya perang saudara tersebut, dimenangkan oleh Jenggala tetapi pada perkembangan selanjutnya Panjalu/Kediri yang memenangkan peperangan dan menguasai seluruh takhta Airlangga. Dengan demikian di Jawa Timur berdirilah kerajaan Kediri dimana bukti-bukti yang menjelaskan kerajaan tersebut, selain ditemukannya prasasti-prasasti juga melalui kitab-kitab sastra. Dan yang banyak menjelaskan tentang kerajaan Kediri adalah hasil karya berupa kitab sastra. Hasil karya sastra tersebut adalah kitab Kakawin Bharatayudha yang ditulis Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yang menceritakan tentang kemenangan Kediri/Panjalu atas Jenggala.
Perkembangan Kerajaan Kediri
Dalam perkembangannya Kerajaan Kediri yang beribukota Daha tumbuh menjadi besar, sedangkan Kerajaan Jenggala semakin tenggelam. Diduga Kerajaan Jenggala ditaklukkan oleh Kediri. Akan tetapi hilangnya jejak Jenggala mungkin juga disebabkan oleh tidak adanya prasasti yang ditinggalkan atau belum ditemukannya prasasti yang ditinggalkan Kerajaan Jenggala. Kejayaan Kerajaan Kediri sempat jatuh ketika Raja Kertajaya (1185-1222) berselisih dengan golongan pendeta.
![]() |
| Arca Wisnu dari abad ke-12, salah satu peninggalan Kerajaan Kediri |
Perselisihan antara Kertajaya dengan para brahmana kemudian berhasil dimanfaatkan oleh Ken Arok setelah mengalahkan Akuwu Tumapel, Tunggul Ameutung. Ken Arok akhirnya berhasil mengalahkan Kertajaya dari Kerajaan Kediri dan mendirikan Kerajaan Singasari. Diatas bekas Kerajaan Kediri inilah Ken Arok kemudian mendirikan Kerajaan Singasari, dan Kediri berada di bawah kekuasaan Singasari. Ketika Singasari berada di bawah pemerintahan Kertanegara (1268-1292), terjadilah pergolakan di dalam kerajaan. Jayakatwang, raja Kediri yang selama ini tunduk kepada Singasari bergabung dengan Bupati Sumenep (Madura) untuk menjatuhkan Kertanegara. Akhirnya pada tahun 1292 Jayakatwang berhasil mengalahkan Kertanegara dan membangun kembali kejayaan Kerajaan Kediri.
Raja-Raja Kerajaan Kediri
Sri Samarawijaya (1042-1051)
Nama raja Samarawijaya juga tertuliskan di dalam prasasti Pamwatan (1042). Di dalam prasasti itu Rakryan Mahamantri i Hino, Sri Samarawijaya diperintahkan oleh Raja Airlangga untuk menerbitkan prasasti ini yang menegaskan ibukota Kerajaan Medang Kahuripan adalah Daha. Penobatan Sri Samarawijaya juga dituliskan di dalam Prasasti Pandan (1042) yang juga menyebutkan; rakryan mahamantri i hino śrī samarawijaya dhāmasuparṇawāhana teguh uttuṅgadewa.
Di dalam cerita Serat Calon Arang yang dituliskan pada era Kerajaan Majapahit, putri Airlangga, Sanggramawijaya Tunggadewi memilih mengundurkan diri dari takhta dan menjadi pertapa dengan nama Dewi Kili Suci. Di dalam Serat Calon Arang ini, Sanggramawijaya Tunggadewi memiliki dua orang adik laki-laki. Keterangan ini menegaskan bahwa kedua adik laki-lakinya ini memiliki potensi sebagai penggantinya sebagai Rakryan Mahamantri i Hino, tidak terkecuali juga bagi Samarawijaya. Posisi Samarawijaya sebagai Rakryan Mahamantri i Hino selain yang telah disebutkan di dalam Prasasti Pamwatan dan Prasasti Pandan juga disebutkan di dalam Prasasti Pasar Legi (1043) dan mendampingi Airlangga sebagai Maharaja. Jelas kiranya di sini bahwa Samarawijaya merupakan putera mahkota dari Kerajaan Kahuripan.
Setelah penobatan Samarawijaya sebagai Rakryan Mahamantri i Hino pada 1042 dan penegasan di tahun 1043, Airlangga di dalam Prasasti Turun Hyang B (1044) mengesahkan anugerah yang diberikan kepada Mapanji Garasakan kepada Desa Turun Hyang yang setia membantu Mapanji Garasakan melawan Kediri. Tentu penerbitan Prasasti Turun Hyang A ini menimbulkan kecurigaan dengan adanya perubahan serta gejolak politik di akhir pemerintahan Raja Airlangga.
Di dalam Prasasti Turun Hyang B tidak jelas siapa pemimpin Kediri, namun dari beberapa prasasti yang telah diterbitkan sebelumnya jelas kiranya bahwa Samarawijaya adalah penguasa Kediri dengan gelar Rakryan Mahamantri i Hino yang telah disematkan kepada dirinya. Namun, dengan adanya keterangan yang jelas bahwa Airlangga memberikan pengesahan atas anugerah Mapanji Garasakan kepada Desa Turun Hyang B yang telah membantunya melawan Kediri memberikan indikasi adanya gejolak politik di masa akhir kekuasaan Airlangga.
Dengan demikian, muncul pertanyaan mengapa Sri Samarawijaya menjadi lawan politik dari Mapanji Garasakan? Adakah upaya perebutan kekuasaan yang hendak dilakukan oleh Samarawijaya terhadap takhta yang dikuasai oleh Airlangga, sehingga Mapanji Garasakan, yang diyakini juga sebagai putra Airlangga memberikan perlawanan kepada Samarawijaya?. Jika keduanya adalah putra Airlangga, mengapa Airlangga memberikan persetujuan anugerah dalam Prasasti Turun Hyang B yang seolah memberikan isyarat adanya perlawanan kepada dirinya yang dilakukan oleh Samarawijaya?. Lalu, siapa sebenarnya Samarawijaya? Apakah ia benar-benar anak dari Airlangga?. Jika benar anak dari Airlangga mengapa Samarawijaya berada dalam posisi berlawanan dengan Airlangga sebagaimana yang diceritakan dalam Prasasti Turun Hyang B?.
Berdasarkan persoalan di atas kiranya perlu mempertimbangkan dugaan C.C. Berg. Menurutnya, pembagian Kerajaan yang dilakukan oleh Airlangga itu bukanlah suatu fakta historis, melainkan suatu cerita yang dibuat oleh pujangga pada masa Kerajaan Majapahit untuk membenarkan pembagian kerajaan yang dilakukan oleh Hayam Wuruk kepada Wirabhumi di sebelah timur dan Kerajaan Majapahit diberikan kepada anaknya yang lahir dari Parameswari, yaitu Kusumawardhani.
Jika menelisik pada Candi Belahan di lereng Gunung Penanggungan, yang diyakini sebagai situs pendharmaan Airlangga. Terdapat dua arca dewi yang dianggap penjelmaan dari kedua istri Airlangga, penjelmaan itu diwujudkan dalam arca dewi laksmi dan dewi Sri. Sehingga muncul dugaan bahwa Mapanji Garasakan dan Sri Samarawijaya adalah putra dari kedua istri Airlangga tersebut. Lalu, muncul persoalan bagaimana dengan Sanggramawijaya Tunggadewi?. Berdasarkan keterangan yang diberikan dari Prasasti Cane ketika ia menjabat sebagai Rakryan Mahamantri i Hino tanpa diragukan bahwa ia adalah anak dari permaisuri Airlangga.
Bagaimana dengan Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan apakah benar Sri Samarawijaya adalah putra dari permaisuri Airlangga sehingga ia layak menjabat Rakryan Mahamantri i Hino?. Bagaimana dengan Mapanji Garasakan?.
Prasasti Turun Hyang (1044 M) ini telah pecah berkeping-keping, tetapi direkam dalam sebuah dekrit Airlangga, memperingati pendirian desa Turun Hyang sebagai tanah bebas, sesuai dengan sumpah Airlangga untuk melakukannya ketika semua musuhnya telah dikalahkan. Prasasti ini juga memperingati pembangunan pertapaan yang disebut Śrī Vijayāśrama (gīneṣwaryya patapan maruhun śrī wījayaśrama). Dekrit ini menunjukkan bahwa Airlangga telah berhasil mengalahkan musuh-musuh politiknya.
Untuk dapat mengetahui asal-usul Mapanji Garasakan, tentu harus mengidentifikasi terlebih dahulu prasasti pertama yang menyebutkan namanya, yaitu Prasasti Turun Hyang yang terbit pada tahun 1044. Prasasti Turun Hyang ini adalah prasasti yang diisi oleh dua dekrit, dekrit Airlangga yang kemudian disebut dengan Prasasti Turun Hyang A (mengacu pada bait 1-12) dan dekrit yang dikeluarkan oleh Mapanji Garasakan (dimulai pada bait 13). Diketahui berdasarkan dari dekrit yang dikeluarkan oleh Airlangga, bahwa penduduk Desa Turun Hyan adalah pengikut Airlangga yang setia, karena telah membantu Airlangga dalam mengalahkan musuh-musuhnya sebagaimana kampanye Airlangga yang dimulai sejak 1041 (keterangan dalam prasasti batu Pucangan).
Setelah berhasil mengalahkan musuh-musuhnya, Airlangga memberikan anugerah kepada Desa Turun Hyang pada tahun 1044. Namun, di tahun yang sama juga dikeluarkan dekrit oleh Mapanji Garasakan yang memberikan anugerah kepada penduduk Desa Turun Hyang yang membantu dirinya untuk memisahkan diri dari Haji Pangjalu yang mana keterangan ini dibubuhi stempel garudamukha (stempel kebesaran Airlangga). Berdasarkan keterangan dari Prasasti Turun Hyang B ini, jelas kiranya bahwa telah terjadi pertempuran antara Haji Pangjalu dan Mapanji Garasakan.
Namun, yang menjadi persoalan dalam Prasasti Turun Hyang B adalah kata “memisahkan diri” dari Haji Pangjalu memberikan konfirmasi bahwa Haji Pangjalu adalah Samarawijaya dan juga memberikan konfirmasi bahwa Samarawijaya benar adanya sebagai Rakryan Mahamantri i Hino (Putera Mahkota) dan nampaknya telah menjadi penerus takhta Airlangga. Kata “Memisahkan diri” ini memberikan isyarat bahwa Mapanji Garasakan harus memaksa Haji Pangjalu (Samarawijaya) memberikan sebagian wilayah kekuasaannya. Dengan dibubuhkannya garudamukha (stempel kebesaran Airlangga) menunjukkan bahwa Airlangga merestui tindakan ini.
Berdasarkan keterangan di atas Airlangga sepertinya khawatir atau ragu telah memberikan kekuasaannya kepada Samarawijaya. Mengapa Airlangga memunculkan keraguan setelah Samarawijaya dinobatkan menjadi penerusnya? Apakah Samarawijaya bukan anak Airlangga dan memberikan dugaan bahwa Mapanji Garasakan-lah yang jelas sebagai anak Airlangga? lalu mengapa Samarawijaya dinobatkan sebagai Rakryan Mahamantri i Hino?.
Dugaan kuat bahwa sesungguhnya Mapanji Garasakan adalah putera dari Airlangga, ditunjukkan dari Prasasti Kamban Putih yang terbit pada 1050. Prasasti ini sering dikaitkan dengan pemerintahan Airlangga, berdasarkan segel garudamukha yang digunakan. Namun, nama raja, yang dibaca di dalam prasasti ini adalah Śrī Karasakan (Mapanji Garasakan). Prasasti ini memperingati pemberian dari raja kepada para tetua desa Kambaň Putih; tetapi karena sisi depannya hampir hancur total, kita tidak tahu mengapa pemberian itu diberikan kepada mereka oleh raja. Meskipun hancur total, tetapi dapat diduga pemberian anugerah ini berkaitan dengan bantuan yang diberikan oleh Desa Kamban Putih kepada Mapanji Garasakan dalam menghadapi musuh politiknya, sebagaimana ini juga tertuang di dalam Prasasti Turun Hyang B.
Indikasi yang mungkin bahwa hubungan antara Mapanji Garasakan dan Airlangga ini adalah hubungan ayah dengan anak ditemukan dalam prasasti Sumenka (1059). Prasasti ini juga disegel dengan garudamukha dan memperingati penetapan desa Sumanka sebagai tanah bebas, sebagai hibah dari raja kepada para tetua desa yang telah mengajukan permohonan kepada raja untuk menetapkan desa mereka sebagai tanah bebas, untuk memungkinkan mereka memperbaiki sungai atau kanal, yang dibangun oleh Paduka Mpunku, sebagai tanda kesetiaan mereka kepadanya.
Dalam bagian prasasti Sumenka yang menyatakan hubungan antara raja (Samarotsaha) dan {Paduka Mpunku}, ditemukan frasa: swabhāwa śrī mahārāja pwa suma. alyaken anugraha paduka mpǔñku. a. . n. dharma . . dī śira pinakawkā. . . srī mahārāja dewata. Pinakawka secara harfiah berarti 'dijadikan anak' atau 'dianggap sebagai anak', tetapi mungkin juga berarti 'adalah anak'. Hal menarik dari prasasti ini juga ditemukan frasa Janggalanchana yang juga terdapat garudamukha. Janggalanchana yang juga terdapat garudamukha, maka dapat disimpulkan bahwa Samarotsāha adalah putra Airlangga dan raja Jañgala. Dan jika penggunaan segel garudamukha olehnya adalah untuk menunjukkan bahwa ia adalah putra Airlangga, maka Garasakan juga adalah putra Airlangga. Bahwa Garasakan tidak mungkin menjadi raja Panjalu atau kerajaan lain dapat disimpulkan dari fakta bahwa ia telah berperang dengan raja Panjalu,
Prasasti lain menawarkan bukti adanya raja ketiga Jangala dan membuat masalah menjadi lebih rumit. Prasasti itu adalah prasasti lempengan tembaga Banjaran bertanggal 974 Saka (31 Agustus 1052 M). prasasti itu memperingati pendirian tanah bebas desa Banjaran sebagai hibah dari raja, Sri Maharaja Mapanji Alanjun Ahyes Makoputadhanu Sri Ajnajabharitamawakana Pasukala Nawanamanitaniddhita Sasatrahetajnadewati (?), kepada samya haji dari Banjaran.
Fakta yang paling menonjol dalam prasasti Banjaran adalah penyebutan garudamukha yang mungkin menunjukkan segelnya. Tetapi kemudian dapat disimpulkan bahwa Mapañji Alanjun Ahyes, atau apa pun nama aslinya, juga merupakan putra Airlangga. Dengan demikian, kita memiliki tiga raja Janggala berturut-turut yang semuanya adalah putra Airlangga, yang pertama adalah Mapanji Garasakan yang digantikan oleh Mapanji Alanjun Ahyes pada 974 Śaka, sedangkan Samarotsaha adalah yang terakhir dari mereka.
Sepeninggal Raja Airlangga dan selama kekuasaan Samarawijaya, Kerajaan Janggala dan Panjalu tidak pernah hidup berdampingan secara damai. Perebutan kekuasaan terus berlangsung hingga tahun 1042, Mapanji Garasakan dapat mengalahkan Samarawijaya. Diabadikanlah nama Raja Mapanji Garasakan (1042-1052 M) dalam Prasasti Malenga. Ia tetap memakai lambang Kerajaan Airlangga, yaitu Garuda Mukha (Wisnu Naik Garuda). Namun Mapanji tidak lama memimpin Kerajaan. Tampuk pemerintahan lalu jatuh ditangan Raja Mapanji Alanjung Ahyes (1052-1059 M) dan kemudian digantikan lagi oleh Sri Maharaja Samarotsaha.
Sri Jitendrakara (1051-1112)
Sri Jitendrakara/Sri Jitendra Kara, atau Sri Jitendra diidentifikasi sebagai raja dari Kerajaan Panjalu. Identifikasi ini berdasarkan pada prasasti Mataji yang ditemukan di Desa Bangle, Lengkong, Nganjuk, Jawa Timur. Prasasti ini bertanggal 973 Saka, atau 1051 Masehi, dan ditulis dalam bahasa serta aksara Jawa Kuno.
Namanya tercatat dalam prasasti Mataji yang memberikan informasi mengenai nama raja dengan gelar abhiseka yang digunakan, yaitu Sri Maharaja Jitendra Kara Paladewa Wuryyawiryya Parakrama Bhakta. Ia menjadi raja Panjalu sekitar tahun 973 Saka, atau 1051 Masehi. Jarak waktu antara penerbitan prasasti Mataji pada tahun 1051 Masehi dan penobatan Sri Samarawijaya pada tahun 1042 hanya terpaut 9 tahun. Jangka waktu yang relatif singkat ini menimbulkan dugaan bahwa Sri Samarawijaya memerintah Kerajaan Panjalu paling lama sekitar 9 tahun.
Dalam prasasti Mataji berisi penganugerahan status sima (bebas pajak) oleh Raja Jitendrakara melalui pejabatnya Sang Hadyan kepada penduduk Desa Mataji, yang telah berulangkali membantu raja dalam menumpas musuh-musuh kerajaan. Nama raja ditulis sebagai Sri Maharaja Jitendra Kara Paladewa Wuryyawiryya Parakrama Bhakta, dan juga terdapat frasa "Hajyan Panjalu". Hal ini menunjukkan bahwa Sri Maharaja Jitendrakara juga bergelar Hajyan Panjalu (Haji Panjalu).
Tidak diketahui secara pasti kapan Sri Jitendra Kara turun takhta. Namun, diduga ia memerintah hingga tahun 1112 berdasarkan prasasti Karanggayam (1112). Di dalam Prasasti Karanggayam, raja Panjalu adalah Sri Bameswara.
Sri Bameswara (1112-1135)
Sri Maharaja Bameswara (1116-1135), namanya tercatat dalam prasasti Padeglan I (1117), Prasasti Panumbangan (1120) dan Prasasti Tangkilan (1130). Sri Bameswara adalah raja Kerajaan Kediri yang menggunakan lancana Candrakapale yaitu tengkorak yang bertaring diatas bulan sabit. Pada masa pemerintahannya banyak dihasilkan karya-karya sastra bahkan kiasan hidupnya yang dikenal dalam Cerita Panji.
Sri Bameswara adalah raja Panjalu yang memerintah pada kurun waktu sekitar tahun 1112 hingga 1135. Gelar abhiseka yang disandangnya adalah Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara Sakalabhuwana Tustikarana Sarwaniwariwirya Parakrama Digjaya Uttunggadewa.
Tidak diketahui secara pasti kapan Sri Bameswara naik tahta sebagai penguasa Kerajaan Panjalu. Namun jika melihat dari beberapa prasasti yang telah ia terbitkan selama memerintah, penanggalan pada Prasasti Karanggayam (1112) yang menjadi rujukannya. Selama masa pemerintahan Maharaja Sri Bameswara, setidaknya terdapat sepuluh prasasti penting yang menginformasikan perkembangan Jawa bagian timur pada masa itu.
Prasasti Karanggayam (1112)
Prasasti yang menjadi perhatian beberapa waktu belakangan ini diduga telah menjadi petunjuk bahwa pemukiman Karanggayam sejak era Kerajaan Hindu-Buddha telah menjadi pemukiman. Berdasarkan jejak historisnya dengan bertarikh 1112 M yang diduga didirikan pada masa raja Sri Bameswara. Di dekat prasasti ini juga ditemukan yoni yang menunjukkan Desa Karanggayam terdapat tempat peribadatan.
Prasasti Padlegan I (1116)
Prasasti ini berwujud stela dengan puncak kurawal, berdimensi tinggi 145 cm, lebar atas 81 cm, lebar bawah 70 cm, dan tebal 18 cm. Meskipun banyak aksara Jawa Kuno yang telah aus, prasasti ini telah dibaca oleh J.L.A. Brandes dan didokumentasikan melalui Oud Javansche Oorkonde dengan nomor prasasti LXVII.
Prasasti ini memuat penanggalan tahun 1038 Saka, yang setara dengan 11 Januari 1116 Masehi. Nama raja yang tersebut dalam prasasti adalah Sri Bameswara, dengan gelar abhiseka lengkap çrï (mahā)raja çrï bāmeḉwara sakalabhuwaņatuṣṭikāraņa (sa)rwwāniwāryyawïryya parakrama digjayotunggadewa. Isi prasasti ini adalah peringatan penetapan suatu daerah menjadi sima, sebagai anugerah dari Raja Sri Bameswara kepada para pejabat Desa Padlegan. Anugerah ini diberikan sebagai penghargaan atas kesetiaan mereka kepada raja, yang dibuktikan dengan pengorbanan jiwa di medan pertempuran.
Prasasti Panumbangan I (1120)
Prasasti Panumbangan berangka 1120 Masehi yang merupakan prasasti sima yang berisi penetapan kembali Desa Panumbangan sebagai desa sima oleh Sri Bameswara, yang dalam prasasti ini bergelar crï maharaja rake sirikan crï paramecwara sakalabhuwanatustikarananiwaryyawïryya parakrama digjayottunggadewa. Penetapan tersebut didasarkan pada keputusan raja yang pernah diberikan kepada penduduk Desa Panumbangan. Dalam prasasti ini disebutkan pula bahwa para rama lima duwan i panumbangan i dalm thani mendapatkan hak-hak istimewanya.
Beberapa hak istimewa yang terdapat dalam Prasasti Panumbangan I, di antaranya adalah hak untuk memiliki tempat duduk kayu yang dibubut, memiliki rumbai-rumbai dari kain halus (bananten) di tepian altar rumah, memiliki lesung kuning, memiliki balai-balai, memiliki rumah berlantai dengan balai-balai, serta hak untuk memperistri pelayan atau budak. Selain itu, disebutkan pula bahwa para duwan i panumbangan berhak memanggil men-men dan memberikan pertunjukan khusus untuknya. Men-men berarti topeng, sedangkan menurut Edi Sedyawati, men-men merupakan sejenis tontonan keliling. Kemungkinan, yang dimaksud dengan men-men adalah sejenis kesenian jalanan atau kesenian keliling yang pemainnya mengenakan topeng saat pertunjukan.
Prasasti Geneng I/Prasasti Brumbung I (1128)
Prasasti Geneng I memiliki angka tahun 1050 Saka, yang setara dengan tanggal 30 Juli 1128 Masehi. Prasasti ini dikeluarkan oleh Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara Sakalabhuwana Tustikarana Sarwaniwariwirya Parakrama Digjaya Uttunggadewa, dari kerajaan Panjalu/Kāḍiri.
Pada prasasti ini, ditemukan adanya lancana atau segel kerajaan, yang merupakan logo dari Raja Bameswara berupa Candrakapala Lancana (tengkorak menggigit bulan). Prasasti ini ditulis menggunakan huruf dan bahasa Jawa Kuno. Ukuran prasasti ini adalah tinggi 140,5 cm, lebar 66,5 cm, dan tebal 22,5 cm.
Prasasti Geneng I ini memberikan keterangan bahwa pada hari itu Sri Bameswara yang datang disambut oleh Rakryan Mahamantri i Halu (sayangnya nama sang mentri tidak lengkap hanya terbaca mapanji...gunung), Rakryan Rangga Mapanji amaraha dan Rakryan Kanuruhan Mpu Karnniswara. Di dalam kunjungannya itu, Sri Bameswara memerintahkan kepada Samya Haji (pemimpin) seluruh Thani (desa) untuk menambah ilmu (mengumpulkan dan meningkatkan pengetahuan/kesejahteraan). Dengan keterangan ini memberikan petunjuk bahwa Sri Bameswara memberikan perhatiannya terhadap kemajuan daerah-daerah dari tingkatan desa.
Prasasti Candi Tuban (1129)
Prasasti Candi Tuban yang bertarikh 17 Mei 1129 Masehi, diketemukan di Domasan, Kalidawir, Tulungagung. Prasasti ini diperkirakan terbit pada masa pemerintahan Sri Bameswara dari Kerajaan Kadiri. Prasasti yang terbuat dari batu andesit ini saat ini menjadi bagian dari koleksi Museum Nasional Indonesia dan hingga kini belum diterbitkan secara resmi. Sama halnya dengan beberapa prasasti yang diterbitkan oleh Bameswara, tentu berkaitan dengan pemberian anugerah kepada sebuah desa. Karena belum diterbitkan dan dibaca, tidak dapat memberikan keterangan lebih lanjut mengenai prasasti ini.
Prasasti Tangkilan (1130)
Prasasti Tangkilan merupakan artefak tertulis yang berasal dari era Kerajaan Kadiri, tepatnya pada masa pemerintahan Sri Maharaja Sri Bameswara Sakalabuanatustikarana Sarwwaniwaryyawiryya Parakrama Digjayottunggadewa, yang lebih dikenal sebagai Raja Bameswara. Prasasti ini memuat penanggalan tahun 1052 Saka, yang setara dengan tahun 1130 Masehi. Pada prasasti tersebut, teridentifikasi adanya lencana atau lambang kebesaran Raja Bameswara, yaitu Candrakapala lancana, yang divisualisasikan dalam bentuk tengkorak yang menggigit bulan.
Prasasti Sukorejo (1131)
Prasasti Sukorejo yang terkadang disebut sebagai Prasasti Puhpelem yang ditemukan di Wonogiri, Jawa Tengah. Isinya belum sepenuhnya terbaca sehingga sesungguhnya masih menjadi perdebatan mengenai tarikh waktunya. Hanya diperkirakan berasal dari abad ke-10 - 12 M.
Prasasti Besole (1132)
Prasasti Besole merupakan sebuah prasasti yang ditemukan di Dusun Besole, Desa Darungan, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Prasasti ini memiliki tinggi 157 sentimeter dan lebar 83 sentimeter. Kondisi aksara pada prasasti ini tampak sangat aus. Berdasarkan sisa-sisa aksara yang masih dapat dikenali, diketahui bahwa prasasti ini ditulis menggunakan aksara Kawi. Pada sisi depan prasasti, terpahat candrakapala lancana, serta angka tahun 1054 Saka (1132Masehi). Terdapat pula aksara yang terbaca "rumaksa praja" dan "cakrawartin". Berdasarkan pada isi yang dapat dibaca tersebut, diperkirakan prasasti ini dipahatkan atas perintah Raja Sri Bameswara dari Kadiri terutama karena ditemukannya candrakapala lancana (tengkorak menggigit bulan) yang merupakan segel pemerintahan Sri Bameswara.
Prasasti Pagiliran (1134)
Prasasti Pagiliran memuat angka tahun 1056 Saka (1134 Masehi), yang diperkirakan dikeluarkan oleh Sri Bameswara dari Kerajaan Kadiri. Anggapan ini didasari pada prasasti ini, ditemukan adanya lancana (logo) Raja Bameswara yang berupa Candrakapala Lancana (tengkorak menggigit bulan) yang mana menjadi ciri khas segel Sri Bameswara.
Prasasti ini masih belum dapat dibaca sepenuhnya karena kondisi tulisan yang aus. Namun, dari beberapa tulisan yang dibaca, nampaknya prasasti ini berkaitan dengan pemberian anugerah dari sang raja kepada Desa Karaman di Pagiliran. (...irika diwasana (ajna)...Janiwaryyawiryya parakrama digjayottunggadewa tinadah rakrayan maharaja kalih i halu i ranga, ya krama kumonnaken ikang karaman i pagiliran sapanjing thani kabeh... watek panu... (sisa isi mengalami keausan sehingga tidak dapat dibaca). "...Pada saat itulah perintah .... yang merupakan kejayaan bagi dunia, memiliki keberanian dan keperkasaan yang tak tertandingi, menaklukkan segala penjuru, yang diterima oleh Rakrayan Maharaja, keduanya di Halu dan di Rangga, secara turun-temurun memerintahkan kepada penduduk desa (karaman) di Pagiliran beserta seluruh wilayah bawahannya... dari kelompok (watek) Panu.
Prasasti Karangrejo (1134)
Prasasti Karangrejo ditemukan di Desa Karangrejo, Kecamatan Garum, Blitar. Prasasti ini terbuat dari batu andesit dengan dimensi sebagai berikut: tinggi 64 cm, lebar bawah 45 cm, lebar atas 40 cm, dan tebal 40 cm. Inskripsi pada prasasti ini dipahatkan di bagian belakang arca Ganesha menggunakan huruf timbul dengan aksara dan bahasa Jawa Kuno. Prasasti ini memuat angka tahun 1056 Saka (1134 Masehi). Meskipun tidak menyebutkan nama raja, prasasti ini mencantumkan nama Sang Brahamana ri Duwegajah.
Prasasti Karangrejo memang tidak mencantumkan nama raja yang mengeluarkan prasasti. Namun, berdasarkan penanggalannya dengan waktu tahun yang sama dengan Prasasti Pagiliran, Prasasti Karangrejo pun dianggap sebagai prasasti yang diterbitkan oleh Sri Bameswara. i śa...1056, nugraha rahyang ta sa..., lanira nanti ri bhumï saniankana ta sira ta, panugrahani i sira sang brahmana ri duwegaja. (Pada tahun Saka 1056 (1134 Masehi) ...Anugerah dari Rahyang ta (Yang Mulia) ... beliau di bumi/wilayah tersebut, maka beliau ...Memberikan anugerah kepada sang Brahmana di (desa/wilayah) Duwegaja). Berdasarkan keterangan ini maka, sang raja memberikan beberapa hak istimewa kepada para brahmana di Duwegaja.
Adapun hak-hak istimewa bagi para brahmana tertuang dalam kalimat selanjutnya; h sanang goh kala holahan palanka winunu...t) sari ring naganate–n) wahulu–na pujut) wungku,...k) bule cabol) — wu-inlaran) muwah panugrahan i..... (Menyangkut hak-hak istimewa): sapi, pengolahan makanan, tandu/tempat duduk yang dihias ...bunga (sari), pejabat desa (wahuta?), orang-orang dengan kondisi fisik khusus seperti orang kerdil (pujut) dan orang bungkuk (wungkuk).... orang albino (bule), orang cebol (cabol), serta anugerah tambahan berupa ... (teks terputus). Berdasarkan hak-hak istimewa itu sang brahmana dapat memanfaatkan sapi, mengolah makanan (nampaknya untuk ritual). Di dalam upacara ritual, para brahmana diberikan tempat duduk yang dihias dengan bunga, dan mendapatkan wewenang terhadap para pejabat desa, orang dengan kondisi fisik khusus seperti orang bungkuk, albino (tentu disini orang dengan kelainan genetik warna kulit bukan orang bule (Eropa), dan cebol (kerdil).
Berdasarkan prasasti Hantang bertahun 1135 Masehi, pengganti Sri Bameswara yang akan memerintah Panjalu adalah Sri Maharaja Warmeswara, yang juga dikenal sebagai Jayabhaya.
Sri Jayabhaya (1135-1159)
Sri Bameswara diganti oleh Sri Maharaja Sri Jayabhaya (1135-1159) yang menggunakan lencana Kerajaan berupa lencana Narasingha yaitu setengah manusia setengah singa. Nama raja Jayabhaya sendiri tertuliskan di dalam Prasasti Ngantang (1135) dan Kakawin Bharatayudha (1157). Pada masa pemerintahannya Kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaan dan juga banyak dihasilkan karya sastra. Jayabhaya juga disebut sebagai penjelmaan dari Dewa Wisnu. Berikut ini adalah beberapa prasasti yang diterbitkan oleh Sri Jayabhaya:
Prasasti Hantang/Prasasti Ngantang (1135)
Isi Prasasti Hantang
Prasasti Hantang terdapat dua sisi yang dapat dibaca, sisi depan dan sisi belakang. Berikut ini adalah pembacaan dari sisi depan prasasti hantang yang terdiri dari 26 baris;
Bagian Depan
Pañjalu Jayati
1. ||o|| swasti śakawarṣātī | ta 1057 bhadrawāda māsa tithi tra
||o|| Selamat! Tahun Saka telah berlalu 1057, bulan Bhadrawada, tanggal tiga
2. yodaśi kŗṣṇapakṣa wu pa | śā wāra wukir grahacāra paścima
belas, paruh gelap, Wu Pa, hari Sabtu, Wukir, posisi planet di barat,
3. stha māghānakṣatra pitŗdewa | tā śubhayoga śaśiparwweśa ā
nakshatra Magha, dewa leluhur. Pada saat yoga yang baik, bulan purnama, di
4. gneyamaṇḍala waṇijakaraṇa jayādāmatiwi irikā diwaśnyājñā śrī mahārāja sang mapañji jayabha | ya śrī warmmeśwara madhusūdanāwatā
mandala tenggara, transaksi perdagangan yang berjaya. Pada hari itu, perintah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabha,
5. rānandita sukŗtsingha parakrama digjayotunggadewanāma tinaḍaḥ rakryān mahāmantri halu mapañji ka | mbā daha umingsor i taṇḍa rakryā
yaitu Sri Warmeswara Madhusudanawatara, yang berbahagia, Sukritsingha Parakrama Digjayotunggadewa namanya, ditujukan kepada Rakryan Mahamantri Halu Mapanji,
6. n ri(ng) pakirakirān makādi rakryān kanuruhan pu kārṇakendra mapañji maṇḍaka karuhun rakryā | n mapatiḥ pu kārṇkeśwara mapa
Mba Daha yang berada di bawah Rakryan di Pakirakiran, terutama Rakryan Kanuruhan Pu Karnakendra Mapanji Mandaka Karuhun, Rakryan Mapatih Pu Karnakeswara
7. ñji ḍā guṇa kumonaknikang wiṣaya ri hantang rwa wlas thāni makādi dalĕm thāni padamlakna sang hyang ājña haji praśāsti | munggweng linggopala sambandha ikang wi
Mapanji Da Guna, memerintahkan wilayah di Hantang dua belas thani, terutama Dalem Thani, untuk melaksanakan perintah raja prasasti yang berada di Linggopala. Sehubungan dengan
8. ṣaya ri hantang rwa wlas thāni makādi dalĕm thāni sampakampak manambaḥ i śrī mahārāja makasopāṇa | pangajyan śrī mahārāja mpungku nai
wilayah di Hantang dua belas thani, terutama Dalem Thani, semuanya menghadap Sri Maharaja sebagai tangga penghormatan. Sri Maharaja menjunjung tinggi pandangan
9. yāyikadarśana samṛddhi kāraṇa bhairawa mā(r)ggānugamandhayogiśwara ….. manghyang ri yogyani panganu | graha sang lumaḥ ri gajapāda mwang anu
Naiyayika, kemakmuran, Bhairawa, mengikuti jalan yogiswara... menghadap tempat yang layak untuk di
10. graha sang lumaḥ ri nāgapuspa hana ring ripta pinakātma rakṣanikang wargga ri dalĕm thāni ri hantang tka ri wiṣaya | nya rwawlas thāni pratiṣṭākna ring linggodua belas thani. Ditetapkan di Linggo
anugerahi oleh Sang Lumah di Gajapada dan dianugerahi Sang Lumah di Nagapuspa yang berada di Ripta sebagai pelindung diri bagi warga di Dalem Thani di Hantang hingga ke wilayah dua belas thani. Ditetapkan di Linggo
11. pala atĕhĕr wuwuhanānugraha de śrī mahārāja sangkāri huningā śrī mahārāja ri panghyang ni | kang wargga āpan dharmma ni kadi sira
pala, kemudian ditambahkan anugerah oleh Sri Maharaja karena Sri Maharaja mengetahui warga, karena dharma-Nya seperti
12. kṣatriya janardanāwatāra tananggā katitihana puṇya de ning wwang amihutang i kabhaktin ri sira ikang | wargga dalĕm thāni ri hantang pwa tka ri wiṣaya
seorang ksatria, penjelmaan Janardana, tidak dapat dilampaui oleh pahala orang yang berhutang budi kepada pengabdiannya kepada-Nya. Warga Dalem Thani di Hantang hingga wilayah
13. nya rwawelas thāni satata suṣṭubhakti mamriḥ ri pagĕha śrī mahārāja ri maṇiratnasinghāsana makawyakti | ri pamwatakĕnya ri cañcu tan pamusuḥ
dua belas thani senantiasa berbakti, mengharapkan keteguhan Sri Maharaja di atas singgasana permata, mewujudkan kemampuan-Nya untuk berbicara tanpa permusuhan
14. mwang cañcu rāgadaba muwaḥ ri kāla ni panuwal kewalāgĕh ya pakṣa jayabhaya yatāga | we purwwarĕṇakāraṇanyaninubhaya sanma
dan berbicara dengan penuh kasih sayang. Pada saat penolakan, hanya keteguhan yang menjadi pihak Jayabhaya. Itulah penyebab Purwarena,
15. ta panghyangya de śrī mahārāja matangnyan winangun sang hyang ājnā haji praśāsti munggu ring linggopala | tinaṇḍa narasingha kmitananikang wargga ri
yang disetujui oleh Sri Maharaja. Oleh karena itu, dibangunlah perintah raja prasasti yang berada di Linggopala, ditandai dengan Narasingha, menjaga warga di
16. dalĕm thāni ri hantang tka ri wiṣayanya rwawlas thāni mrati subaddhākna panganugraha sang lumaḥ ring gajapāda | mwanganugraha sang lumaḥ ring nāgapuspa
Dalem Thani di Hantang hingga wilayah dua belas thani. Ditetapkan dengan teguh anugerah Sang Lumah di Gajapada dan anugerah Sang Lumah di Nagapuspa,
17. karangkĕpan denyānugraha pamuwuḥ śrī mahārāja kunang rasanyānugraha sang lumaḥ ring gaja | pāda ri tan knānya ring pinta palaku
diterima dengan anugerah tambahan dari Sri Maharaja. Adapun rasa anugerah Sang Lumah di Gajapada, yaitu tidak terkena oleh permintaan permohonan
18. sakupang sātak kipakipa saprakāra sangke rakryān rājaputra rajaputri kulapu | tra kulaputri sangke rakryān ma
sekupang, satak, kipakipa, segala sesuatu dari Rakryan Rajaputra, Rajaputri, Kulaputra, Kulaputri, dari Rakryan
19. ………… ntri hino sangke rakryān śrī parameśwarī sangke rakryān strī haji lāwan ri | tan knānya ring pobaran pawlit
...Mantri Hino, dari Rakryan Sri Parameswari, dari Rakryan Stri Haji, dan tidak terkena oleh pobaran, pawlit,
20. ………… pablana pintapintan saprakāna ungkabājñā yanamet dawut dawutana | kar yanamet manuk puyu
pablana, pintapintan, segala sesuatu yang melanggar perintah, yaitu memetik dawut, dawutana, kar yanamet manuk puyu,
21. ……….. karung wḍus pādu titiran amet wungkuk paṇḍak kimbar nglai bunglai | hayām sawung lāwan i tan
... karung wḍus, pādu, titiran, memetik wungkuk, paṇḍak, kimbar, nglai, bunglai, ayam sawung, dan tidak
22. swikāra (ame)t padlĕgan tṛpan yan hana karung pjah ri deśanya sakapjahanya yan miṇḍimeriya mangkana panganugraha sang lu(maḥ)
diizinkan (mengambil) padlĕgan, tṛpan. Jika ada karung yang mati di desanya, segala kematiannya. Jika miṇḍimeriya, demikianlah anugerah Sang Lu(maḥ).
23. kasanya ……. muktya pañcagati sangsāra saparananyāmanggiha duḥkha ikangumulaḥulaḥ ryyānu | graha śrī mahārāja pratyekaningaraning
Kasanya... menikmati pañcagati, sengsara ke mana pun pergi, akan menemui duka orang yang mengganggu anugerah Sri Maharaja. Masing-masing nama
24. han rama ……. la ri dalĕm thāni ni mangreṇa lorkigakiga didul tiga kaga makādi juru ma | ngaran sangśayan apasinggihan juru
adalah Rama... di Dalem Thani yang bernama Mangrena, Lorkigakiga, Didul, Tiga, Kaga, terutama juru bernama Sangsayan, Apassinggihan, juru
25. n araku …………….. sthi paṅarikan mangaran pājaran kunang ring wiṣaya i malamā | r mangaran bhuwaṇa inuḥ i patala
Araku... Sthipa, Pangarikan bernama Pajajaran. Adapun di wilayah Malamar bernama Bhuwana, Inuḥ di Patala
26. …………………………….. nu ṇa juru mangaran bhama śrī naśanaya kasugihan manga …. | …. ngkiḥ tan gra …….. ta
.......................... Nu Na, juru bernama Bhama, Sri Nasanaya, Kasugihan Manga... ... Ngkiḥ Tan Gra... Ta
Bagian Belakang
1. maḥ ring gajapāda kunang rasa nyānugraha sang lumaḥ ring nāgapuspa tka rikang wiṣa
mah di Gajapada. Adapun rasa anugerah Sang Lumah di Nagapuspa hingga ke wilayah
2. ya ri hantang rwawlas thāni makādi dalĕm thāni ri tan knānya ring drabya haji wuluwulu parawulu saprakāra tan | knā ri walū rumambat ring natar (wna)
di Hantang dua belas thani, terutama Dalem Thani, yaitu tidak terkena oleh biaya raja, wuluwulu, parawulu, segala sesuatu. Tidak terkena walū yang merambat di halaman,
3. ngāmangana karung puliḥ malima sabwathino majnuhalang tan knā ri malandang ka pakrang pakring mangkana panganugra | ha sang lumaḥ ring nāgapuspa kunang ra
mengamangana karung pulih, malima, sabwathino, majnuhalang, tidak terkena malandang, ka pakrang, pakring. Demikianlah anugerah Sang Lumah di Nagapuspa. Adapun
4. sanyānugraha pamuwuḥ śrī mahārāja ri wnanganyāmangana rājamangśa marabya ḍayang mahuluna ḍayang wnangamoma | ha nangka bukur waruga inantun waru
rasa anugerah tambahan dari Sri Maharaja, yaitu boleh mengamangana rājamangśa, marabya ḍayang, mahuluna ḍayang, boleh mengomaha nangka, bukur, waruga, inantun waru
5. ge tngaḥ saka inaṣṭa malsunga nangka apalangkālpar wnangāḍulaugabwaḥ kamalai wnangapalunganatutup ba | nantĕn lāwan ri panganyan paja
ge tngaḥ, saka inaṣṭa, malsunga nangka, apalangkālpar, boleh mengaḍulaugabwaḥ kamalai, boleh apalunganatutup banantĕn, serta panganyan paja,
6. mahānindikāguntingāmupuha rarai inakwākĕn mantuka tan pasuṇḍanga tan kaduḥkanan paluputa | knamuk tan knāring ka(..)iran tan knā
mahānindikāguntingāmupuha rarai, inakwākĕn mantuka tan pasuṇḍanga, tan kaduḥkanan paluputa, knamuk, tidak terkena ka(.. )iran, tidak terkena
7. ri panagiha tan knā ri salyut tan knā ri manimpiki tan knā ring mahūryyāngilala tan kaḍaṇḍa yanapawa | han bwaḥ kamalai tuhunu
panagiha, tidak terkena salyut, tidak terkena manimpiki, tidak terkena mahūryyāngilala, tidak didenda jika pawahan bwaḥ kamalai tuhunu
8. hutan tan pangalapana sapi kunang yan parakana samulyanya tan alĕngĕta mwang ri sḍanganyanhana rāja drawya katariwal ka | tmu ri hantang mantuka tan suṇḍangana tan kata
hutan, tidak mengambil sapi. Adapun jika parakana samulyanya tan alĕngĕta, serta pada saat ada raja drawya katariwal katmu di Hantang, mantuka tan suṇḍangana, tan kata
9. tananhanātukar i kalangan tuhun sapihĕn tan kaduḥkhanan sinambaḥ ri kāla ning widwācarita tuhun atulaka wnangādrawya tpakan yan inguma(..)juga tuhun
tananhanātukar di kalangan tuhun sapihĕn, tan kaduḥkhanan sinambaḥ pada saat widwācarita tuhun atulaka, boleh mengadrawya tpakan jika inguma(.. )juga tuhun
10. yān juga wnangāsajĕngajongkobor makatĕpasawĕḥ radinyan palakulaku ikang kabayān juga mwang ri wnanganyāmawa | tu wutuwuhanya mareng pkĕn agaḍungan
yān juga, boleh āsajĕngajongkobor makatĕpasawĕḥ radinyan palakulaku ikang kabayān juga, serta boleh amawa tu wutuwuhanya mareng pkĕn agaḍungan,
11. mbatan paraḍaḥ gumul wantayan tan pawawanakadut karañjang tanpapikulana rĕmbatan hampyal tanpama | rĕpatatali kewalā wĕkingwĕking tapwa
mbatan, paraḍaḥ, gumul, wantayan tan pawawanakadut karañjang tanpapikulana rĕmbatan hampyal tanpama rĕpatatali kewalā wĕkingwĕking tapwa
12. mapikulana kayukayu tan knānya ring suwargga lāwan ikang kalang kalagyan kabrahmāngśan kalagyan tirwan tumu | ta ring kolahulahan juga sānu
mapikulana kayukayu, tidak terkena suwargga, serta kalang kalagyan kabrahmāngśan kalagyan tirwan tumu ta di kolahulahan juga sānu
13. graha pāduka śrī mahārāja mwang ri tan katamananya deni winawa sang maṇa katriṇi tawan pangkur ti | rip pinghai wāhuta rāma nāyaka pra
graha pāduka śrī mahārāja, serta tidak dimasuki oleh winawa sang maṇa katriṇi, tawan, pangkur, tirip, pinghai, wāhuta, rāma, nāyaka,
14. tyaiya akurug haji wadihatyākudur tkaring miśra paramiśra miśrahino miśrānginangin pangurang kring | pamanikan maṇiga sikpan ru
pratyaiya, akurug haji, wadihatyākudur tkaring miśra paramiśra, miśrahino, miśrānginangin, pangurang, kring, pamanikan, maṇiga, sikpan, ru
15. mban tirwan paḍĕm watu tajĕm manimpiki limus galuḥ lingga kyab sṛtan tṛpan wilang thāni tingkĕ | s manambingi sanghiran mawī bapa
mban, tirwan, paḍĕm watu tajĕm, manimpiki, limus galuḥ, lingga kyab, sṛtan, tṛpan, wilang thāni, tingkĕs manambingi, sanghiran, mawī, bapa
16. ḍahi karĕngrĕngan lablab albuḥ sungka dhura tapahaji airhaji mati kalbū sinagiha wurisiki uru | tan dampulan sungsung nāyaka pa
ḍahi, karĕngrĕngan, lablab, albuḥ, sungka dhura, tapahaji, airhaji, mati kalbū, sinagiha, wurisiki, urutan, dampulan, sungsung, nāyaka pa
17. sukalas sipat wilut uṇḍahagi lañcang kanāyakan akurĕban haluwarak ramanang rakasang pi | ninghai katanggaran pawungkunung tpungkawung
sukalas, sipat, wilut, uṇḍahagi, lañcang, kanāyakan, akurĕban, haluwarak, ramanang rakasang, pininghai, katanggaran, pawungkunung, tpungkawung,
18. palamak pawḍihan pakikis pakbo pahawuhawu panggare patatar pāliḥ kuwu panrāngan pa | nigang blaḥ pakatimang pawidu paririla
palamak, pawḍihan, pakikis, pakbo, pahawuhawu, panggare, patatar pāliḥ kuwu, panrāngan, panigang blaḥ, pakatimang, pawidu, paririla
19. ngit dawuturus hopan saṇḍung lamur skartahun pabisar pawuruk pawlangwlang wli hapū wli | harĕng wli wadung wli tambā wli pañjut mang
ngit, dawuturus, hopan, saṇḍung, lamur, skartahun, pabisar, pawuruk, pawlangwlang, wli hapū, wli harĕng, wli wadung, wli tambā, wli pañjut mang
20. rumbai ma(ng)guñjai juru huñjĕman juru jalir manghwan haturan bang haturan pādu tkarikanang ma | manaḥ magalaḥ magaṇḍi matĕngrā
rumbai, ma(ng)guñjai, juru huñjĕman, juru jalir, manghwan haturan bang, haturan pādu, hingga manaḥ, magalaḥ, magaṇḍi, matĕngrā
21. n maliman makuda pakarapan pawalakasan panghayapan pangurungan pangalasan | pamanukan pasugalan alawa
n, maliman, makuda, pakarapan, pawalakasan, panghayapan, pangurungan, pangalasan, pamanukan, pasugalan, alawa
22. sambal sumbul hulun haji jĕnggi singgaḥ mabṛṣi watĕk i jro ityaiwamādi kabeḥ | tkaring sukha duḥkha kadyāng(ganing ma)yang
sambal, sumbul, hulun haji, jĕnggi, singgaḥ, mabṛṣi, watĕk i jro, ityaiwamādi kabeḥ, hingga sukha duḥkha kadyāng(ganing ma)yang
23. tanpawwaḥ mamuk matitibā wipati wangkai kabunan rāḥ kasawur ing hawan hidukasira | t duhilatĕn mami(jila)kĕn wsi
tanpawwaḥ, mamuk, matitibā, wipati, wangkai, kabunan, rāḥ kasawur ing hawan, hidukasira tuduhilatĕn, mami(jila)kĕn wsi
24. ning kikir mamu(ng)pa(ng) mati sinambĕr ning glap mati sinanghat ning sapi salaḥ pati lūdan tūtan angśa pratyangśa ḍĕṇḍa kuḍĕ(ṇḍa)
ning kikir, mamu(ng)pa(ng) mati sinambĕr ning glap, mati sinanghat ning sapi, salaḥ pati, lūdan, tūtan, angśa, pratyangśa, ḍĕṇḍa, kuḍĕ(ṇḍa),
25. hala yatikā tan tamā irikang wiṣaya ri hantang kewalā ikang wiṣaya ta pwa muktya sasukhaduḥkhani thā | ninya tan kaparabyāpāra (de)ning len
hala yatikā tan tamā irikang wiṣaya ri hantang, kewalā ikang wiṣaya ta pwa muktya sasukhaduḥkhani thāninya tan kaparabyāpāra (de)ning len.
26. mangkana rasanyānugraha śrī mahārāja irikang wiṣaya munggu ring linggopala kadĕgan de mpungki kajung | mpungkwi sadasmṛti tinu(ta)kĕn de sa rā
Demikianlah rasa anugerah Sri Maharaja di wilayah yang berada di Linggopala, diteguhkan oleh Mpu Ngki Kajung, Mpu Ngkwi Sadasmrti, ditulis oleh Sa Ra
27. t langka kunang yan hana patpāngulahulahāngruddhā mne hlĕm ryyānugraha śrī mahārāja knā | na ḍaṇḍa kā 1 su 5 atĕ(hĕr a)manggiha (sa)
t Langka. Adapun jika ada yang berani mengganggu anugerah Sri Maharaja, terkena denda kā 1 su 5, kemudian akan menemui
28. lwirning pañcamahāpatāka yāwat candraśca kadi lawas sang hyang candrāditya n sumulu | hi bhuwana maṇḍala …….. mana
segala jenis pañcamahāpatāka selama ada bulan, seperti lamanya Sang Hyang Candraditya menyinari dunia.
29. …….. makangaran gumayak kulubur mangaran wnaputra magadung mangaran iṇḍangi ha | …… d mang(aran)
………. bernama Gumayak, Kulubur bernama Wnaputra, Magadung bernama Iṇḍangi. …… d mang(aran)
Bagian Atas
ran pagĕḥ samangkana kweḥ ning rāmānarimānugra(ha) …. n …wwahanyapagĕḥ mangaran sarwwahana ………
bernama Pagĕḥ, demikianlah jumlah rāma yang menerima anugerah... ...buahnya Pagĕḥ bernama Sarwwahana...
Prasasti Talan/ Prasasti Munggut (1136)
Dalam prasasti Talan yang bertahun 1136, Raja Jayabhaya menganugerahkan desa Talan sebagai sima karena telah menyimpan prasasti ripta (lontar) dari masa leluhurnya, Wangsa Isyana, yaitu Airlangga. Lontar tersebut disalin ke prasasti batu dan diberikan tambahan anugerah lainnya, sebagai penghargaan atas bakti warga Talan kepada Paduka Mpungku yang memiliki cap kerajaan Lancana Garuda Mukha. Paduka Mpungku merupakan gelar Prabu Airlangga setelah turun takhta menjadi pertapa atau resi. Prabu Jayabhaya sendiri mengklaim bahwa Raja Airlangga adalah nenek moyangnya.
Isi Prasasti Talan
Sisi Depan:
1. //0//0m// swasti śakawarṣātῑta 1058. śrāwaṇamāsa. tithi ekādaśῑ kṛṣṇapakṣa. tu. wa. ca. wāra. prangbakat grahācara dakṣiṇastha. punarwwaśūnakṣatra
2. aditidewata. siddhiyoga. wawakāraṇa. kuweraoarwweśa. wayawyaya maṇḍala. irika diwasani ājñā śrῑ mahārāja śrῑ warmmeśwara madhusūdanāwatārānindita suhṛ
3. tshiŋha parākrama digjayottuṅggadewanāma. jayabhaya lāñcana. tinaḍaḥ rakryān mahāmantrῑ i halu kabayan ri sarwwagata umiŋsor i taṇḍa rakryān riŋ pakiraki
4. ran makabehan makādi rakryān kanuruhan mapañji maṇḍaka sambandha ikaŋ wargga ri talan kabeh mampakampak manamba ḥ ri Ibu ni pāduka śrῑ mahārāja maka
5. sopāṇa rakryān apatiḥ mpu kesareśwara kṛtawiwekālaṅghaniya parākrama mapañji bāguṇa. tan kawuntat paṅajyan śrῑ mahārāja neyāyika
6. darśana samṛddhi kāraṇa bhairawa mārgānugamana yogiśwarādhikāra umājar yan hana kmitanya praśāsti muṅgu ri rapta tinaṇḍa garuḍa mukha ātma rakṣanyan inanugrahān na
7. ka sῑmā deśanya ri talan de bhaṭāra guru. pramānā ri sablak wukirnya tka ri gagā sawaḥ tpi tpi lwaḥ rěněk kuluwutan patapan saprakāra. Atěhěr manhyaŋ ri
8. alihani praśāstinya umuṅgwa riŋ liṅgopala. maṅkana rasani ni hatur nikaŋ wargga ri talan ri ibū ni pāduka śrῑ mahārāja. saṅka ri göŋ karuṇa śrῑ mahārāja ri panambaḥ
9. nikaŋ wargga ri talan. Āpan jatiniŋ kadi sira uttama kṣatriya sākṣat wisnwaŋsa satata sakala jagatpālaka. samastaprajānandanakarana huni ṅa ri sapra
10. yojana niŋ praṇanta maŋhyaŋ ri sira. māsiḥ riŋ saraṇāgata kapihutaṅana kabhaktin deniŋ suṣṭu bhakti ri sira. Mataŋyan inubhaya sanmata paŋhyaŋ
11. nikaŋ wargga ri talan de ibū ni pāduka nira ri alihani praśāstinya muṅgwa riŋ liṅgopala. atěhěr ta ya inimbuhan anugraha de śrῑ mahārāja. ku
12. naŋ rasanyanugraha bhaṭāra guru i rikaŋ colo khabheni rěntět. anikaṅ i talan thāni watěk panumbhanaṅ sapasuk thani kabeḥ.atagan wanta
13. yan gawai ku 1. mapaknā sῑmā nikan wargga ri talan kālap tke Ibak wukirnya kabeḥ tkeŋ gaga sawaḥ kubwan tpi tpi lwaḥ rěněk sa
14. prakāra. Kapwa kāgraha denikaŋ wargga ri talan. mwaŋ tankatamāna deni winawa san mānak katrῑni paṅkur. tawan. tirip. Saprakāra
15. san maṅilala drawya haji wulu magön madmit riŋ dahu.makādi miśra para miśra. paṅuraŋ. kriŋ. paděm. manimpiki. paranakan. limu
16. s galuḥ paṅaruhan. taji. watu taj ěm. mañrinci. maŋhuri. paraŋ. sukun. halu warak. ramanaŋ. rakasaŋ. juru gěṇḍiŋ pinile. ka
17. taṅgaran. tapa haji. air haji. malandaŋ. Ica. ělěb ělěb. kalaṅkaŋ.kutak. taṅkil. tṛpan. salwit. sinagiha. kyab. srě-
18. kan. liṅgan. watu walaŋ. wilaŋ thani. pamaṇikan. aniga. sikěpan. rumban. tirwan. wiji kawaḥ. tiṅkěs. māwῑ. manambaṅi. taŋhira
19. n. tuha dagaŋ. juru gosali. maŋrumbai. maŋgunjai. juru kliŋ. juru huñjěman. juru judi. paluṅ paḍi. juru jalir. pabisar. paŋguluŋ. pawuŋku
20. nuŋ. juru banantěn. miśra hino. miśrāṅinaṅin. wli tambaŋ. wli widuŋ. wli hapu. wli harěŋ. wli pañjut suwal. tambā. limbak
21. kawaḥ. palamak. urutan. dampulan. paluṅkuŋ. tpuŋ kawuŋ. suŋsuŋ paṅuraŋ. Karěṅrěṅan. pasuk alas. sipat wilus
22. jukuŋ. pāṅinaṅin. pāmāwaśya. hopan. panraṅan. skar tahun. garihan. pabayai. wānāma. waur. panatak. pana
23. ji mas. panigaṅatak. padwamās. panigaŋ blaḥ. pakarapa. tupöŋ sirir. pinta pelaku. paharahara. hulu tukaŋ. pobhaya kipaki
24. paḥ. pawalanda. suka natahun. paṅiriŋ. pacumbi. paprayaścitta. pawuwuḥ. pāṅgati. pawlaŋwlaŋ. tuṇḍan. buncaŋ haji kliŋ. hulun paṅiwalya
25. n. sambal. sambul. mawuluŋ wuluŋ. widu maṅiduŋ. ariṅgit. abañol. siṅgaḥ. pabṛsi. watěk i jro ityewamādi kabeḥ tan
Sisi Belakang
1. tama i ri kan sῑma ri talan. kewala ikaŋ warga li talan pramāṇā ri sadrawya hajinya kabeḥ. maṅkana ikaŋ sukhaduḥkha magöŋ maḍmit ka
2. la ta lwiranya kadyaṅgāniŋ mayaŋ tan pawwaḥ. walu rumambat riŋ natar. wipati waṅkai kābunan. raḥ kasawur in hawan. hidu kasirat du.
3. hilatěn. sāhasa.wākcapala. hastacapala. mamijilakěn wuri niŋ kikir. mamuk. amumpan. ludan. tutan.... la mopi
4. aṅśa pratyaṅsa. ḍaṇḍa kuḍaṇḍa. manḍi halādi. kewala ikan wargga ri talan pramāṇā i rika kabeh maṅkana rasani anugraha bha
5. ṭāra guru i kaŋ wargga i talan. prāsasti. muṅgu ri ripta tinaṇḍa garuḍa mukha. pinagěhakěn śrῑ mahārāja. atěhěr inumbhaya śrῑ mahārāja pra
6. tiṣṭa riŋ liṅgopala. kunaŋ kalani anugraha bhaṭāra guru i rikaŋ wargga ri talan. i śaka 961. punaḥ māgha masa tithi pratipāda kṛṣṇapa
7. kṣa. ha. u. bu. wāra. dukut kunaŋ rasani paṅimbuh śrῑ mahārāja i rikaŋ wargga ri talan ri wnaṅa nyāwarugā inatun. isakā inaṣṭa. anu maŋhyaŋ
8. tikaŋ natar. anusuna palaṅka. apalaṅka binubut. aprāsa naga puṣpa. ajnwa humalaŋ. wanaṅajapahāni ndikāguntiṅamalwaṅrahana
9. raray inakwakěn. wnaṅahulana dayaŋ. arabya dayaŋ kamambahan. amaṅana rājāmāŋsa. aḍulaṅā bwaḥ kamalai. aguntiṅa riŋ sale ani
10. ta riŋ sale. agamāgamāna kayu kuniŋ. adrawya tabaŋ habaŋ. tuhun tan paŋhanjuran yan paŋhaku haku. kunaŋ kadeyannira rikaŋ wargga ri
11. talan. ri pagěhanya tahil drawya haji paṅaṣṭaṅgi mā 2 tan pārik ri saṅhyaŋ dharma ri karuṇa. aṅkěn pūrṇamaninasuji mā
12. sa. tan kaparawyāpārā deniŋ len. maṅkana rasani paṅimbuh śrῑ mahārāja i rikaŋ wargga ri talan. pratiṣṭa ri liṅgopala kapa
13. gěhananyan tka ri sawet wkanya dlaha niŋ dlaha. tan kolahulaha de saṅ anāgata prabhu. kunaŋ ri sḍaṅan yan hanāṅulahulaha pa
14. gěḥ niŋ anugraha bhaṭāra guru mwaŋ paṅimbuḥ śrῑ mahārāja i rikaŋ wargga ri talan. m brāhmaṅa. mokṣatriya. nuṅiweḥ yan we
15. śya śudra. ḍaṇḍan kā 2 su 10. atěhěr maṅgěhakěna pancagati saŋsāra riŋ ihatra paratr mataŋyan ta reṅö ta kita tamuŋ hyaŋ
16. pañcamahābhūta. kita pūrwwa dakṣiṇa paścima uttara. āgneya nairiti wāyawya aiśyanya ūrddhamadhaḥ tka riŋ maddhya yan hāna wwaṅa pa
17. cara pakāraṅulaḥulaḥ pagěḥ ni anugraha pāduka śrῑ mahārāja. karuhun anugraha bhaṭāra guru i rukaŋ wargga ri talan. sikěp
18. sampal handěmakěn pumpětakěn. těkěk gulunya. apus i taṅanya. rampat i sukunya. siwak kapālanya. ḍuḍuk utěknya. ḍuḍuk
19. hatinya. udulakěn dalěmanya. uwad awid ususnya. rākrāk iganya. sěsěb daginnya. tibakěn riŋ tamra gomukha. klan ri kwaḥ saŋ
20. yama kiṅkara. maṅkana gatyanikaŋ upacarāṅulahulaha pagěḥnyanugraha pāduka śrῑ mahārāja. karuhun anugraha bhaṭāra guru o
21. rikaŋ warga ri talan. kunaŋ ṅaranikaŋ wargga tumarima anugraha pāduka śrῑ mahārāja i rikan wargga i talan. gamgira. wiga. pratyekani ṅānikan
22. wargga i talan inanugrahan pāduka śrῑ mahārāja. subi. panaśar. putrawatῑ. hapas. sicin. sapāṇa. anabraŋ. palāgan. sayoŋ. du
23. mantar. kawῑṣṭa. agnῑ. ratih. bāruk. tanadoḥ. ramgā. jῑwa. adumās. dumunuŋ. sbhaṇiriŋ. awikari nyudanti gamgῑra. ahyῑs. śrῑ gita
24. kṛtayaśa. dumunuŋ. wabhěd. matādi takaŋ wiro. samaṅkana pratyeka nikaŋ wargga anugrahan pāduka śrῑ mahārāja. likhita patra ḍaṅāca-
25. ryyan prakhāsa. maka pramukha samgat kělpan daṅācaryya anymagha. //0//0//0// ni śrῑ ...
Prasasti ini diawali dengan ungkapan selamat dan penanggalan tahun Saka 1058, bulan Srawana, tanggal 11 paruh gelap, hari Selasa Wage Candra, dengan posisi planet dan bintang tertentu. Pada hari itu, Sri Maharaja Sri Warmmeswara Madhusudanawataranindita Suhrtsinga Parakrama Digjayottunggadewanama, bergelar Jayabhaya, memerintahkan Rakryan Mahamantri i Halu, Kabayan di Sarwagata, dan semua pejabat ri Pakirakiran, terutama Rakryan Kanuruhan Mapañji Mandaka, beserta seluruh warga Talan untuk menghadap Ibu Sri Maharaja sebagai perantara.
Rakryan Apatih Mpu Kesareswara Kritawiwekalangghaniya Parakrama Mapañji Baguna dan para ahli filsafat serta pengikut Bhairawa Marga turut hadir, menyampaikan bahwa ada batas prasasti yang terukir pada rapta bertanda Garuda Mukha sebagai pelindung diri, yang dianugerahkan sebagai sīma (tanah suci) di desa Talan oleh Bhatara Guru. Batasnya meliputi seluruh bukit Sablak, tanah kering, sawah, tepi sungai, semak belukar, tempat berawa, pertapaan, dan segala macamnya. Arca suci kemudian dipindahkan ke lingga-opala.
Warga Talan menyampaikan rasa hormat mereka kepada Ibu Sri Maharaja atas kasih baginda terhadap penghormatan mereka. Baginda, sebagai ksatria utama keturunan Wisnu, senantiasa memelihara jagat dan membahagiakan rakyat, sehingga mereka bermaksud menghaturkan sembah bakti dan mengharap perlindungan. Ibu baginda menyetujui permohonan warga Talan untuk memindahkan prasasti ke lingga-opala, dan Sri Maharaja menambahkan anugerah Bhatara Guru berupa colo khabheni dan rěntět kepada seluruh warga, pejabat, dan desa di Talan.
Prasasti ini juga mengatur tentang pajak dan kewajiban warga Talan, serta larangan bagi pejabat lain untuk memasuki wilayah sīma tersebut. Berbagai jenis pajak dan pungutan disebutkan secara rinci, termasuk berbagai profesi dan kegiatan ekonomi. Di sisi belakang prasasti, disebutkan bahwa hanya warga Talan yang berhak atas segala drawya haji, dan mereka harus menanggung suka duka bersama. Prasasti ini juga berisi kutukan yang mengerikan bagi siapa pun yang berani mengubah ketetapan anugerah raja, dengan ancaman hukuman fisik dan spiritual yang mengerikan.
Selanjutnya, disebutkan waktu anugerah Bhatara Guru kepada warga Talan adalah tahun Saka 961, bulan Magha, tanggal 1 paruh gelap, hari "suci buddha". Sri Maharaja menambahkan anugerah berupa izin untuk melakukan berbagai kegiatan dan menghiasi wilayah mereka. Namun, warga Talan tetap berkewajiban membayar pajak dengan teguh tanpa mengurangi kepada Sang Hyang Dharma. Penambahan ini dikukuhkan di lingga-opala agar tetap berlaku sampai kapan pun, dan tidak boleh diubah oleh raja yang akan datang. Jika ada yang berani mengubah ketetapan tersebut, baik brahmana, ksatria, waisya, maupun sudra, akan didenda dan dikutuk dengan pancagati saŋsāra (penderitaan lima macam). Prasasti ini ditutup dengan menyebutkan nama-nama warga Talan yang menerima anugerah Sri Maharaja, serta nama penulis prasasti, yaitu Ḍaṅācāryan Prakhāsa, sebagai pemimpin Samgat Kělpan Daṅācāryya Anymagha.
Prasasti Jepun (1144)
Sebuah artefak bersejarah, dikenal sebagai Prasasti Jepun, kini berada di halaman gedung kawedanaan Wlingi. Prasasti ini sebelumnya ditemukan di wilayah Dukuh Jepun, Desa Tegalrejo, Selopuro, yang dulunya termasuk dalam Kawedanan Wlingi. Setelah penemuan, prasasti ini dipindahkan dan menjadi bagian dari koleksi kantor kecamatan Wlingi, bersama dengan arca-arca temuan lainnya.
Prasasti ini memiliki dimensi yang cukup besar, dengan tinggi mencapai 153 cm, lebar bagian atas 84 cm, ketebalan sisi kiri dan kanan 16 cm, serta lebar bagian bawah 81,5 cm. Ciri khas prasasti ini terletak pada bagian sisi muka, di mana terdapat sebuah bulatan atau medallion yang berfungsi sebagai lancana. Pada lancana tersebut, terukir gambar Narasinghamurti, sebuah manifestasi dari Dewa Wisnu.
Teks pada Prasasti Jepun ditulis mengelilingi batu, menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno. Sayangnya, kondisi prasasti saat ini sudah sangat aus dan rusak, sehingga isi lengkapnya sulit untuk diidentifikasi. Meskipun demikian, keberadaan Prasasti Jepun tetap menjadi saksi bisu dari sejarah dan peradaban masa lalu di wilayah Wlingi.
Isi Prasasti Jepun
1. //Om/ swasti sakawarsattta
2. namasa tithi pancami iuklapaksa tu po iu wara mada
3. siha garahacdra uttarastha rewatTnaksatra barunadewata indra
4. yoga agniparwweia barunyamandala wawakarana purnnanama irika diwaia nyhjha
5. Cri maharaja, Cri warmmeiwara madhusudariawatarananditasuhrtsingha parakrama digjayottuhga dewandma tinadah ra
6. kryan mahamantri i halu mapanji kambadaha umihsor i tanda rakryan ri pakirakiran makabehan makadi
7. rakryan mapatih mapanji baguna rakryan kanuruhan mapanji mandaka. karuhun mpuhku iaiwa sogata ...r-mu
8. pahajyan iri maharaja ... behan
9. ..padamlakna saphyapajhs haji praissti ... hgoplala tinanda .... ha kmitananya ...
Prasasti ini diawali dengan ungkapan selamat dan menyebutkan penanggalan, yaitu tahun Saka yang tidak terbaca, tanggal 15 paruh terang bulan yang tidak terbaca, hari Selasa Pon, dengan posisi bintang di utara, bintang Rewati, dewa Baruna, Indra yoga, Agni Parwesa, dan mandala Baruna. Pada hari yang baik ini, Sri Maharaja Sri Warmmeswara Madhusudanawatarananditasuhrtsingha parakrama digjayottungga dewandma memerintahkan Rakryan Mahamantri i Halu yang bergelar Kambadaha, serta semua pejabat ri Pakirakiran, termasuk Rakryan Mapatih Baguna dan Rakryan Kanuruhan Mandaka, dan terutama Mpu Hku yang beragama Buddha, untuk melaksanakan seluruh urusan terkait pajak dan prasasti yang ditempatkan di linggopala, sesuai dengan batas-batas yang telah ditentukan. Sayangnya, kondisi prasasti yang sangat rusak membuat banyak detail penting tidak dapat dibaca, sehingga pemahaman yang lebih mendalam tentang isi prasasti menjadi sulit.
Belum diketahui secara pasti kapan Prabu Jayabhaya mengundurkan diri dari takhta. Raja selanjutnya yang memerintah Kadiri, berdasarkan prasasti Padlegan II yang bertanggal 23 September 1159, adalah Sri Sarweswara.
Sri Sareswara (1159-1169)
Sepeninggal Jayabhaya, Kerajaan Kediri dipimpin oleh Sareswara (1159-1169) dengan gelar Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Sarweswara Janardanawatara Wijaya Agrajasama Singhadani Waryawirya Parakrama Digjaya Uttunggadewa. Namanya tersematkan di dalam Prasasti Padeglan II (1159) dan Prasasti Kahyunan (1161). Tidak banyak yang diketahui mengenai pemerintahan Sri Sareswara ini sebab terbatasnya peninggalan yang ditemukan. Ia memakai lencana Kerajaan berupa Ganesha.
Prasasti Padlegan II berisi anugerah tambahan atau Pamuwuh yang diberikan Sri Sarweswara kepada penduduk Desa Padlegan. Jauh sebelum dikeluarkannya Prasasti Padlegan II, wilayah Padlegan sudah ditetapkan sebagai desa Sima atau Perdikan. Status ini memberikan Padlegan berbagai hak istimewa di dalam Kerajaan Panjalu Kadiri. Sebelumnya, pada tahun 1038 Saka atau 1116 M, Padlegan juga pernah menerima anugerah dari Maharaja Sri Bameswara dari Panjalu Kediri. Anugerah ini tertuang dalam Prasasti Padlegan I. Dengan demikian, Prasasti Padlegan II merupakan kelanjutan dari anugerah yang pernah diberikan sebelumnya. Sedangkan pada prasasti Kahyunan baru terbaca angka 1082 saka dan nama Sri Sarweswara Janardanwatra vijayagra sinhandnivrya Parkrama Digjayatunggadewa
Sri Aryeswara
Sri Aryeswara adalah seorang raja Panjalu yang memerintah dari sekitar tahun 1169 hingga 1181. Ia dikenal dengan nama gelar abhiseka lengkapnya, yaitu Sri Maharaja Rakai Hino Sri Aryyeswara Madhusudanawatara Arijamuka Sakalabhuwana Ritiniwiryya Parakrama Uttunggadewa.
Tanggal pasti naiknya Sri Aryeswara ke takhta tidak diketahui secara pasti. Namun, keberadaannya dibuktikan dengan peninggalan sejarah berupa Prasasti Angin (23 Maret 1171) dan Prasasti Mleri (3 September 1169 M). Dari prasasti ini, kita mengetahui bahwa lambang kerajaan Panjalu pada masa itu adalah Ganesha.
Isi Prasasti Mleri (1169)
1. // o // swasti ša (lancana) kawarsā [tïta] …….
2. māsa . tithi dasaniï šuklapaksa . pa . pa . (lancana) bu . wāra warïga ………….. stha ….
3. naksatra . aswidewata . atigandayoga (lancana) tetilakārana . kuwerapa[rwwesa] . mahendramandala . kanyārāsi
4. iriká diwasa ny ājnā srï mahārāja rakai hino srï a (lancana) ryyeswara madhusudanāwatārārijaya — — — — sakalabhuwana –
5. t-niwâryya parâkramotunggadewanāma . umingsor i tanda rakryān ri pakirakirân makādi rakryān kanuruhan — — —
Masih belum dapat diketahui secara jelas isi dari Prasasti Mleri, yang jelas hanya pembacaan nama raja Sri Aryeswara dan adanya perubahan jabatan seorang tanda yang sebelumnya sebagai rakryan ri pakirakiran menjadi rakryan kanuruhan.
Isi Prasasti Angin (1171)
1. //Om// swasti Sakawarsdtita 1093 cetra (masa) tithi pa
2. ftcarm Suklapaksa haposaning wara wugu grahacara neritistha krtikdnaksatra da
3. hanadewats pritiyoga wawakarana. yamaparwwaisa agneyamandala minajraii irika diwasa nya
4. IKa Sri maharaja rakai hino Sri aryyeswara madhusudand watdrdrijalyamukha sakalabhuwana ritiniwiryya
5. parakramottunggadewanam umingsor i tanda rakryan ri pakirakiran makddi rakryan kanuruhan mapanji .... -u mpu Tsaneswara warsa
Masih belum dapat diketahui isi prasasti Angin secara jelas, yang jelas hanya pembacaan nama raja yaitu Sri Aryeswara.
Sri Gandra
Nama Sri Gandra sebagai raja Kediri tertuliskan di dalam Prasasti Angin (1171) sebagai pengganti Aryeswara dan namanya juga tersematkan di dalam prasasti Jaring (1181). Terdapat sesuatu yang menarik pada masa pemerintahannya, yaitu untuk pertama kalinya didapatkan orang-orang terkemuka mempergunanakan nama-nama binatang sebagai namanya. Beberapa nama yang digunakan antara lain seperti Kebo Salawah, Manjangan Puguh, macan Putih, gajah Kuning dan sebagainya.
Berikut adalah isi teks dari prasasti Jaring:
swasti cakawarsatita 1103 marggaciramasa tithi nawami cuklapaksa ma pa wr wara antagrahaca
ra aisanyasta mulanaksatra balawakarana agni parwwe | ca agneya mandala) dhanuraci irika diwacanya jna cri |
maharaja cri kroncaryyadipa handabhuwanamalaka parakramani | ndita digjayotunggadewanama cri gandra mingsor ri
rakryan kanuruhan mapanji kebel pingsornyajna paduka cri maharaja ku | monaknikang duhan i jaring katandan mawuyahan ra
tka ring wisaya makadi pinisinggih mwang kalang kalagyan cima paracima pamangunakna sang hyang ajna haji kmitananya | sambandha gatinikang duhan i jaring matuhan rare ma |
mpakampak manambah i lbu ni paduka cri maharaja makasopana senapati sarwwajala sangapanjya( )taken | iniring deni wungkal brtalan mapanji paraka (tha?)
ta majaryyan tutanugraha ri sangatita prabhu lambang prahidep nikang duhan i jaring ijisnikang wtangwtang tan purnna | ri sangatita prabhu ika ta hinya ngaken purnnanya |
denikang duhan i jaring i paduka cri maharaja ri panghyang nikang duhan i jaring apan gatining kadi sira pra wisnumurttyawatara satatajagadpalaka tanda |
Sri Kameswara
Raja Kameswara (1182-1185) masa pemerintahannya ini ditulis dalam Kitab Kakawin Smaradhana oleh Mpu Darmaja yang berisi pemujaan terhadap raja, serta Kitab Lubdaka dan Wretasancaya yang ditulis oleh Mpu Tan Akung. Kitab Lubdaka bercerita tentang seorang pemburu yang akhirnya masuk surga dan Wretasancaya yang berisi petunjuk mempelajari tembang Jawa Kuno. Selain di dalam karya sastra yang dituliskan oleh para pujangga, nama Sri Kameswara juga termuat dalam Prasasti Semanding berangka tahun 1104 Saka (1182 M) dan Prasasti Ceker (1182). Untuk Prasasti Semanding hanya angka tahunnya saja yang baru dapat dibaca.
Isi Prasasti Ceker (1182)
1. //o// swasti šakawarşātita. i šaka 1107 (lancana) bhadrawādamāsa tithi pañcadaši šuklapa (dr) kşa.ma.wa.bu.ning wu(kir) (–)
2. (a) grahacāra nairityastha. Pūrwwabhadrawādanakşa (lancana) tra.ajapādadewatā.wŗddhiyoga.wişţi (dr) kāraņ.šašiparwweša.– —
3. (a) – (a)gneyamaņdala.minarāši.irikā diwaša ny ājñā pāduka šri mahārāja šri kāmešwara triwikramāwatāra.aniwāryyawi (dr) ryya parākrama.digjayotu
4. (a) nggadewanāma. Tiņadah taņda rakryān ring pakirakirān makabehan makādi rakryān kanuruhan mapañji lӗkӗr ing rāt (dr) .pingsor ny ājñā pāduka šri
5. (a) mahārāja kumonakӗn ikang dūwān i ckӗr makabehan makādi….
Perintah Paduka Sri Maharaja Sri Kameswara Triwikramawatara Aniwaryawirya Parakrama Digjayotunggadewanama kepada para tanda rakryan ri pakirakiran yang dipimpin oleh Rakryan Kanuruhan Mapanji Leker ing Rat memerintahkan kepada seluruh pemimpin (duwan) di Ceker yang di pimpin oleh... (isi prasasti tidak lengkap) yang kemungkinan memberikan anugerah kepada penduduk Desa Ceker karena telah membantu Sri Maharaja Kameswara.
Kertajaya (1185-1222)
Sepeninggal Sri Kameswara, takhta Kerajaan kediri selanjutnya pada tahun 1185-1222 adalah Kertajaya dan raja terakhir kerajaan Kediri. Kertajaya memakai lencana Garuda Mukha seperti Raja Airlangga, sayangnya ia kurang bijaksana, sehingga tidak disukai oleh rakyat terutama kaum Brahmana. Dalam masa pemerintahannya, terjadi pertentangan antara dirinya dan para Brahmana hal inilah akhirnya menjadi penyebab berakhirnya Kerajaan Kediri.
Nama Kertajaya cukup populer karena termuat di beberapa prasasti dan karya sastra antara lain; Prasasti Sapu Angin (1190), prasasti Tesirejo (1191), prasasti Kamulan (1194), prasasti Palah (1197), prasasti Pamotoh (1198), prasasti Mleri II (1198), Prasasti Galunggung (1201), prasasti Biri (1202), prasasti Tuliskriyo (1202), prasasti Sumberingin (1204), prasasti Lawadan (1205), prasasti Cemandi (1205) dan prasasti Merjosari (1216). Negarakrtagama, Pararaton dan Kitab Tantu Panggelaran.
Raja-Raja Kerajaan Kediri Di Bawah Kerajaan Singasari
Setelah Ken Angrok berhasil mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Singasari pada tahun 1222. Status Kerajaan Kediri tidak dihapuskan melainkan menjadi kerajaan bawahan dari Kerajaan Singasari. Di bawah ini adalah beberapa raja Kerajaan Kediri (Daha) di bawah kekuasaan Singasari;
- Mahisa Wonga Teleng (Putra Ken Arok dan Ken Dedes);
- Guningbhaya (adik Mahisa Wonga Teleng);
- Tohjaya (Putra Ken Arok dan Ken Umang);
- Kertanegara (Putra Ranggawuni);
Kerajaan Kediri Di Bawah Pemerintahan Jayakatwang
Jayakatwang, adalah keturunan Kertajaya yang menjadi raja Gelang-Gelang (Madiun). Sejak kekalahan Kertajaya, keturunanannya tetap mendapatkan kehormatan dengan memerintah di Gelang-Gelang. Pada tahun 1292 dengan memanfaatkan kelengahan Kertanegara yang memaksakan ekspedisi Pamalayu, Jayakatwang melakukan pemberontakan hingga menyebabkan runtuhnya Kerajaan Singasari. Jayakatwang kemudian membangun kembali Kerajaan Kediri. Namun, Jayakatwang tidak memerintah lama di Kediri. Pada tahun 1293 ia berhasil dikalahkan oleh Raden Wijaya, menantu Kertanegara dan mendirikan Kerajaan Majapahit.
Raja-Raja Kerajaan Kediri Di Bawah Kerajaan Majapahit
Sejak tahun 1293 Daha menjadi negeri bawahan Majapahit yang paling utama. Raja yang memimpin bergelar Bhre Daha tapi hanya bersifat simbol, karena pemerintahan harian dilaksanakan oleh patih Daha. Bhre Daha yang pernah menjabat ialah:
- Jayanagara 1295-1309 didampingi oleh Patih Lembu Sora;
- Rajadewi 1309-1375 didampingi oleh Patih Arya Tilam, kemudian Gajah Mada.
- Indudewi 1375-1415;
- Suhita 1415-1429;
- Jayeswari 1429-1464;
- Manggalawardhani 1464-1474.
Kondisi Ekonomi
Kondisi Ekonomi Kerajaan Kediri dapat diketahui bahwa Kerajaan Kediri merupakan Kerajaan agraris maritim. Perekonomian Kediri bersumber atas usaha perdagangan, peternakan dan pertanian untuk masyarakat yang hidup di daerah pedalaman. Sedangkan yang berada di pesisir hidupnya bergantung dari perdagangan dan pelayaran. Mereka telah mengadakan hubungan dagang dengan Maluku dan Sriwijaya. Kediri terkenal sebagai penghasil beras, kapas dan ulat sutra.
Kerajaan Kediri cukup makmur, hal ini terlihat pada kemampuan Kerajaan yang memberikan penghasilan tetap pada para pegawainya walaupun hanya dibayar dengan hasil bumi. Keterangan tersebut berdasarkan kitab Chi-fan-Chi (1225) karya Chau Ju-kua mengatakan bahwa Su-ki-tan yang merupakan bagian dari She-po (Jawa) telah memiliki daerah taklukkan. Para ahli memperkirakan Su-ki-tan adalah sebuah Kerajaan yang berada di Jawa Timur, dan yang tak lain dan tak bukan adalah Kerajaan Kediri. Mungkin juga Su-ki-tan sebagai kota pelabuhan yang telah dikenal para pedagang dari luar negeri, termasuk Cina.
Kondisi Sosial
Kondisi sosial Kerajaan Kediri dapat dikatakan bahwa masyarakatnya memiliki kondisi sosial yang cukup baik karena kesejahteraan rakyat meningkat, masyarakat hidup tenang. Dalam kitab Ling-wai-tai-ta (1178) karya Chou-Ku-fei yang menerangkan bahwa orang-orang Kediri memakai kain sampai lutut, rambutnya di urai, rumah-rumah telah teratur dan bersih, lantai ubinnya berwarna hijau dan kuning. Pertanian dan perdagangan telah maju, orang-orang yang salah didenda dengan emas.
Pencuri dan perampok dibunuh, telah digunakan mata uang perak, orang sakit tidak menggunakan obat tapi memohon kesembuhan pada Dewa atau kepada Buddha. Tiap bulan ke-5 diadakan pesta air, alat musik yang digunakan berupa seruling, gendang, dan gambang dr kayu. Dengan kehidupan masyarakatnya yang aman dan damai maka seni dapat berkembang antara lain kesusastraan yang paling maju adalah seni sastra terutama Jawa kuno.
Kemaritiman Kerajaan Kediri
Kerajaan Kediri adalah salah satu kerajaan yang lahir dari pembagian kerajaan oleh Raja Airlangga kepada kedua putranya. Kerajaan Kediri mewarisi struktur birokrasi dan administrasi dari Kerajaan Mataram Kuno. Dalam aktivitas kemaritiman pada permulaan terbaginya kerajaan yang dilakukan oleh Raja Airlangga selalu diliputi oleh pertentangan antara Janggala dan Panjalu yang berakhir dengan kemenangan Panjalu dengan ibukota di Daha.
Instabilitas politik ini menyebabkan tidak begitu banyak diketahui mengenai aktivitas kemaritiman Kerajaan Kediri, namun begitu setelah masa-masa perang saudara ini akan ditemukan beberapa petunjuk mengenai aktivitas kemaritiman Kerajaan Kediri. Di bawah ini akan dijelaskan tentang kemaritiman Kerajaan Kediri berdasarkan sumber-sumber prasasti maupun berita-berita asing.
![]() |
| Bukti kemaritiman Kerajaan Kediri dapat diperoleh dari keterangan yang terdapat di dalam prasasti Jaring |
Setelah kemenangan atas Jenggala, cukup lama tidak ada prasasti yang menunjukkan adanya aktivitas kemaritiman yang dilakukan oleh Kerajaan Kediri. Meskipun begitu, bukan berarti Kerajaan Kediri tidak terlibat aktif sama sekali dan terisolasi dari aktivitas kemaritiman dan perdagangan internasional. Pada masa pemerintahan Raja Dharmawangsa dari Kerajaan Mataram Kuno telah diketahui bahwa wilayah yang kelak menjadi wilayah Kerajaan Kediri ini melakukan peperangan terhadap Kerajaan Sriwijaya melalui darat dan juga laut. Hal ini menunjukkan bahwa Kerajaan Kediri pun masih mewarisi hal tersebut meskipun pada awal mula kemunculannya nampaknya aktivitas maritim belum menjadi prioritas yang cukup penting.
Keterangan yang terdapat di dalam prasasti Jaring yang berangka tahun 1181 dan dikeluarkan oleh Sri Maharaja Sri Krocaryyadipa Handabhuwanamalaka Parakramanindita Digjayotunggadewanama Sri Gandara, menyebutkan bahwa terdapat gelar senapati sarwajala yang diartikan sebagai panglima angkatan laut. Berdasarkan keterangan ini menunjukkan bahwa Kerajaan Kediri telah menaruh minat yang cukup besar terhadap kekuatan maritimnya dengan adanya jabatan senapati sarwajala.
Tidak berlebihan jika dikatakan pada masa ini Kerajaan Kediri-lah yang pertama kali membentuk adanya kekhususan dalam masalah angkatan laut, yang mana bukan berarti sebelum Kerajaan Kediri angkatan laut kerajaan-kerajaan di Jawa tidak ada sama sekali. Pelabuhan Hujung Galuh yang berada dialiran Sungai Brantas hingga masa ini tetap dapat dilalui oleh perahu-perahu besar. Pelabuhan Hujung Galuh ini sejak masa Raja Airlangga telah dihuni oleh wargga kilalan yang terdiri dari orang Champa, Khmer, Birma, Sri Lanka, Karnnataka, Pandikira, Kalingga dan Aryya. Sehingga menunjukkan bahwa meskipun sempat terjadi instabilitas politik oleh karena perebutan kekuasaan, buka berarti Kerajaan Kediri sama sekali tidak terlibat dalam aktivitas kemaritiman.
Berdasarkan keterangan-keterangan yang diberikan oleh sumber-sumber Cina juga menunjukkan bahwa Pelabuhan Hujung Galuh ini adalah pelabuhan yang sangat ramai dan sang raja mengirimkan utusannya pada tahun 1109 dengan memberikan upeti kepada kaisar. Hal ini menunjukkan bahwa Kerajaan Kediri juga menjalin hubungan dengan negeri luar terutama dengan Cina sebagai mitra dagang maupun juga politik.
Runtuhnya Kerajaan Kediri
Kertajaya adalah raja terakhir kerajaan Kediri. Ia memakai lencana Garuda Mukha seperti Raja Airlangga, sayangnya ia kurang bijaksana, sehingga tidak disukai oleh rakyat terutama kaum Brahmana. Dalam masa pemerintahannya, terjadi pertentangan antara dirinya dan para Brahmana hal inilah akhirnya menjadi penyebab berakhirnya Kerajaan Kediri. Kisah berakhirnya pemerintahan Raja Kertajaya dapat diketahui melalui naskah Negarakrtagama:
Kerajaan Kadiri runtuh pada 1144 Saka (1222 Masehi), Sri Ranggah Rajasa (Ken Angrok) yang bertakhta di Kutharaja, ibukota Kerajaan Tumapel di timur Gunung Kawi menyerang Raja Kadiri, Krtajaya. Krtajaya yang kalah kemudian melarikan diri ke tempat para ajar di lereng yang sunyi. Semua pengikutnya terutama para prajurit yang tertinggal di kerajaan, dapat dihancurkan.
Sedangkan keterangan di dalam Pararaton nampak lebih jelas memberikan rincian terhadap runtuhnya Kerajaan Kediri:
Raja Kediri yang bernama Dandhang Gendis (Krtajaya), suatu ketika meminta kepada para bhujangga penganut Siwa dan Buddha agar menyembahnya. Para bhujangga menolak karena tidak pernah sepanjang sejarah ada bhujangga yang menyembah kepada raja. Sang Raja yang marah kemudian menancapkan tombak di tanah untuk memperlihatkan kesaktiannya dengan ujung tombak tersebut ia duduk di atasnya dalam bentuk Bhatara Guru, berlengan empat dan bermata tiga. Para Bhujangga tetap menolak untuk menyembahnya, mereka lalu melarikan diri ke Tumapel berlindung kepada Ken Angrok. Sejak saat itu Tumapel tidak mengakui kekuasaan Daha.
Pelarian ke Tumapel menyebabkan para bhujangga kemudian merestui Ken Angrok untuk sebagai raja di Tumapel dengan negaranya yang bernama Singhasari. Ken Angrok kemudian bergelar Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabumi. Setelah penobatan ini, Ken Angrok menyerang Daha.
Tahun 1222 pecahlah pertempuran antara prajurit Kertajaya dan pasukan Ken Arok di desa Ganter. Di mana prajurit Kediri dipimpin oleh adik Dandang Gendis, Mahisa Walungan. Dalam peperangan ini, pasukan Ken Arok berhasil menghancurkan prajurit Kertajaya dan menewaskan Mahisa Walungan dan juga menterinya Gubar Baleman. Raja Dandang Gendis kemudian melarikan diri dari pertempuran, lalu kembali ke alam dewa-dewa beserta para pengikutnya. Nampaknya memang benar, Pararaton mencoba untuk menutupi kematian Dandang Gendis (Kertajaya). Dengan demikian berakhirlah masa Kerajaan Kediri, yang sejak saat itu menjadi bawahan Kerajaan Singasari. Runtuhnya kerajan Panjalu-Kediri pada masa pemerintahan Kertajaya dikisahkan dalam Kitab Pararaton dan Kitab Negarakrtagama.
Daftar Bacaan
- Coedes, G. 1968. The Indianized States of Southeast Asia. Kuala Lumpur/Singapore: University of Malaya Press.
- Groeneveldt. W. P. 2009. Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Depok: Komunitas Bambu.
- Krom, N. J. 1954. Zaman Hindu. Djakarta: Jajasan Pembangunan.
- Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto (ed.). 2011. Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Hindu. Jakarta: Balai Pustaka.
- van Leur, J. C. 1955. Indonesian Trade and Society. The Hague/Bandung: W. van Hoeve.

