Manusia Dmanisi: Fosil Tertua Eurasia Ungkap Misteri Migrasi Manusia Purba dari Afrika

Mengenal Manusia Dmanisi: Penemuan Penting di Georgia

Hominin Dmanisi (atau manusia Dmanisi) merupakan populasi manusia purba dari zaman Pleistosen Awal yang ditemukan di Dmanisi, Georgia. Dengan usia fosil dan alat batu berkisar antara 1,85 hingga 1,77 juta tahun, situs ini memegang rekor sebagai lokasi penemuan hominin tertua di Eurasia yang memiliki penanggalan sangat akurat. Fosil-fosil di sini dianggap sangat luar biasa karena kondisinya yang terawat dengan baik, mencakup lebih dari seratus tulang anggota badan (postkranial) dan lima tengkorak ikonik yang dikenal sebagai Tengkorak Dmanisi 1–5.

Perdebatan Klasifikasi dan Taksonomi

Status ilmiah manusia Dmanisi masih menjadi subjek diskusi hangat di kalangan peneliti. Hal ini disebabkan oleh kombinasi unik antara ukuran otak yang kecil, struktur kerangka yang primitif, serta keragaman bentuk di antara kelima tengkorak tersebut.

Awalnya, mereka dikelompokkan sebagai Homo ergaster (spesies Afrika) atau cabang awal dari Homo erectus Asia. Namun, penemuan rahang besar (D2600) pada tahun 2000 sempat memicu teori bahwa ada lebih dari satu spesies di situs tersebut, hingga muncul usulan nama spesies baru: Homo georgicus.

Saat ini, sebagian besar tim peneliti Dmanisi berpendapat bahwa semua fosil tersebut sebenarnya berasal dari satu spesies yang sama, di mana perbedaan bentuknya hanya disebabkan oleh faktor usia dan jenis kelamin (dimorfisme seksual). Nama klasifikasi yang kini lebih sering digunakan adalah Homo erectus georgicus.

Sejarah Penemuan

Lokasi dan Sejarah Penggalian 

Dmanisi terletak di Georgia selatan, sekitar 85 kilometer dari ibu kota Tbilisi. Kota abad pertengahan yang berdiri di atas tanjung sungai Mashavera dan Pinazauri ini telah lama menjadi fokus arkeologi. Penggalian sistematis dimulai pada tahun 1936 oleh sejarawan Ivane Javakhishvili. Namun, titik balik penting terjadi pada tahun 1982 ketika para arkeolog menemukan lubang-lubang ekonomi kuno. Di dasar lubang tersebut, ditemukan fosil tulang hewan yang memicu penelitian paleontologi lebih dalam mulai tahun 1983. Meski sempat terhenti pada 1991 karena kendala biaya, proyek ini berlanjut berkat kerjasama dengan Museum Romano-Germanik, Jerman.

Penemuan Revolusioner: Mandibula D211 Pada September 1991, tim yang dipimpin Medea Nioradze dan Antje Justus menemukan sebuah rahang bawah (mandibula) yang masih memiliki gigi lengkap. Temuan ini dianalisis oleh Abesalom Vekua, David Lordkipanidze, dan Leo Gabunia.

Hasil analisis menunjukkan bahwa rahang tersebut (kode D211) berasal dari primata muda berusia 20–24 tahun. Yang mengejutkan, karakteristiknya lebih mirip genus Homo daripada Australopithecine. Penemuan ini mengonfirmasi keberadaan Homo erectus awal di luar Afrika sekitar 1,8 juta tahun yang lalu, berdasarkan penanggalan lapisan basal di bawah sedimen tersebut.

Rangkaian Penemuan Tengkorak (Tengkorak 1 hingga 5) Seiring berlanjutnya penggalian, para peneliti menemukan serangkaian tengkorak yang memberikan gambaran utuh mengenai populasi ini:

  1. Tengkorak 1 & 2 (1999): Ditemukan setelah hujan lebat merusak situs. Tengkorak D2280 dan D2282 ini memiliki ciri yang mirip dengan Homo ergaster dari Afrika.
  2. Tengkorak 3 (2001): Dikenal sebagai D2700, sebuah tengkorak remaja (subdewasa) yang ditemukan dalam kondisi hampir sempurna.
  3. Tengkorak 4 (2002): Sebuah spesimen unik (D3444) dari individu lansia yang sudah kehilangan seluruh giginya sebelum meninggal, menunjukkan adanya interaksi sosial atau perawatan dalam kelompok.
  4. Tengkorak 5 (2005): Spesimen D4500 ini merupakan tengkorak hominin dewasa pertama dari periode Pleistosen Awal yang ditemukan dalam kondisi utuh sepenuhnya.

Kelengkapan Fosil dan Signifikansi Ilmiah Selain tengkorak, tim peneliti berhasil mengumpulkan sekitar seratus fragmen tulang pascakranial (anggota tubuh), termasuk tulang lengan, kaki, dan tulang rusuk. Koleksi ini berasal dari individu remaja hingga dewasa.

Dmanisi menjadi situs yang sangat penting bagi ilmu pengetahuan karena:

  • Koleksi Terlengkap: Menyediakan kumpulan fosil Homo awal paling kaya di satu lokasi dengan periode waktu yang sama.
  • Variabilitas Populasi: Perbedaan usia dan ciri fisik antar tengkorak memberikan wawasan unik mengenai keragaman dalam populasi manusia purba.
  • Bukti Migrasi: Menegaskan bahwa manusia purba telah bermigrasi keluar dari Afrika jauh lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya.

Klasifikasi dan Evolusi

Teks yang Anda berikan sangat kaya akan informasi teknis namun memang cukup padat. Berikut adalah versi yang telah saya restrukturisasi menjadi paragraf yang lebih mengalir, sistematis, dan mudah dipahami, tanpa menghilangkan detail ilmiahnya:

Sejarah Klasifikasi Fosil Dmanisi

Awal Penemuan dan Perdebatan Mandibula D211 Debat mengenai identitas manusia purba dari Dmanisi dimulai sejak penemuan mandibula (rahang bawah) D211 pada tahun 1995. Awalnya, Gabunia dan Vekua mengklasifikasikannya sebagai Homo erectus basal karena kemiripan giginya dengan spesimen Afrika (H. ergaster). Namun, pendapat ini memicu perbedaan pandangan di kalangan ahli. Sebagian melihatnya sebagai populasi H. erectus yang lebih maju meskipun berusia sangat tua, sementara yang lain menyarankan klasifikasi yang lebih netral, yaitu Homo sp. indet., karena adanya perpaduan sifat anatomi (mosaik) yang unik.

Penemuan Tengkorak dan Hubungannya dengan H. ergaster Pada tahun 2000, deskripsi terhadap Tengkorak 1 dan 2 memperkuat hubungan fosil Dmanisi dengan H. ergaster dari Afrika. Kesamaan ini terlihat pada struktur tulang alis, proporsi wajah, dan ketebalan tulang tengkorak. Meskipun memiliki beberapa ciri khas Asia, para peneliti menyimpulkan bahwa fosil Dmanisi merupakan kelompok yang sangat dekat dengan H. ergaster. Mereka bahkan menduga bahwa hominin Dmanisi adalah pelopor bagi H. erectus di Asia sekaligus leluhur bagi manusia modern (H. sapiens).

Kontroversi Homo georgicus dan Spesies Baru Klasifikasi menjadi semakin kompleks setelah penemuan Mandibula D2600 yang berukuran sangat besar pada tahun 2002. Karena perbedaan mencolok dalam ukuran dan morfologi yang menggabungkan ciri primitif Australopithecus dengan ciri maju H. erectus, tim peneliti mengusulkan spesies baru: Homo georgicus. Meski demikian, banyak paleoantropolog lain berpendapat bahwa perbedaan ukuran tersebut bukan menunjukkan spesies yang berbeda, melainkan hanyalah variasi jenis kelamin (dimorfisme seksual) yang sangat kuat dalam satu spesies yang sama, serupa dengan perbedaan antara gorila jantan dan betina.

Tengkorak 5: Titik Balik Menuju Satu Garis Keturunan Penemuan "Tengkorak 5" pada tahun 2013 menjadi kunci penting dalam perdebatan ini. Spesimen ini memiliki wajah yang sangat menonjol (prognatik) namun dengan volume otak yang kecil. Variasi ekstrem pada Tengkorak 5 membuktikan bahwa populasi Dmanisi memiliki rentang bentuk fisik yang sangat luas. Hal ini memicu teori revolusioner: bahwa berbagai spesies manusia purba yang selama ini dianggap berbeda (seperti H. habilis, H. rudolfensis, dan H. erectus) mungkin sebenarnya hanyalah satu garis keturunan tunggal yang bervariasi secara regional. Sebagai kompromi, mereka mengusulkan nama Homo erectus ergaster georgicus.

Kesimpulan Kontemporer: Kontinum Evolusi Hingga saat ini, para peneliti memandang fosil Dmanisi sebagai "jembatan" evolusi. Mereka tidak bisa secara kaku disebut H. habilis maupun H. erectus, melainkan sebuah bentuk transisi atau kontinum. Secara filogenetik, populasi Dmanisi dianggap sebagai keturunan H. habilis yang sedang berevolusi menjadi H. erectus. Meskipun beberapa ahli tetap bersikeras memisahkan spesies tertentu berdasarkan detail gigi dan rahang, mayoritas bukti menunjukkan bahwa manusia purba di Dmanisi adalah satu populasi tunggal yang sangat beragam yang merekam momen penting perpindahan manusia keluar dari Afrika.

Persebaran

Identitas spesies dan waktu pasti migrasi manusia purba (hominin) pertama keluar dari Afrika masih menjadi perdebatan hangat di kalangan ilmuwan. Kontroversi ini muncul karena jarangnya catatan fosil dari masa Pleistosen Awal di luar benua Afrika.

Sebelum penemuan di Dmanisi (Georgia), fosil-fosil awal yang ditemukan di Eropa dan Asia cenderung tidak lengkap dan terfragmentasi. Kondisi ini menyulitkan identifikasi spesies maupun ciri morfologi khas wilayah tersebut. Selain itu, banyak situs penemuan yang konteks geologisnya sulit ditentukan usianya secara akurat. Akibatnya, muncul dua teori utama:

Faktor Ekomorfologis: Manusia purba menyebar pada masa Pliosen Akhir atau Pleistosen Awal karena faktor lingkungan.

Inovasi Teknologi: Migrasi baru terjadi sekitar 1 juta tahun yang lalu setelah ditemukannya teknologi alat batu Acheulean.

Situs Dmanisi dan Orozmani

Hominin Dmanisi kini diakui sebagai bukti keberadaan manusia purba tertua yang diketahui di Eropa. Penentuan usianya didukung oleh beberapa metode penanggalan yang kuat:

Penanggalan Radiometrik & Paleomagnetik: Sedimen di Dmanisi terletak di atas batuan vulkanik berusia 1,85 juta tahun. Analisis paleomagnetik menunjukkan sedimen tersebut berusia sekitar 1,77 juta tahun.

Penanggalan Argon–Argon: Pada tahun 2010, pengujian ulang memberikan angka yang lebih spesifik, yaitu 1,81 ± 0,03 juta tahun.

Bukti Biostratigrafi: Penemuan fosil hewan pengerat Mimomys (yang hidup antara 2,0 hingga 1,6 juta tahun lalu) di lokasi yang sama semakin memperkuat estimasi usia tersebut.

Temuan di Orozmani: Tak jauh dari Dmanisi, situs Orozmani yang digali sejak 2019 juga menghasilkan alat batu gaya Oldowan dan gigi hominin yang berasal dari masa 1,8 juta tahun lalu. Hal ini membuktikan adanya aktivitas manusia purba yang intens di wilayah dataran tinggi tersebut.

Georgia sebagai "Tempat Perlindungan" (Refugium)

Pada masa transisi Pliosen ke Pleistosen Awal, wilayah Georgia diduga berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi kelompok hominin. Ada beberapa alasan mengapa wilayah ini sangat strategis:

Geografi yang Menguntungkan: Wilayah ini memiliki iklim sedang yang bervariasi.

Pelindung Alami: Pegunungan Kaukasus Besar bertindak sebagai penghalang massa udara dingin dari utara.

Jalur Migrasi: Hominin kemungkinan besar mencapai Georgia melalui Koridor Levant.

Dmanisi diyakini menjadi titik pijakan penting sebelum mereka menyebar lebih jauh ke wilayah Eropa lainnya. Teori ini diperkuat dengan ditemukannya fosil hewan dan alat batu serupa di Rumania, Balkan, hingga Spanyol yang memiliki kesamaan usia dengan temuan di Georgia.

Ciri-ciri Fisik

Hominin yang ditemukan di Dmanisi memiliki karakteristik fisik yang unik, terutama pada kapasitas kranial (volume otak) dan bentuk wajahnya. Berikut adalah poin-poin utama berdasarkan temuan fosil tersebut:

Kapasitas Otak dan Ensefalisasi

Secara umum, ukuran otak hominin Dmanisi berkisar antara 546 hingga 775 cc (rata-rata 631 cc). Angka ini menunjukkan bahwa ukuran otak mereka tumpang tindih dengan H. habilis dan berada di bawah standar kapasitas H. erectus atau H. ergaster (800–1000 cc).

Dilihat dari rasio otak terhadap massa tubuh (ensefalisasi), sebagian besar spesimen Dmanisi (Tengkorak 1-4) memiliki rasio 2,6–3,1. Angka ini lebih menyerupai H. habilis dan Australopithecus dibandingkan H. erectus. Bahkan, Tengkorak 5 memiliki rasio hanya 2,4, yang sepenuhnya masuk dalam rentang variasi Australopithecus.

Ciri Fisik yang Membedakan

Meskipun ukuran otaknya kecil, hominin Dmanisi memiliki beberapa fitur yang membedakannya dari Homo awal seperti H. habilis, di antaranya:

  1. Tulang alis yang berkembang kuat.
  2. Adanya lunas sagital (tonjolan di atas tengkorak).
  3. Rongga mata (orbit) yang besar.
  4. Gigi premolar rahang atas berakar tunggal.

Keunikan Tengkorak 5

Tengkorak 5 merupakan satu-satunya tengkorak lengkap yang ditemukan dan menjadi spesimen yang sangat krusial. Keunikannya terletak pada perpaduan wajah prognatik (menonjol ke depan) yang besar dengan kotak otak yang sangat kecil.

Kombinasi ini begitu ekstrem sehingga jika bagian wajah dan kotak otaknya ditemukan terpisah di lokasi yang berbeda, para ahli kemungkinan besar akan menganggap keduanya berasal dari spesies yang berbeda. Menariknya, meski wajahnya tampak primitif, anatomi kotak otaknya justru jauh lebih mirip dengan H. erectus yang lebih modern.

Kesimpulan Struktur Tubuh

Secara keseluruhan, populasi Dmanisi menunjukkan variasi fisik yang luas namun tetap dalam satu kelompok. Mereka adalah individu berotak kecil dengan wajah besar dan kuat, serta tulang alis yang menonjol. Dari segi postur, ukuran tubuh dan proporsi anggota badan mereka berada pada batas bawah rentang variasi manusia modern.

Celah Pengetahuan Sebelum Penemuan Dmanisi Sebelum fosil Dmanisi ditemukan, pemahaman kita mengenai bentuk tubuh (morfologi) manusia purba sangatlah terbatas. Kita hanya mengenal dua kutub ekstrem: Australopithecus yang bertubuh kecil (sekitar 105 cm) dengan proporsi mirip kera, serta Turkana Boy (H. erectus) yang sudah bertubuh modern. Minimnya bukti fosil dari spesies perantara seperti H. habilis membuat para ilmuwan kesulitan menentukan kapan tepatnya manusia berubah dari makhluk yang sekadar bisa berjalan tegak menjadi pejalan kaki jarak jauh yang tangguh. Di sinilah fosil Dmanisi berperan penting sebagai "penyambung" informasi yang hilang.

Proporsi Tubuh dan Kemampuan Berjalan Berdasarkan ukuran tulang anggotanya, individu Dmanisi diperkirakan memiliki tinggi antara 145–166 cm dengan berat 40–50 kg. Ukuran ini lebih kecil dibandingkan H. ergaster di Afrika, yang kemungkinan disebabkan oleh sifatnya yang masih primitif atau adaptasi terhadap lingkungan baru. Meskipun ukuran kakinya sudah menyerupai manusia modern, struktur tulangnya belum seefisien H. erectus. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan lari dan jalan manusia tidak berevolusi secara mendadak, melainkan melalui proses panjang dan bertahap selama jutaan tahun.

Keunikan Struktur Lengan dan Bahu Salah satu temuan menarik pada fosil Dmanisi adalah rendahnya tingkat "torsi humerus" (puntiran tulang lengan atas). Pada manusia modern, tulang lengan memiliki puntiran tinggi agar tangan bisa bergerak bebas meski bahu berada di posisi belakang. Namun, pada manusia Dmanisi, torsi yang rendah menunjukkan bahwa orientasi lengan mereka lebih menyamping dengan posisi bahu yang berbeda. Ciri ini mirip dengan H. floresiensis (Hobbit), yang menunjukkan bahwa struktur lengan seperti ini mungkin merupakan sifat dasar dari nenek moyang awal manusia sebelum berevolusi menjadi bentuk modern.

Struktur Tulang Belakang dan Kaki Secara keseluruhan, tulang belakang manusia Dmanisi sudah sangat mirip dengan manusia modern. Adanya lengkungan di punggung bawah (lordosis lumbar) dan ruas tulang belakang yang kuat menunjukkan bahwa tubuh mereka sudah mampu menahan beban saat berjalan atau berlari jarak jauh. Begitu pula dengan struktur kakinya yang secara fungsional mirip dengan kaki kita saat ini, meski cara distribusi beban pada jari kaki sedikit berbeda. Walaupun beberapa ahli (seperti Ian J. Wallace) berpendapat bahwa bukti posisi kaki ini masih perlu diperkuat dengan temuan fosil panggul yang lebih lengkap, fosil Dmanisi tetap menjadi bukti kuat transisi menuju tubuh manusia modern.

Kondisi Lingkungan

Fosil-fosil yang ditemukan di Dmanisi, Georgia, merupakan sebuah "potret waktu" yang unik karena semuanya berasal dari rentang waktu yang relatif singkat. Seluruh fosil hominin tersebut diperkirakan terakumulasi dalam interval hanya sekitar 10 hingga 100 ribu tahun. Pada masa Pleistosen, situs ini terletak di tepi danau yang terbentuk secara alami akibat pembendungan sungai Mashavera dan Pinazauri oleh aliran lava.

Berbeda dengan habitat Homo erectus di Afrika Timur yang panas dan kering, Dmanisi saat itu memiliki iklim sedang yang lembab dengan musim dingin yang cukup dingin. Secara keseluruhan, lingkungannya menyerupai iklim Mediterania modern, namun lebih hangat dan kering dibandingkan kondisi Georgia saat ini.

Keragaman Ekosistem dan Fauna

Lanskap Dmanisi merupakan perpaduan kompleks antara hutan dan stepa (padang rumput). Berdasarkan temuan fosil, wilayah ini terdiri dari hutan galeri di sepanjang sungai, padang rumput terbuka, sabana pohon, hingga medan berbatu. Dominasi fosil rusa (mencapai 80% dari temuan) menunjukkan bahwa area hutan kemungkinan besar adalah ekosistem yang paling luas.

Keragaman hayati di situs ini sangat luar biasa, mencakup berbagai spesies mamalia Villafranchian yang kini telah punah, seperti:

  1. Karnivora Besar: Kucing bergigi pedang (Megantereon dan Homotherium), jaguar Eropa, serta hyena raksasa.
  2. Herbivora: Zebra Stenon, badak Etruscan, jerapah, dan burung unta raksasa.
  3. Hewan Kecil: Kadal, hamster, kura-kura, dan pika.

Menariknya, penumpukan tengkorak hominin di area yang sangat sempit diduga kuat merupakan hasil dari aktivitas karnivora besar tersebut yang membawa mangsanya ke satu lokasi.

Pola Makan dan Interaksi dengan Flora

Selain fauna, ditemukan pula jejak kehidupan berupa biji-bijian yang membatu. Meski sebagian besar adalah spesies non-pangan, terdapat bukti keberadaan tanaman yang dapat dimakan seperti Celtis (hackberry) dan Ephedra. Kelimpahan biji-bijian tertentu di lokasi ini mengindikasikan bahwa hominin Dmanisi kemungkinan besar mengonsumsi buah-buahan tersebut dan sudah mulai memengaruhi flora lokal. Selain tumbuhan, daging menjadi sumber nutrisi utama mereka, terutama untuk bertahan hidup selama musim dingin saat sumber makanan lain sulit ditemukan.

Perubahan Ekologis dan Sejarah Wilayah

Studi lapisan tanah menunjukkan adanya perubahan lingkungan yang signifikan seiring waktu. Mayoritas fosil ditemukan di lapisan keempat, sementara lapisan di atasnya menunjukkan penurunan jumlah fosil secara drastis. Hal ini mencerminkan terjadinya "pengeringan" wilayah Georgia timur pada Pleistosen Awal, yang mengakibatkan berkurangnya luas hutan dan meluasnya padang rumput stepa.

Penelitian terbaru juga mematahkan asumsi lama bahwa hominin Dmanisi hanya mengikuti ekosistem "mirip Afrika" yang sudah ada sebelumnya di Eurasia. Meskipun wilayah Kvabebi (dekat Dmanisi) pernah dihuni fauna Afrika jutaan tahun sebelumnya, ekosistem tersebut sudah hilang jauh sebelum hominin tiba. Artinya, hominin Dmanisi sebenarnya memasuki lanskap baru yang telah mengalami perubahan iklim drastis, bukan sekadar berpindah ke habitat yang identik dengan asal mereka di Afrika.

Teknologi

Di situs Dmanisi, ditemukan lebih dari 10.000 alat batu yang konsentrasi spasial dan stratigrafinya menunjukkan bahwa lokasi tersebut telah dihuni berulang kali oleh hominin. Alat-alat ini tergolong sederhana dan sangat mirip dengan tradisi Oldowan yang muncul di Afrika hampir satu juta tahun sebelumnya. Temuan ini didominasi oleh alat serpih, meski terdapat pula beberapa inti litik dan chopper (alat penetak).

Proses Pembuatan dan Material

Bahan baku pembuatan alat-alat tersebut diperkirakan berasal dari sungai dan singkapan di sekitar situs. Berdasarkan temuan berupa inti, serpih, hingga sisa-sisa potongan batu, dapat disimpulkan bahwa seluruh tahapan produksi alat dilakukan langsung di lokasi Dmanisi. Meskipun teknik pembuatannya tidak rumit, para hominin saat itu sudah mampu memilih batuan berkualitas tinggi, seperti batuan vulkanik, magmatik, sedimen, dan tuff yang tersilikifikasi. Teknik yang digunakan pun sangat fleksibel, menyesuaikan dengan bentuk alami batu awal tanpa menciptakan sudut-sudut baru yang kompleks.

Temuan Batu Non-Modifikasi (Manuport)

Selain alat jadi, ditemukan pula banyak batu yang tidak dimodifikasi namun berasal dari luar lokasi. Kehadiran batu-batu ini dipastikan akibat aktivitas hominin karena komposisi mineralnya berbeda dengan lingkungan sekitar.

  • Batu besar: Diduga digunakan untuk menghancurkan tulang serta memotong atau menumbuk daging.
  • Batu kecil: Kemungkinan digunakan sebagai alat lempar.

Koleksi besar batu yang dipindahkan dari tempat asalnya ini (manuport) ditafsirkan sebagai bentuk "stok" atau cadangan material. Strategi ini kemungkinan dilakukan agar para hominin tidak perlu terus-menerus kembali ke lokasi pengumpulan batu setiap kali membutuhkan alat baru.

Adaptasi

Lordkipanidze berpendapat bahwa hominin Dmanisi yang bertubuh kecil kemungkinan besar bertahan hidup melalui metode pemulungan agresif. Mereka diduga melemparkan batu-batu kecil untuk mengusir karnivora lokal demi mencuri sisa buruannya. Strategi ini kemungkinan besar dilakukan dalam kelompok demi keamanan, yang kemudian memicu perkembangan kerja sama sosial berbasis ikatan kekerabatan.

Bukti kuat adanya kerja sama sosial ini ditemukan pada Tengkorak 4, milik seorang individu yang hampir tidak memiliki gigi saat meninggal. Analisis medis menunjukkan bahwa soket akar giginya telah tertutup oleh jaringan tulang baru. Hal ini membuktikan bahwa individu tersebut tetap hidup dalam waktu yang cukup lama setelah kehilangan giginya—sebuah proses biologis yang hanya terjadi jika subjek masih hidup dan ternutrisi dengan baik.

Di lingkungan yang sering kali dingin dan tanpa teknologi api untuk melunakkan makanan, bertahan hidup sendirian tanpa gigi akan sangat sulit bagi individu tersebut. Meski ada kemungkinan ia bertahan hidup secara mandiri dengan menumbuk jaringan hewan yang lunak (seperti otak atau sumsum), teori yang lebih meyakinkan adalah bahwa ia dirawat dan diberi makan oleh anggota kelompoknya. Temuan ini menjadi salah satu bukti tertua mengenai perilaku empati dan dukungan sosial dalam sejarah evolusi manusia.