Mengenal Sugar Glider: Si Imut yang Bisa Terbang!

Sugar glider (Petaurus breviceps)

Sugar glider (Petaurus breviceps) adalah possum layang kecil bersifat omnivora, arboreal, dan nokturnal. Nama umumnya merujuk pada kegemarannya terhadap makanan manis seperti getah dan nektar, serta kemampuannya melayang di udara yang menyerupai tupai terbang. Meskipun secara fisik mirip, sugar glider tidak berkerabat dekat dengan tupai terbang; kesamaan ini merupakan contoh evolusi konvergen. Nama ilmiahnya sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti "penari tali berkepala pendek", sebuah gambaran atas kemampuan akrobatik mereka di tajuk pohon.

Taksonomi dan Evolusi Sugar Glider

1. Asal-usul dan Evolusi

Genus Petaurus diyakini berasal dari New Guinea pada era Miosen Tengah, sekitar 18 hingga 24 juta tahun yang lalu. Kelompok Petaurus di Australia menyimpang dari kerabat terdekatnya di New Guinea sekitar 9 hingga 12 juta tahun yang lalu.

Penyebaran mereka ke daratan Australia diperkirakan terjadi antara 4,8 hingga 8,4 juta tahun yang lalu. Hal ini dimungkinkan oleh turunnya permukaan air laut yang menciptakan jembatan darat antara New Guinea dan Australia. Bukti ini diperkuat dengan temuan fosil Petaurus tertua di Australia yang berusia sekitar 4,46 juta tahun.

2. Kompleksitas Taksonomi Tradisional

Selama bertahun-tahun, taksonomi spesies ini dianggap sangat kompleks. Awalnya, sugar glider diyakini sebagai satu spesies tunggal (Petaurus breviceps) dengan jangkauan luas yang mencakup Australia dan New Guinea.

Berdasarkan perbedaan fisik (morfologi) seperti warna dan ukuran tubuh, spesies ini sempat dibagi menjadi tujuh subspesies (tiga di Australia dan empat di New Guinea). Namun, analisis genetik pada tahun 2010 menunjukkan bahwa perbedaan fisik tersebut ternyata tidak mencerminkan perbedaan genetik yang unik di antara populasi-populasi tersebut.

3. Penemuan Spesies Baru (Revisi 2020)

Penelitian lebih lanjut mengungkapkan variasi genetik yang sangat besar, sehingga para ahli memutuskan untuk memecah Petaurus breviceps menjadi beberapa spesies mandiri:

  • Petaurus biacensis (Biak Glider): Berasal dari Pulau Biak, New Guinea.
  • Petaurus notatus (Krefft’s Glider): Ditemukan di sebagian besar wilayah Australia timur dan Tasmania.
  • Petaurus ariel (Savanna Glider): Berasal dari wilayah utara Australia.
  • Petaurus breviceps (Definisi Sempit): Kini hanya merujuk pada populasi terbatas di hutan pantai Queensland Selatan dan New South Wales.

Penemuan ini sangat krusial karena menunjukkan bahwa P. breviceps yang asli memiliki habitat yang sangat terbatas dan rentan terhadap bencana ekologi, seperti kebakaran hutan besar di Australia tahun 2019-2020.

4. Spesiasi Alopatrik

Pemisahan antara P. breviceps dan P. notatus diperkirakan terjadi sekitar 1 juta tahun yang lalu akibat isolasi geografis yang panjang. Pengangkatan pegunungan Great Dividing Range pada periode Pleistosen menyebabkan wilayah pedalaman Australia menjadi kering.

Perubahan iklim dan geografis ini mengisolasi nenek moyang P. breviceps di area pengungsian (refugia) sepanjang pesisir timur pegunungan tersebut. Proses ini merupakan contoh klasik dari spesiasi alopatrik, di mana spesies baru terbentuk karena adanya penghalang fisik yang memisahkan populasi.

Distribusi dan Habitat

Sugar glider tersebar luas di hutan pesisir Queensland tenggara hingga sebagian besar New South Wales, dengan jangkauan wilayah hingga ketinggian 2.000 meter di pegunungan timur. Di beberapa wilayah, distribusi mereka tumpang tindih dengan Krefft's glider (P. notatus).

Perilaku dan Relung Ekologis

Sebagai marsupial arboreal nokturnal, sugar glider aktif di malam hari dan menghabiskan siang hari dengan berlindung di lubang pohon yang dilapisi ranting berdaun. Mereka dapat hidup berdampingan secara simpatri dengan squirrel glider dan yellow-bellied glider. Keharmonisan ini dimungkinkan melalui pemisahan relung (niche partitioning), di mana setiap spesies memiliki pola penggunaan sumber daya yang berbeda.

Wilayah Jelajah dan Populasi

Rata-rata wilayah jelajah sugar glider adalah 0,5 hektar, yang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sumber makanan. Tingkat kepadatan populasinya berkisar antara dua hingga enam individu per hektar.

Predator dan Ancaman

Predator utama sugar glider adalah burung hantu asli (Ninox sp.). Selain itu, mereka juga terancam oleh kookaburra, goanna, ular, dan quoll. Di luar predator alami, kehadiran kucing liar (Felis catus) menjadi ancaman yang signifikan bagi populasi mereka.

Anatomi Sugar Glider

Sugar glider adalah marsupial kecil yang memiliki kemiripan fisik dengan tupai. Secara umum, panjang tubuhnya (dari hidung hingga ujung ekor) berkisar antara 24–30 cm. Spesies ini bersifat dimorfik seksual, yang berarti terdapat perbedaan fisik yang jelas antara jantan dan betina, di mana jantan biasanya memiliki tubuh yang lebih besar.

1. Karakteristik Fisik dan Vitalitas

Berat Badan: Jantan rata-rata seberat 140 gram, sedangkan betina sekitar 115 gram. Bulunya tebal dan lembut, umumnya berwarna biru-abu-abu dengan garis hitam khas dari hidung hingga punggung. Bagian bawah (perut, tenggorokan, dan dada) berwarna krem. Jantan dewasa memiliki bintik botak di dahi dan dada yang sebenarnya merupakan kelenjar aroma. Sugar glider memiliki detak jantung cepat (200–300 bpm) dengan laju pernapasan 16–40 napas per menit.

2. Adaptasi Sensorik (Nokturnal)

Sebagai hewan nokturnal, sugar glider memiliki adaptasi khusus untuk beraktivitas dalam gelap Mata mereka berukuran besar dan terletak berjauhan untuk membantu triangulasi jarak yang akurat saat meluncur. Mereka memiliki penglihatan trikromatik yang sensitif terhadap spektrum ultraviolet, biru, hijau, dan merah. Sedangkan telinga mereka dapat berputar secara independen untuk mendeteksi posisi mangsa.

3. Struktur Kaki dan Kemampuan Meluncur

Setiap kaki memiliki lima jari dengan fungsi yang sangat spesifik:

  • Kaki Belakang: Memiliki ibu jari yang berlawanan (tanpa cakar) untuk menggenggam dahan. Jari kedua dan ketiga menyatu (sindaktili) yang berfungsi sebagai sisir perawatan bulu.
  • Kaki Depan: Jari keempat berbentuk memanjang dan tajam untuk mencungkil serangga dari kulit pohon.
  • Membran Luncur (Patagium): Membran kulit yang membentang dari jari kelima kaki depan ke kaki belakang. Membran ini didukung oleh otot khusus yang memungkinkan mereka meluncur jarak jauh dengan kontrol dari gerakan tubuh dan ekor.

4. Kelenjar Aroma dan Reproduksi

Kelenjar aroma digunakan untuk menandai wilayah dan anggota kelompok:

  • Jantan: Memiliki empat titik kelenjar (dahi, dada, dan dua di dekat kloaka).
  • Betina: Memiliki kelenjar di kantung (pouch) dan area kloaka, namun tidak memiliki kelenjar di dahi atau dada.

5. Masa Hidup

Masa hidup sugar glider sangat bergantung pada lingkungannya; di alam liar rata-rata hingga 9 tahun. Sedangkan di dalam penangkaran mencapai 12 tahun dan harapan hidup tertua sugar glider tertua yang pernah dilaporkan mencapai hingga 17,8 tahun.

Biologi dan Perilaku Sugar Glider

Kemampuan Meluncur

Sugar glider merupakan salah satu jenis possum volplane (meluncur) asal Australia yang memiliki adaptasi fisik unik. Hewan ini meluncur dengan merentangkan tungkai depan dan belakang hingga membentuk sudut siku-siku terhadap tubuh, sementara kakinya ditekuk ke atas. Saat meluncurkan diri dari pohon, membran luncur (patagium) akan terbuka dan menciptakan aerofoil yang memungkinkan mereka menempuh jarak horizontal hingga 50 meter atau lebih.

Secara teknis, untuk setiap 1,82 meter jarak horizontal, sugar glider akan turun sejauh 1 meter. Navigasi saat meluncur dikendalikan dengan menggerakkan anggota tubuh untuk menyesuaikan ketegangan membran; misalnya, menurunkan lengan kiri untuk berbelok ke kiri. Kemampuan ini sangat efektif untuk berpindah antar pohon tanpa harus turun ke tanah, sehingga mereka dapat menghindari predator darat sekaligus menghemat energi saat mencari makanan yang letaknya tersebar. Selain itu, anak-anak yang berada di dalam kantung betina tetap aman dari guncangan saat mendarat berkat adanya septum pelindung.

Mekanisme Torpor

Untuk menghadapi perubahan suhu, sugar glider memiliki strategi perilaku yang efisien. Di cuaca panas (hingga 40 °C), mereka akan menjilati bulu dan meminum sedikit air untuk mendinginkan tubuh. Sebaliknya, saat cuaca dingin, mereka akan berkerumun untuk menjaga panas tubuh atau memasuki kondisi torpor untuk menghemat energi.

Berbeda dengan hibernasi yang berlangsung lama, torpor adalah siklus harian jangka pendek di mana suhu tubuh diturunkan hingga kisaran 10,4 °C – 19,6 °C selama 2 hingga 23 jam. Kondisi ini biasanya terjadi di musim dingin atau saat makanan langka untuk mengurangi pengeluaran energi secara drastis. Oleh karena itu, sangat penting bagi mereka untuk mencapai massa tubuh maksimal dan menimbun lemak pada musim gugur agar dapat bertahan hidup. Menariknya, sugar glider di alam liar lebih sering memasuki torpor dibandingkan mereka yang berada di penangkaran karena adanya fluktuasi suhu dan ketersediaan makanan yang lebih ekstrem.

Makanan dan Nutrisi

Sugar glider adalah omnivora adaptif musiman yang mencari makan di lapisan bawah kanopi hutan. Sumber air mereka diperoleh dari air hujan dan kandungan cairan dalam makanan. Pola makan mereka berubah drastis mengikuti musim: pada musim panas mereka menjadi insektivora (pemakan serangga), sedangkan pada musim dingin mereka beralih menjadi eksudativora yang mengonsumsi getah akasia, getah kayu putih, manna, hingga embun madu. Mereka memiliki sekum yang membesar khusus untuk membantu mencerna karbohidrat kompleks dari getah pohon tersebut. Untuk mengaksesnya, sugar glider akan mengupas kulit pohon atau membuat lubang dengan gigi mereka.

Selain makanan utama, mereka adalah pemakan oportunistik yang terkadang memangsa kadal, burung kecil, telur, hingga jamur dan buah-buahan. Konsumsi serbuk sari (nektar) juga sangat penting bagi mereka, yang secara tidak langsung menjadikan sugar glider sebagai penyerbuk utama bagi spesies tumbuhan seperti Banksia. Secara rata-rata, sugar glider mengonsumsi sekitar 11 gram bahan makanan kering per hari, atau setara dengan 8–9,5% dari berat badan mereka. Strategi makan ini dirancang untuk meminimalkan pengeluaran energi; misalnya, mereka lebih memilih menunggu serangga terbang masuk ke habitat mereka daripada aktif mengejarnya yang memakan banyak tenaga.

Reproduksi

Sistem reproduksi sugar glider betina terdiri dari dua ovarium dan dua uterus, serta bersifat poliestrus atau dapat mengalami siklus panas beberapa kali setahun. Betina memiliki kantung (marsupium) di perut yang berfungsi sebagai tempat perlindungan anak. Sementara itu, jantan memiliki penis bercabang dua untuk menyesuaikan dengan anatomi betina. Kematangan seksual dicapai pada usia 4–12 bulan untuk jantan dan 8–12 bulan untuk betina. Di alam liar, mereka biasanya berkembang biak satu atau dua kali setahun, namun di penangkaran mereka bisa berkembang biak lebih sering karena ketersediaan makanan yang stabil.

Masa kehamilan sugar glider sangat singkat, yaitu sekitar 15 hingga 17 hari. Betina biasanya melahirkan satu atau dua bayi (joey) yang sangat kecil (0,2 gram) dan belum berkembang sempurna. Bayi yang buta dan tidak berbulu ini merangkak masuk ke dalam kantung induknya dengan bantuan kelenjar aroma dan dukungan tulang rawan pada bahu yang membantu mereka memanjat. Mereka akan menetap di dalam kantung selama 60 hari dan mulai membuka mata pada usia 80 hari. Anak-anak baru akan meninggalkan sarang sepenuhnya setelah usia 110 hari, ketika sistem pengaturan suhu tubuh mereka sudah berkembang cukup kuat. Dibandingkan hewan darat lainnya, sugar glider menghasilkan keturunan yang lebih sedikit namun lebih berat, sebuah adaptasi yang memungkinkan sang induk tetap bisa meluncur dengan stabil meskipun sedang hamil.

Sosialisasi dan Komunikasi

Sugar glider adalah makhluk yang sangat sosial dan hidup dalam koloni yang terdiri dari hingga tujuh orang dewasa beserta anak-anaknya. Dalam kelompok ini, biasanya terdapat dua jantan dominan yang bekerja sama untuk memimpin dan menjaga wilayah seluas kurang lebih 1 hektar. Mereka menjaga kebersihan dan ikatan kelompok melalui ritual perawatan bulu bersama (social grooming). Keunikan sugar glider terletak pada keterlibatan pejantan dalam merawat anak (perawatan biparental). Jantan dominan ikut membantu menjaga anak-anak agar tetap hangat (mencegah hipotermia) sementara sang induk keluar mencari makan.

Komunikasi antar anggota koloni dilakukan melalui aroma kimia, sinyal visual, dan berbagai suara seperti gonggongan atau desisan. Aroma kimia yang dihasilkan dari kelenjar di dahi dan dada jantan sangat krusial untuk menandai wilayah, menunjukkan status kesehatan, serta menetapkan hierarki. Setiap penyusup yang tidak memiliki aroma kelompok yang sama akan diusir dengan keras. Dengan struktur sosial yang kompleks ini, perkelahian jarang terjadi di dalam internal kelompok dan lebih sering terjadi antar koloni yang berbeda.