Pertempuran Mingtiao
Pertempuran Mingtiao (1600 SM) adalah pertempuran semi-legendaris antara penguasa Shang pra-dinasti melawan Dinasti Xia. Kemenangan pihak Shang dalam pertempuran ini memungkinkan pemimpin mereka, Tang, untuk naik takhta dan memulai era Dinasti Shang.
Latar Belakang
Ketika takhta Dinasti Xia diwariskan kepada Jie, kekuatan klan Xia mulai merosot. Jie dikenal sebagai pemimpin yang korup dan tidak bertanggung jawab. Karena menganggap istana aslinya terlalu sederhana, ia memerintahkan pembangunan Istana Qing atau "Istana Miring". Pembangunan istana ini memakan waktu tujuh tahun, menghabiskan biaya yang sangat besar, serta mengerahkan puluhan ribu budak.
Di saat yang sama, pihak Shang pra-dinasti mulai mendapatkan dukungan dari suku-suku tetangga. Leluhur mereka, Xie, pernah bekerja untuk Yu yang Agung dan dianugerahi wilayah Shang. Selama masa pemerintahan Tang dari Shang , berkat kemajuan di bidang pertanian dan perdagangan yang dirintis oleh raja-raja sebelumnya seperti Xiang Tu, Ming, dan Wang Hai, kekuatan Shang terus tumbuh. Tang menjalin aliansi dengan suku-suku terdekat dan memperlakukan rakyatnya dengan baik. Ia juga mendapatkan dukungan dari Yi Zhi, yang awalnya adalah budak dari ayah mertua Tang yang bernama Youshen . Setelah Tang menikah, Yi Zhi menjadi juru masak pribadinya. Melalui diskusi politik saat menyajikan makanan, Yi Zhi kemudian diangkat menjadi Yi Yin, atau "Menteri Yi".
Setelah bertahun-tahun merancang strategi bersama Yi Yin, Tang memutuskan untuk mengakhiri Dinasti Xia. Tang setuju untuk tunduk kepada Jie secara terbuka, namun diam-diam ia mempersiapkan penggulingan kekuasaan. Pertama, ia memindahkan rakyatnya ke suatu tempat bernama Bo. Wilayah dari Bo hingga ke ibu kota Xia relatif datar, tanpa adanya penghalang alam seperti bukit atau sungai. Ia juga dikenal pemaaf kepada rakyatnya, sehingga ia mendapatkan dukungan penuh dari mereka. Suku pertama yang ditargetkan adalah Ge, yang secara geografis dekat dengan klan Shang dan tidak menjalankan ritual pemujaan leluhur secara teratur.
Suku Ge memakan ternak sapi dan domba yang diberikan oleh Tang untuk persembahan, serta membunuh anak-anak yang mengantarkan hewan tersebut. Tang menaklukkan suku ini melalui ekspedisi hukuman dengan dalih membalaskan kematian seorang anak. Seiring berjalannya waktu, Tang perlahan menaklukkan berbagai suku tetangga dan negara bagian vasal Xia, termasuk Youluo, Jing, Wen, Gu, dan setelah pertempuran berulang kali, Kunwu . Dengan cara ini, Tang berhasil mengumpulkan berbagai sekutu yang dapat membantunya memperoleh keunggulan jumlah pasukan melawan tentara Jie. Meskipun demikian, Jie tidak menyadari bahwa Tang adalah ancaman bagi takhtanya.
Catatan Shuo Yuan menyebutkan bahwa sebelum pertempuran terjadi, atas saran Yi Yin, Tang memutuskan untuk berhenti membayar upeti kepada Xia. Jie segera mengumpulkan Sembilan Suku Barbar dari Dongyi untuk menyerang Shang. Tang kemudian mengalah dan membayar upeti kembali karena memilih untuk tidak memancing kemarahan Jie lebih jauh.
Jalannya Pertempuran
Ketika beberapa suku mulai memberontak terhadap Xia, Tang dari Shang memutuskan bahwa waktu yang tepat telah tiba. Ia memulai serangan terhadap Xia. Setelah mendengar kabar pemberontakan tersebut, Jie mengirim pasukan dari wilayah kecil Gu, Wei, dan Kunwu. Yi menyarankan Tang untuk menunda pertempuran selama setahun. Setelah itu, Tang menaklukkan Gu dan Wei, lalu mengalahkan Kunwu.
Sebelum tentara bergerak lebih jauh, Yi Yin mengatakan kepada Tang bahwa moral pasukan harus ditingkatkan. Tang memberikan pidato yang secara historis dikenal sebagai 'Sumpah Tang' sebelum kedua pasukan bertemu di Mingtiao (sekarang wilayah Xia, North Anyi, Xiyun) sekitar tahun 1600 SM. Para jenderal dan prajurit Tang sangat membenci Jie, sehingga mereka bertempur dengan berani dan menyerang dari Er. Namun, pasukan Jie tidak mematuhi perintahnya, mereka justru menyerah atau melarikan diri. Akibatnya, pihak Shang memenangkan pertempuran dan mendesak Jie mundur ke Kunwu. Setelah menaklukkan Kunwu, Tang memaksa Jie untuk pergi ke pengasingan di Nanchao (sekarang Chao, Anhui). Jie tinggal di sana hingga akhir hayatnya. Tang kemudian melenyapkan sisa-sisa kekuatan Xia dan memperkerjakan rakyat Xia sebagai budak.
Teks Rong Cheng Shi, sebuah naskah dari periode Negara Berperang yang baru didokumentasikan di dunia akademis pada tahun 1994, menggambarkan pertempuran dengan sudut pandang yang sedikit berbeda. Teks tersebut membagi peristiwa ini menjadi tiga tahap terpisah: pertama, Jie dikalahkan di Yousong; kemudian dikalahkan di Mingtiao di Lishan; dan akhirnya, ia menderita kekalahan telak di Nanchao.
Sisi Historis
Historisitas Dinasti Xia itu sendiri telah banyak diperdebatkan sejak munculnya Doubting Antiquity School, dengan alasan bahwa tidak ada bukti arkeologis langsung yang dapat diuji. Dinasti ini hanya muncul dalam catatan setelah masa Dinasti Shang. Xia sering dikaitkan dengan budaya Erlitou, namun karena tidak ada bukti literasi, nama asli mereka tidak dapat dipastikan. Oleh karena itu, sulit untuk mengaitkan Dinasti Xia dengan budaya tersebut di luar bukti geografis.
Salah satu pertanyaan utama di balik Pertempuran Mingtiao adalah lokasi pertempuran yang sebenarnya jika dilihat dari perspektif modern. Sebagian besar sumber meyakini bahwa pertempuran terjadi di dekat Kabupaten Xia, di sebelah selatan Shanxi. Namun, terdapat kekurangan bukti arkeologis di lokasi tersebut di luar analisis nama-nama dalam teks klasik. Selain itu, catatan Rong Cheng Shi yang menyebutkan bahwa ada tiga pertempuran terpisah yang membentuk rangkaian Pertempuran Mingtiao menyiratkan bahwa ini adalah perang pergerakan, sehingga membuat penentuan lokasinya menjadi rumit. Berdasarkan situs pemakaman Kaisar Shun, Lie Hounan dan Wang Fengfu menegaskan bahwa Mingtiao mungkin merupakan nama kuno untuk Jingzhou.
