Revolusi Neolitikum (11700 SM)
Revolusi Neolitikum adalah sebuah perubahan besar yang terjadi pada zaman batu muda atau yang biasa juga disebut dengan masa neolitikum. Revolusi Neolitikum diperkirakan terjadi pada periode sekitar 14.000-12.000 tahun yang lalu ketika manusia mulai merubah kebiasaan mereka dalam memproduksi pangan. Di bawah ini akan dijelaskan secara singkat tentang sejarah Revolusi Neolitikum.
Pengertian Revolusi Neolitikum
Apa yang dimaksud dengan Revolusi Neolitikum?. Revolusi Neolitikum atau biasa juga disebut dengan Revolusi Pertanian. Revolusi Neolitikum adalah suatu periode transisi di dalam sejarah perkembangan umat manusia dari yang sebelumnya merupakan kelompok kecil dan hidup dengan cara berburu dan meramu (food gathering and food hunting) serta nomaden (berpindah-pindah) menjadi masyarakat yang menerapkan sistem pemukiman dan menerapkan pertanian (food producing).
Jadi, dapatlah dikatakan bahwa Revolusi Neolitik adalah perubahan dari kehidupan berburu dan meramu (food gathering and food hunting) menjadi kehidupan bercocok tanam (food producing). Makna dari Revolusi Neolitik adalah di mana melalui proses inilah akan dimulainya suatu pertumbuhan peradaban awal yang besar.
Kapan Terjadinya Revolusi Neolitikum?
Revolusi Pertanian Pertama, atau yang dikenal sebagai Revolusi Neolitikum, dimulai sekitar 10.000 SM hingga 20.000 tahun yang lalu. Ciri utama periode ini adalah munculnya berbagai sistem pertanian di berbagai belahan dunia yang memanfaatkan spesies tanaman lokal. Perubahan besar ini bermula di wilayah Fertile Crescent (Bulan Sabit Subur), Timur Tengah, di mana manusia untuk pertama kalinya beralih dari gaya hidup berburu menjadi bercocok tanam. Tak lama kemudian, masyarakat Zaman Batu di belahan dunia lain juga mulai menerapkan sistem serupa secara mandiri.
Meskipun banyak yang mengira pertanian hanya berasal dari Timur Tengah sekitar 12.000 hingga 8.000 tahun silam, kenyataannya praktik ini berkembang secara terpisah di berbagai wilayah, menyesuaikan dengan spesies asli di daerah masing-masing. Revolusi Neolitikum menjadi tonggak sejarah yang amat penting bagi manusia; melalui inovasi pertanian inilah, surplus pangan tercipta sehingga peradaban besar dan kota-kota mulai tumbuh dan berkembang pesat.
Pusat Pertanian Dunia
Penelitian menunjukkan bahwa praktik pertanian muncul secara mandiri (tanpa saling memengaruhi) di beberapa wilayah utama dunia, antara lain:
- Lembah Indus: India.
- Asia Timur: Terbagi di dua pusat, yaitu Lembah Yangtze serta wilayah sepanjang Sungai Kuning.
- Amerika: Dataran tinggi Andes dan Meksiko, serta pesisir timur Amerika Serikat.
- Timur Tengah: Wilayah Timur Dekat dan Timur Tengah.
- Afrika: Wilayah sub-Sahara.
Di setiap lokasi tersebut, sistem pertanian berkembang pesat melalui pemanfaatan flora dan fauna asli setempat.
Menariknya, bukti budidaya tanaman tertua justru ditemukan di Papua Nugini—wilayah di antara Asia Timur dan Australia yang hingga kini masih sulit dijelajahi. Sekitar 20.000 tahun yang lalu (atau bahkan lebih awal), penduduk di sana mulai menanam pisang, talas, dan ubi.
Meskipun disebut pisang, varietas kuno ini sangat berbeda dengan yang kita konsumsi sekarang. Ukurannya kecil, penuh dengan biji, dan teksturnya sangat berserat sehingga mungkin akan terasa tidak enak di lidah manusia modern. Namun, secara genetik, itulah nenek moyang pisang yang kita kenal saat ini.
Seiring dengan variasi tanaman asli di setiap wilayah, berbagai peradaban mulai mengembangkan sistem pertanian yang berbeda:
- Tiongkok: Masyarakat bagian selatan mulai mendomestikasi padi, sedangkan masyarakat di bagian utara membudidayakan milet.
- Timur Tengah: Tanaman pertama yang dibudidayakan meliputi gandum emmer, gandum biasa, kacang-kacangan, kurma, ara, dan kemungkinan karob.
- Amerika: Pertanian berkembang secara bertahap di berbagai area, dimulai dari budidaya kacang-kacangan dan jagung, diikuti kentang, hingga akhirnya merambah ke bunga matahari dan labu.
- Afrika: Beras merah, sorgum, dan milet menjadi komoditas utama yang pertama kali ditanam.
- Lembah Indus & India: Meski sejarah pertanian di Lembah Indus masih misterius karena minimnya ekskavasi pada situs-situs Neolitikum, catatan kuno menyebutkan bahwa Alexander Agung kemungkinan besar pertama kali mengenal budidaya tebu saat ekspedisinya ke India (336-323 SM).
Proses Terjadinya Revolusi Neolitikum
Zaman Neolitikum kadang-kadang disebut juga Zaman Batu Baru. Manusia neolitik menggunakan perkakas batu layaknya seperi manusia pada periode-periode sebelumnya (paleolitikum dan mesolitikum) Zaman Batu mereka sebelumnya. Tentang Revolusi Neolitikum secara konsep sebenarnya lahir dari seorang arkeolog berkebangsaan Australia Velle Gordon Childe yang menciptakan istilah “Revolusi Neolitik” pada tahun 1935 untuk menggambarkan periode perubahan yang radikal dan penting di mana manusia mulai membudidayakan tanaman, membiakkan hewan untuk dimakan, dan membentuk pemukiman secara permanen. Kehadiran sistem pertanian memberikan garis pemisah yang tegas antara manusia pada zaman Neolitik dengan manusia-manusia pada periode sebelumnya.
Hingga saat ini belumlah diketahui secara pasti dengan sesungguhnya apa penyebab Revolusi Neolitik atau penyebab Revolusi Neolitikum itu. Hal ini dikarenakan tidak adanya faktor tunggal yang menyebabkan atau kira-kira mendorong manusia untuk mulai melakukan aktivitas bertani yang diperkirakan terjadi kira-kira 12.000 tahun yang lalu. Sehingga penyebab daripada Revolusi Neolitik itu mungkin saja amatlah bervariasi dari satu daerah ke daerah lain.
Penyebab terjadinya Revolusi Neolitikum itu sendiri bisa disebabkan oleh tekanan populasi yang menyebabkan meningkatnya persaingan untuk mendapatkan makanan dan kebutuhan untuk menanam makanan sendiri kemungkinan lahir dari kenyataan ini.
Jadi, kiranya kita dalam hal ini coba untuk memahami salah satu proses yang terjadi di salah satu tempat yang diduga sebagai awal dari terjadinya Revolusi Neolitikum. Bukan berarti bahwa pola yang terjadi di satu tempat ini dapat menjawab keresahan tentang bagaimana proses Revolusi Neolitikum itu benar-benar terjadi sesungguhnya. Apabila melihat pada aktivitas iklim di Bumi di mana sekitar 14.000 tahun yang lalu pada akhir Zaman Es dan suhu mulai meningkat maka periode ini dianggap sebagai awal dari manusia mulai bercocok tanam.
Di kawasan Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent Moon), yang mana secara geografis di sebelah barat dibatasi oleh Laut Mediterania dan di timur oleh Teluk Persia, tanaman-tanaman seperti gandum liar dan barley mulai tumbuh saat suhu mulai semakin hangat. Manusia pra-Neolitik yang disebut Natufians atau yang juga dikenal dengan kebudayaan Natufian mulai membangun rumah dan pemukiman secara permanen di wilayah tersebut.
Dugaan lainnya adalah bahwa kemajuan intelektual manusia yang disebabkan oleh semakin besarnya volume otak memungkinkan telah menyebabkan orang menjadi lebih dapat mengendalikan diri dan mampu berpikir dengan cermat dan lebih cerdas.
Periode Neolitikum yang dimulai ketika beberapa kelompok manusia mulai meninggalkan cara hidup nomaden dan mulai meninggalkan aktivitas berburu dan meramu untuk memulai bercocok tanam. Hal ini bukanlah berarti bahwa aktivitas berburu dan meramu sama sekali telah ditinggalkan. Mungkin diperlukan waktu ratusan atau bahkan ribuan tahun bagi manusia untuk sepenuhnya beralih dari cara hidup ini yang sebelumnya mengumpulkan biji-bijian tanaman liar untuk kemudian lebih memilih memelihara kebun kecil dan kemudian membentuk ladang tanaman yang ukurannya besar.
Terlepas dari persoalan mengenai sebab-sebab umum terjadinya Revolusi Neolitikum di mana manusia mulai memilih menetap juga disebabkan oleh semakin meningkatnya upaya untuk melakukan aktivitas pertanian. Selain daripada melakukan penanaman gandum dan sejenisnya, manusia juga mulai menanam makanan yang kaya dengan protein seperti kacang polong. Oleh karena adanya kelebihan dari hasil produksi tanaman itulah yang kemudian tersedia bahan pangan untuk menambah jumlah populasi di mana hal ini juga ditunjang oleh hasil produksi yang konsisten dan kemampuan manusia dalam menyimpan benih serta merawat tanaman. Di bawah ini adalah aktivitas pertanian awal di beberapa wilayah di dunia:
Melanesia (Papua Nugini)
Berdasarkan penelitian arkeologi terbaru, manusia pertama kali mencapai Papua Nugini dari Asia Tenggara sekitar 60.000 hingga 40.000 tahun yang lalu. Perjalanan ini terjadi selama zaman es, di mana permukaan air laut yang jauh lebih rendah memudahkan manusia untuk berpindah antar-pulau.
Kelompok manusia ini kemungkinan besar adalah pemburu-pengumpul yang seiring berjalannya waktu mulai membangun pemukiman tetap, biasanya berupa rumah panggung. Komunitas kecil tersebut bertahan hidup dengan berburu dan memancing, sembari memanen atau mungkin mulai membudidayakan tanaman liar.
Sayangnya, eksplorasi di semenanjung Papua sangat sulit dilakukan karena berbagai faktor:
- Geografi dan Iklim: Wilayah ini tertutup hutan hujan lebat dengan iklim tropis lembap yang hanya terasa nyaman pada ketinggian di atas 1.000 meter.
- Masalah Kesehatan: Penyakit seperti tuberkulosis, hepatitis, tipes, dan malaria masih tersebar luas.
- Keragaman Budaya: Penduduk asli terdiri dari berbagai kelompok etnis dengan budaya, tradisi, dan bahasa yang berbeda-beda.
- Isolasi Bahasa: Terdapat ratusan bahasa daerah yang digunakan di sana. Struktur bahasa yang unik ini mencerminkan kondisi masyarakat yang hidup terisolasi dan jarang berinteraksi dengan orang asing.
Segala hambatan tersebut menjadi tantangan besar bagi para penjelajah dan arkeolog yang ingin melakukan penelitian di negara tersebut.
Tiongkok: Lembah Sungai Kuning & Sungai Yangtze
Meskipun penelitian arkeologi di Tiongkok baru dimulai pada abad ke-20, sejauh ini ribuan situs telah dieksplorasi dan memberikan bukti adanya pemukiman manusia yang luas dan signifikan. Banyak temuan berasal dari akhir Zaman Neolitikum, bahkan beberapa di antaranya berasal dari masa yang jauh lebih tua, yakni sekitar 45.000 tahun yang lalu.
Terdapat dua pusat domestikasi utama di wilayah ini:
- Wilayah Utara: Terletak di sepanjang aliran Sungai Kuning, dekat ibu kota kuno Xi'an. Di sini, budidaya milet (sejenis serealia), panicle, dan sayuran brassica (seperti sawi-sawian) berkembang berdampingan dengan peternakan anjing, babi, serta unggas.
- Wilayah Selatan: Terletak di sepanjang Lembah Yangtze, yang menjadi pusat penanaman padi. Faktanya, fitolit (fosil tumbuhan) padi tertua yang ditemukan di sepanjang aliran Sungai Yangtze berasal dari sekitar 13.900 tahun yang lalu.
The Fertile Crescent
Bulan Sabit Subur, yaitu wilayah berbentuk bulan sabit yang membentang di sebagian besar Timur Tengah, telah lama dianggap sebagai cikal bakal pertanian dunia. Teori ini didasarkan pada banyaknya temuan arkeologis di kawasan tersebut.
Proses menetapnya manusia purba diperkirakan dimulai dari domestikasi hewan seperti domba, kambing, babi, dan mungkin sapi, yang kemudian diikuti oleh budidaya beberapa jenis serealia (biji-bijian) dan kacang-kacangan.
Secara geografis, wilayah ini sangat luas:
- Barat: Bermula dari situs arkeologi kuno Yerikho di Palestina.
- Utara: Melintasi lereng pegunungan di Turki selatan.
- Tenggara: Menjangkau Mesopotamia (sekarang Irak dan sebagian Iran).
- Timur Laut: Meluas hingga ke pesisir Laut Hitam dan Laut Kaspia.
Mesoamerika
Lembah Oaxaca di Meksiko Selatan secara tradisional dianggap sebagai tempat pertama kali jagung didomestikasi dari teosinte, tanaman liar nenek moyangnya. Kombinasi temuan arkeologis dan data molekuler menunjukkan bahwa proses domestikasi ini terjadi sekitar 9.000 tahun yang lalu. Jagung diyakini menyebar dari dataran tinggi (dengan ketinggian lebih dari 1.800 meter di atas permukaan laut) ke arah lembah-lembah, dan dari sana menyebar ke Amerika Selatan, terutama melalui sepanjang pesisir barat. Sementara itu, domestikasi kacang-kacangan tampaknya terjadi jauh lebih baru, yakni sekitar 4.000 tahun yang lalu.
Amerika Selatan: Peru & Pegunungan Andes
Kentang pertama kali didomestikasi di Peru bagian selatan sekitar 7.000 tahun yang lalu. Situs-situs arkeologi terkait dapat ditemukan di sekitar Danau Titicaca (perbatasan Peru dan Bolivia) serta di Kepulauan Chiloé di Chili. Tanaman seperti kentang, kacang buncis (common bean), dan kacang koro (Lima bean) tumbuh subur di wilayah ini.
Secara spesifik, kentang dikembangkan dari spesies Solanum brevicaule. Tanaman ini kemudian menyebar ke arah utara maupun selatan hingga mencapai pesisir barat Patagonia (Chili dan Argentina). Dalam prosesnya, kentang beradaptasi dengan periode penyinaran cahaya matahari (photoperiod) yang lebih lama—sebuah evolusi krusial yang nantinya memungkinkan kentang tumbuh sukses saat dibawa ke Eropa.
Domestikasi kacang buncis dan kacang koro diperkirakan terjadi sekitar 6.000 tahun yang lalu. Namun, data ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut, terutama mengenai lokasi persis domestikasinya, karena kedua spesies ini tersebar luas mulai dari Amerika Tengah hingga Amerika Selatan.
Amerika Utara: Pesisir Timur Amerika Serikat
Di situs arkeologi sepanjang Pesisir Timur Amerika Serikat, ditemukan sisa-sisa tanaman dari keluarga labu, bunga matahari, dan Chenopodium. Sempat terjadi perdebatan panjang mengenai apakah wilayah ini merupakan pusat domestikasi mandiri atau hanya tempat budidaya tanaman yang didatangkan dari luar. Saat ini, berdasarkan penanggalan radiokarbon, diyakini bahwa spesies seperti Chenopodium, labu, dan bunga matahari mulai ditanam di wilayah tersebut antara 3.800 hingga 5.100 tahun yang lalu.
Afrika Sub-Sahara
Mengingat genus Homo berasal dari Afrika, kemungkinan besar manusia mempraktikkan bentuk pertanian paling awal di sana. Namun, hingga kini belum ditemukan bukti kuat untuk mendukung teori tersebut. Pemukiman tertua yang diketahui di Afrika Sub-Sahara, Nabta Playa di barat daya Mesir (berusia 10.000–8.000 tahun), menunjukkan adanya sisa-sisa hewan ternak, tetapi tidak ditemukan sisa-sisa tanaman.
Kondisi serupa ditemukan di Tassili n'Ajjer, sebuah dataran tinggi pegunungan di tenggara Aljazair. Banyak ukiran dan lukisan dinding gua di sana yang menggambarkan aktivitas perburuan dan peternakan, namun bukan pertanian. Di Lembah Nil, pemukiman menetap dan sistem pertanian (termasuk budidaya tanaman) baru berkembang sekitar 5.000 SM. Hal ini telah dikenal luas secara global dalam dua abad terakhir berkat lukisan-lukisan yang ditemukan di berbagai makam di Lembah Para Raja (Valley of the Kings).
Situs arkeologi Ganjigana dan Kursakata di Nigeria Timur Laut jauh lebih menarik, meskipun usianya lebih muda. Tanaman domestikasi yang ditemukan di sana mencakup padi Afrika (Oryza glaberrima), milet, dan sorgum. Padi Afrika adalah salah satu dari dua spesies padi yang dibudidayakan di dunia. Spesies ini hanya ditemukan di Afrika dan penyebarannya tidak seluas Oryza sativa yang khas dari Asia. Padi Afrika diperkirakan didomestikasi sekitar 2.500 tahun yang lalu di sepanjang pesisir Niger, wilayah yang sekarang masuk ke dalam negara Mali.
Daftar Jenis Makanan Berdasarkan Wilayah
Hasil Revolusi Neolitikum
Revolusi Neolitikum dimulai sekitar 10.000 hingga 12.000 tahun yang lalu di berbagai belahan dunia saat nenek moyang kita mulai bercocok tanam. Masyarakat agraris muncul hampir di waktu yang bersamaan di wilayah Mesopotamia, Cina, Asia Tenggara, Afrika, Mesoamerika, dan Amerika Selatan. Fenomena ini menggantikan gaya hidup berburu dan meramu yang telah dijalani spesies manusia (Homo) selama ratusan ribu tahun.
Sistem Pertanian
Peralihan gaya hidup manusia dari berburu dan meramu menuju sistem pertanian menetap bukanlah sebuah lompatan instan, melainkan proses evolusi panjang yang terbagi dalam tiga tahapan utama. Dimulai dengan Tahap Pengumpul yang Terorganisir, nenek moyang kita telah menghabiskan jutaan tahun hidup bergantung pada alam. Sejak masa Homo erectus, cara mencari makan yang awalnya acak berubah menjadi lebih sistematis melalui pemetaan sumber daya alam yang terencana. Memasuki era Homo sapiens, pengetahuan ini berkembang pesat; mereka mulai memahami siklus hidup flora dan fauna secara mendalam, serta memiliki pola migrasi rutin untuk memanen dan berburu di lokasi yang sama setiap tahunnya.
![]() |
| Proses persebaran tradisi pertanian dari Mesopotamia menuju Eropa |
Memasuki Tahap Pembudidayaan Awal, manusia mulai mengenal proses domestikasi, yaitu pemilihan sifat tanaman tertentu melalui pembiakkan berkelanjutan hingga spesies tersebut berbeda dari kerabat liarnya. Di kawasan Fertile Crescent (Bulan Sabit Subur), komunitas Neolitik mulai membudidayakan sereal seperti gandum emmer, einkorn, dan barley, serta tanaman lain seperti lentil dan buncis. Gagasan bercocok tanam ini diduga muncul secara tidak sengaja dari pengamatan benih sisa makanan yang tumbuh di tempat pembuangan sampah. Setelah mulai menetap, mereka meningkatkan hasil alam melalui teknik perawatan seperti penyiangan gulma, penggunaan alat sederhana untuk menggemburkan tanah, hingga kesadaran untuk membalik tanah pasca-panen guna menjaga kesuburan lahan.
Fenomena ini ternyata terjadi secara simultan di berbagai belahan dunia dengan jenis komoditas yang berbeda. Saat masyarakat di kawasan Bulan Sabit Subur menanam gandum, penduduk di Asia mulai membudidayakan padi dan millet sekitar 7.700 tahun yang lalu. Sementara itu, di Semenanjung Yucatan, budidaya labu telah dimulai sejak 10.000 tahun silam, disusul munculnya tanaman mirip jagung seribu tahun kemudian. Akhirnya, pada Tahap Domestikasi dan Pertanian Menetap, manusia mulai memindahkan tanaman ke dekat hunian dan memelihara hewan dalam kandang. Berawal dari kebun-kebun kecil di sekitar rumah, praktik ini berkembang menjadi pertanian skala besar seiring munculnya kelompok masyarakat yang khusus berprofesi sebagai petani. Mereka pun bertransformasi menjadi pendomestikasi cerdas yang secara konsisten menyimpan benih terbaik untuk memastikan keberlangsungan pangan di musim berikutnya.
Pertanian awal berkembang secara beragam, mengikuti kondisi lingkungan dan masyarakatnya. Karena variasi iklim yang ekstrem di berbagai belahan dunia, jenis tanaman dan hewan yang didomestikasi pun berbeda-beda di setiap wilayah:
- Timur Tengah: Gandum dan jelai tumbuh subur secara alami, sehingga menjadi tanaman pangan pokok pertama.
- Asia Tenggara: Beras berbutir besar menjadi pilihan utama karena gandum tidak tumbuh di sana.
- Afrika & Mesoamerika: Karena ketiadaan gandum dan padi, masyarakat setempat membudidayakan sorgum (Afrika) dan jagung (Mesoamerika).
- Amerika Selatan: Tanpa adanya serealia berbutir besar, petani beralih ke umbi-umbian (kentang, ubi jalar, singkong) dan biji-bijian semu (pseudo-grains) seperti amaranth.
Selain sumber karbohidrat, masyarakat kuno juga mendomestikasi kacang-kacangan sebagai sumber protein (seperti kedelai di Cina dan kacang tanah di Amerika Selatan) serta tanaman serat untuk pakaian (kapas dan rami). Buah-buahan adalah kelompok terakhir yang didomestikasi karena pohon buah membutuhkan waktu lama untuk panen (5–10 tahun) dan memerlukan teknik rumit seperti penyambungan (grafting) agar kualitasnya tetap terjaga.
Transisi dari pemburu-pengumpul menjadi petani terjadi secara sangat lambat, memakan waktu ribuan tahun. Di Lembah Tehuacán, Meksiko, masyarakat awalnya hanya mengonsumsi tanaman liar dan hewan kecil. Namun, seiring langkanya hewan buruan sekitar 9.000 tahun lalu, mereka mulai fokus pada tanaman seperti labu dan alpukat.
- 7.000 tahun lalu: Hanya 10% makanan yang berasal dari budidaya.
- 3.000 tahun lalu: Mayoritas makanan sudah berasal dari hasil tani.
Pola serupa ditemukan di Timur Dekat, seperti di Yerikho dan Ҫatalhöyük, di mana masyarakat perlahan-lahan beralih dari sekadar berburu menjadi peternak domba, kambing, dan sapi serta petani skala besar.
Sistem Peternakan
Pada masa Revolusi Neolitikum ini hal terpenting selain dikenalnya sistem pertanian juga adalah manusia mulai menerapkan peternakan. Ketika manusia mulai melakukan eksperimennya dengan hal-hal yang berkait dengan pertanian, manusia juga melakukan hal yang sama pada hewan.
Peternakan yang paling awal atau domestikasi hewan yang paling awal adalah jenis hewan yang diburu oleh manusia pada zaman Neolitik untuk diambil dagingnya. Salah satu hewan yang didomestikasi adalah babi yang mulai dikembangbiakkan yang semula berasal dari babi di hutan dan begitu juga dengan halnya kambing, domba, kuda, dan ayam menyusul kemudian ada sapi dan beberapa hewan lainnya yang sanggup untuk dipelihara dan dikembangbiakkan oleh manusia.
Pada gilirannya hewan peliharaan ini juga membuat pekerjaan pertanian yang berat dilakukan apabila hanya mengandalkan tenaga manusia mulai menggunakan tenaga hewan untuk menggarap lahan-lahan yang hendak ditanami. Selain membantu pekerjaan manusia untuk pertanian yang lebih intensif, hewan juga memberikan nutrisi bagi manusi melalui susu dan daging yang menyebabkan tingkat populasi yang semakin stabil.
Perubahan Sosial
Revolusi Neolitikum juga menyebabkan terjadinya perubahan sosial. Sebagaimana diketahui bahwa pada periode sebelumnya masyarakat hidup dalam sistem sosial yang bersifat komunal primitif di mana tanpa adanya pembagian kerja dan terdapat kesetaraan gender baik antara laki-laki dan perempuan. Di masa Neolitikum akibat dari adanya perubahan-perubahan besar yang terjadi dalam hal-hal mendasar bagi kehidupan manusia, yakni memproduksi makanannya telah menyebabkan adanya pembagian kerja di antara anggota masyarakat.
Perlu kiranya diakui pula bahwa dengan ditemukannya sistem pertanian dan domestikasi hewan telah mendukung munculnya populasi yang lebih besar secara tidak langsung mendorong terbentuknya organisasi pemerintahan. Surplus pangan memungkinkan muncul dan berkembangnya elit sosial yang dibebaskan dari tenaga kerja yang mendominasi di dalam suatu komunitas dan mendominasi di dalam pengambilan suatu keputusan. Hal demikian ini terjadi oleh karena tidak perlu semua individu di dalam kelompok menghabiskan waktunya untuk memproduksi pangan. Oleh karena tidak perlu semua penduduk menghabiskan waktunya untuk memproduksi pangan, sehingga spesialisasi di dalam masyarakat tentulah sangat mungkin terjadi.
Terdapat pembagian kelas sosial yang nampaknya cukup dalam dan ketidaksetaraan gender. Perlu dipahami disini kiranya bahwa peranan perempuan kini lebih banyak berada di rumah dan lebih banyak mengurus anak-anak mereka. Terutama sekali berkaitan dengan nutrisi bahwa seorang ibu dapat membesarkan anak-anaknya secara bersamaan oleh karena ketersediaan susu yang berasal dari hewan peliharaan (kambing, domba, kuda, sapi) dan juga sereal yang berasal dari hasil pertanian. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan apabila Revolusi Neolitikum terutama dikenalkannya sistem pertanian telah mendorong pertumbuhan populasi yang lebih padat.
Menurunya status perempuan disebabkan oleh karena laki-laki mengambil peran yang lebih besar sebagai pemimpin dalam kelompok, pekerjaan dan juga sebagai seorang pejuang. Hierarki sosial secara berangsur mulai terbentuk di mana kelas sosial yang terbentuk pada masa ini ditentukan oleh pekerjaan. Adapun beberapa kelas sosial yang memainkan peranannya secara khusus antara lain seperti pegawai administrasi, petani, pengrajin, pedagang, dan pemimpin spiritual.
Selain itu, karena semakin meningkatnya intensitas perdagangan maka konflik dengan wilayah lain pun juga seringkali terjadi sehingga kota-kota itu membutuhkan spesialisasi seperti diplomat, penguasa dan juga tentara. Perlu diketahui bahwa kelas sosial yang terbentuk itu memiliki pola yang hampir sama secara umum di mana polanya adalah petani dan pengrajin berada dalam posisi paling bawah sedangkan pejuang (termasuk disini diplomat) dan pendeta atau pemuka agama berada di posisi teratas dalam struktur masyarakat.
Kelebihan pangan yang dihasilkan memungkinkan seseorang untuk lebih produktif dan kreatif. Sehingga tidaklah mengherankan apabila mulai muncul barang-barang kerajinan seperti tektil, tembikar, perkakas rumah tangga, patung dan lukisan yang kelak nantinya mendorong pula munculnya kerajinan logam.
Dengan adanya pemukiman yang padat oleh karena ditemukannya sistem pertanian, maka tidaklah mengherankan apabila diberbagai belahan dunia pemukiman-pemukiman padat ini mulai bermunculan. Pemukiman-pemukiman padat inilah yang mendorong munculnya peradaban-peradaban awal di mana telah memiliki cirinya yang antara lain adalah; populasi yang pada, ekonomi berbasis pertanian, terbentuknya hierarki sosial, sistem pembagian kerja dan spesialisasi bidang, pemerintahan, monumen-monumen, tradisi menulis bahkan sistem kepercayaan yang sangat kompleks.
Kompleksnya masyarakat ini terwujud dalam bentuk kota atau negara-kota yang apabila diambil salah satu contohnya seperti Ur maupun Uruk di Mesopotamia. Di mana kota-kota ini adalah sebagai pusat kekuasaan, produksi pangan, budaya dan perkembangan beragam inovasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Masyarakat yang kompleks ini sangat rentan dengan berbagai hal seperti penyakit, konflik dan bahkan bencana alam yang menyebabkan berbagai hal di mana itu dapat menjadi pemandangan yang dramatis. Semisal banjir dan kekeringan yang menyebabkan kegagalan panen dapat membawa bencana kelaparan atau mungkin kekeringan yang menyebabkan semakin langkanya persediaan air. Selain bencana alam tentu yang acap kali terjadi adalah wabah penyakit.
Mengapa Revolusi Pertanian Terjadi?
Sebuah misteri besar adalah mengapa manusia butuh waktu sangat lama untuk mulai bertani, padahal mereka sudah lama memiliki pengetahuan tentang cara tumbuh tanaman. Beberapa teori menjelaskan hal ini:
- Teori Oasis: Perubahan iklim membuat lingkungan kering, memaksa manusia dan hewan berkumpul di dekat sumber air (oasis) dan mulai mengelola sumber daya tersebut.
- Teori Nelayan: Masyarakat pesisir yang menetap memiliki lebih banyak waktu luang untuk bereksperimen dengan tanaman.
- Upacara Keagamaan: Tanaman mungkin awalnya ditanam untuk ritual obat-obatan atau persembahan di makam.
- Tekanan Populasi: Bertani menjadi jalan keluar terakhir ketika populasi bertambah banyak namun hasil buruan di alam liar tidak lagi mencukupi.
Berburu dan meramu sebenarnya adalah cara hidup yang sangat nyaman dan berkelimpahan. Manusia kemungkinan besar baru beralih menjadi petani ketika terdesak oleh faktor lingkungan, pertumbuhan populasi, atau kebutuhan spesifik wilayah lainnya. Pertanian bukanlah sebuah "penemuan mendadak", melainkan adaptasi cerdas terhadap tantangan zaman.
Daftar Bacaan
- Brami, Maxime N. 1 December 2019. “The Invention of Prehistory and the Rediscovery of Europe: Exploring the Intellectual Roots of Gordon Childe’s ‘Neolithic Revolution’ (1936)”. Journal of World Prehistory. 32 (4): 311–351.
- Brown, T. A.; Jones, M. K.; Powell, W.; Allaby, R. G. 2009. “The complex origins of domesticated crops in the Fertile Crescent”. Trends in Ecology & Evolution. 24 (2): 103–109.
- Charles E. Redman. 1978. Rise of Civilization: From Early Hunters to Urban Society in the Ancient Near East. San Francisco: Freeman.
- Childe, Vere Gordon. 1936. Man Makes Himself. London: Watts & Company.
- Denham, Tim P.; Haberle, S. G.; Fullagar, R; Field, J; Therin, M; Porch, N; Winsborough, B. 2003. “Origins of Agriculture at Kuk Swamp in the Highlands of New Guinea”. Science. 301 (5630): 189–193.
- Diamond, J.; Bellwood, P. 2003. “Farmers and Their Languages: The First Expansions”. Science. 300 (5619): 597–603.
- Jacques Cauvin. 2000. The Birth of the Gods and the Origins of Agriculture. Cambridge: Cambridge University Press.
- Jean-Pierre Bocquet-Appel. 2011. “When the World’s Population Took Off: The Springboard of the Neolithic Demographic Transition”. Science. 333 (6042): 560–561
- Lewin, Roger. 2009. “The origin of agriculture and the first villagers”. Human Evolution: An Illustrated Introduction (5 ed.). Malden, Massachusetts: John Wiley & Sons.
- Sauer, Carl O. 1952. Agricultural origins and dispersals. Cambridge, MA: MIT Press
- Weisdorf, Jacob L. September 2005. “From Foraging To Farming: Explaining The Neolithic Revolution”. Journal of Economic Surveys. 19 (4): 561–586.

