Hongshan: Warisan Budaya yang Mempengaruhi Peradaban Tiongkok dan Korea
Kebudayaan Hongshan
Budaya Hongshan adalah salah satu kebudayaan Neolitikum paling menakjubkan dan signifikan di timur laut Tiongkok, yang berkembang pesat di lembah Sungai Liao Barat selama periode sekitar 4700 hingga 2900 SM. Situs-situs Hongshan telah ditemukan tersebar di wilayah yang membentang luas dari Mongolia Dalam hingga Liaoning, mencakup area yang kini menjadi bagian dari Provinsi Liaoning barat, Mongolia Dalam timur, dan Hebei utara.
Kebudayaan ini dinamai menurut Hongshanhou, sebuah situs di Distrik Hongshan, Kota Chifeng, Mongolia Dalam. Situs ini pertama kali ditemukan oleh arkeolog Jepang Torii Ryūzō pada tahun 1908 selama ekspedisi penelitiannya di Manchuria, dan kemudian digali secara ekstensif pada tahun 1935 oleh Kōsaku Hamada dan Mizuno Seiichi. Namun, pemahaman kita yang sebenarnya tentang kebesaran dan kompleksitas budaya Hongshan baru muncul pada tahun 1980-an dengan penemuan spektakuler kompleks ritual Niuheliang, yang secara radikal mengubah pandangan arkeolog tentang tingkat perkembangan sosial dan spiritual masyarakat Neolitik di timur laut Tiongkok.
Hongshan bukan sekadar kebudayaan pertanian sederhana; ia mewakili peradaban awal yang telah mengembangkan stratifikasi sosial yang jelas, arsitektur monumental yang mengesankan, sistem kepercayaan yang kompleks dengan pemujaan dewi, dan tradisi pengolahan giok yang menjadi cikal bakal dari budaya giok Tiongkok yang berlangsung selama ribuan tahun.
Konteks Historis dan Urutan Budaya
Di timur laut Tiongkok, budaya Hongshan tidak muncul dalam ruang hampa, melainkan merupakan hasil dari perkembangan budaya yang berkelanjutan selama ribuan tahun. Ia didahului oleh beberapa kebudayaan Neolitik awal yang penting: budaya Xinglongwa (6200–5400 SM) yang terkenal dengan rumah panggung dan giok tertuanya, budaya Xinle (5300–4800 SM) di wilayah Shenyang, dan budaya Zhaobaogou yang kemungkinan sezaman dengan Xinle atau sedikit lebih baru. Kebudayaan-kebudayaan ini meletakkan dasar-dasar pertanian millet dan kehidupan menetap di wilayah tersebut.
Secara kronologis, budaya Yangshao yang berkembang pesat di lembah Sungai Kuning ada sezaman dengan budaya Hongshan. Kedua budaya besar ini tidak hidup terisolasi; sebaliknya, mereka berinteraksi satu sama lain secara dinamis selama berabad-abad, bertukar teknologi, ide, dan bahkan gen melalui migrasi dan perdagangan. Bukti arkeologis menunjukkan adanya pengaruh gaya tembikar Yangshao di beberapa situs Hongshan, dan sebaliknya, unsur-unsur budaya Hongshan juga terdeteksi di situs-situs perbatasan Yangshao.
![]() |
| Tembikar dengan gambar pola, adalah salah satu ciri khas Kebudayaan Hongshan |
Setelah masa kejayaannya berakhir, budaya Hongshan digantikan oleh budaya Xiajiadian Bawah (2200–1600 SM), yang kemudian digantikan oleh budaya Xiajiadian Atas yang berbeda secara signifikan (1000–600 SM). Pergantian ini ditandai dengan pergeseran ekonomi yang dramatis dari pertanian yang mapan menuju nomadisme pastoral, kemungkinan besar dipicu oleh perubahan iklim yang membuat wilayah tersebut semakin kering dan kurang cocok untuk pertanian intensif. Pada periode sejarah selanjutnya, lembah Liao Barat sebagian besar dihuni oleh kaum nomaden seperti Xianbei dan Khitan, yang mewarisi sebagian tanah dari peradaban pertanian Hongshan yang telah lama hilang.
Genetika, Identitas, dan Perdebatan Linguistik
Studi genetika modern telah memberikan wawasan mendalam tentang identitas biologis dan sejarah populasi masyarakat Hongshan, serta hubungannya dengan populasi lain di Asia Timur.
Sebuah studi genetik oleh Yinqiu Cui dkk. dari tahun 2013 yang menganalisis haplogroup DNA kromosom-Y menemukan bahwa 63% sampel gabungan dari berbagai situs arkeologi Hongshan termasuk dalam subklad N1 (xN1a, N1c) dari haplogroup paternal N-M231. Para peneliti memperkirakan bahwa haplogroup N merupakan haplogroup yang dominan di wilayah tersebut pada periode Neolitik sebesar 89%, dengan frekuensinya secara bertahap menurun seiring berjalannya waktu akibat percampuran dengan populasi pendatang.
Saat ini, haplogroup ini ditemukan pada populasi Han utara, Mongol, Manchu, Oroqen, Xibe, dan Hezhe dengan frekuensi yang relatif rendah. Haplogroup paternal lainnya yang diidentifikasi adalah C dan O3a (O3a3), yang keduanya justru mendominasi di antara penduduk wilayah tersebut saat ini.
Berdasarkan temuan genetik ini, Nelson dkk. 2020 mencoba menghubungkan budaya Hongshan dengan konteks linguistik "Transeurasia" (atau yang lebih dikenal sebagai hipotesis keluarga bahasa Altaik), yang berpendapat bahwa bahasa-bahasa Turki, Mongolik, Tungusik, Jepang, dan Korea berasal dari nenek moyang yang sama yang menyebar bersama pertanian.
Namun, sebuah studi tentang pengukuran jarak genetik dari studi genetik skala besar tahun 2021 yang berjudul 'Wawasan genomik tentang pembentukan populasi manusia di Asia Timur' oleh Wang Chuan-Chao dkk. yang diterbitkan dalam jurnal Nature memberikan hasil yang bertentangan. Studi ini menemukan bahwa pemburu-pengumpul Mongolia dan Lembah Sungai Amur memang memiliki nenek moyang yang sama dengan penutur bahasa Mongol dan Tungusik modern, tetapi mereka tidak membawa nenek moyang petani Sungai Liao Barat. Temuan ini secara langsung bertentangan dengan hipotesis Transeurasia yang diajukan oleh Martine Robbeets dkk. yang menyatakan bahwa ekspansi petani dari Sungai Liao Barat-lah yang menyebarkan proto-bahasa Transeurasia ke berbagai arah.
Sebuah studi tahun 2020 menemukan perubahan genetik substansial di wilayah Sungai Liao Barat dari waktu ke waktu yang berkaitan erat dengan perubahan ekonomi. Peningkatan ketergantungan pada pertanian millet antara Neolitikum Tengah hingga Akhir dikaitkan dengan afinitas genetik yang lebih tinggi ke lembah Sungai Kuning — populasi yang umumnya terkait dengan penutur bahasa Sino-Tibet. Sebaliknya, peralihan parsial ke pastoralisme dalam budaya Xiajiadian Atas Zaman Perunggu dikaitkan dengan penurunan afinitas genetik Sungai Kuning ini dan peningkatan afinitas ke populasi Sungai Amur yang terkait dengan penutur bahasa Tungusik. Transisi genetik yang tajam ini terjadi setelah Neolitikum Akhir.
Sebuah studi tahun 2021 lebih lanjut menemukan bahwa petani millet dari lembah Sungai Kuning yang berasal dari wilayah yang kini menjadi Provinsi Henan dan Shandong telah memainkan peran penting dalam pembentukan orang Hongshan atau keturunan mereka melalui rute migrasi ke utara, baik melalui jalur pedalaman maupun pesisir.
Gambaran genetik yang paling lengkap muncul dari sebuah studi tahun 2025 yang menemukan bahwa populasi Hongshan mewarisi kontribusi genetik dari tiga sumber utama:
- Orang Asia Timur Laut Kuno (ANA): Kemungkinan berasal dari budaya Zhaobaogou lokal sebelumnya
- Petani Sungai Kuning Neolitikum (NYR): Terkait dengan budaya Yangshao, mungkin diperkenalkan secara tidak langsung oleh petani Neolitikum Tengah dari budaya Dawenkou yang bermigrasi ke utara dari Shandong
- Pemburu-pengumpul Shandong (Shandong_HG): Dibawa oleh para migran Dawenkou yang membawa sekitar 40% garis keturunan ini dan sekitar 60% garis keturunan terkait Yangshao
Komposisi genetik yang kompleks ini mencerminkan sejarah interaksi dan migrasi yang dinamis di wilayah timur laut Tiongkok selama Zaman Neolitik.
Pertanian dan Basis Ekonomi
Mirip dengan budaya Yangshao di Dataran Tengah, budaya Hongshan membangun basis ekonominya pada budidaya millet yang intensif. Namun, bukti menunjukkan bahwa ketergantungan mereka pada tanaman ini semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Analisis isotop stabil pada tulang manusia mengungkapkan bahwa millet menyumbang hingga 70% dari makanan manusia di Hongshan Awal dan meningkat hingga 80% di Hongshan Akhir. Angka yang sangat tinggi ini menunjukkan bahwa pertanian millet telah menjadi tulang punggung ekonomi yang sangat mapan dan produktif, mampu mendukung populasi yang padat dan proyek-proyek konstruksi skala besar seperti kompleks ritual Niuheliang.
Tanaman millet yang dibudidayakan terutama mencakup dua jenis: foxtail millet (Setaria italica) dan broomcorn millet (Panicum miliaceum), keduanya adalah tanaman C4 yang tahan kekeringan dan sangat cocok dengan iklim musiman di wilayah tersebut. Meskipun demikian, ada variasi regional: di beberapa situs seperti Haminmangha, proporsi millet dalam makanan lebih rendah, menunjukkan adanya diversifikasi strategi subsistensi di lokasi-lokasi tertentu.
![]() |
| Bejana tembikar |
Tanaman millet yang dibudidayakan terutama mencakup dua jenis: foxtail millet (Setaria italica) dan broomcorn millet (Panicum miliaceum), keduanya adalah tanaman C4 yang tahan kekeringan dan sangat cocok dengan iklim musiman di wilayah tersebut. Meskipun demikian, ada variasi regional: di beberapa situs seperti Haminmangha, proporsi millet dalam makanan lebih rendah, menunjukkan adanya diversifikasi strategi subsistensi di lokasi-lokasi tertentu.
Pertanian yang produktif ini tidak hanya memberi makan manusia, tetapi juga mendukung peternakan hewan, terutama babi yang tulangnya banyak ditemukan di situs-situs Hongshan. Analisis isotop pada tulang hewan menunjukkan bahwa babi peliharaan mengonsumsi lebih banyak tanaman C3 (tumbuhan liar), sementara manusia sangat bergantung pada tanaman C4 (millet), menunjukkan bahwa babi mungkin diberi makan sisa-sisa makanan manusia atau mencari makan sendiri di hutan sekitar, bukan secara khusus diberi makan millet.
Warisan Budaya Material: Giok, Tembikar, dan Metalurgi Awal
Budaya Hongshan diakui secara universal karena seni ukiran gioknya yang luar biasa canggih dan bermakna simbolis mendalam. Artefak pemakaman Hongshan mencakup beberapa contoh pengerjaan jade paling awal yang diketahui dan paling mengesankan di dunia. Hingga saat ini, di situs Niuheliang saja telah ditemukan 183 buah artefak giok, termasuk giok peninggalan, patung giok manusia, giok cakram, giok lingkaran ganda dan tiga, serta berbagai bentuk hewan mitologis.
![]() |
| Hiasan jade, salah satu ciri Kebudayaan Hongshan. |
Ikon paling terkenal dari budaya Hongshan adalah naga babi jade (zhulong), perpaduan antara ciri-ciri babi (moncong yang menonjol, telinga besar, mata bulat) dengan tubuh ular yang melingkar. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa ciri wajahnya lebih mirip beruang daripada babi. Artefak ini biasanya berukuran 5–20 cm, dengan lubang yang dibor di bagian punggung untuk digantungkan sebagai liontin atau jimat. Simbol ini kemungkinan besar mewakili konsep kesuburan, kekuatan bumi, dan kekuatan transformatif spiritual. Selain naga babi, Hongshan juga menghasilkan naga embrio atau naga berbentuk-C yang lebih ramping, yang dianggap sebagai prototipe paling awal dari naga Tiongkok yang kemudian menjadi simbol kekaisaran. Selain naga, hewan suci lainnya yang sering digambarkan dalam giok termasuk burung (mungkin nenek moyang dari simbol feniks), kura-kura, dan bahkan ulat sutra.
Selain giok, patung-patung tanah liat juga ditemukan di seluruh situs Hongshan, termasuk patung wanita hamil yang kemungkinan besar berfungsi sebagai simbol kesuburan atau dewi ibu. Yang paling spektakuler adalah patung-patung tanah liat seukuran tiga kali manusia asli yang ditemukan di Kuil Dewi Niuheliang.
Tembikar Hongshan juga memiliki ciri khasnya sendiri, terutama tembikar yang dicat dengan pola-pola geometris dan bergelombang yang indah. Meskipun tidak sehalus atau seindah tembikar Yangshao, tembikar Hongshan menunjukkan perkembangan gaya dan teknik yang unik.
Salah satu temuan yang paling mengejutkan adalah adanya cincin tembaga kecil yang digali dari beberapa situs Hongshan. Meskipun jumlahnya sangat sedikit dan sederhana, artefak-artefak ini merupakan bukti dari metalurgi awal di timur laut Tiongkok, mendorong mundur sejarah pemanfaatan logam di wilayah ini lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya.
![]() |
| Neolithic jade dragon |
Sistem Kepercayaan dan Kompleks Ritual Niuheliang
Puncak pencapaian budaya Hongshan terwujud dalam kompleks arkeologi Niuheliang, sebuah situs ritual unik yang mengubah secara permanen pemahaman kita tentang Neolitik Tiongkok. Terletak 50 km dari Kota Chaoyang di Liaoning, situs ini ditemukan pada tahun 1981 dan telah diekskavasi secara sistematis sejak tahun 1983.
Di Niuheliang, para penggali telah menemukan kompleks kuil bawah tanah yang termasuk di dalamnya sebuah altar, serta gundukan-gundukan batu (cairn) yang tersebar di atas bukit-bukit terdekat. Kuil yang sekarang dikenal sebagai "Kuil Dewi" dibangun dari platform batu dengan dinding yang dicat berwarna-warni, dan masih menyisakan lukisan mural di dindingnya. Nama "Kuil Dewi" diberikan setelah penemuan spektakuler sebuah kepala wanita yang dibuat dari tanah liat dengan mata bertatahkan jade, yang ditemukan pada kedalaman sekitar 1 meter di dalam struktur bawah tanah tersebut. Di dalam kuil juga ditemukan patung-patung tanah liat lain yang berukuran hingga tiga kali ukuran manusia asli, yang oleh para arkeolog diidentifikasikan sebagai objek pemujaan — kemungkinan dewi-dewi atau leluhur yang disembah.
Lebih dari 60 makam telah digali di dekat Kuil Dewi, semuanya dibangun dari batu dan ditutupi oleh gundukan batu yang megah. Makam-makam ini sering kali berisi artefak jade yang paling indah dan berharga. Menariknya, sistem makam menunjukkan stratifikasi sosial yang jelas: makam dibagi menjadi tiga tingkatan — makam pusat besar yang megah, makam menengah, dan makam kecil. Makam pusat yang paling besar hanya satu atau dua di setiap gundukan, dengan barang bawaan yang paling melimpah dan berharga, mencerminkan ideologi "satu orang dihormati, raja di atas segalanya" yang menunjukkan adanya pemimpin atau elit yang berkuasa.
Gundukan batu ditemukan di atas dua bukit terdekat, dengan makam bertingkat berbentuk bundar atau persegi yang terbuat dari batu kapur yang ditumpuk rapi. Di dalam beberapa makam ditemukan patung naga dan kura-kura dari tanah liat atau batu. Para ahli menduga kuat bahwa aktivitas pengorbanan yang berkaitan dengan sistem kepercayaan mungkin telah dilakukan secara rutin dalam budaya Hongshan di lokasi-lokasi suci ini.
Selain Kuil Dewi dan makam, Niuheliang juga memiliki altar batu yang sangat penting. Salah satu altar yang paling terkenal berbentuk tiga lingkaran konsentris dengan diameter dalam 11 meter, lingkaran tengah 15,6 meter, dan lingkaran luar 22 meter. Rasio diameter antar lingkaran adalah √2, angka yang memiliki makna matematis dan astronomis khusus. Para peneliti percaya bahwa tiga tingkatan altar ini masing-masing berkaitan dengan titik-titik matahari utama dalam setahun: titik balik matahari musim dingin, ekuinoks musim semi dan gugur, serta titik balik matahari musim panas. Bukti terbaru bahkan menunjukkan bahwa masyarakat Hongshan mampu menentukan arah utara-selatan dengan presisi yang luar biasa menggunakan teknik pengukuran bayangan matahari (gui biao ce ying), yang kemudian menjadi dasar bagi astronomi, survei tanah, dan perencanaan kota Tiongkok kuno.
Bahkan ada struktur yang oleh media Tiongkok disebut sebagai "piramida" — sebuah bangunan tinggi berbentuk tangga dari tanah dan batu dengan inti tanah padat berdiameter sekitar 40 meter yang dibungkus batu. Struktur ini kemungkinan besar berfungsi sebagai altar besar untuk upacara-upacara penting.
Feng Shui dan Kosmografi Kuno
Sama seperti yang disarankan oleh bukti yang ditemukan di situs budaya Yangshao awal, situs budaya Hongshan juga memberikan bukti paling awal untuk prinsip-prinsip feng shui. Kehadiran bentuk bundar dan persegi di pusat-pusat upacara budaya Hongshan menunjukkan kehadiran awal dari kosmografi gaitian — konsep kuno Tiongkok tentang "langit bundar, bumi persegi" yang menjadi dasar dari banyak aspek filsafat dan arsitektur Tiongkok selama ribuan tahun.
Feng shui awal pada masa Hongshan bergantung pada pengamatan astronomi yang cermat untuk menemukan korelasi dan keselarasan antara manusia dan alam semesta. Tata letak kompleks ritual Niuheliang yang memperhitungkan posisi bukit, arah matahari, dan hubungan antara altar, kuil, dan makam, menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang hubungan antara ruang fisik dan dunia spiritual — prinsip yang kemudian disistematisasikan menjadi seni feng shui yang kita kenal sekarang.
Perubahan Iklim, Migrasi, dan Warisan Peradaban
Salah satu aspek paling menarik dari sejarah Hongshan adalah hubungan antara perubahan iklim dan nasib peradaban mereka. Wilayah budaya Hongshan yang kini sebagian besar berupa gurun dan stepa kering, diperkirakan telah menjadi gurun selama 1 juta tahun terakhir. Namun, sebuah studi tahun 2015 menemukan bahwa wilayah tersebut pernah memiliki sumber daya air yang kaya serta danau dan hutan yang melimpah sekitar 12.000 tahun yang lalu hingga 4.000 tahun yang lalu. Lingkungan yang subur inilah yang memungkinkan berkembangnya pertanian millet intensif dan masyarakat kompleks Hongshan.
Namun, wilayah ini mulai berubah menjadi gurun akibat perubahan iklim yang dimulai sekitar 4.200 tahun yang lalu. Kekeringan yang semakin parah membuat pertanian semakin sulit dipertahankan, memaksa sebagian penduduk untuk beradaptasi dengan gaya hidup pastoral nomaden, sementara yang lain mungkin beremigrasi. Oleh karena itu, beberapa orang dari budaya Hongshan mungkin telah beremigrasi ke selatan ke lembah Sungai Kuning sekitar 4.000 tahun yang lalu, membawa serta pengetahuan, teknologi, dan kepercayaan mereka.
Bukti arkeologis yang ditemukan di situs Miaozigou di Ulanqab, Mongolia Dalam — sebuah cabang utara dari budaya Yangshao dari Sungai Kuning — menunjukkan kesamaan yang mencolok dalam budaya material antara budaya Sungai Kuning dan Sungai Liao. Tiga individu dari situs Miaozigou termasuk dalam haplogroup N1(xN1a, N1c) — haplogroup yang dominan pada masyarakat Hongshan — sementara garis keturunan utama budaya lembah Sungai Kuning adalah O2-M122. Keberadaan haplogroup khas Hongshan di antara individu Miaozigou dapat berfungsi sebagai bukti migrasi beberapa orang Hongshan ke selatan, yang mungkin berkontribusi pada perkembangan peradaban di Dataran Tengah.
Banyak arkeolog Tiongkok terkemuka seperti Guo Dashun melihat budaya Hongshan sebagai salah satu tahap penting dari peradaban Tiongkok awal. Apa pun kecenderungan linguistik penduduk kuno tersebut, budaya Hongshan diyakini telah memberikan pengaruh yang signifikan pada perkembangan peradaban Tiongkok awal, terutama dalam tradisi penggunaan giok sebagai benda ritual, pemujaan naga, dan konsep kosmologi yang kemudian menjadi inti dari peradaban Tiongkok.
Budaya ini juga mungkin berkontribusi pada perkembangan permukiman di Korea kuno melalui kontak dan migrasi. Namun, hubungan ini telah menjadi sumber kontroversi: budaya Hongshan juga sering disalahgunakan dalam pseudosejarah Korea oleh beberapa sarjana Korea yang berusaha membantah hubungan apa pun antara budaya Hongshan dengan peradaban Tiongkok dan menegaskan bahwa budaya Hongshan secara eksklusif hanya terkait dengan peradaban Korea. Pandangan ini umumnya ditolak oleh arkeolog akademis karena tidak didukung oleh bukti yang kuat.
Terlepas dari berbagai perdebatan akademis dan politik, tidak diragukan bahwa Kebudayaan Hongshan merupakan salah satu peradaban Neolitik paling canggih dan menarik di Asia Timur. Dengan kompleks ritual Niuheliang yang megah, seni giok yang tak tertandingi, sistem kepercayaan yang mendalam, dan organisasi sosial yang kompleks, Hongshan telah membuktikan bahwa peradaban awal di Tiongkok bukan hanya berkembang di lembah Sungai Kuning, tetapi juga secara bersamaan dan mandiri di timur laut, menciptakan mozaik peradaban yang kaya dan beragam yang akhirnya menyatu menjadi fondasi peradaban Tiongkok kuno yang agung.
Daftar Referensi
- Nelson, Sarah Milledge. "Tracing population movements in ancient East Asia through the linguistics and archaeology of textile production". Cambridge University.
- Wang, Chuan-Chao dkk. (2021). "Genomic insights into the formation of human populations in East Asia". Nature. 591 (7850): 413–419.
- Max Planck Institute for the Science of Human History (1 Juni 2020). "Ancient genomes link subsistence change and human migration in northern China". Science Daily.
- Cui, Yinqiu dkk. (2013). "Y-chromosome haplogroup N distribution in ancient populations from Northern China". American Journal of Physical Anthropology.
- Zhang, Menghan; Yan, Shi; Pan, Wuyun; Jin, Li (24 April 2019). "Phylogenetic evidence for Sino-Tibetan origin in northern China in the Late Neolithic". Nature. 569 (7754): 112–115.
- Childs-Johnson, Elizabeth. "Jades of the Hongshan Culture: The Dragon and Fertility Cult Worship".
- Guo, Dashun. "Hongshan Culture and the Origin of Chinese Civilization". Chinese Archaeology.
- Nelson, Sarah Milledge (2020). The Archaeology of Northeast China: Beyond the Great Wall. Routledge.



