Rumah di Bawah Rumah: Ritual Pemakaman Aneh di Xinglongwa
Kebudayaan Xinglongwa
Kebudayaan Xinglongwa (6200–5400 SM) merupakan salah satu kebudayaan Neolitik awal paling awal dan paling berpengaruhdi timur laut Tiongkok, yang berkembang terutama di sekitar perbatasan Mongolia Dalam–Liaoning di lembah Sungai Xiliao (Sungai Liao Barat). Dengan usia sekitar 8.200 hingga 7.200 tahun yang lalu, kebudayaan ini menempati posisi perintis dalam banyak aspek perkembangan peradaban awal di wilayah tersebut.
Kebudayaan ini mendapatkan namanya dari situs tipe yang ditemukan di Panji Aohan, Chifeng, Mongolia Dalam, yang terletak di sisi barat daya sebuah bukit dan dinamai menurut Desa Xinglongwa yang berjarak 1,3 km di tenggara situs tersebut. Penyebarannya cukup luas, mencakup wilayah dari lembah Sungai Xiliao hingga kaki timur Pegunungan Yanshan, meliputi Mongolia Dalam tenggara, Hebei timur, Liaoning barat, Tianjin, dan Beijing timur.
Xinglongwa dikenal karena beberapa pencapaian revolusioner: tata letak pemukiman yang direncanakan secara komunal dengan rumah-rumah berderet rapi, bangunan pusat yang besar, parit pelindung yang mengelilingi desa, tradisi penguburan unik di bawah lantai rumah, serta bukti penggunaan giok tertua yang diketahui di Tiongkok. Julukannya sebagai "Desa Pertama Tiongkok" mencerminkan pentingnya kebudayaan ini dalam memahami asal-usul masyarakat menetap dan perencanaan kota di Tiongkok kuno.
Arsitektur dan Perencanaan Komunal
Salah satu ciri paling mencolok dari kebudayaan Xinglongwa adalah tingkat perencanaan komunal yang sangat maju untuk masanya. Di situs tipe Xinglongwa saja, telah ditemukan lebih dari 120 rumah-lubang (pit-houses) semi-subterranean yang berbentuk persegi atau persegi panjang. Setiap rumah memiliki perapian di tengahnya yang terbuat dari lubang tanah atau dikelilingi batu pipih, berfungsi sebagai pusat aktivitas memasak dan pemanas ruangan.
Yang paling mengesankan adalah tata letak rumah yang sangat teratur. Rumah-rumah tersebut dibangun berderet searah barat laut–tenggara, membentuk 8 baris utama dengan 10–13 rumah per baris. Rumah-rumah biasanya memiliki luas antara 50 hingga 80 meter persegi, cukup besar untuk menampung keluarga inti atau keluarga besar.
Di pusat pemukiman, terdapat dua bangunan besar yang berdiri sejajar, masing-masing dengan luas mencapai lebih dari 140 meter persegi. Ukuran yang jauh lebih besar ini menunjukkan bahwa bangunan pusat tersebut kemungkinan berfungsi sebagai tempat pertemuan komunal, rumah kepala suku, atau bangunan ritual.
Selain itu, seluruh area hunian dikelilingi oleh sebuah parit berbentuk elips dengan diameter 166–183 meter, lebar sekitar 2 meter, dengan pintu masuk selebar 4,6 meter di sisi barat laut. Xinglongwa adalah situs paling awal yang ditemukan di Tiongkok yang dikelilingi oleh parit — bukti kemampuan perencanaan skala besar dan kemungkinan kesadaran akan pertahanan atau pembatasan wilayah.
Secara keseluruhan, pemukiman Xinglongwa menunjukkan tata letak yang direncanakan dengan cermat, tersusun rapi, dan memiliki hierarki ruang yang jelas antara hunian biasa dan bangunan pusat. Ini adalah bukti awal dari organisasi sosial yang kohesif dan kemampuan untuk bekerja sama dalam proyek-proyek komunal yang besar.
Tembikar dan Kerajinan Tangan
Tembikar Xinglongwa memiliki ciri khas yang mudah dikenali: sebagian besar berbentuk silinder, dibuat dengan teknik lilitan, dan dipanggang pada suhu yang relatif rendah, menghasilkan keramik yang agak kasar dan berpori. Hiasan yang paling umum adalah hiasan sisir (comb-marked) yang dibuat dengan menyisir permukaan tembikar yang masih basah, serta hiasan tali. Kebudayaan Xinglongwa bahkan dianggap sebagai salah satu penghasil Keramik Sisir tertua di wilayah ini.
![]() |
| Tembikar Xinglongwa |
Selain tembikar, orang Xinglongwa juga menunjukkan keahlian dalam kerajinan batu dan tulang. Alat batu yang dihaluskan digunakan untuk berbagai keperluan sehari-hari. Salah satu temuan yang paling luar biasa adalah sebuah seruling tulang dengan lima lubang jari, yang menunjukkan bahwa musik telah menjadi bagian dari kehidupan budaya mereka. Seruling ini adalah salah satu alat musik tertua yang ditemukan di Tiongkok utara, memberikan wawasan tentang dimensi ekspresi seni dan spiritual masyarakat Xinglongwa.
Namun, pencapaian kerajinan tangan yang paling ikonik dari kebudayaan ini adalah pembuatan benda-benda giok. Di situs Xinglongwa ditemukan benda giok berbentuk cincin terbuka (jue) dengan diameter 2,5 cm, yang merupakan giok asli tertua yang diketahui di Tiongkok, berusia sekitar 8.000 tahun. Penemuan ini mendorong sejarah penggunaan giok di Tiongkok mundur ribuan tahun lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya, dan giok ini dijuluki sebagai "Giok Pertama Tiongkok". Kemampuan untuk mengidentifikasi, menambang, dan membentuk giok yang keras menunjukkan tingkat keahlian teknis dan pengetahuan material yang mengesankan.
Tradisi Penguburan yang Unik dan Misterius
Salah satu aspek paling menarik dan masih penuh misteri dari kebudayaan Xinglongwa adalah kebiasaan menguburkan mayat langsung di bawah lantai rumah. Praktik ini tidak umum ditemukan pada kebudayaan Neolitik lainnya di Tiongkok, dan telah memicu berbagai interpretasi tentang makna simbolisnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa ini mencerminkan kepercayaan yang kuat pada ikatan antara leluhur dan rumah tangga yang masih hidup, atau keinginan untuk menjaga kedekatan spiritual dengan orang yang telah meninggal.
Di antara makam-makam tersebut, yang paling mewah adalah Makam M118, di mana seorang pria berusia sekitar 50 tahun dikubur bersama dengan sepasang babi (satu jantan dan satu betina) serta benda-benda giok. Keberadaan babi dalam penguburan ini sangat signifikan: babi kemungkinan besar telah menjadi hewan domestikasi yang penting bagi masyarakat Xinglongwa, dan pengorbanannya dalam makam menunjukkan nilai simbolis atau ekonomi yang tinggi. Benda-benda giok yang menyertai juga menunjukkan bahwa individu ini mungkin memiliki status sosial atau ritual yang khusus dalam komunitasnya.
Penelitian terhadap 34 set sisa-sisa manusia dari penguburan di dalam rumah mengungkapkan pola demografi yang menarik:
- Rasio laki-laki dan perempuan sekitar 2:1 (23 laki-laki berbanding 11 perempuan)
- Dalam kelompok laki-laki, tidak ada individu yang diidentifikasi berusia di atas 55 tahun
- Semua perempuan termasuk dalam kelompok usia menengah hingga tua (tidak ada yang lebih muda dari 35 tahun)
- Individu termuda yang diperiksa berusia 13 atau 14 tahun
Para arkeolog menduga bahwa anak-anak sebelum usia dewasa atau kesadaran seksual matang mungkin tidak dikubur di dalam rumah, melainkan di tempat lain yang belum ditemukan. Dari segi fisik, tinggi rata-rata laki-laki adalah antara 163,8 cm dan 168,8 cm, sedangkan tinggi rata-rata perempuan adalah antara 153,4 cm dan 159,9 cm — angka yang sebanding dengan populasi Neolitik lainnya di Tiongkok utara.
Bukti Pertanian dan Ekonomi Subsistensi
Meskipun sebagian besar situs Xinglongwa belum menunjukkan bukti pertanian yang jelas, situs Xinglonggou — yang masih satu kebudayaan — merupakan pengecualian penting dan satu-satunya situs yang menunjukkan bukti adanya budidaya tanaman. Melalui teknik flotasi, para arkeolog berhasil menemukan lebih dari 1.500 butir millet broomcorn (Panicum miliaceum) yang terkarbonisasi dan sekitar 20 butir millet ekor rubah (Setaria italica). Penanggalan langsung AMS terhadap butiran-butiran ini memberikan usia sekitar 7700 SM (atau 5720–5660 BCE), menjadikannya salah satu bukti millet tertua yang ditanggal secara langsung dalam catatan arkeologi.
Millet dari Xinglonggou digambarkan berada dalam tahap awal domestikasi, menunjukkan bahwa masyarakat Xinglongwa sedang dalam proses transisi dari mengumpulkan tanaman liar menuju budidaya yang disengaja. Temuan ini sangat penting karena menunjukkan bahwa wilayah timur laut Tiongkok juga merupakan salah satu pusat awal eksperimen pertanian millet, bersamaan dengan wilayah Dataran Tiongkok Tengah seperti Cishan dan Peiligang.
Selain pertanian yang masih dalam tahap awal, ekonomi subsistensi Xinglongwa kemungkinan besar masih bergantung pada berburu, mengumpulkan, dan mungkin peternakan awal. Ada bukti bahwa babi dan anjing telah mulai didomestikasi, sementara berburu hewan liar dan mengumpulkan tanaman liar tetap menjadi komponen penting dari makanan mereka.
Hubungan dengan Asal Usul Bahasa Transeurasia
Salah satu hipotesis paling menarik dan kontroversial yang melibatkan kebudayaan Xinglongwa adalah kaitannya dengan asal usul rumpun bahasa Transeurasia (juga dikenal sebagai Altaik). Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature oleh Robbeets dkk. (2021), yang menggunakan metode triangulasi antara data arkeologi, genetika, dan linguistik, orang-orang Xinglongwa mungkin adalah nenek moyang jauh dari orang-orang Asia Timur Laut saat ini yang termasuk dalam keluarga bahasa Transeurasia.
Hipotesis ini berargumen bahwa perluasan pertanian millet dari wilayah timur laut Tiongkok mendorong penyebaran bahasa dan gen ke berbagai arah, membentuk dasar bagi keluarga bahasa yang kini mencakup bahasa-bahasa Turki, Mongolik, Tungusik, Jepang, dan Korea. Namun, pandangan ini juga telah dikritik oleh beberapa ahli yang meragukan kekuatan bukti yang menghubungkan kebudayaan arkeologi dengan rumpun bahasa secara langsung.
Terlepas dari perdebatan linguistik tersebut, warisan kebudayaan Xinglongwa dalam sejarah Tiongkok tidak diragukan. Sebagai kebudayaan Neolitik awal paling awal di timur laut Tiongkok dengan perencanaan komunal yang canggih, parit pelindung, giok tertua, dan bukti awal pertanian millet, Xinglongwa meletakkan dasar penting bagi perkembangan kebudayaan-kebudayaan kemudian di wilayah tersebut, seperti Zhaobaogou dan akhirnya Hongshan yang terkenal dengan seni gioknya yang megah. Lebih dari sekadar kumpulan artefak kuno, Xinglongwa adalah bukti material dari langkah-langkah pertama manusia di timur laut Tiongkok menuju kehidupan menetap, organisasi sosial yang kompleks, dan ekspresi budaya yang mendalam.
Daftar Referensi
- Allan, Sarah (ed). The Formation of Chinese Civilization: An Archaeological Perspective. Yale University Press.
- Nelson, Sarah Milledge (ed). The Archaeology of Northeast China: Beyond the Great Wall. Routledge.
- Robbeets, Martine dkk. (2021). "Triangulation supports agricultural spread of the Transeurasian languages". Nature, 599, 616–621.
- Liu, Li; Chen, Xingcan (2012). The Archaeology of China: From the Late Paleolithic to the Early Bronze Age. Cambridge University Press. hlm. 150–155.
- Shelach, Gideon (2000). "The Earliest Neolithic Cultures of Northeast China: Recent Discoveries and New Perspectives on the Beginning of Agriculture". Journal of World Prehistory, 14(4), 363–413.
- Zhao, Zhijun (2011). "New archaeobotanic data for the study of the origins of agriculture in China". Current Anthropology, 52(S4), S295–S306.
