Australopithecus Bahrelghazali (3,5 -3 Juta Tahun Yang Lalu)
Australopithecus bahrelghazali adalah spesies homonim yang hidup sekitar 3,5 juta tahun lalu pada era Pliosen. Ditemukan pertama kali pada tahun 1995 di Chad, spesies ini merupakan satu-satunya australopithecine yang diketahui berasal dari Afrika Tengah. Penemuan ini mematahkan anggapan lama bahwa kelompok manusia purba tersebut hanya tersebar di wilayah Afrika Timur dan Selatan.
Kontroversi Klasifikasi Meskipun penting, validitas A. bahrelghazali sebagai spesies mandiri masih diperdebatkan. Banyak ahli lebih cenderung mengklasifikasikannya sebagai bagian dari A. afarensis (spesies yang lebih populer dari Afrika Timur). Hal ini disebabkan oleh kemiripan anatomi keduanya, serta minimnya bukti fisik A. bahrelghazali yang sejauh ini hanya terdiri dari tiga fragmen tulang rahang dan satu gigi premolar.
Sejarah Penemuan
Berikut adalah versi teks yang telah diperbaiki strukturnya agar lebih mengalir, sistematis, dan mudah dipahami, tanpa menghilangkan informasi penting dari teks asli:
Penemuan dan Penamaan Australopithecus bahrelghazali
Pada tahun 1995, tim Misi Paleoantropologi Franco-Chad menemukan dua spesimen hominin di Koro Toro, Chad. Spesimen pertama, KT12/H1 yang dijuluki "Abel", merupakan fragmen tulang rahang bawah, sementara KT12/H2 adalah gigi geraham depan (premolar) atas.
Awalnya, para peneliti mengira temuan ini adalah bagian dari spesies Australopithecus afarensis karena kemiripan anatomi dan perkiraan usia fosil yang berkisar antara 3,5 hingga 3 juta tahun yang lalu. Namun, pada tahun 1996, tim yang dipimpin oleh Michel Brunet akhirnya menetapkan temuan ini sebagai spesies baru bernama Australopithecus bahrelghazali. Nama ini diambil dari lokasi penemuannya, Bahr el Gazel, yang dalam bahasa Arab berarti "Sungai Gazelle".
Perdebatan Usia dan Lokasi Penemuan
Penentuan usia fosil "Abel" sempat memicu perdebatan ilmiah:
- Penanggalan Radiometrik: Pada tahun 2008 dan 2010, pengujian pada batuan sedimen di lokasi tersebut menunjukkan usia sekitar 3,58 hingga 3,65 juta tahun.
- Sanggahan Geografis: Alain Beauvilain menyanggah akurasi ini. Ia berargumen bahwa "Abel" ditemukan di tepi selokan dangkal, bukan pada lapisan tanah aslinya (in situ), sehingga sulit menentukan lapisan sedimen mana yang menjadi asal fosil tersebut untuk penanggalan yang akurat.
Signifikansi bagi Sejarah Evolusi Manusia
Penemuan A. bahrelghazali sangat penting karena merupakan fosil australopithecine pertama yang ditemukan di Afrika Tengah. Hal ini mematahkan teori lama yang menyatakan bahwa kerabat awal manusia hanya hidup terbatas di wilayah Afrika Timur.
Temuan di Koro Toro—yang berjarak sekitar 2.500 km dari Lembah Retakan Afrika Timur (Great Rift Valley)—membuktikan bahwa hominin purba telah tersebar luas hingga ke zona padang rumput dan hutan di seluruh benua. Jarangnya temuan fosil di Afrika Tengah dan Barat diduga lebih disebabkan oleh kurangnya sampel sedimen kuno di wilayah tersebut, bukan karena ketiadaan populasi hominin.
Hingga saat ini, klasifikasi spesies Australopithecus masih menjadi tantangan bagi para ahli. Karena kemiripan fisiknya, beberapa ilmuwan sempat mengusulkan untuk memasukkan A. bahrelghazali ke dalam genus baru bernama "Praeanthropus" bersama beberapa spesies lain seperti A. afarensis dan Sahelanthropus.
Meskipun demikian, validitas A. bahrelghazali sebagai spesies yang berdiri sendiri masih diperdebatkan secara luas. Hal ini dikarenakan minimnya bukti fisik yang ditemukan serta kemiripan anatominya yang sangat mencolok dengan A. afarensis.
Ciri-Ciri Fisik
Meskipun spesimen KT12/H1 memiliki kemiripan yang signifikan dengan rahang A. afarensis—terutama pada gigi taringnya yang besar dan menyerupai gigi seri—terdapat beberapa perbedaan anatomi yang mencolok.
Berikut adalah poin-poin utama perbedaannya:
- Orientasi Rahang: Berbeda dengan A. afarensis yang memiliki rahang miring, bagian alveolar (tempat melekatnya akar gigi) pada KT12/H1 berdiri hampir vertikal.
- Struktur Punggungan (Torus): KT12/H1 memiliki torus transversal superior yang kurang berkembang dan torus inferior berukuran sedang pada sisi lidah.
- Lapisan Gigi: Email (enamel) pada permukaan kunyah gigi premolar KT12/H1 cenderung lebih tipis.
- Variasi Akar Gigi: Awalnya, keberadaan tiga akar gigi pada KT12/H1 dianggap sebagai ciri unik oleh Brunet dan timnya. Namun, penemuan spesimen A. afarensis (LH-24) di Ethiopia pada tahun 2000 menunjukkan fitur serupa. Hal ini membuktikan bahwa struktur gigi premolar pada A. afarensis ternyata sangat bervariasi.
- Dimensi Rahang: Dari segi ukuran, simfisis mandibularis (garis tengah rahang) pada spesimen KT40 dan KT12/H1 serupa dengan A. afarensis, meskipun rahang mereka cenderung lebih tebal jika dibandingkan dengan tingginya.
Persebaran Dan Adaptasi Lingkungan
Analisis isotop karbon menunjukkan bahwa diet A. bahrelghazali didominasi oleh tanaman sabana tipe C4 (sekitar 55–80%), seperti rumput, rumput teki, rimpang, atau organ penyimpanan bawah tanah (USO). Selain itu, terdapat porsi kecil makanan tipe C3 yang mencakup buah, bunga, dan serangga.
Meskipun mengonsumsi banyak makanan C4 mirip dengan spesies Paranthropus boisei, A. bahrelghazali tidak memiliki spesialisasi fisik untuk diet tersebut. Hal ini terlihat dari dua bukti anatomis:
- Gigi tidak hipsodon: Tidak mampu mengunyah rumput dalam jumlah besar secara terus-menerus.
- Enamel tipis: Tidak cukup kuat untuk menahan partikel kotoran abrasif yang menempel pada rimpang atau USO.
Ini menunjukkan bahwa spesies ini adalah generalis yang fleksibel—mampu memanfaatkan sumber daya yang melimpah di sekitarnya—namun kemungkinan besar hanya mengonsumsi bagian tanaman yang lunak (seperti empulur) sebagai sumber energi, mirip dengan perilaku simpanse modern.
Kondisi Lingkungan Koro Toro (Danau Mega-Chad)
Pada masa Pliosen, wilayah Koro Toro di sekitar Danau Mega-Chad merupakan lingkungan terbuka yang didominasi padang rumput dengan sedikit tutupan pohon. Melimpahnya rimpang dan fosil serangga menunjukkan adanya iklim musiman dengan perbedaan jelas antara musim hujan dan kemarau. Kehidupan liar di wilayah ini sangat beragam, yang terbagi dalam dua kategori utama:
- Mamalia Darat: Ditemukan fosil gajah (Loxodonta exoptata), badak putih, babi purba, kuda Hipparion, serta berbagai jenis antelop. Kemiripan spesies ini dengan temuan di Afrika Timur menunjukkan bahwa hewan-hewan purba dapat bermigrasi bebas melintasi Great African Rift.
- Ekosistem Air: Keberadaan ikan lele, kuda nil, kura-kura, dan buaya mengindikasikan adanya danau atau sungai terbuka dengan tepian berawa yang subur.
Secara keseluruhan, ekosistem Koro Toro selama peristiwa Mega-Chad kemungkinan besar menyerupai kondisi Delta Okavango saat ini, di mana saluran air yang luas bertemu dengan sabana yang kering.
