Budaya Majiabang
Budaya Majiabang (sebelumnya ditulis Ma-chia-pang) adalah kebudayaan Neolitikum yang mendiami wilayah Delta Sungai Yangtze, terutama di sekitar Danau Tai di sebelah barat Shanghai modern dan sebelah utara Teluk Hangzhou. Kebudayaan ini menyebar ke seluruh wilayah selatan Jiangsu dan Zhejiang utara dari sekitar tahun 5000 SM hingga 3300 SM. Selama periode tersebut, Majiabang berdampingan dengan Budaya Hemudu yang berlokasi di Zhejiang bagian selatan teluk.
Bagian akhir dari periode Majiabang kini dianggap sebagai fase budaya yang terpisah, yang dikenal sebagai Budaya Songze. Setelah itu, wilayah tersebut kemudian dikuasai oleh Budaya Liangzhu.
Ekonomi dan Mata Pencaharian
Berdasarkan temuan arkeologis, para ahli berteori bahwa Budaya Majiabang merupakan asal mula ekonomi berburu, memancing, dan meramu di Tiongkok. Selain itu, sistem pertanian berbasis padi yang dominan juga mulai dikembangkan oleh masyarakat pada masa ini.
Masyarakat Majiabang adalah pembudidaya padi yang terampil. Di situs Caoxieshan dan Chuodun, para arkeolog menemukan fosil sawah, yang menunjukkan bahwa padi merupakan pusat dari perekonomian mereka. Selain itu, temuan sisa-sisa fauna menunjukkan bahwa mereka telah menjinakkan babi. Meski demikian, ditemukan pula sisa-sisa rusa sika dan rusa roe, yang membuktikan bahwa masyarakat saat itu tidak sepenuhnya bergantung pada hasil pertanian, melainkan masih melakukan perburuan. Bukti arkeologis juga menunjukkan bahwa mereka telah mampu memproduksi perhiasan dari batu giok.
Di lapisan bawah situs penggalian Songze di Distrik Qingpu, Shanghai, arkeolog menemukan kerangka pria berusia 25–30 tahun dengan tengkorak yang hampir utuh dari era Majiabang—salah satu penduduk tertua di wilayah tersebut.
Hubungan Antar Budaya
Awalnya, arkeolog mengira situs Majiabang dan situs di Jiangsu utara adalah bagian dari budaya yang sama, yang dinamakan Budaya Qingliangang. Namun, kemudian disadari bahwa situs di Jiangsu utara merupakan bagian dari Budaya Dawenkou, sehingga situs di Jiangsu selatan dinamai ulang sebagai Budaya Majiabang. Beberapa sarjana berpendapat bahwa Budaya Hemudu dan Majiabang adalah dua budaya yang berbeda namun hidup berdampingan dan saling bertukar pengaruh. Sementara itu, sarjana lain mengelompokkan Hemudu sebagai bagian dari tradisi sub-Majiabang.
Kondisi Lingkungan
Iklim pada periode ini memiliki curah hujan tahunan yang lebih tinggi dan suhu rata-rata yang lebih hangat dibandingkan saat ini. Antara tahun 7000 hingga 6500 BP (tahun sebelum sekarang), curah hujan mencapai 1500 hingga 2000 mm dengan suhu rata-rata 15 hingga 18°C. Suhu sempat menurun sekitar 6000 BP, lalu sedikit meningkat kembali pada 5500 BP. Sejak 5300 BP, suhu berangsur-angsur menjadi lebih dingin, sejalan dengan perubahan iklim di Eropa Utara dan Asia Utara selama Zaman Resen.
Situs Terkait: Situs Weidun
Situs Weidun di Desa Weidun, Changzhou, yang ditemukan pada September 1985, merupakan salah satu penemuan terpenting. Di sini, tim dari Museum Changzhou dan Universitas Zhejiang menemukan berbagai artefak dan sekitar 38 makam. Endapan tanah di situs ini sedalam hampir 2 meter, yang terdiri dari enam lapisan tanah dengan warna berbeda (dari tanah garapan di atas hingga tanah steril di bawah).
Dari sekian banyak makam, 33 di antaranya berasal dari periode Majiabang. Salah satu makam yang menonjol adalah M127, di mana ditemukan kerangka pria yang terbaring telentang menghadap ke timur dengan kemiringan 20 derajat. Di dalamnya tidak ditemukan peti mati, namun terdapat benda-benda bekal kubur seperti beliung batu, pemberat alat tenun, dan mangkuk keramik (bo-bowls).
Budaya Material dan Artefak
Masyarakat Majiabang mulai membuat artefak dari berbagai bahan, khususnya batu giok dan tembikar, yang berfungsi untuk kebutuhan ekonomi maupun kepercayaan. Benda-benda ini juga mencerminkan status sosial pemiliknya.
- Batu Giok: Digunakan sebagai hiasan, seperti anting-anting (hue), liontin (huang), tabung kecil, serta cincin dan piringan giok yang dibuat dari bahan lokal.
- Tembikar: Tembikar awal hingga akhir sebagian besar dibuat dengan tangan. Tembikar periode akhir memiliki jenis dan gaya yang lebih beragam. Mereka menggunakan lumpur tepi sungai dan kayu bakar untuk pembakaran. Jenis-jenis tembikar yang ditemukan meliputi:
- Fu (Kuali): Digunakan untuk memasak, tersedia dalam variasi polos atau berhias bunga pada tepiannya.
- Guan (Guci): Memiliki lima tipe berbeda, mulai dari yang berbahu bulat hingga yang memiliki pegangan mirip hidung sapi.
- Ding (Tripod): Wadah berkaki tiga dengan bentuk badan menyerupai kuali atau pot.
- Dou (Piring Berkaki): Terdiri dari bagian piring dan batang penyangga.
- Bo (Mangkuk) & Pen (Baskom): Wadah untuk keperluan minum atau ritual sehari-hari.
Peralatan
Selain keramik, alat-alat dibuat dari kayu (bahan utama), batu, tulang, tanduk, dan gigi hewan.
- Batu: Ditemukan beliung (adzes) dan kapak yang sebagian besar sudah dipoles halus.
- Kayu: Ditemukan dayung dan pengayuh besar. Dayung memiliki bentuk elips dengan pegangan berukuran 70–90 cm.
- Tulang & Tanduk: Digunakan untuk membuat pisau, alat berbentuk sepatu, mata panah, jarum, dan tombak.
Budaya Pemakaman
Budaya penguburan mencerminkan kepercayaan akan kehidupan setelah kematian. Masyarakat Majiabang percaya bahwa jiwa harus kembali ke tempat tinggal asalnya, sehingga makam biasanya berada dekat pemukiman.
Pada periode awal (6500 BP), jenazah dikubur menyamping dengan posisi meringkuk menghadap ke timur. Namun, 500 tahun kemudian, tradisi ini berubah; jenazah dikubur di area pemakaman yang lebih teratur dalam posisi telungkup memanjang, dengan kepala menghadap utara dan kaki menghadap selatan.
Budidaya Padi
Penanaman padi adalah aspek paling signifikan dari Budaya Majiabang. Meskipun perburuan masih dilakukan, pertanian padi berkembang sangat pesat di Delta Sungai Yangtze.
Di situs Luojiajiao (5300–4900 SM), ditemukan ratusan sekam dan butiran beras yang terkarbonisasi. Penelitian menunjukkan bahwa separuhnya adalah spesies japonica yang telah dibudidayakan, sementara separuhnya lagi berasal dari spesies liar. Seiring berjalannya waktu, ketergantungan masyarakat pada pertanian padi meningkat, sementara kegiatan meramu tanaman liar mulai berkurang.
