Kebudayaan Hemudu: Peradaban Kuno Tiongkok yang Mirip Budaya Kalimantan?

Kebudayaan Hemudu (5500 SM – 3300 SM)

Kebudayaan Hemudu adalah kebudayaan Neolitikum yang berkembang pesat di pesisir Tiongkok, tepatnya di sebelah selatan Teluk Hangzhou, wilayah Jiangnan, yang kini menjadi bagian dari Yuyao, Provinsi Zhejiang. Kebudayaan ini terbagi menjadi dua fase utama: fase awal (sebelum 4000 SM) dan fase akhir (setelah 4000 SM).

Situs Hemudu pertama kali ditemukan pada tahun 1973 di lokasi yang berjarak 22 km di sebelah barat laut Ningbo. Selain itu, peninggalan Hemudu juga ditemukan di Tianluoshan (Kota Yuyao) dan di Kepulauan Zhoushan. Secara fisik, masyarakat Hemudu dikatakan berbeda dari penduduk di situs Sungai Kuning yang berada di utara. Beberapa peneliti bahkan berpendapat bahwa Kebudayaan Hemudu merupakan salah satu asal-usul dari kebudayaan pra-Austronesia.

Kebudayaan Material

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahli mengenai hubungan Hemudu dengan kebudayaan sekitarnya. Sebagian ahli menegaskan bahwa Kebudayaan Hemudu dan Kebudayaan Majiabang eksis secara berdampingan sebagai dua entitas yang berbeda, namun saling bertukar pengaruh budaya. Sebagian ahli lainnya cenderung mengelompokkan Hemudu sebagai bagian dari tradisi turunan Majiabang.

Kehidupan masyarakat Hemudu sangat dipengaruhi oleh lingkungan air. Mereka tinggal di rumah panggung yang panjang. Selain itu, rumah panjang komunal juga umum ditemukan, mirip dengan rumah panjang yang ada di Kalimantan (Borneo) saat ini. Namun, dua bencana banjir besar menyebabkan Sungai Yaojiang berubah alur dan menggenangi tanah dengan garam, yang akhirnya memaksa penduduk Hemudu meninggalkan permukiman tersebut.

Pertanian dan Makanan

Padi: Hemudu merupakan salah satu kebudayaan paling awal yang membudidayakan padi. Ekskavasi terbaru di Tianluoshan menunjukkan bahwa padi pada masa itu sedang mengalami perubahan evolusioner menuju domestikasi (penjinakan tanaman).

Alat Pertanian: Sebagian besar artefak yang ditemukan berupa tulang hewan, contohnya cangkul yang terbuat dari tulang belikat hewan untuk mengolah sawah.

Tanaman Lain: Ditemukan sisa-sisa tanaman seperti kacang air (water caltrop), teratai (Nelumbo nucifera), kacang ek, melon, kiwi liar, beri hitam, persik, kacang rubah (Gorgon euryale), dan labu air.

Kerajinan dan Teknologi

Pernis: Mereka sudah memproduksi kayu berpernis. Sebuah mangkuk kayu pernis merah di Museum Zhejiang, yang berasal dari tahun 4000-5000 SM, diyakini sebagai benda pernis tertua di dunia.

Tembikar: Mereka menghasilkan tembikar tebal dan berpori yang khas, biasanya berwarna hitam karena campuran bubuk arang. Tembikar ini sering dihiasi motif tanaman, pola geometris, atau bekas lilitan tali.

Seni: Ditemukan pula hiasan giok ukir, artefak gading ukir, serta patung-patung kecil dari tanah liat.

Perburuan dan Musik

Masyarakat Hemudu kemungkinan besar telah menjinakkan babi, namun mereka tetap aktif berburu rusa dan kerbau air liar. Penangkapan ikan, khususnya ikan karper (crucian carp), juga dilakukan dalam skala besar. Hal ini dibuktikan dengan penemuan harpun tulang, busur, dan mata panah. Selain itu, alat musik seperti peluit tulang dan gendang kayu juga ditemukan di sana. Menariknya, desain artefak penduduk Hemudu memiliki banyak kemiripan dengan desain dari wilayah Kepulauan Asia Tenggara.

Organisasi Sosial-Politik

Pada periode awal Hemudu, masyarakatnya berada dalam fase klan maternal (matrilineal), di mana garis keturunan dirunut dari pihak ibu, sehingga status sosial perempuan dan anak-anak relatif tinggi. Namun, pada periode selanjutnya, mereka secara bertahap beralih menjadi klan patrilineal. Pada masa ini, status sosial laki-laki meningkat dan garis keturunan mulai diteruskan melalui pihak pria.

Religi dan Kepercayaan

Penduduk Hemudu memuja roh matahari serta roh kesuburan. Mereka menjalankan ritual perdukunan (shamanisme) untuk Matahari dan memercayai totem berbentuk burung. Kepercayaan terhadap kehidupan setelah mati dan hantu juga diyakini telah meluas.

Tradisi Pemakaman

Jenazah biasanya dikubur dengan kepala menghadap ke timur atau timur laut.

Sebagian besar makam tidak disertai barang-barang bekal kubur.

Bayi dikubur di dalam tempayan (guci), sedangkan anak-anak dan orang dewasa dikubur di dalam tanah.

Meskipun awalnya tidak memiliki pemakaman komunal yang jelas, sebuah lahan pemakaman klan ditemukan dari periode akhir. Di sana, terdapat dua kelompok makam di area berbeda yang diduga merupakan dua klan yang saling menikah. Pada pemakaman komunal periode akhir ini, jumlah barang bekal kubur ditemukan jauh lebih banyak.

Lingkungan

Berdasarkan fosil amuba dan serbuk sari, Kebudayaan Hemudu muncul dan berkembang di tengah periode Holocene Climatic Optimum (periode suhu hangat pasca-zaman es). Studi mengenai ketinggian permukaan laut di Dataran Ningshao menunjukkan bahwa antara tahun 7000 hingga 5000 BP (sebelum sekarang), permukaan laut cenderung stabil namun rendah, yang kemudian diikuti oleh banjir yang sering terjadi antara 5000 hingga 3900 BP. Iklim saat itu digambarkan sebagai tropis hingga subtropis dengan suhu tinggi dan curah hujan yang melimpah sepanjang tahun.

Daftar Bacaan

  • Zhang, Jianping; Lu, Houyuan; Sun, Guoping; Flad, Rowan; Wu, Naiqin; Huan, Xiujia; He, Keyang; Wang, Yonglei (2016). "Phytoliths reveal the earliest fine reedy textile in China at the Tianluoshan site". Scientific Reports. 6 18664.
  • Tarling, Nicholas (1999). The Cambridge History of Southeast Asia. pp. 102–103.
  • Bellwood, Peter (1997). "Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago". Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago: Revised Edition. Honolulu: University of HawaiĘ»i Press. pp. 205–211.
  • Maisel, Charles Keith (1999). Early Civilizations of the Old World: The Formative Histories of Egypt, the Levant, Mesopotamia, India and China. Psychology Press. p. 288.
  • Fuller, Dorian Q; Qin, Ling; Zheng, Yunfei; Zhao, Zhijun; Chen, Xugao; Hosoya, Leo Aoi; Sun, Guo-Ping (20 March 2009). "The Domestication Process and Domestication Rate in Rice: Spikelet Bases from the Lower Yangtze". Science. 323 (5921): 1607–1610.
  • Nakajima, T.; Nakajima, M.; Mizuno, T.; Sun, G.-P.; He, S.-P.; Liu, H.-Z. (May 2012). "On the pharyngeal tooth remains of crucian and common carp from the neolithic Tianluoshan site, Zhejiang Province, China, with remarks on the relationship between freshwater fishing and rice cultivation in the Neolithic Age". International Journal of Osteoarchaeology. 22 (3): 294–304.