Kong Jia: Kontroversi dan Kemunduran Dinasti Xia
Kong Jia (1789 BC – 1758) adalah seorang raja di Tiongkok kuno yang berasal dari klan Si. Ia merupakan penguasa ke-14 dari Dinasti Xia yang bersifat semi-legendaris, dan diperkirakan telah memerintah selama 31 tahun.
Kong Jia adalah putra dari Raja Bu Jiang dan seorang wanita yang tidak diketahui identitasnya. Ia juga merupakan cucu dari Raja Xie dari Xia. Paman dari Kong Jia adalah Raja Jiong dari Xia, sedangkan sepupunya adalah Raja Jin. Selain memiliki banyak selir yang cantik, Kong Jia juga menjadi ayah dari Gao dan kakek dari Raja Houjin.
Riwayat Hidup
Menurut catatan Records of the Grand Historian, Kong Jia tidak langsung mewarisi takhta dari ayahnya—yang merupakan raja ke-11 Dinasti Xia—karena ia dianggap terlalu takhayul dan tidak masuk akal. Setelah ayahnya wafat, takhta sempat dipegang oleh paman dan sepupunya yang menjadi raja ke-12 dan ke-13. Setelah mereka meninggal, Kong Jia akhirnya naik takhta menjadi raja ke-14.
Kong Jia dikenal sangat menyukai hal-hal supranatural. Dampaknya, banyak orang yang mengaku sebagai dukun atau penyihir bermunculan. Akibat pengaruhnya, seluruh penduduk lebih memilih untuk melakukan ritual doa dan ramalan daripada bekerja.
Berdasarkan Bamboo Annals, Kong Jia diketahui tinggal di ibu kota Xia yang terletak di Xihe (Western River). Pada tahun ketiga masa pemerintahannya, ia pernah berburu di Pegunungan Fu (Fushan) yang terletak di Dongyang. Ia juga dikenal karena menciptakan sebuah lagu berjudul "Suara Timur" (Dong Yin), yang juga dikenal sebagai "Lagu Kapak Patah" (Po Fu Zhi Ge).
Kemunduran Dinasti Xia
Kong Jia adalah seorang yang sangat percaya pada takhayul dan terobsesi dengan minuman keras. Sejak masa pemerintahannya, kekuasaan Dinasti Xia mulai mengalami kemunduran, sementara kekuasaan raja-raja bawahan (Zhu Hou) semakin menguat. Meskipun demikian, selama masa pemerintahannya, ia sempat melucuti kekuasaan salah satu bangsawan bernama Shiwei.
Legenda Dua Naga
Sebuah kisah legenda menceritakan bahwa seorang makhluk surgawi memberikan dua ekor naga kepada Raja Kong Jia. Namun, naga-naga tersebut tampak lesu dan tidak sehat. Dalam upayanya untuk merawat mereka, Kong Jia membangun sebuah pagoda dan danau khusus, tetapi kondisi naga tetap tidak membaik.
Akhirnya, datang seorang pria yang mengaku bisa mengatasi masalah tersebut. Ia memerintahkan 28 pria untuk berdiri membentuk formasi rasi bintang sambil mengibarkan bendera putih besar untuk menirukan awan. Ia juga menggunakan mesiu untuk menciptakan suara guntur dan petasan untuk menirukan kilat. Ia pun memerintahkan orang-orang untuk mengaduk air danau agar ombaknya melompat tinggi.
Saat sinyal diberikan, guntur menggelegar, kilat menyambar, bendera dikibarkan, dan air berbusa. Naga-naga tersebut, yang merasa seolah-olah kembali ke langit, segera melompat ke dalam air. Namun, pria tersebut tidak sengaja membunuh salah satu naga. Karena bingung harus berbuat apa dengan bangkai naga tersebut, ia mengolahnya menjadi hidangan lezat dan menyajikannya kepada Kong Jia. Setelah tindakan keji ini terungkap, pria tersebut melarikan diri bersama seluruh keluarganya.
Akhir Hayat
Setelah kejadian itu, pengurus naga kedua yang dikenal jujur dan sering menegur Kong Jia dijatuhi hukuman mati oleh sang raja. Ia dimakamkan dengan tidak layak di luar ibu kota. Tak lama kemudian, terjadi badai dan kebakaran hebat. Kong Jia meyakini bahwa bencana tersebut disebabkan oleh roh dari pengurus naga yang dibunuhnya.
Kong Jia bersama para dukunnya melakukan banyak ritual dan doa. Namun, dalam perjalanan pulang, Kong Jia merasa sangat ketakutan hingga akhirnya meninggal dunia karena ketakutan tersebut. Setelah kepergian Raja Kong Jia, putranya, Gao, naik takhta menggantikannya.
