Mengenal Da Ding, Sosok "Putra yang Terlupakan" dalam Sejarah Dinasti Shang
Da Ding atau Tai Ding (1587 - ?) adalah putra sulung Raja Tang. Namun, terdapat perbedaan pandangan dalam berbagai sumber sejarah mengenai apakah ia benar-benar menggantikan ayahnya sebagai raja kedua dari Dinasti Shang atau tidak.
Dalam kitab Records of the Grand Historian (Catatan Sejarah Agung), Sima Qian menyatakan bahwa Da Ding meninggal di usia muda sebelum sempat menggantikan ayahnya, Raja Tang. Ia kemudian diberi nama anumerta Tai Ding, dan takhta kerajaan jatuh ke tangan adiknya, Wai Bing, yang nantinya diteruskan oleh putra Da Ding sendiri, yaitu Tai Jia.
Walaupun tidak terlalu dikenal luas, sosoknya masih diingat hingga saat ini di Tiongkok. Ia sering dijuluki sebagai (Yi zi), yang berarti "putra yang terlupakan". Julukan ini muncul karena ayahnya merupakan tokoh yang sangat terkenal, sementara Da Ding sendiri justru kurang mendapatkan sorotan sejarah.
Berbeda dengan catatan Sima Qian, prasasti pada tulang ramalan (oracle bones) yang ditemukan di Yinxu mencatat bahwa Da Ding sebenarnya adalah raja kedua Dinasti Shang. Dalam catatan tersebut, ia diberi nama anumerta Da Ding dan takhtanya kemudian dilanjutkan oleh putra-putranya, yaitu Da Jia (Tai Jia) dan Bu Bing (Wai Bing).
Sejarawan Simon Sebag Montefiore, dalam bukunya yang berjudul The World: A Family History of Humanity, mengutip sebuah prasasti yang merujuk pada kematian Da Ding. Prasasti tersebut berbunyi: "Da Jia dan Zu Yi, 100 cangkir anggur, 100 tawanan Qiang, 300 ekor ternak."
