Tang dari Shang
Tang dari Shang (sekitar 1670 SM hingga 1587 SM, lahir dengan nama Zi Lu), yang tercatat pada tulang ramalan (oracle bones) sebagai Tai Yi atau Da Yi, adalah raja pertama dinasti Shang. Secara tradisional, Tang dianggap sebagai penguasa yang berbudi luhur, sebagaimana ditunjukkan oleh gelar anumertanya, Cheng Tang. Menurut legenda, sebagai pemimpin terakhir Shang Pra-dinasti, ia menggulingkan Jie, raja terakhir dinasti Xia. Karena masa pemerintahannya mendahului era Shang Akhir, catatan mengenai kehidupan dan pemerintahannya terbatas pada prasasti tulang ramalan dan karya-karya anumerta.
Cheng Tang adalah gelar anumerta yang diberikan kepada Tang setelah kematiannya. Nama Tang adalah sebutan yang secara umum digunakan oleh para penulis dari zaman dinasti Zhou dan seterusnya. Dalam prasasti tulang ramalan, Tang dirujuk sebagai Da Yi atau Tai Yi. Kedua nama ini dapat ditemukan dalam transkripsi para sarjana, tergantung pada interpretasi mereka terhadap karakter aksara tulang ramalan tersebut. Karakter yi dalam nama-nama ini merujuk pada hari ke-dua dari sepuluh hari dalam siklus penanggalan, yang merupakan hari diadakannya persembahan kurban kepadanya oleh para praktisi agama dinasti Shang.
Pemerintahan
Selama Masa Shang Pra-dinasti
Tang menggantikan Shi Gui sebagai penguasa Shang Pra-dinasti—salah satu dari banyak kerajaan di bawah kekuasaan dinasti Xia—selama 17 tahun. Selama pemerintahan Jie, kekuatan Shang tumbuh, awalnya dengan mengorbankan pengikut-pengikut lain dari dinasti Xia. Pada tahun ke-15 masa pemerintahan Jie, Tang mulai memindahkan Lü ke ibu kota Bo. Sekitar dua tahun kemudian, Tang mengutus Menteri Kanan-nya, Yi Yin, sebagai utusan untuk Jie. Yi Yin tinggal di ibu kota Xia selama sekitar tiga tahun sebelum kembali ke Shang, di mana ia menyampaikan rasa ketidaksukaannya terhadap situasi politik Xia. Pada suatu titik, Tang menunjuk Zhong Hui sebagai Menteri Kiri dan memberinya wilayah kekuasaan di Xue.
Selama beberapa periode, Yi Yin terus mendorong Tang untuk berperang melawan Xia. Namun, menaklukkan Xia saja tidaklah cukup; aliansi harus dibangun dan negara-negara bawahan Xia harus dilemahkan terlebih dahulu. Pada tahun ke-21 pemerintahan Jie, Tang mulai menaklukkan Youluo dan memaksa Jing untuk menyerah. Tahun berikutnya, Jie memenjarakan Tang di Xiatai, namun kemudian melepaskannya. Peristiwa ini membuat banyak klan tetangga mulai menghormati Shang.
Kekuatan Shang terus berkembang. Pada tahun ke-26 pemerintahan Jie, Shang memusnahkan Wen (溫). Dua tahun kemudian, Shang diserang oleh Kunwu, yang memicu perang selama beberapa tahun. Meski mengalami hambatan, Shang terus berekspansi di berbagai front, mengumpulkan pasukan bawahan di Jingpo. Pasukan Shang dan sekutunya menaklukkan Mixu (sekarang Xinmi di Henan), Wei, dan menyerang Gu yang ditaklukkan pada tahun berikutnya. Sekitar waktu ini, Zhong Gu, sejarawan utama Jie, melarikan diri dari Xia ke Shang.
Secara keseluruhan, Tang berhasil memenangkan dukungan dari sekitar 40 kerajaan kecil. Tang menyadari bahwa Jie menganiaya rakyatnya dan menggunakan fakta tersebut untuk meyakinkan pihak lain. Menurut legenda, dalam sebuah pidato, Tang menyatakan bahwa menciptakan kekacauan bukanlah keinginannya, tetapi mengingat teror yang dilakukan Jie, ia harus mengikuti Mandat Langit dan menggunakan kesempatan ini untuk menggulingkan Xia. Sebagai argumen pendukung, ia menunjukkan bahwa bahkan para jenderal militer Jie sendiri tidak lagi mematuhi perintah rajanya.
Pertempuran Mingtiao
Pasukan Shang melawan tentara Xia milik Jie di Mingtiao di tengah badai petir yang hebat dan berhasil mengalahkan mereka.
Jie sendiri berhasil meloloskan diri dan lari ke Sanzong. Pasukan Shang di bawah pimpinan jenderal Wuzi mengejar Jie hingga ke Cheng, menangkapnya di Jiaomen, dan melengserkannya, sehingga mengakhiri dinasti Xia. Akhirnya, Jie diasingkan ke Nanchao dan Tang menggantikannya sebagai Raja tertinggi, sekaligus meresmikan dinasti Shang. Dua belas tahun kemudian, Jie meninggal karena sakit saat terjadi kekeringan di Tingshan.
Dalam Kitab Dokumen (Book of Documents)
Kitab Dokumen memuat pidato yang konon diucapkan oleh Tang setelah Pertempuran Mingtiao, meskipun keasliannya masih diperdebatkan. Inti dari pidato tersebut adalah bahwa Tang tidak ingin memberontak, namun karena banyaknya kejahatan penguasa Xia, ia harus menjalankan perintah Langit untuk menghukumnya. Ia juga mengkritik tindakan Jie yang menindas rakyat, sehingga rakyat pun kehilangan kepercayaan dan kesetiaan kepadanya. Tang memohon dukungan rakyat untuk melaksanakan hukuman Langit tersebut dan berjanji akan memberikan imbalan besar, namun sekaligus memberikan peringatan keras bagi mereka yang tidak patuh.
Sebagai Pendiri Dinasti Shang
Pemerintahan Tang dianggap sebagai masa keemasan oleh bangsa Tiongkok. Ia menurunkan pajak dan tingkat wajib militer. Pengaruhnya menyebar hingga ke Sungai Kuning, dan banyak suku luar, seperti Di dan Qiang, menjadi negara bawahan. Ia juga menetapkan Anyang sebagai ibu kota baru Tiongkok.
Menurut Bamboo Annals, Tang membangun istana bernama Xia She untuk mengenang dinasti Xia. Dalam lima tahun pertama pemerintahannya, terjadi kekeringan berkepanjangan. Tang memerintahkan pencetakan koin emas untuk dibagikan kepada keluarga miskin yang terpaksa menjual anak-anak mereka akibat kekeringan tersebut, agar mereka dapat menggunakan uang itu untuk membeli kembali anak-anak mereka. Xinshu karya Jia Yi mencatat bahwa Tang telah menimbun sumber daya selama sekitar 10 tahun selama pemerintahannya di Shang Pra-dinasti, yang memungkinkan rakyatnya bertahan melewati masa kekeringan. Pada tahun ke-9 pemerintahannya, Tang memindahkan Sembilan Kuali Tripod, yang dibuat oleh Yu yang Agung, ke Istana Shang.
Dalam Records of the Grand Historian, Tang tercatat melakukan ekspedisi hukuman untuk memastikan ritual kurban sebagai bagian dari agama negara Shang tetap dijaga. Hukuman bagi mereka yang tidak menjalankan ritual kurban dengan benar adalah hukuman mati; tidak ada pengampunan.
Tang adalah keturunan Xie, yang menjadikannya keturunan Kaisar Ku dan Kaisar Kuning yang legendaris. Tang memiliki dua permaisuri yang tercatat dalam tulang ramalan dengan nama kuil Bi Jia dan Bi Bing.
Bab Great Learning dalam Book of Rites mencatat bahwa tempat mandi Tang memiliki ukiran yang berbunyi: "Jika suatu hari Anda dapat memperbarui diri, lakukanlah dari hari ke hari. Ya, biarlah ada pembaruan setiap hari" .
Tang menjalin hubungan erat dengan menterinya, Yi Yin, di mana gelar yin sendiri berarti "menteri" atau "pejabat". Hubungan mereka bermula melalui keterampilan memasak Yi Yin; saat memasak untuk Tang, Yi Yin memberi nasihat tentang cara menyeimbangkan lima rasa (manis, asam, pahit, pedas, dan asin) serta pengaturan suhu. Hal ini membuat Yi Yin akhirnya memberikan pendapat politiknya yang berwawasan, yang membawanya meraih posisi menteri.
Tang juga disebut telah menyusun beberapa karya yang kini dianggap hilang, seperti Dahuole (musik yang disusun saat masa berkabung), serta puisi-puisi seperti Xiashe, Yizhi, dan Chenhu.
Dalam Prasasti Tulang Ramalan
Tang tercatat sebagai Da Yi dalam prasasti tulang ramalan, dengan total catatan tentang dirinya berjumlah sekitar 350. Kurban yang dipersembahkan kepada Tang sangat megah, seperti perjamuan skala besar dalam perayaan xiang, dan penggunaan genderang untuk mengumumkan kurban. Tang beserta permaisurinya juga sesekali menerima persembahan kurban, seperti kurban you untuk memohon perlindungan dari penguasa. Kurban hewan juga dilakukan dalam jumlah besar, biasanya dalam bentuk perjamuan dengan leluhur.
Warisan
Tang dari Shang disebutkan dalam berbagai teks dalam kanon Klasik Tiongkok, biasanya bersanding dengan Kaisar Yao, Kaisar Shun, dan Raja Wu dari Zhou sebagai contoh penguasa yang baik. Hal ini sering dikontraskan dengan Di Xin dan Jie dari Xia. Dalam Three Character Classic dari dinasti Song, Tang dipasangkan dengan Yu yang Agung dan Raja Wu dari Zhou sebagai "Tiga Raja" (三王).
Dalam Kitab Puisi (Classic of Poetry): Tang disebutkan dalam setiap Sacrificial Odes of Shang (商頌), biasanya dalam konteks menegaskan silsilah keturunan dan mengungkapkan penghormatan. Misalnya, dalam Xuanniao, Tang didokumentasikan menerima perintah dari leluhur kuno untuk memerintah empat penjuru.
Evaluasi dalam Konfusianisme: Tang adalah salah satu penguasa yang dikutip dalam teks Konfusianisme sebagai model penguasa yang ideal. Ia dianggap telah menginternalisasi gaya pemerintahan Kaisar Yao dan Kaisar Shun, namun tetap merumuskan gaya pemerintahan yang unik. Mencius secara khusus menaruh perhatian pada gaya pemerintahan Tang yang memanusiakan penaklukan dinasti Xia dengan menghukum penguasa yang zalim namun menghibur rakyatnya.
Evaluasi dalam Legalisme: Dalam bukunya, Han Fei menggunakan pemerintahan Tang sebagai contoh reformasi politik dengan tidak terpaku pada tradisi kuno. Namun, Han Fei memandang penggunaan kekuatan sebagai preseden berbahaya karena Tang—secara teknis—adalah seorang perampas kekuasaan. Oleh karena itu, Han Fei mengutuk penggulingan Jie dari Xia dengan keras, khawatir bahwa hal tersebut memicu ketidakstabilan politik di zamannya sendiri. Dalam The Book of Lord Shang, Tang juga disebutkan sebagai penguasa yang melarang ketergantungan negara pada kelompok tertentu, seperti sarjana yang hanya mendiskusikan puisi, pertapa, dan pedagang, karena hal tersebut dapat mengabaikan pertanian dan melemahkan militer.
Mitos
Tang telah digambarkan dengan cara yang berbeda dalam mitologi Tiongkok, yang memengaruhi penggambaran populer dan lukisannya. Ia sering digambarkan sebagai "pria setinggi sembilan kaki, berwajah putih, berkumis, dengan kepala runcing, lengan bersendi enam, dan tubuh yang jauh lebih besar di satu sisi daripada sisi lainnya." Selain itu, terdapat tradisi yang menyebutkan bahwa sebagian besar isi I Ching ditulis oleh Tang dari Shang.
