Mengenal Qi dari Dinasti Xia: Biografi, Kekuasaan, dan Sejarahnya
Qi adalah seorang raja Tiongkok yang merupakan putra dari Yu yang Agung (Yu the Great) sekaligus penguasa kedua dari dinasti Xia. Ia memerintah selama kurang lebih sembilan hingga sepuluh tahun.
Qi adalah putra dari Yu yang Agung, pendiri dinasti Xia, yang lahir dari pernikahannya dengan Nu Jiao. Sebenarnya, Qi tidak diproyeksikan untuk menjadi raja berikutnya. Namun, karena tekanan publik, Qi akhirnya dipilih sebagai penerus Yu, yang kemudian menjadi awal dari tradisi pergantian kekuasaan secara dinasti. Di kemudian hari, Qi memiliki seorang putra bernama Tài Kāng, yang nantinya juga menjadi raja.
Masa Pemerintahan
Yu wafat setelah 45 tahun memerintah. Setelah masa pemerintahan Qi berakhir, ia digantikan oleh putranya, Tai Kang. Menurut sejarawan Sima Qian, Yu sebenarnya tidak ingin putranya menjadi raja dan berniat memberikan takhta kepada Gao Yao, Menteri Kehakiman. Setelah Gao Yao wafat, Yu menunjuk Yi (dikenal juga sebagai Boyi)—mantan rekannya selama tiga belas tahun dalam menanggulangi banjir yang saat itu menjabat sebagai Menteri Peternakan—sebagai pewarisnya. Namun, karena pengaruh besar Yu, para pemimpin negara bagian di bawah naungan Xia justru lebih mengagumi Qi daripada Yi. Akibatnya, setelah masa berkabung selama tiga tahun untuk Yu usai, Yi tidak memiliki pilihan lain selain menyerahkan takhta kepada Qi.
Bamboo Annals juga menyebutkan bahwa Yu menunjuk Yi sebagai penerusnya. Namun, teks tersebut tidak menyebutkan bahwa Yi pernah memerintah, melainkan langsung menyatakan bahwa Qi mengambil alih takhta Xia setelah masa berkabung tiga tahun. Catatan tersebut menyebutkan bahwa Boyi wafat pada tahun ke-6 masa pemerintahan Qi, dan Qi "mengadakan upacara pengorbanan baginya". Meskipun demikian, penerjemah James Legge memberikan catatan kaki bahwa narasi ini berbeda dengan kisah kematian Yi yang sering dikaitkan dengan Bamboo Annals lainnya, yaitu bahwa "Yi menginginkan takhta, dan Qi kemudian menghukum matinya."
Qi menerima takhtanya pada tahun Guihai. Ia merayakan penobatannya bersama seluruh pengikutnya (vassal) di Juntai, sebuah platform yang dahulu terletak di kota Yuzhou, Henan. Ia wafat enam belas tahun setelah naik takhta (beberapa sumber menyebutkan 10 tahun atau 29 tahun).
Peristiwa Penting Selama Masa Pemerintahan
Bamboo Annals mencatat peristiwa-peristiwa berikut selama masa pemerintahan Qi:
- Tahun Pertama: Ia mengadakan pesta besar di ibu kota lama maupun ibu kota yang baru.
- Tahun Kedua: Boyi meninggalkan istana dan kembali ke wilayahnya. Di tahun yang sama, Qi memimpin pasukannya untuk melawan pangeran pemberontak dari wilayah Hu dalam Pertempuran Gan (peristiwa yang melatarbelakangi bab "Pidato di Gan" dalam kitab Shang Shu).
- Tahun Keenam: Boyi wafat, dan Qi mengadakan upacara pengorbanan untuk mengenangnya.
- Tahun Kedelapan: Qi mengirim salah satu menterinya, Mengtu, ke wilayah Ba untuk memimpin pengadilan perkara hukum.
- Tahun Kesepuluh: Qi melakukan kunjungan inspeksi dan menampilkan pertunjukan musik Shun secara lengkap di Damu. Beberapa sumber menambahkan bahwa ia menciptakan tarian bernama "Sembilan Shao" (Nine Shao).
- Tahun Kesebelas: Qi mengasingkan putra bungsunya, Wuguan, ke wilayah di sebelah barat Sungai Kuning.
- Tahun Kelima Belas: Wuguan memimpin pemberontakan di wilayah barat sungai Ho. Qi mengirim menterinya, Shou, untuk memimpin pasukan guna menghukum Wuguan, hingga akhirnya Wuguan menyerah.
Referensi Sastra Lainnya Tentang Qi
Discourses of the States, sebuah antologi dari masa Zhou Timur, menyebut Qi sebagai salah satu contoh raja yang awalnya bajik, namun keturunannya justru menjadi raja yang jahat.
Classic of Mountains and Seas menyebutkan Qi beberapa kali (dengan nama Qǐ dan Kǎi). Dalam teks tersebut, ia digambarkan sebagai perantara syaman mistis yang menerima tarian dan musik suci dari Tuhan Yang Maha Tinggi.
