Kebudayaan Yangshao Dan Kebudayaan Longshan: Masa Awal Prasejarah Tiongkok
Kebudayaan Yangshao Dan Kebudayaan Longshan
Pada sekitar milenium keenam hingga kelima Sebelum Masehi, tepatnya pada Zaman Neolitikum (Batu Baru), terjadi perubahan revolusioner dalam kehidupan masyarakat Tiongkok kuno. Setelah ribuan tahun hidup sebagai pemburu dan pengumpul yang berpindah-pindah, banyak kelompok manusia mulai menetap secara permanen di lokasi-lokasi yang subur, mengembangkan teknik bertani, dan memelihara hewan ternak. Perubahan ini tidak hanya mengubah cara mereka mendapatkan makanan, tetapi juga seluruh aspek kehidupan sosial, teknologi, dan budaya mereka.
Pada masa ini, perkakas batu yang sebelumnya kasar mulai dipoles halus hingga tajam dan fungsional. Kemah-kemah sementara digantikan oleh gubuk beratap alang-alang yang dibangun dengan lebih kokoh dan permanen. Desa-desa permukiman seperti ini tumbuh subur di sepanjang aliran Sungai Kuning (Huang He) di dataran Tiongkok Utara. Meskipun musim dingin di wilayah ini keras dan kering, tanah loess yang subur dan ketersediaan air sungai menjadikannya sangat cocok untuk pertanian tanaman kering seperti millet.
Perkembangan ini memiliki kemiripan pola dengan kebudayaan sungai besar lainnya di dunia kuno, seperti Kebudayaan Lembah Sungai Nil di Mesir atau Lembah Sungai Eufrat-Tigris di Mesopotamia. Salah satu ciri khas paling menonjol dari masa ini adalah penemuan dan penguasaan teknik pembuatan keramik, yang memungkinkan penyimpanan makanan dan minuman dengan lebih baik serta mendukung cara hidup yang menetap.
Motif dan teknik pembuatan keramik pada masa ini memiliki dua ciri khas utama, yang pertama kali ditemukan dan dipelajari secara ekstensif di dua lokasi penting: desa Yangshao dan Longshan. Kedua nama lokasi ini kemudian menjadi dasar penamaan dua peradaban besar yang berurutan dan saling terkait: Kebudayaan Yangshao dan Kebudayaan Longshan, yang bersama-sama membentuk fondasi penting bagi peradaban Tiongkok kuno selanjutnya.
Bagian I: Kebudayaan Yangshao — Peradaban Tembikar Berwarna di Lembah Sungai Kuning
Sejarah Penemuan dan Perdebatan Asal-Usul
Kebudayaan Yangshao merupakan kebudayaan Neolitikum yang tersebar sangat luas di sepanjang bagian tengah Sungai Kuning, berlangsung sekitar tahun 5000 SM hingga 3000 SM, meskipun beberapa catatan menunjukkan perkembangan pusatnya berada di antara 6000–5000 SM. Masa ini menandai perkembangan sosial dan teknologi yang signifikan di wilayah tersebut, termasuk kemajuan pesat dalam bidang pertanian, arsitektur, dan kerajinan tangan.
Nama kebudayaan ini diambil dari situs Yangshao, situs pertama yang diekskavasi pada tahun 1921 di kota Yangshao, Kabupaten Mianchi, Henan barat, oleh geolog asal Swedia, Johan Gunnar Andersson. Saat ini, di dekat lokasi penggalian asli tersebut berdiri museum yang memamerkan kekayaan budaya Yangshao. Kebudayaan ini berkembang pesat terutama di Provinsi Henan serta provinsi tetangganya seperti Shaanxi dan Shanxi, khususnya di wilayah Lembah Sungai Wei yang sangat subur.
Penelitian terbaru dalam linguistik historis komparatif bahkan menunjukkan adanya korelasi antara penyebaran bahasa Sino-Tibet dengan perkembangan kebudayaan agraris awal seperti Cishan, Yangshao, dan/atau Majiayao, menunjukkan bahwa perluasan pertanian millet mungkin menjadi pendorong utama penyebaran bahasa dan gen di wilayah tersebut.
Menariknya, setelah menemukan situs Yangshao, Andersson sempat mengajukan hipotesis kontroversial bahwa kebudayaan ini berasal dari kebudayaan Anau dan Trypillian di Asia Tengah dan Eropa Barat Daya. Kesimpulan ini diambil berdasarkan kemiripan pola hiasan tembikar yang ia amati. Namun, hipotesis "Asal-Usul Barat" ini kini dianggap lemah karena kemiripan tersebut dinilai hanya kebetulan belaka. Pada tahun 1954, penelitian lebih lanjut bahkan memperkirakan bahwa kebudayaan Yangshao sebenarnya berusia 1.000 tahun lebih tua daripada kebudayaan Anau yang dijadikan rujukan.
Selanjutnya, para arkeolog Tiongkok generasi pertama seperti Yin Da, Shi Zhangru, dan Guo Baojun berpendapat bahwa kebudayaan Yangshao dikembangkan secara mandiri oleh penduduk asli di wilayah Sungai Kuning sebelum akhirnya bertransisi ke kebudayaan lain. Bukti krusial datang dari penelitian Liang Siyong yang menemukan stratigrafi tiga lapis di situs Hougang: lapisan ter bawah adalah budaya Yangshao, lapisan tengah adalah budaya Longshan, dan lapisan teratas adalah budaya Shang. Urutan ini mengonfirmasi secara definitif transisi perkembangan budaya lokal dari Yangshao ke Longshan dan kemudian ke Zaman Perunggu Shang.
Saat ini dipahami bahwa Yangshao memberikan dampak besar pada budaya tembikar di seluruh wilayah Dataran Tengah, dengan pengaruh yang menyebar dari timur ke barat. Dalam kerangka ini, Kebudayaan Longshan di Shandong dianggap sebagai cabang timurnya, sedangkan Kebudayaan Majiayao di Gansu dan Qinghai dianggap sebagai cabang baratnya yang berkembang dari Yangshao Madya melalui fase perantara Shilingxia.
![]() | |
| Mangkuk tembikar hias ikan berwajah manusia. Budaya Yangshao, gaya Banpo (4800-4300 SM) ditemukan di situs arkeologi Shaanxi. |
Tahapan Perkembangan dan Fase Budaya
Kebudayaan Yangshao yang berlangsung selama dua milenium secara konvensional dibagi menjadi tiga fase perkembangan utama yang menunjukkan transformasi sosial bertahap:
Periode Yangshao Awal atau Fase Banpo (sekitar 5000–4000 SM) diwakili oleh situs-situs seperti Banpo, Jiangzhai, Beishouling, dan Dadiwan di lembah Sungai Wei, Shaanxi. Fase ini dicirikan oleh masyarakat yang relatif egaliter, dengan pemukiman berukuran sedang dan perbedaan sosial yang masih minim. Tata letak pemukiman menunjukkan struktur komunal berbasis klan.
Periode Yangshao Madya atau Fase Miaodigou (sekitar 4000–3500 SM) ditandai dengan ekspansi budaya dan populasi yang masif ke segala arah. Pengaruh gaya tembikar Miaodigou menyebar jauh melampaui wilayah inti Yangshao, mencapai wilayah yang sekarang menjadi Hubei, Shanxi, dan bahkan Gansu. Pada fase ini mulai muncul hierarki atau tingkatan pemukiman di beberapa wilayah seperti Henan barat, di mana beberapa pusat pemukiman menjadi lebih besar dan penting dibandingkan yang lain.
Periode Yangshao Akhir (sekitar 3500–3000 SM) menunjukkan hierarki pemukiman yang semakin meluas dan jelas. Bukti paling mencolok adalah pembangunan tembok tanah yang dipadatkan (rammed earth) pertama di Tiongkok di pemukiman Xishan seluas 25 hektar di Henan tengah, dekat Zhengzhou modern. Tembok pertahanan ini menunjukkan adanya kebutuhan akan perlindungan, kemungkinan akibat meningkatnya konflik antarpemukiman. Di situs Xipo, ditemukan makam-makam kaya dengan barang bawaan yang melimpah dan bangunan besar yang kemungkinan berfungsi sebagai tempat tinggal elit atau bangunan publik, mengindikasikan bahwa Yangshao akhir mungkin telah mulai membentuk sistem kepemimpinan daerah (chiefdom) yang kompleks.
Sementara itu, Kebudayaan Majiayao (sekitar 3300–2000 SM) di bagian barat yang dulunya dianggap sebagai bagian dari Yangshao, kini dianggap sebagai kebudayaan terpisah yang berkembang dari Yangshao Madya melalui fase perantara Shilingxia, dengan ciri khas tembikar yang dicat dengan sangat rumit dan indah.
Ekonomi, Pertanian, dan Teknologi
Makanan utama masyarakat Yangshao adalah jawawut (millet), baik jenis foxtail millet (Setaria italica) maupun proso millet (Panicum miliaceum), tanaman kering yang sangat adaptif terhadap iklim dan tanah Tiongkok Utara. Mereka juga menanam dan mengonsumsi padi, meski dalam jumlah yang jauh lebih sedikit dibanding jawawut, kemungkinan di lahan-lahan yang lebih lembap di sepanjang sungai.
Sifat pertanian mereka, apakah berupa ladang berpindah (tebang-bakar) atau pertanian intensif di lahan permanen, masih menjadi perdebatan di kalangan arkeolog. Namun, jelas bahwa pada periode akhir wilayah ini telah menjadi masyarakat tani yang menetap sepenuhnya dengan ekonomi yang berpusat pada bercocok tanam dan beternak. Kemajuan teknik tani mendorong produktivitas, terutama pada sistem pertanian lahan kering yang menjadi ciri khas wilayah ini.
Penelitian arkeologi terbaru melalui analisis residu kimia pada tembikar bahkan menunjukkan bahwa pembuatan bir dari jawawut dan beras serta pesta komunal adalah bagian integral dari budaya mereka. Kemungkinan besar bir ini memiliki peran penting dalam ritual sosial atau keagamaan yang memperkuat ikatan komunitas.
Dalam hal peternakan, mereka memelihara babi dan anjing sebagai sumber daging utama, sementara domba, kambing, dan sapi lebih jarang ditemukan dalam catatan arkeologi. Ada pula indikasi yang menarik bahwa mereka mulai mempraktikkan bentuk awal serikultur atau budidaya ulat sutra, meskipun masih dalam skala yang sangat kecil.
Masyarakat Yangshao menggunakan alat batu yang dipoles halus dan sangat terspesialisasi. Selain penggunaan anak panah dan kapak batu yang diasah tajam untuk berburu dan menangkap ikan, pada periode akhir kapak batu mulai menunjukkan fungsi khusus untuk pengerjaan kayu atau memotong. Ditemukan juga pisau batu Shihushan berbentuk persegi yang khusus digunakan untuk mengolah bahan lunak dan memotong tangkai biji-bijian saat panen.
Dalam bidang kerajinan tangan, mereka ahli membuat tembikar berwarna putih, merah, dan hitam dengan desain yang sangat artistik. Motif yang dilukiskan pada tembikar mencakup wajah manusia, hewan seperti burung dan ikan, serta berbagai motif geometris yang rumit. Salah satu ikon paling terkenal adalah mangkuk tembikar hias ikan berwajah manusia dari gaya Banpo (4800-4300 SM) yang ditemukan di situs arkeologi Shaanxi.
Berbeda dengan kebudayaan Longshan kemudian, masyarakat Yangshao belum menggunakan roda pemutar tembikar. Gerabah tanah liat mereka dibuat dengan teknik lilitan cincin (ring/coil method), di mana gulungan tanah liat panjang disusun melingkar ke atas membentuk badan bejana, kemudian dihaluskan permukaannya dengan alat dari tulang. Tembikar kemudian dibakar pada suhu antara 1000 hingga 1500 derajat Celcius dalam tungku pembakaran. Selain tembikar, mereka juga memproduksi kain sutra dalam skala kecil dan menenun serat rami untuk pakaian dan keperluan lainnya.
Struktur Pemukiman dan Organisasi Sosial
Pemukiman masyarakat pada masa ini dapat ditemukan di sepanjang tepian sungai yang tinggi dan aman dari banjir, dengan luas biasanya mencakup 4 hingga 5,6 hektar. Ciri khas tata letak pemukiman Yangshao adalah rumah-rumah yang mengelilingi alun-alun pusat terbuka, yang kemungkinan berfungsi sebagai tempat kegiatan komunal.
Penggalian arkeologi paling ikonik dilakukan di situs Banpo pada tahun 1952, yang berhasil menemukan kembali reruntuhan desa secara utuh. Pemukiman Banpo di dekat Xi'an ini dikelilingi oleh parit selebar 6–8 meter dan sedalam 5–6 meter yang berfungsi ganda sebagai pertahanan dan saluran drainase. Di dalam parit, sekitar 40–46 rumah semi-bawah tanah disusun dalam setengah lingkaran mengelilingi bangunan besar di pusat. Area pembuatan tembikar dengan tungku-tungkunya terletak di luar parit, dan area pemakaman terpisah berada lebih jauh lagi. Pemisahan fungsi ruang yang jelas ini menunjukkan tingkat perencanaan komunal yang tinggi.
Rumah tempat tinggal dibangun dalam berbagai bentuk: bulat, persegi, atau persegi panjang. Kebanyakan berupa rumah semi-bawah tanah untuk isolasi suhu yang baik terhadap dinginnya musim dingin dan panasnya musim panas, meskipun ada juga struktur di atas tanah yang dibangun dengan menggali lubang sedalam satu meter sebagai fondasi. Dindingnya dibuat dari anyaman kayu yang diplester lumpur (wattle-and-daub), dengan batang-batang kayu sebagai penyangga atap dari jerami jawawut. Pada periode akhir, rumah persegi di atas tanah menjadi semakin umum dan mulai muncul rumah panjang dengan banyak kamar yang menandakan perubahan struktur keluarga.
Organisasi sosial Yangshao berubah secara signifikan seiring berjalannya waktu. Pada masa awal, masyarakat terstruktur dalam klan berdasarkan ikatan darah, dengan kepemilikan dan produksi yang bersifat komunal. Laporan awal dari arkeolog Tiongkok yang dipengaruhi pandangan Marxis bahkan menyebutkan ini adalah budaya matriarki, di mana wanita memegang posisi sentral. Kesimpulan ini diambil berdasarkan pengamatan bahwa makam wanita di Banpo cenderung memiliki barang bawaan yang lebih kaya dan bervariasi.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan pandangan yang lebih nuansa dan kompleks. Beberapa ahli berpendapat bahwa masyarakat Yangshao sebenarnya bersifat patrilineal, menunjuk pada bukti makam laki-laki dan wanita yang dikuburkan bersama, serta munculnya rumah-rumah kecil yang menunjukkan unit keluarga inti yang mandiri. Yang jelas adalah bahwa seiring berjalannya waktu, terutama pada masa akhir Yangshao, munculnya kepemilikan pribadi dan akumulasi kekayaan mulai mengikis struktur komunal klan tradisional.
Salah satu temuan ikonik dari periode ini adalah patung naga Tiongkok tertua di dunia yang berasal dari milenium kelima SM, yang ditemukan dari situs yang berhubungan dengan Yangshao. Selain itu, di situs Jiangzhai yang memberikan banyak informasi tentang tata kota kuno, ditemukan tanda-tanda pada tembikar yang oleh sebagian ahli dianggap sebagai cikal bakal karakter tulisan Tionghoa, meskipun interpretasi ini masih diperdebatkan.
Bagian II: Kebudayaan Longshan — Era Tembikar Hitam dan Awal Urbanisasi
Latar Belakang dan Sejarah Penemuan
Kebudayaan Longshan, yang sering dijuluki sebagai "Budaya Tembikar Hitam", merupakan peradaban Neolitikum akhir yang berkembang di wilayah tengah dan bawah lembah Sungai Kuning, Tiongkok Utara. Peradaban ini diperkirakan berlangsung antara tahun 3000 hingga 1900 SM, meskipun beberapa sumber menyebutkan akar awalnya dapat ditelusuri kembali ke fase transisi sejak 5000-4000 SM.
Nama "Longshan" yang secara harfiah berarti "Gunung Naga" diambil dari nama kota di Shandong tempat situs arkeologi pertama, Chengziya, ditemukan pada tahun 1928 oleh arkeolog Tiongkok Wu Jinding. Penemuan ini dan ekskavasi berikutnya oleh Li Ji pada tahun 1930-an mengungkapkan keberadaan budaya yang sama sekali berbeda dari Yangshao, dengan tembikar hitam yang sangat halus menggantikan tembikar berwarna yang dicat.
Beberapa ahli berpendapat bahwa kebudayaan ini merupakan kelanjutan alami dari budaya Yangshao. Hal ini didukung oleh penemuan fase transisi Miaodigou II di Henan Barat yang menunjukkan peningkatan bertahap dalam kualitas alat dan tembikar dari masa Yangshao menuju Longshan, tanpa ada bukti invasi atau penggantian populasi secara drastis.
Karakteristik Pemukiman dan Teknologi Konstruksi
Masyarakat Longshan menunjukkan kemajuan yang sangat signifikan dalam pengorganisasian ruang dan teknologi konstruksi dibandingkan pendahulunya:
Desa Bertembok
Berbeda dengan Yangshao yang hanya menggunakan parit, desa-desa Longshan secara luas dikelilingi tembok yang terbuat dari tanah liat yang dipadatkan dengan teknik rammed earth. Di Chengziya, ditemukan sisa tembok yang dibuat lapis demi lapis dengan ketebalan yang mengesankan — sebuah teknik konstruksi yang akan terus digunakan secara luas hingga Zaman Perunggu dan bahkan masa dinasti-dinasti sejarah. Lebih dari 30 situs bertembok telah diidentifikasi, menunjukkan bahwa organisasi sosial untuk membangun proyek skala besar dan kemungkinan konflik antarmasyarakat telah meningkat secara signifikan.
Urbanisasi
Pada periode akhir (2600–2000 SM), muncul pusat-pusat pemukiman raksasa yang dapat disebut sebagai kota proto-urban. Contohnya adalah Liangchengzhen seluas 273 hektar dan Yaowangcheng yang bahkan lebih luas lagi dengan 368 hektar. Ukuran pemukiman ini jauh melampaui desa-desa Yangshao yang hanya beberapa hektar, menunjukkan konsentrasi populasi dan kekuasaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Infrastruktur
Teknologi sumur mulai dikenal luas pada masa ini, memungkinkan pemukiman untuk dibangun tidak hanya di tepi sungai tetapi juga di lokasi yang lebih jauh dari sumber air permukaan. Bahkan beberapa rumah elit di wilayah tertentu telah dilengkapi dengan sistem pipa tanah liat sederhana untuk drainase atau saluran air, menunjukkan standar hidup yang meningkat bagi kalangan atas.
Kesenian dan Kerajinan Tangan
![]() |
| Kerajinan Tembikar Putih Kebudayaan Longshan |
Ciri paling ikonik dari peradaban ini adalah kemahiran yang luar biasa dalam bidang pertukangan tangan, yang mencerminkan spesialisasi ekonomi dan standar teknis yang jauh lebih tinggi:
Tembikar Hitam "Kulit Telur"
Mereka menggunakan roda pemutar tembikar secara luas untuk menghasilkan keramik hitam yang sangat tipis, halus, dan mengkilap. Yang paling terkenal adalah tembikar yang dijuluki "kulit telur" (eggshell pottery) karena dindingnya ada yang kurang dari 1 milimeter ketebalannya — lebih tipis dari kulit telur ayam biasa. Kehalusan dan kerumitan teknik pembuatannya menyaingi porselen kekaisaran yang dibuat ribuan tahun kemudian. Berbeda dengan keramik Yangshao yang dihias dengan lukisan, keramik Longshan lebih menonjolkan keindahan bentuk, kilau permukaan yang dipoles, dan motif ukiran lingkaran timbul atau cekungan yang halus. Teknologi ini didukung oleh penggunaan tungku angin naik (updraft kilns) yang canggih untuk pembakaran massal.
Batu Giok
Mereka mahir mengolah batu giok yang keras menjadi perhiasan, bandul kalung, hingga kapak ritual. Di situs Taosi bahkan ditemukan "naga giok turkuaz" yang sangat indah, menunjukkan tingkat keahlian pertukangan dan pemahaman simbolis yang tinggi.
Alat Tulang
Berbeda dengan Yangshao yang dominan menggunakan batu, masyarakat Longshan lebih banyak menggunakan tulang untuk membuat mata panah dan peralatan lainnya, menunjukkan eksploitasi sumber daya hewan yang lebih intensif dan preferensi material yang berubah.
![]() |
| Cangkir bertangkai tembikar kulit telur hitam |
Pertanian, Peternakan, dan Karakteristik Fisik Penduduk
Kondisi alam Tiongkok Utara yang kaya padang rumput dan tanah subur mendukung aktivitas ekonomi mereka yang semakin intensif:
- Tanaman: Foxtail millet tetap menjadi tanaman pangan utama, meskipun ditemukan juga jejak padi, gandum, dan broomcorn millet dalam catatan arkeologi. Keberagaman tanaman ini menunjukkan adaptasi agraris yang semakin fleksibel.
- Ternak: Mereka membudidayakan babi yang tetap menjadi sumber daging utama, serta domba, sapi, dan anjing dalam jumlah yang lebih signifikan dibandingkan masa Yangshao. Terdapat sedikit bukti pemeliharaan kuda, namun yang lebih penting adalah mereka sudah mengenal produksi sutra skala kecil melalui domestikasi ulat sutra yang lebih maju.
- Fisik Penduduk: Salah satu temuan yang unik dan mengejutkan di wilayah Shandong adalah adanya individu dengan tinggi badan luar biasa (180–190 cm) yang dijuluki "Raksasa Longshan". Jika temuan ini dikonfirmasi secara luas, mereka akan menjadi populasi Neolitikum tertinggi yang diketahui di dunia pada masanya, menunjukkan status gizi yang sangat baik atau karakteristik genetik populasi tertentu.
![]() |
| Guci Tembikar |
Ritual, Musik, dan Kepercayaan: Fondasi Tradisi Tiongkok
Kehidupan spiritual masyarakat Longshan sangat kompleks dan menjadi fondasi bagi banyak tradisi Tiongkok selanjutnya:
Peramalan (Skapulomansi)
Mereka meramal dengan cara membakar tulang belikat hewan (sapi, babi, domba) dan menafsirkan pola retakan yang muncul akibat panas. Praktik ini adalah cikal bakal dari tradisi peramalan tulang ramalan yang sangat terkenal pada Dinasti Shang. Perbedaannya adalah, pada masa Longshan pertanyaan belum dituliskan di atas tulang karena sistem tulisan yang lengkap belum berkembang.
Tradisi Pemakaman
Orang meninggal dikuburkan dengan posisi wajah menghadap ke bawah — sebuah tradisi yang berlanjut hingga zaman perunggu. Menjelang periode akhir, mulai terlihat stratifikasi sosial yang sangat jelas di pemakaman. Makam elit berisi ratusan barang bawaan mewah termasuk giok dan tembikar halus, sementara makam rakyat biasa hanya berisi sedikit atau bahkan tidak ada barang bawaan sama sekali. Perbedaan mencolok ini adalah bukti kuat dari masyarakat yang sudah terstratifikasi secara tajam.
Musik
Meskipun seruling tulang paling terkenal ditemukan di situs Jiahu (Henan) yang sebenarnya berasal dari kebudayaan Peiligang yang jauh lebih tua (sekitar 7000–5700 SM), temuan ini menunjukkan bahwa tradisi musik di wilayah ini memiliki akar yang sangat dalam. Enam buah seruling sepanjang 8,6 inci yang terbuat dari tulang burung berongga, berusia sekitar 9.000 tahun, memiliki 5 hingga 8 lubang jari dan masih dapat dibunyikan hingga hari ini. Garman Harbottle dari Brookhaven National Laboratory menyatakan bahwa ini adalah alat musik tertua di dunia yang masih dapat dimainkan. Temuan serupa yang berusia 45.000 tahun lebih tua pernah ditemukan di Slovenia, namun kondisinya sudah rusak parah.
![]() |
| Peta Persebaran Kebudayaan Longshan |
Varian Regional dan Kemunduran
Istilah "Budaya Longshan" kini dipahami mencakup berbagai varian regional yang berkembang di wilayah yang luas dengan karakteristik khas masing-masing:
- Longshan Shandong (klasik): Berpusat di semenanjung Shandong dengan situs tipe Chengziya, serta pusat raksasa Liangchengzhen dan Yaowangcheng. Ini adalah varian dengan tembikar "kulit telur" yang paling berkembang.
- Hougang II: Berlokasi di Henan Utara dan Hebei Selatan, dikenal dengan teknologi sumurnya yang maju.
- Wangwan III: Berlokasi di Henan Barat, dianggap sebagai cikal bakal langsung dari budaya Erlitou.
- Taosi: Berlokasi di Shanxi Selatan, menunjukkan bukti struktur kelas sosial yang paling jelas dengan pemukiman bertembok, makam elit, dan kemungkinan istana.
Sekitar tahun 2000 SM, populasi Longshan menurun drastis di sebagian besar wilayah. Hal ini diduga akibat perubahan lingkungan pada akhir Holocene Climatic Optimum, ketika iklim yang hangat dan lembap berubah menjadi lebih dingin dan kering, menyebabkan kegagalan panen dan gangguan pada sistem pertanian yang telah mapan. Sebagian besar pemukiman ditinggalkan, kecuali di wilayah pusat seperti Henan Barat yang kemudian berevolusi menjadi Budaya Erlitou pada awal Zaman Perunggu — yang oleh banyak ahli dianggap sebagai perwujudan material dari Dinasti Xia yang legendaris.
Penemuan dan penelitian tentang kebudayaan Longshan (dan sebelumnya Yangshao) secara historis memiliki peran penting dalam membantah teori awal abad ke-20 yang menyatakan bahwa peradaban Tiongkok berasal dari Barat. Sebaliknya, bukti arkeologi menunjukkan bahwa peradaban Tiongkok adalah hasil interaksi dan perkembangan bertahap dari berbagai budaya regional di daratan Tiongkok itu sendiri, yang masing-masing memberikan kontribusi unik pada mozaik peradaban yang akhirnya muncul.
Kebudayaan Yangshao dan Longshan mewakili dua babak yang berurutan namun berbeda dalam karakter dalam sejarah prasejarah Tiongkok. Yangshao, dengan tembikar berwarnanya yang artistik dan struktur masyarakat yang relatif egaliter, mencerminkan masa kejayaan awal masyarakat agraris di lembah Sungai Kuning. Sementara Longshan, dengan tembikar hitam "kulit telur", pemukiman bertembok yang megah, dan stratifikasi sosial yang tajam, menandai fase akhir Neolitik yang sudah berada di ambang peradaban perkotaan dan negara awal.
Bersama-sama, kedua kebudayaan ini membentuk fondasi yang kokoh bagi apa yang kemudian menjadi peradaban Tiongkok kuno. Banyak elemen budaya penting — mulai dari pertanian millet, domestikasi babi, teknik pembuatan tembikar, tradisi peramalan tulang, hingga kepercayaan pada naga — dapat ditelusuri akarnya kembali ke masa-masa ini. Perjalanan dari desa-desa sederhana Yangshao di sekitar alun-alun pusat menuju kota-kota bertembok Longshan yang kompleks adalah cerminan dari perjalanan universal manusia: dari kelompok klan yang sederhana menuju masyarakat yang terstratifikasi, dari kebutuhan bertahan hidup menuju pencapaian budaya dan teknologi yang mengagumkan.
Daftar Referensi
- Cohen, David J.; Murowchick, Robert E. (2014). "Early complex societies in Northern China". Dalam Renfrew, Colin; Bahn, Paul (eds.). The Cambridge World Prehistory, vol. 2. Cambridge, UK: Cambridge University Press. hlm. 782–806.
- Fairbank, John King; Goldman, Merle (2006). China: A New History, Second Enlarged Edition. Harvard University Press.
- Li, Feng (2013). Early China: A Social and Cultural History. Cambridge University Press.
- Liu, Li (2005). The Chinese Neolithic: Trajectories to Early States. Cambridge University Press.
- Liu, Li; Chen, Xingcan (2012). The Archaeology of China: From the Late Paleolithic to the Early Bronze Age. Cambridge University Press.
- Shelach-Lavi, Gideon (2015). The Archaeology of Early China. Cambridge University Press.
- Underhill, Anne P. (2013). A Companion to Chinese Archaeology. John Wiley & Sons.




