Budaya Qujialing: Peradaban Neolitikum di Lembah Sungai Yangtze
Budaya Qujialing (3400–2500 SM) merupakan peradaban Neolitikum yang berpusat di wilayah tengah Sungai Yangtze, tepatnya di Hubei dan Hunan, Tiongkok. Nama budaya ini diambil dari situs tipenya yang terletak di Kabupaten Jingshan, Hubei. Peradaban ini muncul menggantikan budaya Daxi (5000–3300 SM) dan wilayah kekuasaannya meluas hingga ke Shaanxi selatan, Jiangxi utara, serta Henan barat daya.
Budaya Qujialing melambangkan perkembangan signifikan dalam masyarakat Neolitikum yang ditandai dengan munculnya pemukiman berbenteng skala besar, sistem pertanian yang maju, serta keahlian kerajinan tangan yang terspesialisasi. Beberapa artefak unik yang menjadi ciri khas budaya ini adalah bola keramik dan pemberat alat tenun (spindle whorls) lukis—yang nantinya diwariskan kepada budaya Shijiahe yang muncul setelahnya.
Lokasi, Penomoran Tahun, Sejarah Penemuan, dan Konteks Lingkungan
Situs Qujialing yang terletak di Dataran Jianghan, Hubei, pertama kali diidentifikasi pada tahun 1950-an, dengan penggalian awal yang dilakukan antara tahun 1955 hingga 1957. Garis waktu budaya ini membentang dari sekitar 3400 hingga 2500 SM, meskipun beberapa ahli berpendapat bahwa bukti-bukti awal (3400–3000 SM) mungkin sebenarnya termasuk dalam fase akhir budaya Daxi.
![]() |
| Sebuah kerangka dan bejana di pemakaman (bekal kubur) |
Secara geografis, peradaban ini berkembang pesat di wilayah tengah Yangtze, yang dibatasi oleh Pegunungan Dabie di barat, Danau Dongting di utara, Tiga Arus (Three Gorges) di timur, dan Cekungan Nanyang di selatan. Sebagian besar situs ditemukan di utara Sungai Yangtze, di antara wilayah Yichang dan Wuhan modern, sementara beberapa situs lainnya meluas ke arah barat daya hingga ke tepi selatan sungai. Situs-situs yang berada di dataran rendah ini biasanya terletak di atas tanah yang sedikit lebih tinggi di tengah dataran dan perbukitan rendah, sebuah lokasi yang ideal untuk pertanian dan memudahkan perdagangan melalui Sungai Yangtze.
Wilayah ini secara historis didominasi oleh lahan basah, sungai, dan danau, sehingga pemukiman dibangun di atas tanah tinggi untuk menghindari banjir. Bukti arkeologis dari tepi Danau Dongting mengungkapkan adanya struktur bangunan panggung dari budaya Pengtoushan dan budaya Daxi, yang menunjukkan lingkungan subtropis dengan hutan gugur dan hutan hijau abadi. Temuan sisa-sisa alga menunjukkan adanya banjir berkala. Iklim pada fase awal budaya ini cenderung hangat dan lembap, namun kemudian berubah menjadi lebih kering dengan transisi ke lahan rumput dan semak belukar, yang bertepatan dengan penurunan aktivitas manusia di wilayah tersebut.
Pola Hidup dan Mata Pencaharian
Pertanian di wilayah ini memiliki akar yang sangat dalam, dengan bukti budidaya padi yang telah ada sejak zaman budaya Daxi. Pertanian padi awal sangat bergantung pada sistem drainase, namun pada milenium ketiga SM, mulai muncul sawah beririgasi sebagaimana ditemukan di situs Chengtoushan yang dilengkapi dengan waduk. Masyarakat budaya Qujialing menanam padi (Oryza sativa), milet jawawut (Setaria italica), dan milet sapu (Panicum miliaceum), di samping sayuran, bayam-bayaman, serta tanaman yang kini dianggap sebagai gulma.
Munculnya Pemukiman Berbenteng
Budaya Qujialing menandai terjadinya lonjakan populasi yang signifikan dengan berdirinya pemukiman berbenteng besar yang seringkali berbentuk lingkaran. Beberapa situs bahkan mencapai luas 263 hektar, jauh lebih besar dibandingkan situs terbesar budaya Daxi, Chengtoushan, yang hanya seluas 6–8 hektar. Benteng-benteng ini kemungkinan berfungsi untuk pertahanan, yang mencerminkan bangkitnya negara-negara awal dan persaingan antar-kota.
Situs Qujialing sendiri memiliki area pusat perkotaan seluas 70 hektar yang dikelilingi oleh parit selebar 25–30 meter dengan kedalaman 3 meter, serta dikelilingi oleh sepuluh zona pemukiman. Berawal dari desa kecil di era Daxi, situs ini tumbuh menjadi aglomerasi berbenteng pada fase akhir Qujialing. Penemuan tembok kota, sistem pengairan buatan manusia, bangunan dengan halaman luas, dan area pemukiman menunjukkan adanya perencanaan kota yang sangat maju.
Kerajinan, Praktik Pemakaman, dan Simbolisme
Keramik Qujialing dikembangkan berdasarkan tradisi Daxi namun mendapatkan pengaruh dari budaya Yangshao dan Dawenkou. Mereka mulai memperkenalkan penggunaan roda putar untuk membuat wadah seperti mangkuk (wan), piring (dou), dan guci (guan), yang mencerminkan peningkatan produktivitas oleh pengrajin tembikar spesialis.
Guci abu jenazah umum ditemukan dalam praktik pemakaman, ditemani oleh berbagai wadah seperti cangkir (bei). Beberapa makam bahkan berisi hingga 20 pot atau barang pecah belah berpernis merah dan kuning. Objek tembaga awal—yang merupakan temuan tembaga paling selatan di Tiongkok Neolitikum—ditemukan di Dengjiawan. Selain itu, sisa-sisa ayam, anjing, babi, domba, dan ikan ditemukan di sepuluh lubang penyimpanan, bersama dengan tembikar kulit telur, tripod, bola keramik, dan pemberat alat tenun lukis, yang menunjukkan keberagaman keahlian tangan budaya ini.
Kemunduran
Pada tahun 2000 SM, benteng-benteng pertahanan tidak lagi dirawat dan jumlah populasi menurun secara signifikan. Namun, berbeda dengan keruntuhan mendadak pada budaya Liangzhu, penurunan budaya Qujialing terjadi secara bertahap. Beberapa situs menunjukkan jejak-jejak pengaruh dari budaya Longshan yang berasal dari Dataran Tengah.
Daftar Bacaan
- Li, Zhiyan; Bower, Virginia L.; He, Li (2010), Chinese Ceramics: From the Paleolithic Period to the Qing Dynasty, New Haven: Yale University Press
- Liu, Li; Chen, Xingcan (2012), The Archaeology of China: From the Late Paleolithic to the Early Bronze Age, Cambridge University Press.
- Zhang, Chi (2013), "The Qujialing–Shijiahe culture in the middle Yangzi River valley", in Underhill, Anne P. (ed.), A Companion to Chinese Archaeology, John Wiley & Sons, pp. 510–534
