Mengenal Peradaban Liangzhu: Negara Purba Tiongkok dan Teknologi Berlian Tertua di Dunia

Peradaban Liangzhu: Fajar Negara Purba Tiongkok

Budaya Liangzhu (3300–2300 SM) merupakan fase terakhir dari kebudayaan giok zaman Neolitikum di wilayah Delta Sungai Yangtze, Tiongkok. Masyarakat ini memiliki sistem pelapisan sosial yang sangat tajam. Hal ini terbukti dari penemuan artefak mewah seperti giok, sutra, gading, dan kerajinan lak yang hanya ditemukan di makam kaum elit, sementara makam masyarakat biasa hanya berisi tembikar sederhana. Perbedaan kelas yang mencolok dalam struktur penguburan ini menandakan bahwa Liangzhu telah berkembang menjadi bentuk negara awal (early state).

Tembikar Kebudayaan Liangzhu

Pusat kota utama peradaban ini terletak di barat laut Hangzhou, Zhejiang. Dari pusat inilah, kelompok elit mengendalikan pusat-pusat lokal lainnya. Pengaruh budaya Liangzhu sangat luas, membentang dari Shanxi di utara hingga Guangdong di selatan. Para arkeolog menganggap situs utama Liangzhu sebagai salah satu masyarakat berbentuk negara tertua di Asia Timur. Situs ini pertama kali ditemukan di Kabupaten Yuhang oleh Shi Xingeng pada tahun 1936, dan pada 6 Juli 2019, UNESCO resmi menetapkan reruntuhan Kota Liangzhu sebagai Situs Warisan Dunia.

Misteri Kepunahan

Meskipun mencapai puncak kejayaan sekitar 2500 SM, peradaban Liangzhu tiba-tiba menghilang dari kawasan Danau Taihu sekitar 2300 SM tanpa meninggalkan jejak di tahun-tahun berikutnya. Penelitian geologi menunjukkan bahwa penyebab utamanya adalah perubahan lingkungan yang ekstrem. Lapisan tanah di situs tersebut menunjukkan adanya gangguan berupa endapan lumpur, rawa, dan kerikil yang menimbun pepohonan purba, mengindikasikan bencana banjir besar.

Studi tahun 2021 mendukung teori ini dengan temuan adanya periode curah hujan yang sangat tinggi selama puluhan tahun, kemungkinan besar dipicu oleh fenomena El Niño–Southern Oscillation. Banjir masif dari Sungai Yangtze yang merendam lahan rendah dan menghancurkan sistem irigasi padi kemungkinan besar memaksa penduduk Liangzhu meninggalkan ibu kota mereka, yang berujung pada runtuhnya seluruh peradaban tersebut.

Tata Kota dan Pertanian Maju

Masyarakat Liangzhu dikenal sangat ahli dalam mengelola air. Mereka mengembangkan pertanian irigasi, budidaya padi sawah, serta budidaya perairan (akuakultur). Kota Kuno Liangzhu sendiri dibangun di atas lahan basah dengan sistem jaringan sungai yang kompleks. Memiliki luas interior 290 hektar, kota ini dipagari dinding tanah liat dan memiliki istana megah di pusatnya yang disebut kompleks Mojiaoshan.

Kehebatan arsitektur mereka terlihat dari desain perlindungan banjir buatan dan sistem bendungan yang ditemukan 8 km di utara kota. Selain itu, ditemukan pula lumbung besar yang diperkirakan mampu menyimpan hingga 15.000 kg gabah, menunjukkan ketahanan pangan yang luar biasa pada masanya.

Keunggulan Teknologi dan Seni Giok

Penduduk Liangzhu memiliki keterampilan teknologi yang melampaui zamannya. Mereka adalah masyarakat pertama di dunia yang diketahui menggunakan alat dari berlian untuk mengasah kapak upacara dari batu korundum hingga mengkilap seperti cermin.

Namun, warisan yang paling ikonik adalah kerajinan gioknya. Produk giok Liangzhu, seperti cong (tabung silinder dengan lubang bundar) dan bi (cakram datar), merupakan yang terbaik dalam hal kualitas dan kuantitas di antara budaya Neolitikum lainnya. Motif taotie yang rumit sering kali diukir pada benda-benda ritual ini, yang kelak memberikan pengaruh mendalam pada simbol-simbol ritual dinasti-dinasti Tiongkok berikutnya.

Kehidupan Spiritual dan Warisan Genetik

Agama memegang peranan vital dalam masyarakat ini, terbukti dengan penemuan altar megah di Yaoshan yang memiliki struktur tiga tingkat dari tanah dan batu. Dalam hal genetika, studi DNA terhadap sisa-sisa manusia Liangzhu mengungkapkan adanya hubungan erat dengan Haplogroup O1-M119. Jejak genetik ini menghubungkan mereka dengan masyarakat Han di wilayah pesisir timur saat ini, serta leluhur dari rumpun bangsa Austronesia dan Kra-Dai (seperti penduduk asli Taiwan dan Filipina).

Daftar Bacaan

  • Wu, Li (2014). "Holocene environmental change and its impacts on human settlement in the Shanghai Area, East China". Catena. 114: 78–89.
  • Zhang, Haiwei; Cheng, Hai; Sinha, Ashish; Spötl, Christoph; Cai, Yanjun; Liu, Bin; Kathayat, Gayatri; Li, Hanying; Tian, Ye; Li, Youwei; Zhao, Jingyao (2021-11-26). "Collapse of the Liangzhu and other Neolithic cultures in the lower Yangtze region in response to climate change". Science Advances. 7 (48) eabi9275.
  • Underhill, Anne (2013). A Companion To Chinese Archaeology. p. 579.
  • Higham, Charles (2009). Encyclopedia of Ancient Asian Civilizations. p. 198.
  • Underhill, Anne (2013). A Companion To Chinese Archaeology. p. 560.
  •  Zhang, Chia; Hsiao-Chun, Hung (2008). "The Neolithic of Southern China–Origin, Development, and Dispersal". Asian Perspectives. 47 (2, Fall 2008): 309–310.