Kaisar Yao: Legenda, Kebijaksanaan, dan Warisan Penguasa Tiongkok Kuno
Kaisar Yao (berkuasa sekitar tahun 2356–2255 SM) adalah seorang penguasa legendaris Tiongkok. Beberapa sumber menganggapnya sebagai salah satu dari Tiga Penguasa dan Lima Kaisar.
Nama leluhur Yao adalah Yi Qi atau Qi, nama klannya adalah Taotang, dan nama pribadinya adalah Fangxun. Ia merupakan putra kedua dari Kaisar Ku dan Qingdu, serta dikenal juga dengan sebutan Tang Yao. Ibu Yao sendiri dihormati sebagai dewi bernama Yao-mu.
Legenda Kaisar Yao
Menurut legenda, Yao mulai memerintah pada usia 20 tahun dan wafat pada usia 99 tahun. Sebelum wafat, ia mewariskan takhtanya kepada Shun yang Agung, setelah sebelumnya menikahkan dua putrinya dengan Shun. Namun, menurut Bamboo Annals (Catatan Bambu), Yao turun takhta demi Shun pada tahun ke-73 masa pemerintahannya, dan ia tetap hidup selama 28 tahun lagi di masa pemerintahan Shun.
Pada masa pemerintahan Kaisar Yao, terjadi Banjir Besar yang sangat dahsyat hingga wilayah kekuasaannya tidak luput dari bencana; lembah Sungai Kuning dan Sungai Yangtze pun mengalami banjir. Dalam Book of History (Kitab Sejarah), Kaisar Yao menggambarkan kengerian banjir tersebut sebagai berikut:
"Bagaikan air mendidih yang tak berujung, banjir itu meluap membawa kehancuran. Tak terbatas dan menenggelamkan, air itu melampaui bukit dan pegunungan. Terus meninggi dan meninggi, hingga mengancam langit itu sendiri. Betapa rakyat harus mengerang dan menderita!"
Karena banjir terus berlangsung tanpa henti, Yao mencari seseorang yang mampu mengendalikannya. Ia meminta nasihat kepada penasihat khususnya, Four Mountains (Empat Gunung). Atas desakan penasihatnya tersebut—meskipun Yao sempat ragu—ia menunjuk Gun, Pangeran Chong, untuk memimpin upaya penanggulangan banjir. Gun sendiri adalah kerabat jauh Yao yang sama-sama keturunan dari Kaisar Kuning.
Setelah sembilan tahun upaya Gun tidak membuahkan hasil dan kekacauan sosial semakin meningkat, Yao menawarkan pengunduran diri kepada penasihat Four Mountains. Namun, mereka menolak dan justru merekomendasikan Shun, seorang kerabat jauh Yao lainnya yang hidup dalam ketidakjelasan meskipun memiliki garis keturunan bangsawan.
Yao kemudian memberikan serangkaian ujian kepada Shun, mulai dari menikahkan kedua putrinya hingga mengutusnya ke dataran rendah untuk menghadapi badai, guntur, dan hujan. Setelah berhasil melewati semua ujian—termasuk menjaga keharmonisan rumah tangga dengan kedua putri Yao—Shun diangkat menjadi kaisar bersama. Shun kemudian menangani masalah Banjir Besar dan merestrukturisasi kekaisaran selama empat tahun untuk memulihkan keadaan.
Catatan Bambu (Bamboo Annals)
Bamboo Annals mencatat bahwa pada tahun ke-58 pemerintahannya, Yao mengasingkan putranya, Danzhu, ke Danshui. Catatan tersebut menambahkan bahwa setelah Yao turun takhta, Danzhu menjauh dari Shun. Setelah Yao wafat, Shun sempat mencoba menyerahkan takhta kepada Danzhu, namun gagal.
Namun, terdapat versi lain dalam Annals yang menyatakan bahwa Shun justru melengserkan dan memenjarakan Yao, lalu mengangkat Danzhu sebagai raja untuk waktu yang singkat sebelum akhirnya merebut takhta tersebut untuk dirinya sendiri.
Warisan
Yao sering dipuji sebagai raja bijak yang sempurna secara moral dan cerdas. Kebaikan serta ketekunannya menjadi teladan bagi para raja dan kaisar Tiongkok berikutnya. Catatan sejarah Tiongkok awal sering menyebut Yao, Shun, dan Yu yang Agung sebagai tokoh sejarah. Sejarawan kontemporer percaya bahwa mereka mungkin mewakili kepala suku dari aliansi suku-suku yang membangun sistem pemerintahan terpusat dan hierarkis selama masa transisi menuju masyarakat feodal patriarkal.
Yao juga dikenal karena menciptakan permainan Weiqi (Go), yang konon dibuat untuk mendidik putranya yang berperilaku buruk, Danzhu. Selain itu, Yao diakui sebagai leluhur dari Liu Bang, kaisar pertama Dinasti Han, dan banyak keluarga bangsawan lainnya yang mengklaim keturunan dari Kaisar Kuning.
Pengamatan Astronomi dan Arkeologi
Menurut dokumen klasik seperti Yao Dian dalam Shang Shu dan Wudibenji dalam Shiji, Yao menugaskan pejabat astronomi untuk mengamati fenomena langit guna menyusun kalender surya dan bulan yang terdiri dari 366 hari dalam setahun, termasuk penentuan bulan kabisat.
Penelitian arkeologi di Taosi, Shanxi (situs dari tahun 2300–1900 SM), memberikan bukti yang mendukung catatan kuno tersebut. Ditemukan struktur yang diyakini sebagai observatorium kuno tertua di Asia Timur. Beberapa arkeolog percaya bahwa Taosi adalah lokasi negara Tang (唐), yang ditaklukkan oleh Kaisar Yao dan dijadikan ibu kotanya. Struktur ini ditemukan pada tahun 2003–2004, terdiri dari jalur berbentuk semi-lingkaran luar dan platform tanah padat dengan diameter sekitar 60 meter.
