Australopithecus Afarensis: Hominid Tertua

Australopithecus Afarensis

Australopithecus afarensis Australopithecus afarensis adalah spesies hominid tertua yang diperkirakan hidup antara 3,8 – 2,9 juta tahun yang lalu. Fosil Australopithecus afarensis ditemukan di Hadar, Ethiophia yang mana melalui situs ini hampir dari 90 persen penemuan dari fosil Australopithecus afarensis di seluruh Afrika Timur. Fosil Australopithecus afarensis juga ditemukan di Chad, Kenya dan Tanzania. Sehingga dapat dikatakan bahwa Australopithecus afarensis mendiami daerah Afrika Timur. Di dalam artikel ini akan diberikan penjelasan singkat tentang Australopithecus afarensis sebagai spesies manusia purba Afrika.

Sejarah Penemuan Australopithecus afarensis

Australopithecus afarensis keberadaanya ditemukan pertama kali di Hadar, Ethiophia pada tahun 1930-an. Sebelum berhasil teridentifikasinya Australopithecus afarensis, fosil yang ditemukan di Hadar ini diklasifikasikan sebagai Australopithecus aff. Afrika. Hal ini disebabkan telah ditemukan dan diidentifikasinya Australopithecus africanus yang fosilnya telah ditemukan sejak 1920-an di Afrika Selatan. Sehingga fosil dari Hadar ini diklasifikasikan ke dalam spesies Australopithecus africanus. Oleh sebab adanya keraguan bahwa fosil Hadar ini adalah spesies yang berbeda dengan Australopithecus africanus, fosil Hadar dinamai Australopithecus aff. Afrika.

Pada tahun 1948, seorang Paleontolog asal Jerman, Hans Weinhert mengusulkan untuk mengklasifikasikan sebuah tulang rahang yang berhasil ditemukan di hulu Sungai Gerusi, dekat Laetoli, Tanzania sebagai Meganthropus africanus, tetapi pernyataan ini hampir selalu diabaikan. Pada tahun 1955, M.S. Senyurek mengusulkan penamaan Praeanthropus africanus untuk penemuan sebuah tulang rahang di hulu Sungai Gerusi.

Pada tahun 1972 ahli geologi Perancis, Maurice Taieb, ahli paleoantropologi Amerika Serikat, Donald Johanson, dan seorang antropolog, Yves Coppens membentuk International Afar Research Expedition (IARE) di Laetoli, Tanzania. Pada tahun 1973 ekspedisi IARE berhasil menemukan fosil sendi lutut yang menunjukkan tanda-tanda bipedal. Pada tahun 1974 ekspedisi besar-besaran dilakukan oleh IARE yang dipimpin oleh seorang paleoantropolog kebangsaan Inggris, Mark Leakey. Di tengah ekspedisi IARE, Donald Johanson dan Tom Gray menemukan kerangka yang sangat terawat baik yang diidentifikasi sebagai sosok wanita dewasa yang kemudian diberi nama “Lucy”. Penemuan ini diiringi pula oleh penemuan fosil-fosil hewan yang menggambarkan ekosistem Afrika Timur yang terdiri dari hutan-hutan dan padang rumput.

Pada tahun 1975, IARE berhasil menemukan 216 spesimen fosil yang diduga milik dari 13 individu yang dikenal dengan “Keluarga pertama” (meskipun individu-individu itu tidak dapat dikatakan semuanya memiliki keterkaitan). Pada tahun 1976, Mary Leakey menemukan jejak-jejak fosil yang diklasifikan sebagai Homo spp., fosil ini menghubungkan ciri-ciri yang mirip dengan Australopithecus dan menunjukkan bahwa jenis fosil ini adalah transisi Austrolopithecus ke Homo.

Pada tahun 1978, Donald Johanson, Tim D. White dan Coppens mengklasifikasikan ratusan spesimen temuan yang dikumpulkan sepanjang tahun 1973-1978 dari Hadar dan Laetoli sebagai satu spesies baru yang dikenal dengan nama Australopithecus afarensis. Dapat diidentifikasi bahwa fosil Australopithecus afarensis tertua berasal dari Laetoli, Tanzania yang ditaksir berasal dari 3,6 juta tahun yang lalu.

Australopithecus afarensis secara eksklusif ditemukan di Afrika Timur. Selain di Laetoli dan Wilayah Afar, keberadaan spesies ini tercatat di Kenya (Koobi Fora dan kemungkinan Lothagam) serta beberapa lokasi di Ethiopia seperti Woranso-Mille, Maka, Belohdelie, Ledi-Geraru, dan Fejej. Beberapa penemuan penting meliputi:

  1. Spesimen BEL-VP-1/1 (3,9 juta tahun): Awalnya dianggap sebagai Australopithecus anamensis karena usianya. Namun, karena struktur penyempitan pasca-orbitalnya, fragmen ini kini cenderung diklasifikasikan sebagai Australopithecus afarensis. Hal ini menunjukkan bahwa kedua spesies tersebut kemungkinan hidup berdampingan selama setidaknya 100.000 tahun.
  2. AL 438–1 (2005): Spesimen dewasa kedua dengan bagian tengkorak dan tubuh yang lengkap ditemukan di Hadar.
  3. DIK-1-1 (2006): Kerangka parsial bayi yang ditemukan di Dikika.
  4. KSD-VP-1/1 (2015): Kerangka parsial dewasa yang ditemukan di Woranso-Mille.

Klasifikasi Dan Evolusi Australopithecus Afarensis

Saat ini, Australopithecus afarensis telah diterima secara luas sebagai spesies yang valid. Secara umum, para ahli menganggap bahwa genus Homo dan Paranthropus adalah kelompok bersaudara yang berakar dari Australopithecus. Namun, klasifikasi internal dalam keluarga Australopithecus sendiri masih sangat kompleks. Hal ini disebabkan karena Australopithecus sering dianggap sebagai kelompok yang anggotanya disatukan oleh kemiripan fisik (fisiologi), bukan karena hubungan kekerabatan yang sangat dekat. Meskipun hubungan antar spesiesnya masih belum sepenuhnya jelas, teori yang paling diterima adalah bahwa Australopithecus anamensis berevolusi menjadi Australopithecus afarensis.

Perdebatan Mengenai Garis Keturunan Manusia

Pada tahun 1979, Johanson dan White mengusulkan bahwa Australopithecus afarensis merupakan nenek moyang terakhir sebelum pemisahan jalur antara Homo dan Paranthropus. Namun, hipotesis ini memicu perdebatan panjang. Beberapa ahli sempat meragukan posisi ini, terutama setelah penemuan tengkorak KNM-ER 1470. Namun, penemuan fosil rahang LD 350-1 pada tahun 2013 yang berusia 2,8 juta tahun memperkuat kembali posisi Australopithecus afarensis sebagai leluhur potensial bagi genus Homo. Di sisi lain, beberapa ilmuwan tetap skeptis karena menganggap struktur rahang Australopithecus afarensis sudah terlalu terspesialisasi untuk menjadi nenek moyang langsung manusia.

Tantangan Klasifikasi dan Spesies Baru

Seiring waktu, muncul berbagai usulan untuk membagi atau mengklasifikasikan ulang spesimen Australopithecus afarensis. Beberapa ahli, seperti Walter Ferguson dan duo peneliti Bjarne Westergaard & Niels Bonde, mengusulkan nama genus baru seperti "Afaranthropus" atau memisahkan spesimen tertentu menjadi spesies berbeda. Namun, sebagian besar usulan ini tidak diterima secara luas oleh komunitas sains.

Kerumitan Fosil di Wilayah Afar

Ketidakpastian semakin meningkat dengan ditemukannya fosil-fosil baru yang hidup di waktu dan tempat yang sama dengan Australopithecus afarensis:

  1. Australopithecus bahrelghazali (1996): Ditemukan di Chad, awalnya dianggap sebagai Australopithecus afarensis.
  2. Australopithecus deyiremeda (2015): Ditemukan di wilayah Afar, keberadaannya mempertanyakan apakah semua fosil yang ditemukan di sana benar-benar Australopithecus afarensis.

Hingga saat ini, para ahli seperti Wood dan Boyle (2016) masih meragukan apakah Australopithecus afarensisAustralopithecus bahrelghazali, dan Australopithecus deyiremeda benar-benar spesies yang berbeda, atau hanya variasi dalam satu kelompok yang sama.

Persebaran Australopithecus Afarensis

Spesies Australopithecus afarensis diyakini tersebar hanya di daerah Afrika Timur, sebagian besar berada di Laetoli dan wilayah Afar. Di luar wilayah itu, Australopithecus afarensis tersebar di Koobi Fora dan Lothagam, Kenya. Di Ethiopia terdapat di daerah Woranso-Mille, Maka, Belohdelie, Ledi-Geraru dan Fejej. Meskipun selanjutnya dapat ditemukan fragmen tulang lainnya di Awash, Afar, Ethiopia yang disebut Australopithecus anamensis yang berusia kira-kira 3,9 juta tahun yang lalu. Diperkirakan Australopithecus afarensis dan Australopithecus anamensis sempat hidup berdampingan selama 100.000 tahun.

Australopithecus afarensis merupakan spesies yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap berbagai kondisi lingkungan. Mereka tidak terpaku pada satu jenis habitat saja, melainkan mampu menghuni beragam ekosistem, mulai dari padang rumput, semak belukar, hutan terbuka, hingga hutan di tepi danau atau sungai. Fleksibilitas ini terlihat dari variasi kumpulan hewan purba yang ditemukan berbeda-beda di setiap situs arkeologi.

Selama masa Pliosen di Afrika Timur, kondisi lingkungan cenderung lebih hangat dan basah dibandingkan masa Miosen sebelumnya. Berdasarkan bukti geologi serta temuan flora dan fauna, musim kemarau saat itu diperkirakan berlangsung selama empat bulan. Musim hujan yang panjang sangat menguntungkan bagi para hominin, karena menjamin ketersediaan sumber makanan utama hampir sepanjang tahun.

Sekitar 4 hingga 3 juta tahun yang lalu, Afrika dihuni oleh keanekaragaman karnivora besar yang jauh lebih tinggi daripada saat ini. Sebagai bagian dari ekosistem tersebut, Australopithecus afarensis sering kali menjadi mangsa predator berbahaya seperti hyena, cheetah, macan tutul (Panthera), dan berbagai jenis kucing bergigi pedang (seperti Megantereon, Dinofelis, Homotherium, dan Machairodus). Penelitian menunjukkan bahwa spesies hyena punah Chasmaporthetes kemungkinan besar memangsa Australopithecus afarensis, sementara spesies Crocuta venustula cenderung tidak menjadikannya sebagai mangsa utama.

Berbeda dengan spesies Homo di masa depan, Australopithecine dan Homo awal cenderung lebih menyukai lingkungan yang sejuk. Hal ini terbukti dari lokasi situs penemuan mereka yang selalu berada di ketinggian di atas 1.000 meter.

Mirip dengan perilaku simpanse modern, mereka menghuni wilayah dengan suhu harian rata-rata sekitar 25 °C, yang kemudian menurun drastis menjadi 5 hingga 10 °C pada malam hari. Sebagai contoh, di wilayah Hadar antara 3,4 hingga 2,95 juta tahun yang lalu, suhu rata-rata tahunan tercatat berada pada angka 20,2 °C.

Ciri-Ciri Australopithecus Afarensis

Struktur Anatomi Wajah dan Gigi

Secara fisik, Australopithecus afarensismemiliki karakteristik wajah yang tinggi dengan tulang alis halus dan rahang yang menonjol ke luar (prognatisme). Struktur rahangnya, seperti pada spesimen AL 822–1, sangat dalam dan kuat menyerupai rahang gorila. Namun, berbeda dengan gorila, kekuatan otot pengunyah (krista sagital dan nukal) pada spesies ini tidak menunjukkan perbedaan signifikan antar jenis kelamin, lebih mirip dengan simpanse atau gorila betina.

Evolusi gigi pada Australopithecus afarensis menunjukkan transisi yang menarik dibanding hominin sebelumnya:

  1. Gigi Seri dan Taring: Lebar gigi seri dan ukuran gigi taring mulai berkurang, serta kehilangan mekanisme penajaman alami.
  2. Gigi Geraham (Molar): Gigi premolar mulai berbentuk seperti molar, sementara gigi molar itu sendiri menjadi lebih tinggi, besar, dan datar dengan lapisan enamel yang tebal—adaptasi yang ideal untuk menghancurkan makanan keras.
  3. Dimorfisme Seksual: Terdapat perbedaan pada gigi premolar (P3), di mana jantan menunjukkan tingkat molarisasi yang lebih tinggi dibandingkan betina.

Kapasitas dan Pertumbuhan Otak

Volume otak Australopithecus afarensis dewasa bervariasi antara individu, mulai dari sekitar 365 cc pada spesimen "Lucy" hingga 526 cc pada AL 444-2, dengan rata-rata keseluruhan sekitar 445 cc. Pada spesimen bayi, volume otaknya tercatat berada di kisaran 273 hingga 315 cc. Hal yang paling menonjol dari data ini adalah pola pertumbuhannya:

  1. Kecepatan: Tingkat pertumbuhan otak mereka secara mengejutkan lebih mirip dengan manusia modern daripada simpanse yang cenderung lebih cepat.
  2. Durasi: Meski pertumbuhannya diperpanjang, durasi keseluruhannya tetap jauh lebih singkat daripada manusia, sehingga ukuran otak dewasa mereka tetap kecil.
  3. Struktur: Secara organisasi fungsional, otak Australopithecus afarensis masih menyerupai otak kera non-manusia tanpa menunjukkan tanda-tanda konfigurasi otak manusia modern.

Variasi Ukuran dan Dimorfisme Seksual

Spesimen Australopithecus afarensis menunjukkan variasi ukuran tubuh yang sangat luas. Para ahli umumnya menjelaskan hal ini sebagai bentuk dimorfisme seksual, di mana individu jantan memiliki tubuh yang jauh lebih besar daripada betina.

Pada tahun 1991, antropolog Henry McHenry memperkirakan tinggi badan spesies ini berdasarkan ukuran sendi tulang kaki. Hasilnya menunjukkan perbedaan yang signifikan: spesimen yang diduga jantan (AL 333–3) memiliki tinggi sekitar 151 cm, sedangkan spesimen betina seperti "Lucy" hanya setinggi 105 cm. Secara bobot, jantan diperkirakan mencapai 44,6 kg, sementara betina hanya 29,3 kg.

Perdebatan Mengenai Data dan Metode

Meskipun angka-angka di atas sering dikutip, validitasnya masih diperdebatkan karena beberapa alasan:

  1. Sampel Terbatas: Estimasi berat badan tersebut hanya didasarkan pada tiga spesimen yang diduga betina, termasuk dua individu terkecil yang pernah ditemukan.
  2. Perbandingan Proporsi: Rasio massa tubuh jantan terhadap betina pada Australopithecus afarensis (1,52) jauh lebih tinggi daripada manusia modern (1,22) atau simpanse (1,37), namun masih di bawah gorila (sekitar 2,0).
  3. Metode Alternatif: Beberapa ahli berpendapat bahwa variasi ini mungkin bukan karena jenis kelamin, melainkan variasi individu normal. Penggunaan ukuran kepala femoral (tulang paha) sebagai acuan justru menunjukkan bahwa variasi ukuran antara jantan dan betina mungkin tidak seekstrem yang diperkirakan.

Bukti dari "Lucy" dan Jejak Kaki Laetoli

Lucy tetap menjadi referensi utama karena kerangkanya mencapai 40% kelengkapan, meski ia termasuk salah satu individu terkecil dengan estimasi berat antara 25–37 kg. Di sisi lain, temuan jejak kaki fosil di Laetoli memberikan gambaran lain. Berdasarkan panjang jejak kaki, ditemukan variasi tinggi badan yang beragam:
  1. Individu S1: Diperkirakan sebagai jantan dengan tinggi 165 cm dan berat 45 kg.
  2. Individu Lainnya (S2, G1, G2, G3): Memiliki tinggi berkisar antara 114 cm hingga 145 cm.
  3. Data dari Laetoli ini memperkuat argumen bahwa Australopithecus afarensis adalah spesies yang sangat dimorfik, dengan perbedaan ukuran fisik yang mencolok antar anggota kelompoknya.

Analisis Anatomi Australopithecus afarensis

Struktur Leher dan Kemampuan Vokal

Fosil DIK-1-1 menunjukkan bahwa Australopithecus afarensis memiliki tulang hyoid (penopang lidah) berbentuk oval yang mirip dengan simpanse dan gorila, berbeda dengan manusia yang berbentuk batang. Hal ini mengindikasikan adanya kantung udara laring, ciri khas kera besar yang berfungsi mencegah hiperventilasi saat mengeluarkan suara dalam durasi lama. Sebaliknya, hilangnya kantung udara pada manusia modern kemungkinan merupakan adaptasi dari kemampuan berbicara yang memiliki pola pernapasan lebih stabil.

Adaptasi Tulang Belakang dan Saraf

Meskipun awalnya dianggap memiliki leher yang lemah seperti kera, temuan pada fosil KSD-VP-1/1 membuktikan bahwa ketebalan tulang leher spesies ini justru mirip dengan manusia. Adanya tonjolan maksimal pada saraf C5 dan C6 (area pleksus brakialis) menunjukkan sistem saraf yang kuat menuju lengan dan tangan. Hal ini mengarah pada dua kemungkinan: Australopithecus afarensis mungkin memiliki kemampuan motorik halus untuk menggunakan alat batu, atau struktur tersebut berfungsi untuk menjaga stabilitas postur kepala. Namun, perlu dicatat bahwa ligamen nukal—yang membantu manusia menstabilkan kepala saat berlari jarak jauh—belum berkembang baik pada spesies ini.

Struktur Rongga Dada dan Tulang Belakang Bawah

Mengenai bentuk tubuh, Australopithecus afarensis memiliki tulang rusuk yang berbentuk "lonceng", sebuah bentuk peralihan antara kera besar dan manusia modern yang memiliki dada berbentuk "barel". Meskipun bagian atas rusuknya menyempit, bentuknya tetap lebih mendekati anatomi manusia daripada kera.

Dalam hal komposisi tulang belakang, temuan terbaru menunjukkan kesamaan signifikan dengan manusia modern:

  1. Tulang Toraks (Dada): Memiliki 12 ruas (seperti manusia), bukan 13 ruas seperti kera non-manusia.
  2. Tulang Lumbar (Pinggang): Memiliki 5 ruas yang panjang dan fleksibel, berbeda dengan kera besar yang memiliki pinggang pendek dan kaku.

Struktur Anatomi Anggota Badan Atas Australopithecus afarensis

Secara keseluruhan, kerangka Australopithecus afarensis memiliki anatomi "mosaik"—campuran antara ciri manusia modern dan kera besar. Meskipun struktur panggul dan kakinya menunjukkan kemampuan berjalan tegak (bipedalisme), anggota badan bagian atasnya justru menyerupai orangutan yang terbiasa bergerak di pepohonan (pergerakan arboreal).

Para ahli masih memperdebatkan hal ini. Ada kemungkinan bahwa kemampuan memanjat tersebut hanyalah sifat warisan dari nenek moyang terdahulu, yang tetap bertahan karena belum ada tekanan evolusi untuk mengubah struktur lengan menjadi lebih mirip manusia.

Bahu dan Tulang Belikat

Struktur bahu Australopithecus afarensis cenderung menghadap ke atas atau tampak seperti posisi "mengangkat bahu" (dekat ke kepala), mirip dengan kera besar. Berikut adalah beberapa poin penting terkait bagian ini:

  1. Perbandingan dengan Manusia: Manusia modern memiliki posisi bahu seperti ini saat masih bayi, namun berubah seiring pertumbuhan. Pada Australopithecus afarensis, posisi ini tetap bertahan hingga dewasa.
  2. Bukan Faktor Ukuran Tubuh: Awalnya, ciri ini dianggap terjadi karena ukuran tubuh yang kecil. Namun, penemuan fosil Homo floresiensis (yang bertubuh kecil namun berbahu mirip manusia) membuktikan bahwa struktur bahu Australopithecus afarensis memang merupakan ciri khas spesies tersebut, bukan sekadar efek ukuran tubuh.
  3. Kekuatan Otot: Bentuk tulang belikatnya menunjukkan kekuatan otot punggung yang lebih mendekati karakteristik gorila.

Lengan dan Kemampuan Tangan

Data mengenai lengan bawah Australopithecus afarensis masih terbatas, sehingga perkiraan proporsinya bervariasi antara kemiripan dengan kera besar hingga manusia modern. Meskipun begitu, struktur tangannya memberikan gambaran yang menarik:

  1. Kemampuan Menggenggam: Struktur jarinya memungkinkan fleksi (tekukan) yang kuat seperti orangutan, namun kurang efisien saat memegang benda bulat atau silindris yang besar.
  2. Ketangkasan: Menariknya, tangan mereka sudah mampu melakukan genggaman presisi (precision grip). Kemampuan ini sangat penting untuk menggunakan alat-alat dari batu.
  3. Penggunaan Alat: Walaupun tangannya mampu menggunakan alat, para peneliti belum bisa memastikan apakah spesies ini sudah memiliki kemampuan kognitif dan fisik untuk menciptakan atau memahat alat batu sendiri.

Struktur Anatomi Anggota Badan Bawah Australopithecus afarensis

Struktur Panggul dan Mekanisme Berjalan

Panggul Australopithecus afarensis (seperti spesimen Lucy) memiliki bentuk platypelloid yang cenderung oval dengan jarak antar-soket pinggul yang relatif lebar. Menariknya, meski ukuran tubuhnya jauh lebih kecil, lebar pintu masuk panggul Lucy mencapai 132 mm, yang hampir setara dengan wanita modern. Hal ini diduga sebagai adaptasi untuk menjaga keseimbangan pusat massa saat berjalan tegak, sekaligus mengompensasi kaki mereka yang pendek. Seiring evolusi pada genus Homo, ukuran panggul ini justru mengecil karena kaki manusia mulai memanjang. Perlu dicatat bahwa lebar panggul A. afarensisAustralopithecus afarensis bukan dipengaruhi oleh ukuran kepala janin, karena bayi mereka memiliki ukuran kepala yang kecil, serupa dengan bayi simpanse.

Adaptasi Kaki: Antara Berjalan dan Memanjat 

Pada individu dewasa, tulang tumit Australopithecus afarensis menunjukkan adaptasi bipedalitas (berjalan dua kaki) yang serupa dengan manusia modern. Jempol kaki mereka sudah sejajar (teradduksi) dan tidak lagi dapat digunakan untuk menggenggam dahan layaknya kera. Meski kemampuan memanjat pohon berkurang, struktur ini membuat aktivitas berjalan menjadi jauh lebih hemat energi.
Namun, temuan pada spesimen bayi (DIK-1-1) menunjukkan karakteristik yang berbeda. Jempol kaki bayi Australopithecus afarensis masih memiliki tingkat mobilitas tertentu. Walaupun hal ini mengurangi efisiensi saat berjalan di tanah, kemampuan menggenggam pada usia muda sangat penting untuk memanjat pohon demi mencari makanan dan perlindungan, atau memudahkan bayi untuk berpegangan saat digendong oleh induknya.

Secara singkat, Australopithecus afarensis memiliki ciri yang merupakan gabungan antara kera dan manusia sebagaimana ciri ini pun dimiliki oleh jenis-jenis hominidae selanjutnya. Di bawah ini adalah ciri-ciri Australopithecus afarensis:

  1. Kapasitas volume otak berkisar antara 380-530 cc atau sekitar sepertiga manusia modern. Hal ini didasari pada volume otak “Lucy” yang berkisar 365-417 cc. Sedangkan spesimen lainnya berkisar 333-526 cc.
  2. Berdasarkan anatominya, memiliki rahang bawah dan tengkorak mirip dengan kera.
  3. Memiliki geraham yang besar, tebal dan rata dan sangat ideal untuk menghancurkan makanan yang keras.
  4. Berdasarkan pada bentuk kerangkanya, diperkirakan telah berjalan di atas tanah dan tidak bergantung dengan pohon layaknya kera. Hal ini ditunjukkan dengan bentuk panggul, pinggul, lutut dan pergelangan kaki yang menunjukkan memiliki kemiripan dengan manusia modern. Sedangkan tulang jari tangan dan kaki yang melengkung kemungkinan besar merupakan sisa-sisa evolusi dari kera.
  5. Temuan fosil Australopithecus afarensis di Hadar, Ethiophia menunjukkan bahwa jenis laki-laki memiliki bobot sekitar 45-68 kg dengan tinggi mencapai 151 cm. Sedangkan untuk wanita memiliki bobot sekitar 30 kg dengan tinggi sekitar 105 cm.

Diet dan Kemampuan Adaptasi

Australopithecus afarensis kemungkinan besar adalah makhluk omnivora generalis yang mampu beradaptasi dengan berbagai lingkungan. Analisis isotop karbon pada fosil gigi dari wilayah Hadar dan Dikika (sekitar 3,4–2,9 juta tahun lalu) menunjukkan pola makan yang sangat bervariasi:

  1. Spesimen di hutan: Lebih banyak mengonsumsi tanaman jenis C3.
  2. Spesimen di sabana/padang rumput: Mengandalkan tanaman C4/CAM seperti rumput, biji-bijian, akar, umbi, serta serangga seperti rayap.

Kemampuan ini membedakan Australopithecus afarensis dari pendahulunya (Australopithecus anamensis dan Ardipithecus ramidus) serta simpanse modern, yang cenderung hanya mencari jenis makanan tertentu meski lingkungannya telah berubah. Meskipun anatomi giginya kuat untuk mengonsumsi makanan keras, pola aus pada giginya menunjukkan bahwa makanan keras tersebut hanya dikonsumsi sebagai "cadangan" saat masa sulit. Selain itu, terdapat kemungkinan perbedaan strategi mencari makan antara jenis kelamin: betina diduga lebih banyak mencari makan di pepohonan (arboreal), sementara jantan lebih banyak di permukaan tanah (terestrial).

Bukti Penggunaan Alat Batu

Pada tahun 2009, penemuan fosil tulang hewan di Dikika, Ethiopia, sempat memicu perdebatan besar. Ditemukan bekas goresan dan retakan pada tulang yang awalnya diduga sebagai bukti penjagalan menggunakan alat batu tajam sekitar 3,4 juta tahun lalu.

Jika klaim ini benar, maka Australopithecus afarensis adalah spesies pertama yang menggunakan alat batu. Namun, para ahli masih meragukan hal ini karena fosil tersebut ditemukan di lapisan batu pasir yang kasar. Ada kemungkinan bekas luka pada tulang tersebut terbentuk secara alami akibat gesekan pasir dan kerikil selama proses fosilisasi, bukan karena aktivitas manusia purba.

Struktur Sosial dan Dinamika Kelompok

Menentukan dinamika sosial Australopithecus afarensis adalah tantangan besar, namun para ahli memberikan beberapa teori berdasarkan bentuk fisik mereka:

  1. Teori Poligini (Harem): Perbedaan ukuran tubuh yang besar antara jantan dan betina (dimorfisme seksual tinggi) biasanya menunjukkan adanya persaingan ketat antarjantan untuk mendapatkan betina, mirip dengan struktur sosial gorila.
  2. Teori Multi-Jantan atau Monogami: Beberapa ahli berpendapat tingkat perbedaan ukuran tubuh sebenarnya tidak terlalu ekstrem, yang mengarah pada struktur sosial seperti simpanse atau bahkan hubungan monogami.

Satu poin penting adalah ukuran gigi taring yang mengecil. Karena ukuran taring biasanya berkaitan dengan tingkat agresi, kecilnya taring pada Australopithecus afarensis menunjukkan bahwa tingkat kekerasan atau agresi antarjantan mungkin sudah jauh berkurang dibandingkan primata non-manusia lainnya.

Bagaimana Australopithecus afarensis Bergerak?

Jejak fosil Laetoli, yang umumnya dikaitkan dengan spesies Australopithecus afarensis, menunjukkan kemampuan berjalan tegak (bipedal) yang cukup maju. Cara berjalan ini jauh lebih efisien dibandingkan gaya berjalan membungkuk (BHBK—bent-hip, bent-knee) yang ditemukan pada kera besar, meskipun beberapa interpretasi awal sempat menduga adanya postur membungkuk atau gerakan menyeret. Fosil ini terdiri dari beberapa kelompok jejak: Jejak A yang berbentuk pendek dan lebar (kemungkinan milik anak kecil atau, menurut teori lain, beruang punah Agriotherium africanus); G1 yang terdiri dari empat siklus jejak anak; serta G2 dan G3 yang diperkirakan berasal dari dua individu dewasa. Pada tahun 2015, ditemukan tambahan jejak dari individu S1 sepanjang 32 meter dan individu S2.

Secara teknis, struktur jejak kaki ini menunjukkan bahwa Australopithecus afarensis memiliki kaki yang lebih datar (kurang melengkung) dan mendarat dengan posisi anggota tubuh yang lebih tertekuk dibandingkan manusia modern. Hal ini membuat kemampuan bipedal mereka sedikit kurang efisien daripada kita. Analisis jejak menunjukkan bahwa berat badan berpindah dari tumit, ke sisi samping kaki, lalu ke jari kaki saat melangkah. Pada individu S1, ditemukan pola berjalan asimetris di mana berat badan terkadang bertumpu pada sisi depan luar kaki sebelum jari kaki lepas landas, atau terkadang disertai putaran tubuh bagian atas di tengah langkah.

Dalam hal kecepatan, Australopithecus afarensis bergerak lebih lambat dibandingkan manusia modern. Jika manusia biasanya berjalan dengan kecepatan 1–1,7 m/detik, individu di Laetoli diperkirakan hanya berjalan antara 0,37 hingga 1 m/detik. Jarak langkah rata-rata mereka adalah 568 mm, dengan individu S1 memiliki jangkauan langkah terpanjang. Meski lambat saat berjalan, Australopithecus afarensis mampu berlari dengan kecepatan 1,74–4,97 m/detik. Meski tetap di bawah kecepatan lari maksimum manusia (7,9 m/detik), tingkat penggunaan energi saat mereka berlari setara dengan mamalia dan burung berukuran serupa. Hal ini memicu teori bahwa evolusi gaya berjalan bipedal mungkin lebih didorong oleh kebutuhan untuk meningkatkan kemampuan berlari daripada sekadar berjalan.

Kondisi Tulang Belakang dan Adaptasi Tubuh

Secara umum, kelompok Australopithecine memiliki tingkat masalah tulang belakang yang tinggi. Hal ini kemungkinan terjadi karena struktur tulang belakang mereka lebih adaptif untuk menahan beban saat memanjat (suspensi) daripada menahan beban tekan saat berjalan tegak.

Contohnya, fosil Lucy menunjukkan gejala kifosis toraks (bungkuk) yang didiagnosis sebagai penyakit Scheuermann. Kondisi ini diduga muncul akibat ketegangan berlebih pada punggung yang serupa dengan penyebab postur bipedal pada manusia modern. Karena kemiripan patologi ini, para ahli menyimpulkan bahwa Australopithecus afarensis memiliki fungsi gerak jalan yang pada dasarnya menyerupai manusia. Meski ketegangan tersebut mungkin muncul saat memanjat atau berayun di pohon, hal ini tidak berarti mereka tidak beradaptasi dengan kehidupan di pohon (arboreal). Logikanya serupa dengan manusia modern yang tetap dianggap makhluk bipedal meskipun bisa terkena artritis akibat berjalan tegak. Gejala serupa juga ditemukan pada spesimen KSD-VP-1/1, yang menunjukkan adanya kompensasi pada tulang leher dan pinggang (leher angsa) akibat kelainan pada punggung.

Cedera Fisik dan Penyebab Kematian

Temuan pada tahun 2010 terhadap spesimen KSD-VP-1/1 menunjukkan adanya deformitas pada pergelangan kaki kiri (valgus) dan pertumbuhan tulang tambahan pada fibula. Cedera ini diduga berasal dari patah tulang fibula saat masa kanak-kanak yang tidak sembuh dengan sempurna.

Terkait penyebab kematian Lucy, paleoantropolog John Kappelman (2016) berpendapat bahwa pola patah tulang pada lengan atas Lucy konsisten dengan cedera akibat jatuh. Ia menyimpulkan bahwa Lucy tewas setelah jatuh dari pohon, yang juga memperkuat asumsi bahwa Australopithecus afarensis masih menggunakan pohon untuk tidur atau menghindari predator. Namun, teori ini diperdebatkan karena banyak fosil hewan lain di area tersebut (seperti gajah dan jerapah) menunjukkan pola patah tulang serupa. Ada kemungkinan kerusakan tulang tersebut hanyalah bias tafonomi (kerusakan yang terjadi secara alami selama proses fosilisasi) atau akibat tanah longsor dan serangan predator.

Misteri Temuan AL 333

Sebanyak 13 individu yang ditemukan di situs AL 333 diperkirakan tewas dan terkubur dalam waktu yang hampir bersamaan di area sepanjang 7 meter. Karena minimnya bekas gigitan karnivora, muncul berbagai teori mengenai penyebab kematian mereka.

Pada tahun 1981, James Louis Aronson dan Taieb menduga mereka tewas akibat banjir bandang. Namun, arkeolog Paul Pettitt (2013) mengajukan spekulasi berbeda; ia merasa penyebab alami kurang meyakinkan. Pettitt berpendapat bahwa individu-individu tersebut mungkin sengaja disembunyikan di rumput tinggi oleh sesama hominin (praktik pemakaman sederhana). Perilaku ini bertujuan agar jasad yang baru mati tidak memancing predator datang ke tempat tinggal mereka, sebuah tindakan yang juga terdokumentasi pada primata modern.

Daftar Bacaan

  • Delson, E. Tattersall, I., Van Couvering, J., Brooks, A. S. 2004. Encyclopedia of Human Evolution and Prehistory (2nd ed.). Routledge.
  • Johanson, D. C. 2004. “Lucy, Thirty Years Later: An Expanded View of Australopithecus afarensis”. Journal of Anthropological Research. 60 (4): 465–486.
  • Kimbel, W. H., Yak, Y., Johanson, D. C. (11 March 2004). “A. L. 444-2: the skull as a whole”. The skull of Australopithecus afarensis. Oxford: Oxford University Press.
  • Kimbel, W. H., Lockwood, C. A., Ward, C. V., Leakey, M. G., Rake, Y., Johanson, D. C. 2006. “Was Australopithecus anamensis ancestral to A. afarensis? A case of anagenesis in the hominin fossil record”. Journal of Human Evolution. 51 (2): 134–152.
  • Leakey, M. G., Feibel, C. S., MacDougall, I., Walker, A. 1995. “New four-million-year-old hominid species from Kanapoi and Allia Bay, Kenya”. Nature. 376 (6541): 565–571.
  • McHenry, H. M. 1992. “Body Size and Proportions in Early Hominids”. American Journal of Anthropology. 87 (4): 407–431.
  • Suwa, G., Asfaw, B., Kono, R. T., Kubo, D., Lovejoy, C. O., White, T. D. et al. (2 October 2009). “The Ardipithecus ramidus skull and its implications for hominid origins”. Science. 326 (5949): 68, 68e1–68e7.
  • White, T. D., Suwa, G., Asfaw, B. 1994. “Australopithecus ramidus, a new species of early hominid from Aramis, Ethiopia”. Nature. 371 (6495): 306–312.