Kebudayaan Erlitou: Jejak Dinasti Xia dan Awal Zaman Perunggu di Tiongkok

Kebudayaan Erlitou: Jejak Awal Peradaban Negara di Tiongkok

Kebudayaan Erlitou merupakan masyarakat Zaman Perunggu awal dan entitas arkeologis yang pernah eksis di lembah Sungai Kuning sekitar tahun 1900 hingga 1500 SM. Namun, sebuah studi tahun 2007 yang menggunakan penanggalan radiokarbon mengusulkan rentang waktu yang lebih sempit, yaitu antara 1750 hingga 1530 SM.

Nama kebudayaan ini diambil dari Erlitou, sebuah situs arkeologi di Yanshi, Provinsi Henan. Wilayah kekuasaannya tersebar luas di seluruh Henan dan Shanxi, yang kemudian meluas hingga ke Shaanxi dan Hubei. Mayoritas arkeolog menganggap Erlitou sebagai masyarakat tingkat negara pertama di Tiongkok. Meskipun para arkeolog Tiongkok umumnya mengidentifikasi situs Erlitou sebagai lokasi Dinasti Xia, belum ada bukti kuat—seperti catatan tertulis kontemporer yang selamat—untuk membuktikan hubungan tersebut. Hal ini dikarenakan bukti tulisan Tiongkok paling awal baru muncul pada periode Shang Akhir.

Situs Erlitou

Kebudayaan Erlitou kemungkinan berkembang dari akar kebudayaan Longshan. Awalnya berpusat di provinsi Henan dan Shanxi, kebudayaan ini kemudian menyebar ke Shaanxi dan Hubei. Setelah kebangkitan kebudayaan Erligang, situs Erlitou mengalami penyusutan ukuran meski tetap dihuni oleh penduduk.

Situs ini ditemukan pada tahun 1959 oleh Xu Xusheng dan merupakan situs terbesar yang terkait dengan kebudayaan tersebut, lengkap dengan bangunan istana serta bengkel peleburan perunggu. Erlitou memonopoli produksi wadah ritual perunggu, termasuk ding (kuali berkaki) tertua yang pernah ditemukan. Kota ini terletak di tepi Sungai Yi, anak sungai dari Sungai Luo yang bermuara ke Sungai Kuning. Awalnya kota ini berukuran 2,4 x 1,9 kilometer, namun karena kerusakan akibat banjir, kini hanya tersisa sekitar 3 km2. Untuk melestarikan sejarahnya, Museum Situs Erlitou Ibu Kota Xia di Luoyang, Henan, dibuka pada Oktober 2019. Museum ini menyimpan lebih dari 2.000 artefak hasil ekskavasi dari situs tersebut.

Fase Perkembangan

Pertumbuhan situs Erlitou dibagi menjadi empat fase utama:

Fase I: Mencakup area seluas 100 hektar. Erlitou merupakan pusat regional yang berkembang pesat dengan perkiraan populasi beberapa ribu jiwa, namun belum menjadi peradaban perkotaan yang utuh.

Fase II: Urbanisasi mulai terjadi. Luas wilayah meningkat menjadi 300 hektar dengan populasi sekitar 11.000 jiwa. Area istana seluas 12 hektar dibatasi oleh empat jalan besar. Di dalamnya terdapat Istana 3 (berukuran 150 m x 50 m dengan tiga halaman) dan Istana 5. Sebuah bengkel pengecoran perunggu didirikan di selatan kompleks istana di bawah kendali elit. Jejak kendaraan yang ditemukan di dekat istana menjadi bukti tertua penggunaan kereta beroda di Tiongkok.

Fase III: Mencapai puncak kejayaannya dengan populasi sekitar 24.000 jiwa. Kompleks istana dikelilingi tembok tanah setebal dua meter. Istana 1, yang merupakan bangunan terbesar (9.600 m2), dibangun pada masa ini bersama dengan Istana 7, 8, dan 9.

Fase IV: Populasi menurun menjadi sekitar 20.000 jiwa, namun pembangunan tetap berlanjut. Fase ini tumpang tindih dengan fase bawah kebudayaan Erligang (1600–1450 SM). Sekitar tahun 1600 SM, sebuah kota bertembok dibangun di Yanshi, sekitar 6 km di timur laut Erlitou.

Pada akhir Fase IV, produksi perunggu dan barang mewah lainnya berhenti, bersamaan dengan berdirinya kota Erligang di Zhengzhou. Tidak ada bukti kehancuran akibat perang atau kebakaran, namun selama fase Erligang Atas (1450–1300 SM), seluruh istana ditinggalkan dan Erlitou berubah menjadi desa kecil seluas 30 hektar.

Pengerjaan Perunggu dan Giok

Erlitou adalah kebudayaan pertama di Tiongkok yang memproduksi perunggu dalam skala besar menggunakan teknik cetakan potongan (section-mold) untuk membuat wadah ritual. Meskipun sisa perunggu ditemukan di kebudayaan Qijia dan Siba, artefak perunggu Erlitou jauh lebih maju dan beragam, mencakup alat musik lonceng, senjata, hingga plakat wajah hewan yang unik.

Karena tidak ada sumber tembaga di Dataran Luoyang, diduga masyarakat Erlitou mengambil bijih logam dari Pegunungan Zhongtiao di selatan Shanxi. Perunggu Erlitou memiliki ciri khas yang meniru bentuk tembikar, dengan permukaan polos atau pola geometris sederhana. Selain perunggu, giok juga diolah menjadi benda ritual seperti bilah upacara (zhang) dan kapak belati (ge).

Simbol dan Tulisan Purba

Ditemukannya simbol-simbol pada potongan keramik di situs Erlitou memicu spekulasi mengenai hubungannya dengan karakter Mandarin awal. Namun, karena belum ada bukti keterkaitan yang jelas, simbol-simbol ini saat ini masih dikategorikan sebagai tanda atau "tulisan purba" (proto-writing).

Hubungan dengan Catatan Tradisional

Tujuan utama arkeologi di Tiongkok adalah mencari ibu kota Dinasti Xia dan Shang yang disebutkan dalam catatan tradisional. Banyak sarjana Tiongkok yakin bahwa Erlitou adalah ibu kota Dinasti Xia karena lokasi dan periodenya sesuai dengan naskah kuno. Namun, para sarjana di luar Tiongkok cenderung bersikap skeptis karena kurangnya bukti tertulis kontemporer yang eksplisit di lokasi tersebut.

Ada pula teori yang menghubungkan banjir besar di Ngarai Jishi (sekitar 1920 SM) dengan mitos banjir besar Tiongkok, yang dianggap sebagai pemicu transisi budaya menuju era Erlitou/Xia. Meskipun menarik, bukti banjir yang meluas di Dataran Tiongkok Utara pada masa itu belum ditemukan secara konsisten.

Daftar Bacaan

  • Allan, Sarah (2007). "Erlitou and the Formation of Chinese Civilization: Toward a New Paradigm". The Journal of Asian Studies. 66 (2): 461–496.
  • Chen, Xuexiang (2003). "On the Buried Jade Unearthed in the Erlitou Site". Cultural Relics of Central China (3): 23–37.
  • von Falkenhausen, Lothar (1994). Suspended Music: Chime-Bells in the Culture of Bronze Age China. Berkeley: University of California Press.
  • Lee, Yun Kuen (2002). "Building the chronology of early Chinese history". Asian Perspectives. 41 (1): 15–42. 
  • Li, Feng (2013). Early China: A Social and Cultural History. Cambridge University Press.
  • Li, Xueqin (2002). "The Xia-Shang-Zhou Chronology Project: Methodology and Results". Journal of East Asian Archaeology. 4: 321–333. 
  • Liu, Li (2004). The Chinese Neolithic: trajectories to early states. Cambridge University Press.
  • Liu, Li; Xu, Hong (2007). "Rethinking Erlitou: legend, history and Chinese archaeology". Antiquity. 81 (314): 886–901.
  • Liu, Li; Chen, Xingcan (2012). The Archaeology of China: From the Late Paleolithic to the Early Bronze Age. Cambridge University Press.